Saturday, May 27, 2017

Ramadhan di Bumi Lorosae

Ini kisah lebih dari 3 tahun yang lalu. Saat aku ditugas-kerjakan di Dili, Timor-Leste. Beruntungnya aku dapat melalui bulan puasa di sana, walau tidak sampai satu bulan penuh.

Berpuasa sambil bekerja di Kota Dili tentu banyak tantangannya. Di Dili, Muslim adalah minoritas. Mayoritas Warga Dili menganut Agama Nasrani. Waktu itu di Dili, jadwal Imsak adalah pukul 5.30 pagi namun jadwal berbuka adalah sekitar pukul 19.00 malam. Di Dili kala itu, pukul 18.30 langit masih terang benderang.

Cuaca disana cenderung panas dan kering. Siang hari suhu udara bisa mencapai 34° Celcius. Pernah suatu siang aku keluar dari kompleks kantor ke supermarket terdekat, kepalaku pusing saking panasnya sinar matahari siang itu. Maka dari itu masa-masa di Bulan Ramadhan banyak aku habiskan di dalam area kantor. Kantor kami berada di sebuah kompleks pertokoan atau bisa dibilang Mall (katanya Mall pertama di Dili). Jadi jika istirahat siang kami menghabiskan waktu berbelanja di pusat pertokoan sekitar kantor.

Tempat kerja kami menyediakan makan siang bagi karyawannya. Setiap siang, karyawan lokal maupun Non-muslim akan mengambil makanan secara prasmanan di pantry kantor kemudian makan di masing-masing kubikelnya. Wangi masakan pastinya menjadi godaan utama buat kami yang berpuasa. Makanya kami banyak memilih hang out di luar kantor selepas Solat Dzuhur.

Belum lagi pagi-pagi saat kami baru saja tiba di kantor, wangi kopi yang dibuat oleh para OB untuk karyawan, semerbak menyergap indra penciuman kami. Kopinya pun Luwak White Coffee, kebetulan sedang digemari juga di sana. Kebayang kan bagaimana wanginya? Hehehe....

Karena karyawan diberikan makan siang, untuk karyawan Muslim, makan siang diubah menjadi bekal untuk berbuka puasa. Pihak katering menyediakan wadah khusus bagi tiap karyawan Muslim yang harus dibawa kembali keesokan harinya untuk diisi makanan menjelang berbuka. Begitu seterusnya.

Kadang, kalau kami bosan dengan menunya, ramai-ramai kami cari makan di luar kantor. Nah, kita juga harus berhati-hati karena di Timor Leste daging babi dan minuman beralkohol juga bebas diperjualbelikan. Dari senior kami, ada rekomendasi untuk jajan di Warung Solo, yaa pemiliknya berasal dari Kota Solo, Jawa Tengah. Dulu ia ikut transmigrasi sehingga sekarang terdampar di Timor Leste dan buka usaha disana. Makanan disitu halal untuk dimakan Umat Muslim.

Pada saat selesai makan dan menuju kasir, kami cukup kaget. Karena ternyata harga makanan dengan daging ayam lebih mahal daripada daging sapi. Ayam goreng harganya $6 sedangkan sop iga $3 huehehehe. Yaps di Dili menggunakan mata uang USD. Hal tersebut katanya karena pasokan daging sapi lebih mudah diperoleh misalnya dari negara tetangga Australia dan Provinsi NTT daripada daging ayam.

Kalau sudah jajan, bekal yang kami dapat, kami pakai buat sahur. Oiya pernah juga aku buka puasa di Kedubes Indonesia. Kebetulan sedang ada liputan untuk urusan kantor.

Beda lagi dengan urusan taraweh. Di Kota Dili hanya ada 2 masjid jika kita ingin taraweh di Masjid. Satu di Kampung Jawa dan satu di dekat pantai, dekat juga dengan tempat tinggal Raul Lemos katanya.

Aku sempat mencoba taraweh sekali di Masjid di Kampung Jawa, wilayah kecil yang ditempati oleh umat Muslim Dili. Rata-rata warga di Kampung Jawa adalah suku Bajo, Bugis maupun warga dari Provinsi NTB yang beragama Islam. Tarawehnya 11 rakaat, tidak jauh beda dengan di tempat tinggal asalku.

Selanjutnya aku lebih memilih solat di apartemen, karena jarak tempuh ke Kampung Jawa yang cukup jauh. Selain itu alasan keamanan bagi pendatang juga menjadi latar belakang. Sebagai info, Kami di Dili kemana-mana diwajibkan naik mobil *jadi harus cari tebengan teman yang punya mobil. Kalau pun naik taksi sebisa mungkin berombongan dan siang hari saja. Karena saat itu santer penculikan warga pendatang oleh driver taksi, hiii. Saat kami tinggal di Dili pun ada 2 kejadian pembunuhan acak (biasanya karena minuman keras) di dekat tempat tinggal dan kantor. Jadi suasana malam agak mencekam.

Meskipun jarak yang lumayan jauh, adzan dari masjid-masjid tersebut masih terdengar lho sampai apartemen. Sehingga kalau sahur atau waktunya solat kami tetap dapat mengggunakan adzan masjid sebagai rujukan.

9 hari sebelum Lebaran kami sudah izin cuti sehingga tidak menuntaskan Ramadhan dan berlebaran di Dili. Tapi pengalaman Ramadhan di Dili tidak pernah terlupakan. Aku ingat betul petuah pamanku, katanya ada dalil yang mengatakan bahwa kalau puasa di negeri yang umat Muslimnya minoritas dan kita berdoa atau beribadah, pahalanya lebih berlipat. Yah walaupun belum sempat cari dalil tersebut. Tapi aku benar-benar memanfaatkan waktu di sana untuk memanjatkan doa rahasiaku juga, hehehe.

No comments: