Friday, December 28, 2012

Pertemuan



Bagaimana Anda memaknai sebuah pertemuan? Ketika Anda pertama kali bertemu dengan teman baru, relasi baru, lawan jenis yang membuat Anda meliriknya. Atau ketika Anda bertemu kembali dengan anggota keluarga dan sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Apakah Anda pernah memikirkannya?

Pertemuan Pertama

Saya termasuk orang yang excited menyambut sebuah pertemuan pertama. Pertemuan secara fisik tentu saja.

Belum lama ini saya bertemu dengan rekan kerja saya untuk pertama kali, setelah hampir setengah tahun ini kita hanya berkomunikasi lewat telepon maupun media online. Rekan kerja saya ini bagi saya cukup istimewa. Kita dipertemukan malah bukan karena pekerjaan, melainkan karena sebuah gerakan yang diberi nama Bakti Bagi Negeri. Sebuah gerakan bagi-bagi buku gratis bagi anak sekolah dasar di pelosok Indonesia.

Dia istimewa, saya kagum padanya, bagaimana bisa hanya lewat chatting dan telepon dia bisa mempersuasi orang-orang belum pernah dia temui sebelumnya, hingga apa yang dia inisiasi untuk gerakan itu pun berjalan dengan lancar. Roda gerakan berputar di sela-sela jarak yang membentang antar anggotanya. Maka dari itu saya sangat menantikan saat dimana saya bisa bertemu dengannya.

Pertemuan Kembali

Saya pernah menulis tentang pertemuan saya dengan Sahabat Bermata Coklat. Inilah pertemuan kembali yang tak pernah saya sangka akan dituliskan Tuhan. Pada saat pertemuan kembali antara kita berdua, saya menemukan bukti kebesaran Tuhan mengenai 'waktu'. Time does change everyone, including my best friend.

Kalau boleh dibilang, bertemu kembali dengan seseorang itu seperti membeli buku cerita. Membuka kembali dokumentasi kisah lampau dan menemukan sisi-sisi yang baru terkuak setelah lama kita meninggalkannya. Hal itu terjadi dalam pertemuan saya dengan teman kuliah saya yang sudah berpisah selama lebih dari 5 tahun. Dia tak sungkan menceritakan kembali kisah lamanya, kisah yang dulu tidak saya ketahui kebenarannya.

Pertemuan itu Misteri

Pertemuan saya dengan sepupu jauh saya bernama Apik dan Anik (mereka kembar), pada saat kita menempati kos yang sama di masa kuliah dulu, membawa saya kepada hal kecil yang mengejutkan. Ternyata ayah mereka, Prof. Ali Saukah adalah pengarang buku paket pelajaran Bahasa Inggris yang saya pakai di SMP dulu.

Kemudian, pertemuan saya dengan sepupu saya yang lain bernama Sinati, membawa Sinati bertemu dengan Taufik, suaminya sekarang. Sinati juga satu kos dengan saya, Apik serta Anik. Pada suatu hari, Taufik, yang juga sepupu saya dari pihak ibu, datang untuk bertemu dengan saya. Saya sedang di luar kos. Terpaksa Sinati menemui Taufik sehingga terjadilah perkenalan lebih jauh di antara mereka hingga akhirnya membawa mereka ke jenjang pernikahan.

Saya percaya, pertemuan itu ada misterinya. Saya sering tertawa sendiri saat mengingat-ingat berbagai pertemuan yang saya alami, karena baru mendapati hikmah pertemuan itu di masa sekarang.

Pertemuan adalah Pembelajaran

Peristiwa apa pun yang terjadi di dunia ini membawa pembelajaran, tak ketinggalan pula sebuah pertemuan, baik pertemuan formal maupun ketidaksengajaan dalam keseharian kita. Saya belajar bagaimana mengelola keuangan dan pentingnya berinvestasi setelah bertemu sahabat saya yang satu. Saya belajar bagaimana menjadi sedikit galak, judes dan tegas setelah bertemu sahabat saya yang lain.

Saya belajar untuk tidak memarahi orang -karena jujur dimarahi orang tu ngga enak banget, dari rekan kerja saya di kantor. Saya belajar untuk murah senyum dari orang yang baru saja berpapasan dengan saya di sebuah perjalanan, saya pikir ternyata melihat orang tersenyum itu mampu membahagiakan kita. Di hari-hari kemudian, ketika bertemu dengan seseorang, saya asik bertanya-tanya dalam diri saya, hmmmm apalagi yaa yang akan saya pelajari dari orang ini? :D

Begitulah beberapa cara saya memaknai pertemuan, bagaimana dengan Anda?

Friday, December 21, 2012

Kiamat

Tanggal ini, 21-12-2012 konon adalah hari terakhir bagi Suku Maya. Mereka meyakini bahwa kiamat seharusnya terjadi hari ini. Kok seharusnya? Karena sekarang pukul 05.45 waktu Indonesia bagian kamar, saya masih bisa mengetik postingan ini, jelas bahwa ramalan tersebut masih belum terjadi.

Di postingan saya sebelumnya, saya menyebutkan satu bagian dari kitab suci agama Islam yaitu Surat Al Waqiah. Teman-teman yang membaca postingan tersebut mungkin merasa ganjil ketika amarah saya reda begitu saja begitu membaca terjemahan surat itu. Sebetulnya, apa yang dikatakan Tuhan saya di Surat Al Waqiah?

Jawabannya akan saya coba ulas di postingan ini, pastinya dengan sudut pandang sangat subyektif. Saya juga mohon maaf bila sekiranya postingan ini tidak berkenan bagi pembaca. Tidak ada maksud lain, selain hanya sharing cerita saja.

Waqi'ah adalah nama lain dari Kiamat. Di kitab Al Qur'an, Allah menyebut 'Kiamat' dengan berbagai istilah. Beberapa diantara istilah lainnya adalah Qori'ah dan Qiyamah. Secara garis besar, Al Waqi'ah menceritakan mengenai nasib bangsa manusia setelah Kiamat itu terjadi, lebih kepada ganjaran yang akan diterima setelah dihisab atau dihitung amalannya.

Setelah Kiamat terjadi dan setelah dihisab tadi tentu saja, bangsa manusia dibagi menjadi tiga golongan: pertama, golongan kanan; kedua, golongan kiri dan ketiga, golongan orang-orang beriman. Golongan tersebut dibagi berdasarkan amalan dan ganjaran apa yang akan diterima.

Penjelasan di Al Waqiah dimulai atas orang-orang beriman terlebih dahulu. Siapa saja yang dikategorikan orang beriman? Mereka adalah "segolongan besar orang-orang terdahulu dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian". Saya mengasumsikan bahwa orang-orang terdahulu adalah yang hidup di masa Nabi Muhammad dan pendahulu-pendahulunya, sementara orang kemudian merupakan sebutan bagi kaum yang hidup setelah Nabi termasuk kita-kita ini. Kenapa ya kaum kita hanya sedikit yang masuk golongan ini?

Golongan pertama adalah golongan yang akan ditempatkan di Jannatun Na'im (Surga Kenikmatan) dan paling dekat dengan kedudukan Allah. Dijelaskan pula bagaimana kondisi dan kenikmatan di surga ini adalah yang paling yahud dari surga-surga yang lain. Saya curiga, jangan-jangan Nabi dan Rosul juga tinggalnya di surga ini. Pantesan tampak susah masuk ke golongan ini.

Golongan kedua adalah golongan kanan. Siapa mereka? Mereka adalah "sebagian besar orang-orang terdahulu dan segolongan besar pula dari orang-orang kemudian". Ganjaran buat mereka adalah menghuni surga lain selain Jannatun Na'im. Tentu dengan kenikmatan yang tak kalah oke.

Golongan ketiga, golongan kiri, mereka adalah "orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian yang sebelum kiamat hidup bermewahan, terus menerus mengerjakan dosa besar dan tidak percaya bahwa mereka akan dibangkitkan setelah mati". Ganjarannya adalah neraka, seram sekali penjelasan kondisi neraka di Surat Al Waqiah.

Sebagian akhir dari Al Waqiah berisi semacam "Big Irrefutable Retorical Questions", mengapa bangsa manusia meragukan dan meremehkan Tuhan, padahal telah jelas bukti-bukti keberadaan dan kekuasaan-Nya. Ini nih contoh pertanyaannya:

"Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu tanam. Kamukah yang menumbuhkannya atau Kamikah yang menumbuhkannya?
Kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan dia hancur dan kering, maka jadilah kamu heran dan tercengang (sambil berkata): Sesungguhnya kami benar-benar mendertia kerugian" (QS. Al Waqi'ah: 63-66)

Apa yang saya rasakan dalam postingan sebelumnya adalah satu bentuk goyahnya keyakinan saya terhadap kuasa Tuhan yang dibantah telak dengan banyak Retorical Questions tersebut. Maka dari itu saya langsung diam seribu bahasa dan mohon ampun pada Tuhan atas keragu-raguan saya.

Well, apapun, itu tadi terbatas pengalaman spiritual saya. Tapi kalau ingat keyakinan saya akan hari Kiamat, tentu saya ingin masuk surga dan saya tahu itu tidak gampang, bahkan mungkin jalannya harus banyak ditempuh dengan banyak kesabaran dan keikhlasan atas kondisi yang tidak kita inginkan. Itulah kenapa, seperti saya pernah dengar, surga banyak dihuni oleh orang miskin yang ikhlas menghadapi hidupnya. Lantas kenapa saya menjadi begitu sombong dan tidak mensyukuri kondisi saya saat ini?

Thursday, December 20, 2012

Limbung

space
Saya sampai pada ujung keputusasaan saya.

Saya sudah tidak mampu menyalahkan diri sendiri atas kekecewaan ini. Terlalu banyak saya lemparkan beban pada hati untuk memarahi otak ketika dia mencoba egois dalam menghadapi masalah. Otak pun sebenarnya sudah lelah membela diri saya dihadapan hati dengan segala logika-logikanya.

Otak mencoba menyalahkan orang lain, "Seharusnya mereka bisa sedikit lebih peduli kepada kita seperti kita telah berbaik hati pada mereka! Apa salah kita sampai mereka tega bertindak sangat tidak adil?!"

Hati bilang, "Percuma menyalahkan orang lain karena toh mereka tak berperan dalam menciptakan kekecewaan. Bukannya kekecewaan itu hasil karya mu sendiri wahai otak dan pikiran? Kau begitu sombong menetapkan standar-standar diri sehingga virus kekecewaan itu tumbuh besar dalam diri kita".

Saya lari pada hal lain. Saya mengadu dan marah sama Allah.
Saya dulunya giat berdoa agar Dia memberikan yang terbaik bagi saya, seperti apa yang dikasih tau orang-orang. Hanya saja rupanya entah apa kami berdialog dalam bahasa yang berbeda, sehingga persepsi yang terbaik menurut-Nya kok masih jauh dari yang terbaik versi saya. Padahal, rasanya saya sudah memenuhi syarat dan ketentuan yang Dia berikan deh.

Saya pikir ini harus diluruskan. Karena saya benar-benar sudah tidak bisa menyalahkan hati dan otak  atas semua ini.

Akhirnya saya meluruskan semua itu dengan cara penghambaan yang paling kuno. Saya bicara sama Allah "Apalagi Yaa Allah? Apalagi yang harus saya lakukan? Setidaknya berikan sedikit obat untuk orang limbung yang satu ini, yang sangat sadar bahwa hanya Engkaulah Yang Maha Kuasa"

Lantas Dia memberikan saya: Al Quran - Surat Al Waqi'ah, dan diamlah saya. Seperti antalgin, obat itu menawarkan sakit saya, tangis saya dan rengekan saya.

Tuesday, December 18, 2012

Dewa yang Kecewa

Dari Belitong saya punya cerita. Bukan soal pantai indahnya plus hiasan batu-batu besar yang entah dari mana datangnya itu. Bukan pula soal SD Laskar Pelangi serta Ibu guru Muslimah yang termasyur sejak difilmkan. Ini soal kisah saya di Vihara Dewi Kwan Im, sebuah vihara dengan dominasi warna merah pada bangunannya dan terletak di sebuah bukit Belitong Timur.

Pada bangunan vihara yang paling besar, di puncak bukit, terdapat tempat berdoa kepada para dewa. Banyak sekali patung dewa-dewa Cina diletakkan di sebuah altar lengkap dengan dupa dan sesaji di sekelilingnya. Setiap pengunjung yang hadir ditawarkan untuk berdoa di hadapan para dewa. Melalui beberapa prosesi, pengunjung dapat berdoa dan mengajukan satu hal untuk ditanyakan pada para dewa. Konon para dewa itu akan segera menjawabnya.

Teman saya pun mencobanya. Dia diminta menyebutkan pertanyaan dalam hati. Kemudian penjaga vihara melemparkan sepasang batu ke altar yang sesaat kemudian batu tersebut jatuh dalam posisi satu menelungkup dan satu menengadah. Sang penjaga viara lalu meminta teman saya mengambil sebuah benda mirip sumpit di antara sekian banyak benda yang sama dan terletak dalam satu wadah. Cara pengambilannya mirip undian.

Setelah terpilih satu sumpit, Sang Penjaga mengamati sumpit tersebut lantas menuju ke sebuah papan di salah satu dinding ruangan. Papan tersebut memiliki banyak kotak-kota di mana di dalamnya terletak banyak kertas-kertas bertuliskan tulisan Cina. Sang Penjaga mengambil salah satu kertas di antaranya dan sepertinya ia mencocokkannya dengan sumpit yang terpilih. Saya tidak tahu berdasarkan apa.

Di balik kertas itu ada tulisan Cina yang lebih kecil dan terangkai dalam paragraf. Sang Penjaga pun menterjemahkan dan membacakannya untuk teman saya. Saya lupa apa tepatnya isi pesan di dalam kertas tersebut.

Tertarik dengan pengalaman teman saya, saya pun menerima tawaran sang penjaga untuk berdoa di altar para dewa. Setelah bersiap, sang Penjaga meminta saya menyebutkan pertanyaan saya dalam hati. Terus terang, sebelum mencoba berdoa, saya sempat ragu terhadap hal ini. Khawatir bahwa yang saya lakukan termasuk tindakan yang dilarang oleh agama saya. Oleh karenanya, ketika diminta mengutarakan pertanyaan, dalam hati saya mengucap seperti ini: "Ya Allah berikan lah petunjukmu melalui hal ini, saya ingin tahu tentang karir saya".

Setelah itu, Sang Penjaga melempar sepasang batu, persis seperti yang ia lakukan dengan teman saya tadi. Tapi anehnya Sang Penjaga berkata bahwa lemparan pertama gagal. Sehingga saya harus mengulang pertanyaan saya. Sampai tiga kali lemparan batu, tetap saja Sang Penjaga bilang bahwa saya gagal. Para dewa tidak mau memberikan petunjuknya, katanya. Karena batunya semuanya sama-sama menelungkup atau sama-sama menengadah. Petunjuk baru akan muncul saat batu itu satu menengadah dan satu menelungkup. Sang penjaga menambahkan bahwa kegagalan saya akibat saya tidak yakin dan percaya pada para dewa sehingga mereka kecewa kepada saya.

Dan saya pun bingung. Saya meninggalkan vihara dan melanjutkan perjalanan, masih dengan rasa penasaran mengapa dewanya tidak mau menjawab pertanyaan saya. Sekian.

Oiya, buat yang mau liat video perjalanan saya ke belitong, bisa klik di bawah ini :)







Friday, October 26, 2012

Crazy Little Thing Called....LOVE


Inilah euforia menonton film. Film yang satu ini membawa saya flashback ke masa-masa saya duduk di bangku SMA bersama 3 sahabat saya. Mengingatkan saya pada beberapa kebiasaan kala itu. Mengobrol dengan secarik kertas yang dioper, sengaja izin ke toilet demi mengintip kelas di mana gebetan berada, boncengan di atas sepeda motor ketika pertama kali kami bisa mengendarainya dan tentu saja melewatkan banyak hal bersama. Kami juga mengalami perasaan kehilangan salah satu di antara kami hanya karena ia asyik bersama pacarnya :D

Disamping menceritakan tentang persahabatan, film ini menurut saya membawa satu pesan sederhana yang lumayan penting untuk menjadi pertimbangan dalam menjalin hubungan cinta dan menjalani kehidupan.

Ceritanya, sang tokoh utama, Khun Nam, jatuh cinta pada seniornya bernama Shone. Seperti biasa, namanya juga film. Shone adalah sosok senior yang ganteng, pinter main bola dan digemari banyak cewek cantik. Sementara Nam adalah cewek yang berkulit gelap, berkaca mata, pake kawat gigi, tidak terlalu pintar dan tentu saja tidak banyak murid yang mengenalnya. Bagi Nam, bisa bertemu dan bicara dengan Shone walau hanya sebentar ituuu udah sesuatu banget deh.

Sahabatnya tahu bahwa Nam menyukai Shone. Mulailah mereka membantu Nam untuk mendapatkan perhatian Shone dan Nam pun bersemangat untuk melakukan apa saja yang disarankan sahabatnya. Mereka mulai dengan membeli buku ‘9 metode mendapatkan gebetan’ dan menerapkan metode-metode tersebut. Gokil banget pas mereka mendandani Nam dengan masker dan melumurinya dengan lulur hingga kulitnya kuning. Sampai akhirnya Shone malah mengira Nam lagi sakit hepatitis A *hadeh.

Nam juga berusaha belajar lebih giat untuk menjadi juara di kelasnya. Ia dan sahabatnya mengikuti klub drama untuk menarik perhatian Shone. Nam juga belajar menjadi mayoret yang baik, saat ia kebetulan diminta menggantikan temannya yang cedera. Nam lambat laun mulai ‘sadar penampilan’ sehingga dia sukses menjadi idola di sekolah –pokoknya singkat kata Nam yang tadinya jelek terus jadi cantik aja.

Tiga tahun Nam diam-diam menyukai Shone dan melakukan berbagai cara untuk merebut perhatiannya. Sebetulnya usahanya tidak sia-sia, karena Shone ternyata juga menyukai Nam. Hanya saja waktu dan kondisi belum mendukung mereka untuk bersama. Hingga akhirnya mereka harus berpisah untuk mengejar impian masing-masing.

Alkisah, 9 tahun kemudian Nam berhasil menjadi fashion designer sukses setelah belajar di USA, sementara Shone berhasil menjadi fotografer pro yang selama ini dia impikan. Lalu mereka bertemu kembali, dan saat itulah cerita mereka happy ending.

Di akhir cerita film tersebut Nam berkata bahwa salah satu hal yang membuat ia sukses adalah karena dia pernah mencintai seseorang. Nam berkomentar tentang cowok yang dicintainya: “He is like my inspiration, he made me use the love in good way, he is like the power that supports me to be better and better...”

NAH! Ini lah apa yang saya bilang sebagai hal sederhana tapi perlu dicatat. Di tengah euforia menonton film ini saya berfikir bahwa memang sebaiknya rasa cinta kita terhadap seseorang itu dapat membawa kita menjadi diri kita ke arah yang lebih baik, bukan malah ke arah destruktif. 

Mungkin ada yang bakal komplain “wah, kalau gitu kita hanya bisa lebih baik kalo ada dia dong”. Iya, memang ‘dia’ adalah motivasi kita. Tapi tetap saja, kemauan untuk jadi lebih baik itu datangnya dari diri kita sendiri, cinta itu hanyalah pemantiknya. Toh sebenarnya, tidak banyak respon juga yang diberikan oleh Shone pada Nam. Tapi bagi Nam, bahkan hanya dengan melihat senyum Shone, Nam menemukan semangat yang luar biasa yang mampu mendorong dia ke arah yang lebih baik lagi.

Look, love might be a crazy thing, but the power to be better still come from your own mind, body and soul! So.... *simpulkan sendiri :P

Monday, June 11, 2012

Ridho Orang Tua, Ridho Allah

Saya bekerja di Telkom. Sebuah perusahaan milik negara sekaligus perusahaan publik yang besar dan keren. Besar karena perusahaan ini punya lebih dari 20.000 karyawan, kantornya tersebar dari Sabang sampai Merauke. Di kota-kota besar di Indonesia, Gedung Telkom bisa kita temui di lokasi-lokasi strategis, karena perusahaan ini sudah ada konon sejak masa penjajahan Belanda.

Keren karena bisnisnya saat ini sedang ngetrend. Kecuali bisnis telepon kabel-nya yang sudah ketinggalan jaman, perusahaan ini punya bisnis seluler, call center, infrastruktur telekomunikasi, properti, aplikasi, konten dan koneksi internet bagi semua kalangan. Telkom juga listing di New York Stock Exchange, London Stock Exchange dan tercatat di Tokyo Stock Exchange. Itu membuat Telkom menjadi perusahaan yang lebih profesional dibandingkan perusahaan milik negara yang lain. Tiap tahun Telkom menyumbang lebih dari 10 triliun laba dan separuhnya menjadi pendapatan negara di luar pajak.
Kata orang-orang di luar Telkom yang saya temui, hebat sekali saya bisa kerja di Telkom. Para fresh graduate banyak yang mengincar Telkom sebagai perusahaan idaman buat bekerja.

Saya pernah ditanya beberapa mahasiswa dan orang-orang yang saya temui tentang bagaimana usaha saya hingga bisa diterima kerja di Telkom. Saya bilang saja, ya saya ikut melamar dan ikut seleksinya. Lantas mereka tanya lagi, susah tidak seleksinya. Saya jawab susah banget, apalagi tes TOEFLnya. Kemudian mereka heran dan kembali bertanya, loh kalau susah kenapa saya bisa diterima? Menjawab pertanyaan tersebut, saya selalu melontarkan kalimat favorit saya dengan sangat yakinnya  “ini semua karena doa orang tua”.

Keyakinan saya, ridho orang tua adalah ridho Allah, doa orang tua sangat didengar oleh Allah. Saya bisa begitu yakin karena sudah membuktikannya berkali-kali. Bahkan sebelum para motivator menjadikan hal tersebut sebagai materi motivasi mereka. Keyakinan saya, bila saya menginginkan sesuatu, buat bahagia orang tua dulu, dan keinginan saya Insya Allah tercapai.

Tahun 2000, saya ingin bisa diterima dan bersekolah di SMA favorit saya. Waktu itu masih pakai NEM (Nilai Ebtanas Murni) sebagai syarat masuk. Saya sempat pesimis, apakah NEM yang saya dapat bisa memenuhi standar syarat masuk SMA tersebut. Pasalnya ketika EBTANAS berlangsung saya sedang sakit,meski akhirnya saya dapat mengerjakan seluruh soal ujian.

Akhirnya, saat liburan menunggu pengumuman EBTANAS, saya pergunakan untuk membantu orang tua saya di rumah. Pagi-pagi saya bangun, membersihkan kamar saya dan kamar orang tua saya, menyapu rumah dan halaman kemudian mencuci baju dan melipatnya. Pokoknya pulang kerja, orang tua taunya rumah bersih. Begitu setiap hari saya lakukan. Hingga tiba hari pengumuman.

Hasilnya NEM saya peringkat ke 8 satu sekolahan, dan 20 besar tingkat kabupaten! Saya pun bisa dengan tenang mendaftar ke SMA favorit saya tanpa khawatir tersingkir karena NEM saya termasuk tinggi.

Tahun 2003, tiba saatnya saya melanjutkan pendidikan saya ke universitas. Saya sama sekali tidak punya ide mau kuliah di mana, yang ada di benak saya, kalau bisa saya ingin kuliah di universitas negeri supaya biayanya murah dan orangtua saya mampu membayarnya. Tes pertama yang saya ikuti adalah Ujian Masuk UGM (Universitas Gadjah Mada) Yogyakarya. Jalur masuk tersebut baru pertama kali diadakan oleh UGM. Saya dan kawan-kawan pun tidak memiliki bayangan seperti apa tes dan hasilnya nanti. Ya pokoknya ikut aja dulu.

Setelah mengikuti tes, saya melakukan rutinitas saya sebagai full-time housekeeper. Hampir semua pekerjaan di rumah, saya kerjakan, termasuk memasak. Pokoknya selama hampir dua bulan menunggu pengumuman, saya layani orang tua saya. Pulang kantor, rumah sudah kinclong, baju sudah dicuci, makanan sudah siap, orang tua tinggal istirahat. Hingga tiba hari pengumuman...

...dan saya diterima di UGM untuk pilihan kedua, di FISIPOL.

Kali ini saya tidak menyangka saya bisa diterima. Dan satu kelas saya yang diterima hanya empat orang, termasuk saya, padahal hampir sekelas mengikuti tes tersebut. Lebih mengagetkan, teman-teman yang lebih pandai dari saya, tidak diterima. Saya merasa porsi belajar saya biasa saja, bahkan sempat saya kebut semalam. Sungguh karunia yang luar biasa, saat teman-teman saya masih harus berjuang ke universitas lain, saya justru hanya sekali tes dan diterima.

Dua kali memiliki pengalaman yang hampir sama, saya menyimpulkan bahwa hal ini sangat mungkin berkat orang tua saya. Kalau orang tua saya senang, saat mereka berdoa, doanya tambah powerful. Rumus inilah yang saya terapkan juga untuk melamar pekerjaan di Telkom. Dan terbukti, selang 6 bulan setelah saya lulus, saya langsung diterima bekerja di perusahaan sekelas Telkom.

Keyakinan inilah yang saya pegang hingga saat ini. Tentu saja saya juga berikhitiar dan berdoa untuk apa yang saya inginkan. Tapi diatas semua itu, doa dan ridho orang tua sangat berpengaruh. Sama halnya ketika saya mengalami kesulitan untuk meraih keinginan saya, mungkin saja ada hal antara saya dan orang tua saya yang kurang beres. Maka saya berusaha menyelesaikannya terlebih dahulu dan berusaha membuat keduanya mengerti, senang dan tenang terhadap keputusan saya.

Allah berfirman dalam ayatnya “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu janganlah engkau mengatakan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka menyayangi aku sejak kecil” (QS. Al-Israa’:23-24)

Sekali lagi, ridho orang tua adalah ridho Allah :)

Thursday, April 12, 2012

Berbeda atau Mati! (Tak Sekedar Berbeda)

Eh, ekstrim sekali ya pernyataan saya. Pernyataan saya yang sangat keren itu terinspirasi dari judul buku pakar marketing Jack Trout dan Al Ries “Differentiate or Die”. Terus, mengapa harus berbeda?

Begini ceritanya...

Beberapa waktu yang lalu, teman kuliah saya dengan terburu-buru mengumumkan di forum Blackberry Messenger kami bahwa sedang ada obral besar-besaran di sebuah pusat perbelanjaan di Bandung. Obral itu memberondong para pengunjung dengan bertumpuk baju-baju bermerk! GAP, Calvin Klein, Guess dan sebagainya; dari mulai kemeja hingga celana jeans dengan harga turun lima kali lipat dari harga asli. Teman saya menambahkan bahwa para pengunjung ramai mengerumuni tumpukan itu untuk mendapatkan baju bermerk favorit mereka dengan harga murah.

Sebagian orang men’dewa’kan merk atau dalam bahasa marketing sering banget disebut brand. Coba deh jawab pertanyaan saya, mana yang kamu pilih antara dua buah kemeja sama persis dari bahan, ukuran, harga dan kualitasnya, akan tetapi di salah satu kemeja tertera merk Guess?

Ada contoh lain, mana yang kamu pilih, dua orang cowo yang sama-sama ganteng, tinggi, pinter, kaya, rajin menabung, sementara yang satunya dikenal dengan nama Afgan Syahreza??

Saya tuh pengen membahas, kalau merk atau brand itu saat ini ngga hanya berlaku buat barang jualan macam baju, mobil, jam tangan, tas, atau bahkan hand body lotion dan pasta gigi. Sekarang orang pun identik dengan merk!

Bingung ngga? Biar tambah bingung saya mau cerita lagi...

Dalam marketing, daya tarik merk atau brand membawa pengaruh yang besar. Para pengusaha, pebisnis, pedagang dan pemasar banyak yang sadar betul bahwa membangun dan memperkenalkan brand adalah kunci pertumbuhan dan sumber keuntungan. Bahkan, brand memiliki kekuatan untuk menentukan harga yang akan dibayar oleh konsumen dan harga saham yang akan dibeli oleh investor.

Memilih nama brand untuk sebuah produk penting dari sisi promosi, karena nama brand mencerminkan isi dan kegunaan produk tersebut. Brand juga membantu pemasar untuk menentukan posisi produk tersebut di mata pelanggan. Sebab pada saat yang sama, nama brand menciptakan kesan yang ada di balik produk.

Sekarang apa yang ada dalam pikiranmu ketika saya sebutkan nama Afgan Syahreza? Atau Ariel Peter Pan? Atau Justin Bieber? Mungkin kalau saya tanyakan juga pertanyaan itu pada orang yang baru saya kenal di supermarket, ia akan memberi jawaban yang tidak jauh berbeda dengan kamu. Lain halnya kalau saya sebutkan nama Hanna ke mereka, kayaknya mereka bakal bilang “oh itu nama kucing saya”. Serius habis itu saya langsung ngeloyor pergi deh.

Nama kita itu sebenarnya merk atau brand diri kita. Melalu nama lah kita diidentifikasi. Hal utama yang dapat membedakan kita dengan orang lain pun adalah nama kita. Akan tetapi bagaimana bila ternyata di suatu kondisi bukan kita satu-satunya pemilik nama yang kita sandang? Di titik ini lah kita perlu untuk menjadi berbeda.

Sebetulnya meski satu nama dapat dimiliki oleh lebih dari satu orang, secara fisik tentu masing-masing orang tetap saja berbeda. Namun berbeda secara fisik saja tidak cukup. Cara lain untuk menjadi berbeda adalah mengembangkan kepribadian dan identitas yang unik. Mulai dari penampilan fisik, cara berbicara, cara jalan, cara melirik (haishh), cara makan, respon kita terhadap suatu hal, hingga cara berfikir dan menyelesaikan masalah. Pemilihan selera lagu, pemilihan jenis kendaraan, pemilihan sekolah, tempat kerja dan lain sebagainya.

Mengapa kita perlu untuk menjadi unik? Karena hidup terlalu singkat untuk menjadi biasa saja atau sama dengan kebanyakan orang.

Langkah selanjutnya, setelah menjadi unik, menurut saya kita itu perlu dikenal. Karena sayang sekali kita sudah unik tapi diem aja nyempil di bagian mana di dunia ini, sia-sia sudah keunikan kita.

Mengapa kita perlu untuk dikenal? Karena hidup terlalu singkat hanya untuk menjadi orang biasa dan tidak terkenal. Yess! Kalau perlu seterkenal Afgan, Justin Bieber atau Michael Jackson *sambil benerin kerah baju. Eh Rosulullah saja orangnya terkenal lho, dan menurut Buku Pintar yang saya baca jaman SD, beliau adalah orang paling berpengaruh di dunia. Lha terus masa kita tidak meneladani beliau.

Kalau dalam sudut pandang brand ada ungkapan seperti ini, kuat atau tidaknya karakter brand itu ditentukan saat calon pembeli berada di depan etalase dan memilih barang. Dari berbagai pasta gigi yang berderet misalnya, pasta gigi mana yang akhirnya ia beli adalah yang mampu memenangkan hati pembeli tersebut *ciyeehhhh memenangkan hati boww....

Sampai disini paham kan sodara-sodara?

Kalau paham, kita akan lanjutkan pelajaran selanjutnya, di posting selanjutnya tentang brand positioning buat diri kita (apa lagiii iniiii). Gimana trik-trik menjadi unik dan dikenal sebagai seorang individu di muka dunia ini *halah*. Moga aja tulisan saya nanti bisa selebay janji saya ini yaa, jadi mari kita tunggu bersama-sama tulisan saya selanjutnya, hahaha....

Monday, April 02, 2012

Apakah kamu bahagia saat ini?


"Aku bakal bahagia banget kalau aku bisa beli iPad 3 saat ini"

"Gw baru bahagia kalau dia bisa jadi pacar gw"

"Bahagia adalah bisa pulang malem ini tanpa kejebak macet"


Pasti macam-macam jawaban yang muncul saat pertanyaan tersebut dilontarkan pada kita. Jawaban di atas juga manusiawi banget, ngga ada yang salah. Cumaaannnn....kali ini saya mau berbagi pemikiran yang saya anggap ideal buat mengidentifikasi apa itu bahagia.

Mungkin ada yang berpendapat, bahagia itu ngga bisa dan ngga perlu diidentifikasi atau dicari-cari artinya. Karena bahagia itu kan hanya bisa dirasakan, jadi kenapa musti repot diartiin.

Ya silakan sih, ngga papa kalo ada yang bilang gitu, pokoknya saya tetep mau berbagi -- maksa abiss dah, xixixi.

Jadi yaa temen-temen dan sodara-sodara sekalian, menurut buku primbon yang saya baca, bahagia adalah sebuah kesadaran tentang perasaan mengalami kemajuan. Mengapa harus kemajuan? Ya karena kita hidup. Segala yang hidup mengalami pergeseran atau bahasa kerennya transformasi. Kita ngalamin yang namanya pergantian hari, dari senen, selasa, rabu, trus kamis, trus jumat. Kita bersekolah, naik kelas sampai tau-tau udah lulus SMA. Trus kita melanjutkan ke jenjang yang lain, bekerja, menikah, punya anak... YEP! kita maju...

Begitu pula dalam mengartikan kebahagiaan sebagai kesadaran tentang perasaan mengalami kemajuan. Apapun bentuk kesadaran itu, misalnya mendapatkan sesuatu, memiliki sesuatu, meraih sesuatu.... yang pasti semua orientasinya adalah maju, kita punya tujuan. Karena kalau kita mengalami kemunduran maupun keadaan diam alias stuck, dapat dipastikan kita ngga bahagia, gundah gulana, galau!

Ngga berhasil dapat iPad, ngga bahagia.

Ngga berhasil jadiin si doi pacar, gundah.

Bete gara-gara macet ga kelar-kelar, galau.

Kata buku primbon, untuk dapat merasa bahagia, merasa bahwa ada kemajuan di diri kita, kita harus tahu (1) apa yang kita pengenin (2) gimana posisi kita sekarang (3) trus gimana caranya kita meraih apa yang kita pengenin.

Ah masa sih?

Ya misalnya nih kita dapet iPad, trus bahagia. Itu karena kita tahu bahwa kita pengen iPad, trus semenit yang lalu kita belum punya iPad dan kita tahu cara dapetin iPad, entah itu gara2 minta ke ortu, beli pake kartu kredit atau ngirim undian terus menang.

Orang-orang yang tahu bagaimana caranya berbahagia, secara ngga sadar telah menerapkan rumus tersebut. Saya pernah mencoba menanyakan pertanyaan tersebut 3 tahun yang lalu terhadap 10 orang-orang terdekat saya. Kalau ada yang mau tahu apa jawaban mereka, bisa cek di bawah ini.

Kalau ngga kebaca, bisa baca langsung di FB saya, Hanna Laila Dewi. ^__^

Dari tulisan tersebut mungkin kita bisa menilai bagaimana masing-masing orang mengartikan kebahagiaan sesuai dengan rumus di atas.

Ngomong-ngomong, kapan waktu yang tepat buat bahagia?

Waktu dapet iPad? dapat pacar baru? atau lepas dari kemacetan? hmmm boleh-boleh aja. Tapi saya usul agar kita berbahagia mulai dari sekarang, saat ini juga. Mengapa harus sekarang? Saya juga ngga ngerti apa jawaban pastinya. Habisnya, apakah kalau kita ngga dapat iPad lantas kita harus ngga bahagia; apa kalau ngga dapetin si doi jadi pacar, trus ngga bahagia; seumpama terjebak macet apa kita musti bete selamanya...

Ternyata, setelah saya baca-baca buku primbon dan berteori macam-macam, saya pikir kemajuan yang dimaksud adalah kemajuan yang lebih bersifat filosofis. Yakni kemajuan batin, bagaimana dari hari ke hari kita merasa bersyukur dengan apa yang kita dapat atau tidak kita dapat. Lebih dewasa, lebih bijak dan lebih bersyukur dari sebelumnya dalam mencapai keinginan dan kebutuhan, itulah kemajuan yang dimaksud.

Udah ah sharingnya. Anyway saya berharap temen-temen dan sodara-sodara semua berbahagia saat ini, nanti dan seterusnya; dengan apa pun keinginannya; dan dengan siapa pun meraihnya :)



Wednesday, March 28, 2012

Pertolongan Pertama saat Diri Menderita Galau

Ada yang lagi galau dan bingung harus gimana? Coba deh tips dari saya berikut ini, siapa tau ada yang mempan mengurangi rasa galau yang dihadapi :D

1. Kenali sebab musabab ke-galau-an

Galau ada sebabnya. Kalau gak ada sebabnya? ahh pasti ada :D sekali pun itu hanya sebab remeh semacam pre-mestruation syndrome (PMS) buat para cewe atau lagi kangker (kantong kering) buat para cowo.

Kita perlu mengenali apa penyebab galau kita. Karena pada dasarnya rasa galau itu adalah cabang kesekian dari 'masalah', dan masalah kalau mau kelar dan tersolusikan ya perlu diketahui sebabnya dulu.

2. Usahain selesaikan sang penyebab galau

Kalau penyebab galaumu adalah bukan hal yang abstrak, misalnya ada tugas kuliah dan dikumpul besok. Mending segera selesaiin deh, supaya kamu gak galau lagi. Soalnya percuma kamu galau, tugasmu gak bakal selesai hanya dengan dipelototin aja sambil bergalau-galau ria.

3. Jangan berfikir dan berasumsi terlalu jauh

Kalau penyebab galaumu adalah hal yang abstrak, misalnya pacarmu kok ternyata genit yaa, suka goda-godain cewe/cowo lain, trus kamu mikir baru jadi pacar aja udah gitu gimana kalo jadi istri atau suami. Laahh buat yang masih sekolah atau kuliah, gak ada gunanya mikir kayak gini, masih jauhh boww...kagak usah dipikir. Orang buat yang dah hampir nikah aja, juga belom tentu yang entu jodohnya :D

Udah deh, daripada mikir yang gak-gak, mending kamu tidur aja, nonton film, dengerin musik atau apa lah, usir jauh-jauh asumsi-asumsi itu.

4. Buat yang galau karena cinta, ganti aja playlist lagumu

Jamin deh, lagi galau karena cinta malah denger lagu-lagu mellow, yang ada malah meler air mata, makin sedih, males makan, merasa makin terpuruk. Ganti deh playlistnya, dengerin lagu-lagu upbeat dan yang berlirik 'tegar' ciyeehh....macem "Lelaki buaya darat, buset aku tertipu lagi...punya Mba Maia" atau yang dangdut a ala ayu ting ting "sik asik" atau apa laahh...

Udah gitu hindari lagu-lagu yang ada hubungannya ama yang lagi bikin galau, jangan malah diputer2 mulu trus keinget deh ama dianya. Kalau misalnya di mall lagi muter lagu si doi, cepet2 juga deh kabur dari situ, dari pada keinget.

Tapi ya kalau sengaja pengen bermellow2 ria dan menghayati kegalauan yaa silakan *trus buat apa kamu baca artikel ini dong odong2 -____-"

5. Pegang Semboyan "Biar Galau yang Penting Produktif"

Tau ngga kalo Glenn Fredly lagi galau alias sedih, dia jadi bagus dan banyak nyiptain lagu. Nah kita kalau lagi galau??? Di kamar, mengunci diri. Atau naik ke atep trus ngelamun tiap hari. Widihhh jangan dehh.

Guys, waktu terus berjalan, kita sedih dan galau juga waktu ngga mau nungguin. So usahain meski kamu galau, tapi tetep menghasilkan sesuatu selain keluhan dan air mata.

Nyang lagi skripsi, tesis, banyak tugas, tetep kerjaiiinn. Kalo gak mending liburan aja sama temen-temen, sambil jeprat-jepret, kali-kali pas diupload poto di FB banyak yang muji. Atau bantuin ortu ngapain kek.

6. Ketemu, ngobrol dan ketawa-ketiwi bareng temen, sodara, tetangga, de el el

Cobain deh ketemu banyak orang, ngobrol tentang hal-hal baru. Jangan malah ngobrolin kegalauanmu. Selain nambah wawasan, kita bisa ngelewatin masa-masa galau dengan lebih mudah.

7. Meski seluruh dunia tahu, galau-mu ngga akan sembuh

Maksud aye, banyak di antara kita yang suka banget dikit-dikit ngeluh di status FB atau nge-Twit tentang kegalau-annya. Hellowww....harus ya seluruh dunia tahu kita lagi gundah-gulana....what for?? Nyelesein masalah juga engga...yang ada malah temen-temen kita tahu bahwa kita lemah, cengeng, sok jadi seleb, kurang perhatian...idihh ngga banget deh...

Kalo aye mah mending gak usah nulis status aja pas lagi galau. Lagian itu di sosial media isinya banyak orang, dari temen, sodara, pakde, bude, dll. Belom lagi kalo ada yang mikir "emang FB ini punya kamu doang, nyampah juga musti liat2 dong, xixixi

8. Lihatlah orang di sekitarmu...

Kadang masalah sepele aja bikin kita galau.

Coba kita liat orang-orang di sekitar kita, tukang nyapu jalan misalnya, si bapak itu berjuang dengan keringatnya sehari-hari hanya buat mengumpulkan rupiah demi rupiah. Atau penyandang cacat yang melukis pake kakinya. Nah kalau sampe gara-gara PR dapet jelek, ditegor ortu, diputusin pacar, gak ada makanan di rumah aja bikin kita galau, plis deh, masih banyak orang lain yang punya masalah lebih penting. Jadilah orang yang tegar ;)

9. Lebih mendekatkan diri sama Yang Maha Kuasa

Ini mungkin tips yang gak bisa dipikir pake logika. Tapi coba deh, misalnya yang muslim, banyak-banyakin istighfar. Berfikirlah bahwa Tuhan selalu punya rencana baik. Biasanya kegalauan kita lebih berkurang. Ditambah berfikir dan bertindak lebih tenang.

That's all guys, cuman 9 sih, ga usah banyak-banyak, dicoba aja dulu. Mari kita move on, karena waktu terus berputar....