Sunday, December 22, 2019

Inilah Tantangan Berpuasa Ramadan di Bumi Lorosae



Ini kisah saat aku ditugaskan di Dili, Timor-Leste. Bekerja selama 3 (tiga) bulan di salah satu cucu perusahaan Telkom Indonesia yaitu Telin, SA atau yang sering disebut Telkomcel. Sebuah kebetulan yang amat berkesan, karena saat aku ditugaskan juga bertepatan dengan Bulan Suci Ramadan.

Berpuasa sambil bekerja di Kota Dili tentu banyak tantangannya. Pertama dari sisi geografis dan demografis. Di Dili, Muslim adalah minoritas. Mayoritas Warga Dili menganut Agama Nasrani. Lalu, perbedaan waktu di Dili dengan tempat tinggalku di Kota Bandung yang cukup terasa, dimana di Dili, jadwal Imsak adalah pukul 5.30 pagi namun jadwal berbuka adalah sekitar pukul 19.00 malam. Di Dili kala itu, pukul 18.30 saja langit masih terang benderang.

Cuaca disana cenderung panas dan kering. Siang hari suhu udara bisa mencapai 34° Celcius. Pernah suatu siang aku keluar dari kompleks kantor ke supermarket terdekat, kepalaku pusing saking panasnya sinar matahari siang itu. Maka dari itu masa-masa di Bulan Ramadhan banyak aku habiskan di dalam area kantor. Kantor Telkomcel berada di sebuah kompleks pertokoan atau bisa dibilang Mall yaitu Timor Plaza. Konon katanya Timor Plaza adalah Mall pertama di Dili. Nah, jika istirahat siang di tengah Bulan Puasa, aku dan teman-teman Muslim lainnya rata-rata memilih berbelanja di dalam Timor Plaza.

Tantangan kedua adalah kondisi tempat kerjaku. Telkomcel menyediakan makan siang bagi karyawannya. Setiap siang, karyawan yang beragama selain Islam akan mengambil makanan secara prasmanan di pantry kantor kemudian makan di masing-masing kubikelnya. Wangi masakan pastinya menjadi godaan utama buat kami yang berpuasa. Makanya kami banyak memilih hang out di luar kantor selepas Solat Dzuhur.

Belum lagi pagi-pagi saat aku dan teman-teman baru saja tiba di kantor, wangi kopi yang dibuat para OB untuk karyawan, semerbak menyergap indra penciuman kami. Kopinya pun Luwak White Coffee, kebetulan sedang digemari juga di sana. Kebayang kan bagaimana wanginya?

Karena karyawan diberikan makan siang, untuk karyawan Muslim, makan siang diubah menjadi bekal untuk berbuka puasa. Pihak katering menyediakan wadah khusus bagi tiap karyawan Muslim yang harus dibawa kembali keesokan harinya untuk diisi makanan menjelang berbuka. Begitu seterusnya.

Kadang, kalau bosan dengan menunya, ramai-ramai aku dan teman-teman cari makan di luar kantor. Nah, tantangan selanjutnya nih, kami juga harus berhati-hati karena di Timor Leste daging babi dan minuman beralkohol bebas diperjualbelikan. Senior kami merekomendasikan sebuah tempat makan yang bebas kedua hal itu, tempat makannya bernama Warung Solo. Ya! Pemiliknya berasal dari Kota Solo, Jawa Tengah. Konon dulu ia ikut transmigrasi sehingga sekarang terdampar di Dili kemudian membuka usaha warung makan.

Ada cerita unik saat kami makan di Warung Solo. Pada saat selesai makan dan menuju kasir, kami cukup kaget. Karena ternyata harga makanan dengan daging ayam lebih mahal daripada daging sapi. Ayam goreng harganya $6 sedangkan sop iga $3! Hal tersebut katanya karena pasokan daging sapi lebih mudah diperoleh misalnya dari negara tetangga Australia dan Provinsi Nusa Tenggara Timur daripada daging ayam. Dan yaps! jangan heran, Timor Leste ternyata menggunakan mata uang USD untuk transaksinya. Meskipun untuk transaksi di bawah $1 diizinkan menggunakan mata uang lokal.

Tantangan lainnya adalah mengenai Solat Tarawih. Jika di Indonesia, khususnya di kota tempat tinggalku, kita dapat dengan mudah menemukan masjid dan menunaikan Solat Tarawih, tentu kondisinya berbeda dengan di Dili. Di Kota Dili hanya ada 2 masjid jika kita ingin Solat Tarawih di Masjid. Satu di Kampung Jawa dan satu di dekat pantai, dekat juga dengan tempat tinggal Raul Lemos, suami penyanyi kenamaan Indonesia, Krisdayanti.

Aku sempat mencoba taraweh sekali di Masjid di Kampung Jawa, wilayah kecil yang ditempati oleh umat Muslim Dili. Rata-rata warga di Kampung Jawa adalah suku Bajo, Bugis maupun warga dari Provinsi Nusa Tenggara Barat yang beragama Islam. Tarawehnya 11 rakaat, tidak jauh beda dengan di tempat tinggal asalku.
Selanjutnya aku lebih memilih solat di apartemen, karena jarak tempuh ke Kampung Jawa yang cukup jauh. Selain itu alasan keamanan bagi pendatang juga menjadi latar belakang mengapa aku dan teman-teman lebih memilih solat di apartemen. 

Sedikit info, kami di Dili kemana-mana diwajibkan naik mobil. Jadi harus berusaha cari tebengan teman yang punya mobil. Kalau pun naik taksi sebisa mungkin berombongan dan siang hari saja. Karena saat itu santer penculikan warga pendatang oleh driver taksi, OMG! Saat kami tinggal di Dili pun ada 2 kejadian pembunuhan acak, biasanya karena pengaruh minuman keras. Satu di dekat area apartemen kami dan dan satu di dekat area kantor. Jadi suasana malam agak mencekam.

Meskipun jarak yang lumayan jauh, adzan dari masjid-masjid tersebut masih terdengar lho sampai apartemen. Sehingga kalau tiba waktu sahur atau waktu solat kami tetap dapat mengggunakan adzan masjid sebagai rujukan.

9 hari sebelum Lebaran kami sudah izin cuti sehingga tidak menuntaskan Bulan Ramadhan di Dili. Tapi pengalaman Ramadan di Dili tidak pernah terlupakan. Pengalaman bagaimana menjadi minoritas dan bertoleransi dengan penganut agama lainnya serta menghormati kondisi di sekitar kita. 

Aku berterima kasih sekali kepada Telkom atas pengalaman bekerja dalam Program Global Talent di Timor Leste yang mungkin akan menjadi pengalaman sekali dalam seumur hidupku. Jika bukan karena ditugaskan oleh Telkom untuk mendukung program International Expansion-nya, aku tidak akan merasakan pengalaman berharga seperti yang kuceritakan di atas.

Sebagai penutup ceritaku, aku ingat betul petuah pamanku, katanya ada dalil dalam agama Islam yang mengatakan bahwa kalau berpuasa Ramadan di negeri yang umat Muslimnya minoritas dan kita berdoa atau beribadah, pahalanya lebih berlipat. Yah walaupun belum sempat mencari kebenaran dalil tersebut. Tapi aku benar-benar memanfaatkan waktu di sana untuk memanjatkan doa rahasiaku. Apa isi doaku? Namanya juga doa rahasia, nggak seru dong kalau dikasih tahu. Tapi, puji syukur pada Tuhan, doaku tersebut tak lama ternyata dikabulkan.