Thursday, February 21, 2013

Cahaya Islam di Bumi Eropa, Sebuah Resensi

Saya merasa ketinggalan berita. Seperti para penyuka gosip artis yang telat nonton infotainment seharian. Kemana saja saya selama ini, karena saya baru tahu bahwa peradaban Islam (Timur Tengah) pernah sangat berpengaruh terhadap perkembangan peradaban Eropa. Mungkin pas pelajaran sejarah di SMA dulu saya lebih banyak mengantuknya daripada memperhatikan apa yang dijelaskan guru. Haduh, payah sekali saya ini. Secuil hal yang saya ingat tentang Eropa hanyalah Revolusi Industri dan Renaisans.

Saya patut berterima kasih pada Mba Hanum, penulis buku "99 Cahaya di Langit Eropa, Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa" yang memberikan saya pengetahuan tentang Islam sebelum Abad Pertengahan (Middle Ages). Terima kasih pada Allah yang telah mengizinkan Mba Hanum dan suaminya, Mas Rangga, untuk bisa tinggal di Wina, Austria, sehingga beliau-beliau ini bisa menularkan pengetahuan tentang kejayaan Islam di Eropa.

Satu penggalan kisah di awal cerita Mba Hanum yang saya hafal adalah pengalamannya berkunjung ke sebuah bekas benteng perang di Wina. Ketika Mba Hanum dan temannya dari Turki bernama Fatma, mampir ke cafe di seputaran benteng tersebut.

Diceritakan kembali bahwa di dalam cafe, terdengar beberapa orang turis bule sedang bercakap-cakap. "Tahukah kamu cara yang bagus untuk mengejek orang Islam?" kata salah satu di antaranya. Setelah berkata seperti itu, dia memakan sebuah kue croissant dengan rakusnya. Kemudian temannya yang lain bertanya "Mengapa demikian?". Karena, kue croissant ini dibuat orang Austria untuk merayakan kemenangannya melawan pasukan Muslim Turki Ottoman. Sebab, lambang negara Turki dan lambang Islam adalah bulan sabit, maka kue ini dibuat berbentuk bulan sabit.

Ya ampuuun, ternyata kue kesukaan saya itu, menyimpan sejarah sedemikian rupa. Akhirnya, sekarang kalau beli kue croissant saya memilih kue yang bentuknya lurus :P

Melangkah ke halaman lainnya, Mba Hanum bercerita mengenai kisahnya saat diberi kesempatan berjalan-jalan ke Paris didampingi oleh seorang Muslimah berkebangsaan Perancis bernama Marion. Marion adalah peneliti peradaban Islam Abad Pertengahan. Marion yang ahli membaca tulisan Arab Kufic, salah satu jenis tulisan Arab jaman dulu, menjelaskan banyak hal yang mencengangkan. Lebih baik saya sebutkan dalam poin-poin saja ya teman-teman...

Inskripsi Arab ada di pinggir jilbab Bunda Maria (sumber)
1. Dalam lukisan Bunda Maria dan Bayi Yesus (The Virgin and The Child) karya Ugolino di Nerio, yang dipajang di Museum Louvre terdapat tulisan Arab Pseudo Kufic di kerudung yang dipakai Bunda Maria. Tulisan tersebut berbunyi "Laa Illaha Ilallaah" (tiada tuhan selain Allah). Tulisan Arab Kufic juga banyak ditemukan di lukisan-lukisan artefak Umat Katolik yang lain. Ada juga tulisan Arab Kufic di jubah seorang raja Katolik taat yaitu Raja Roger II of Sicily dari Austria.

Mengapa bisa demikian? Marion lantas menjelaskan bahwa dulu Timur Tengah dikenal dengan ilmu pengetahuan, seni dan budayanya. Sehingga banyak orang Eropa bepergian ke Timur Tengah dan membeli kain, permadani, lukisan dan lain sebagainya. Dalam barang-barang yang diperdagangkan itu seringkali terdapat tulisan tauhid seperti di atas dan akhirnya ditiru oleh orang-orang Eropa.

2. Bangunan-bangunan dan lokasi bersejarah di Paris yaitu Monumen le Defense, Arc du Triomphe de l'Etoile, jalan Champ Elysees, Tugu Obelisk, Arc du Triomphe de Carrousel dan Museum Louvre berada pada satu garis lurus dan garis tersebut mengarah ke Ka'bah (Makkah), Arab Saudi. Beberapa di antara bangunan tersebut diperintahkan dibangun oleh Napoleon Bonaparte, penakluk Eropa dari Perancis yang sangat terkenal itu. Arc du Triomphe de l'Etoile dan de Carrousel itu adalah bangunan berbentuk gerbang itu lho.

Kata Marion, Napoleon Bonaparte sangat mengagumi dan menghormati peradaban Islam. Ia juga mengeluarkan Napoleonic Code yang pasal-pasalnya mirip syariah Islam. Menurut info dari Marion, salah satu tangan Napoleon yaitu Jenderal Francois Menou telah masuk Islam jadi bukan tidak mungkin bahwa Napoleon sendiri adalah seorang Muslim.

3. Sekarang di Museum Louvre telah dibangun Center of Islamic art di Cour Visconti, halaman terbesar kedua di Louvre setelah Cour Napoleon di mana bangunan piramid Napoleon berada). Center of Islamic Art ditutup dengan atap kubik besar berbentuk permadani terbang, atau mirip juga dengan hijab atau jilbab. Sesuatu banget ya, untuk Islamic Art sampai dibuatkan tempat seperti itu. Berikut saya cuplik fotonya dari sebuah website,

Tampak Samping Center of Islamic Art di Louvre diambil dari sumber ini
Makin ke belakang saya baca bukunya, ada kisah Mba Hanum pergi ke Cordoba, Spanyol. Kalau sekarang yang dapat julukan The City of Light adalah Paris, Cordoba ini terkenal dengan sebutan The True City Of Light (Kota Cahaya). Dulu, Cordoba adalah pusat inspirasi Eropa, karena disanalah segala agama hidup berdampingan dalam damai di bawah kepemimpinan seorang pemimpin Muslim. Tempat di mana agama dan ilmu pengetahuan juga diterapkan bersama-sama, hingga akhirnya peradaban di Cordoba porak poranda oleh Perang Salib. Disinilah sebuah Masjid Agung diubah menjadi Katedral yang sekarang dinamakan Mezquita.

Syukur saya kepada Allah, dengan pengetahuan ini saya jadi semakin penasaran mempelajari sejarah Islam. Islam yang menularkan ajarannya secara damai, juga melalui ilmu pengetahuan, seni dan budaya. Saya panjatkan doa saya pada-Nya, semoga saya diberi usia dan kesempatan untuk mengunjungi situs-situs sejarah Islam di Eropa.

Semoga Allah mengabulkan. Aamiiin. Allah Almighty Knows Best.



8 comments:

Widya Wardani said...

ikut mengaminkan untuk doa di baris terakhir ^_^

hannalaila said...

Hayuk Bu Bos, kita kesanaaaa yukkkss...

katashinta said...

itu buku favorit saya, mbak hannaaa... dibaca setelah hampir setahun disimpan saja :D novel itu sangat menambah pengetahuan saya, esp. tentang Prancis. Krn yg saya tau, kenapa sampe skrg Prancis rada gimanaaa sama Islam krn Prancis itu semacam bertahan mati2an dr tentara Muslim waktu perang salib. atau semacam itulah...hehehehehe...*kudu buka lagi bukunya*

klw mbak hanna mau meneruskan penelusuran sejarah Islam di Eropa, mungkin bisa coba baca novel Isabella *atau udah tau yaa :D*. sy belum selesai bacanya :p jd belum bisa ngomong banyak... hehehehehe...

dan saya pun ikut mengaminkan do'a yg terakhir :)))

I've always wanted to visit Granada. walaupun sy gatau apakah kuat untuk ga nangis melihat peradaban megah agama saya hanya tinggal "kenangan" :'(

hannalaila said...

Iya euy, saya baru menemukan buku bagus ini di jajaran best seller kemarin jadi agak ketinggalan antusiasnya, hahaha...

Baca buku ini memang mengaduk2 emosi mba shinta, huhuhu, sekarang saya jadi berusaha senyum terus biar bisa mengkampanyekan Islam dengan baik, dan mencoba lebih mengeksplore Islam secara mendalam sebagai wujud rasa cinta T___T

Siap, mba shinta, terima kasih rekomendasinya, nanti saya carinya Insya Allah buku tersebut... :)

riska pratiwi said...

aamiin terimakasih resensinya....

dWi said...

Aamiin....smg kita smua bisa ke Eropa untuk napak tilas peninggalan sejarah Islam yaaa :)

hannalaila said...

Sama-sama mba Riska, aamiiin untuk doa dari mba Dwi :)

Ariev Topanovich said...

Turut meng-amin-kan
Semoga kita semua bisa menapaktilas sejarah & peradaban Islam di Erpa Barat, Asia Tengah, Afrika dan (tentu) Jazirah Arab.

Semoga kita semua bisa menjadi agen yg berhasil mendakwahkan ajaran Islam yg mulia

Salam kenal. Ariev Topanovich.