Lebih dari sembilan bulan saya hamil. Tidak terasa proses persalinan sudah di depan mata. Ya, tidak terasa, salah satunya karena tidak terlalu banyak kesulitan yang saya alami selama proses kehamilan. Faktor pendukung lainnya adalah karena karakter saya yang cuek, tidak banyak komplain serta kondisi sekeliling yang cukup kondusif bagi saya. Menurut saya, karakter ibu hamil sangat menentukan proses yang dialami selama kehamilan karena satu masalah belum tentu sama dihadapi oleh ibu dengan karakter berbeda. Berikut tantangan yang saya alami saat hamil :
1. Heartburn
Heartburn adalah timbunan gas asam lambung yang bikin perut kembung, panas hingga terasa sampai kerongkongan. Seringkali heartburn sampai membuat saya mual dan akhirnya muntah. Tantangan yang satu ini setia menghadang mulai di trimester pertama hingga terakhir. Sempat membaik di trimester kedua sih. Saya membaca di beberapa referensi, heartburn ini wajar dihadapi ibu hamil karena hormon progesteron yang diproduksi lebih banyak selama hamil, turut menjadi penyebab naiknya asam lambung dari kondisi normal. Saya berasumsi, heartburn yang saya alami kian diperparah dengan riwayat maag saya. Kendati beberapa waktu sebelum hamil, penyakit tersebut sudah jarang menyerang.
Konsekuensinya, untuk menghindari heartburn yang cukup menyiksa ini, pada saat hamil saya amat sangat mengurangi makanan penyebab asam lambung. Mulai dari makanan yang mengandung kacang-kacangan, makanan pedas, makanan yang digoreng, makanan yang mengandung santan, sampai dengan kopi dan beberapa jenis susu. Tentu saja pembatasan konsumsi makanan yang saya lakukan menghapus cukup banyak menu makanan dan jajanan yang umum ditemui di luar rumah. Solusi memasak sayuran hijau di rumah dan memilih mengkonsumsi lebih banyak buah-buahan akhirnya jadi pilihan.
Saya sempat menebak-nebak, mungkin yang membuat beberapa ibu hamil mabuk di trimester pertama itu adalah kondisi heartburn ini. Saat dimana produksi asam lambung meningkat dan hormon sangat memengaruhi selera makan. Klop sekali jika selera makan hilang, perut tidak terisi dan asam lambung lagi banyak-banyaknya. Yang ada mual dan muntah berkepanjangan.
Saya pun mengalami perubahan selera makan, tapi bagaimanapun saya berprinsip tetap harus makan demi si baby. Jadi saya berusaha untuk tidak memanjakan diri sendiri. Makan sebelum lapar penting sekali untuk menghindari timbulnya lebih banyak asam lambung di perut saya. Asal tidak mabuk saja saya sudah bersyukur, yang penting makanan tertelan.
Pada trimester dua, yang konon termasuk masa kehamilan yang sudah lebih stabil dengan catatan kehamilan normal, heartburn juga ikut berkurang. Lumayan, saya jadi bisa menikmati beberapa menu pedas kesukaan saya. Puas-puasin deh karena pas trimester pertama sudah benar-benar membatasi.
Entah kenapa sang heartburn muncul lagi pada trimester tiga. Jika sebelumnya penyebab utamanya adalah makanan, kali ini munculnya tidak bisa ditebak. Saya sempat berasumsi macam-macam, apa jangan-jangan karena stress atau karena ukuran baby yang semakin besar hingga menekan lambung. Namun ketika saya konsultasikan dengan dokter kandungan, katanya semata karena faktor makanan. Kemudian ia memberikan obat penawar mual untuk sesekali diminum pada saat heartburn. Berdasarkan pernyataan dokter tersebut akhirnya di trimester tiga saya kembali membatasi makanan saya.
2. Miskomunikasi dengan pasangan
Ibu hamil seringkali mengalami masa-masa tidak nyaman. Misalnya berubah selera makan dan selera-selera yang lain, mual muntah, sering capek, atau jika sudah memasuki trimester akhir mulai tidak nyaman dengan posisi tidur, posisi duduk, lelah berjalan dan lain sebagainya. Belum lagi ketidaknyamanan ‘perasaan’ yang diklaim sebagai efek gejolak hormon. Pas menstruasi saja, wanita itu sulit dipahami, begitu kata laki-laki. Apalagi saat hamil, yang hormonnya berlipat ganda.
Di satu sisi, saya dan mungkin kebanyakan wanita hamil ingin sekali ketidaknyamanan ini juga dimengerti oleh pasangan. Sehingga pasangan bisa memberikan dukungan terhadap saya untuk melalui masa-masa kehamilan. Pasangan saya pun tergolong orang yang gemar membaca, mencari informasi tentang hal apapun dan terdidik. Maka seharusnya dia sudah tahu bagaimana caranya menghadapi wanita hamil.
Tapi ternyata, di kalimat terakhir itulah kesalahan saya pemirsa. Saya begitu berharap dan berprasangka baik bahwa suami akan mencari informasi mengenai ibu hamil selaiknya dia membaca berita-berita politik atau mengikuti perkembangan kejadian di luar sana melalui portal berita. Ternyata tidak sodara-sodara. Suami saya tetap harus diberi tahu apa yang harus dan sebaiknya dilakukannya. Ya begitulah, klise...wanita seringkali ingin dimengerti...pengennya tanpa harus ngomong banyak. Sedangkan pria, lempeng, dan tidak akan berasumsi macam-macam soal perasaan wanita kecuali diomongin langsung.
Dalam hal ini lah, mau tidak mau, kita dan pasangan dituntut untuk lebih cair mendialogkan tentang proses kehamilan. Sebagai wanita saya harus pro aktif mengkomunikan hal-hal yang perlu pasangan saya ketahui. Dan sebaiknya para suami juga pro aktif menanyakan, apa yang bisa dia bantu atau apa yang butuh untuk dia perhatikan. Karena menurut saya, miskomunikasi dengan pasangan ini cukup menguras tenaga pada saat saya menghadapi proses kehamilan saya yang pertama ini.
3. Emosi yang bergejolak dari biasanya –dan efeknya pada rutinitas kerja
Nah, mungkin ini masih ada kaitannya dengan peningkatan produksi hormon. Di masa-masa kehamilan, saya merasa lebih total dalam bekerja. Kemudian saya juga menggebu-gebu saat berdiskusi soal pekerjaan. Saya pun tak segan mempertahankan pendapat dan mengkoreksi sesuatu jika saya tidak setuju, sampai-sampai mendekati agak ngotot. Saya akui saya lebih mudah tersinggung juga saat hamil. Saya bertanya-tanya, ada apa yaa dengan saya, padahal saya sebelumnya tidak seberapi-api ini.
Kalau permasalahan yang satu ini, tak lain saya berlatih lebih mengendalikan diri saja. Sekali lagi saya tidak ingin memanjakan diri saya dan menuruti kehendak hormon. Sedikit banyak saya percaya, jika hal-hal di luar kebiasaan saya itu merupakan bawaan bayi, maka saya harus melatih mengendalikannya sejak ia di dalam kandungan.
Tuesday, June 09, 2015
Thursday, December 04, 2014
Masalah Selama Kehamilan? (Diary Bumil Polos Bagian #2)
Kehamilan saya memasuki minggu ke 12. Segala hal berlangsung santai seperti di pantai. Walau di pantai tidak sesantai yang saya katakan mungkin. Yah, kenyataannya ada juga secuil-dua cuil kejadian. Kejadian yang jamak adalah perut kembung, semacam terjadi peningkatan asam lambung yang drastis semenjak hamil dan bikin saya lumayan tidak nyaman.
Konon meningkatnya produksi asam lambung pada ibu hamil wajar, disebabkan bertambahnya produksi hormon kehamilan (oh gosh, pregnancy is all about hormonal matters). Solusinya tentu dengan menghindari penyebab perut kembung. Bagi yang sering menderita maag, akan familiar terhadap treatment ini (dan kebetulan saya adalah salah satunya).
Menghindari minum kopi dan konsumsi coklat berlebih (yang mana saya adalah penggemarnya), menghindari minum teh berlebih (walau masih diizinkan, apalagi kalo ditambah jahe itu bikin hangat perut ibu hamil, kenyataannya setiap hari ada saja waktu saya minum teh, hehehe), menghindari kacang-kacangan (jadi eneg juga sih pas hamil, terutama sama sambal kacang temannya pecel, baso tahu, kupat tahu dan batagor, asli saya jadi menghindari makanan-makanan tersebut) dan amat sangat mengurangi konsumsi makanan pedas dan berkuah kental (ampuuunnnn padahal saya penyuka makanan pedas).
Sama seperti treatment pada penderita maag, makan sedikit tapi sering lebih nyaman daripada makan tiga kali tapi banyak, apalagi makan terus dan banyak (yaeyaaalaahh). Lagian jadi bumil tu cepet laper mana bisa makan hanya tiga kali (kemudian terdengar gumaman dari sebelah: perasaan si Hanna gak hamil aja juga makan terus, wkwkwk). Tips bu bidan adalah sediakan cemilan yang agak-agak sehat di rumah maupun kantor, jadi saya sekarang ceritanya adalah penyetok setia berbagai jenis biskuit.
Selain perut kembung, masalah lain adalah sugesti otak terhadap enak tidaknya makanan. Tapi sodara-sodara, sekali lagi itu adalah sugesti. Karena anehnya makanan yang dianggap otak saya ngga enak, tapi pas dimakan, menurut lidah saya kok enak yaa. Kayaknya ini masalah gak penting. ==> masalah mana sih buat ibu hamil yang penting, orang mirip menstruasi kok indikasinya, cuma ini berlangsung lebih lama.
Hidung dan lidah yang lebih sensitif mungkin juga salah satu diantara banyak hal ihwal kehamilan ini. Oiya ada juga persoalan keputihan, lagi-lagi ini juga masalah hormon dan wajar. Yah, sepertinya kehamilan saya saat ini memang termasuk kehamilan cuek bebek. Kalau kata teman-teman, kehamilan kebo. Karena, syukur alhamdulillah, saya tidak merasa mual, tidak muntah dan tidak ngidam. Bayinya pun tidur terus di perut dong, orang bilang kayak ibunya. Ah perasaan saya bukan orang seperti itu.
Kesimpulannya, mohon maaf pada blogger yang berharap dapat tips-tips kehamilan yang banyak dari saya, soalnya yaa gimana mau ngasih tips, wong saya aja cenderung cuek dan kelihatan adem ayem pas hamil ini. So all I wanna say is...have a fun pregnancy moms! :)
Konon meningkatnya produksi asam lambung pada ibu hamil wajar, disebabkan bertambahnya produksi hormon kehamilan (oh gosh, pregnancy is all about hormonal matters). Solusinya tentu dengan menghindari penyebab perut kembung. Bagi yang sering menderita maag, akan familiar terhadap treatment ini (dan kebetulan saya adalah salah satunya).
Menghindari minum kopi dan konsumsi coklat berlebih (yang mana saya adalah penggemarnya), menghindari minum teh berlebih (walau masih diizinkan, apalagi kalo ditambah jahe itu bikin hangat perut ibu hamil, kenyataannya setiap hari ada saja waktu saya minum teh, hehehe), menghindari kacang-kacangan (jadi eneg juga sih pas hamil, terutama sama sambal kacang temannya pecel, baso tahu, kupat tahu dan batagor, asli saya jadi menghindari makanan-makanan tersebut) dan amat sangat mengurangi konsumsi makanan pedas dan berkuah kental (ampuuunnnn padahal saya penyuka makanan pedas).
Sama seperti treatment pada penderita maag, makan sedikit tapi sering lebih nyaman daripada makan tiga kali tapi banyak, apalagi makan terus dan banyak (yaeyaaalaahh). Lagian jadi bumil tu cepet laper mana bisa makan hanya tiga kali (kemudian terdengar gumaman dari sebelah: perasaan si Hanna gak hamil aja juga makan terus, wkwkwk). Tips bu bidan adalah sediakan cemilan yang agak-agak sehat di rumah maupun kantor, jadi saya sekarang ceritanya adalah penyetok setia berbagai jenis biskuit.
Selain perut kembung, masalah lain adalah sugesti otak terhadap enak tidaknya makanan. Tapi sodara-sodara, sekali lagi itu adalah sugesti. Karena anehnya makanan yang dianggap otak saya ngga enak, tapi pas dimakan, menurut lidah saya kok enak yaa. Kayaknya ini masalah gak penting. ==> masalah mana sih buat ibu hamil yang penting, orang mirip menstruasi kok indikasinya, cuma ini berlangsung lebih lama.
Hidung dan lidah yang lebih sensitif mungkin juga salah satu diantara banyak hal ihwal kehamilan ini. Oiya ada juga persoalan keputihan, lagi-lagi ini juga masalah hormon dan wajar. Yah, sepertinya kehamilan saya saat ini memang termasuk kehamilan cuek bebek. Kalau kata teman-teman, kehamilan kebo. Karena, syukur alhamdulillah, saya tidak merasa mual, tidak muntah dan tidak ngidam. Bayinya pun tidur terus di perut dong, orang bilang kayak ibunya. Ah perasaan saya bukan orang seperti itu.
Kesimpulannya, mohon maaf pada blogger yang berharap dapat tips-tips kehamilan yang banyak dari saya, soalnya yaa gimana mau ngasih tips, wong saya aja cenderung cuek dan kelihatan adem ayem pas hamil ini. So all I wanna say is...have a fun pregnancy moms! :)
Wednesday, November 05, 2014
Ada Dedek di Perutku (Diary Bumil Polos Bagian I)
Kita semua tahu bahwa pertanyaan mendasar selanjutnya dalam hidup, setelah kita menikah adalah: udah isi belum? Yakinlah, pertanyaan yang sama pun saya peroleh setiap saat dari berbagai kalangan manusia.
Saya termasuk dalam golongan kaum wanita yang ingin hamil dan melahirkan anak. Dalam ketenangan saya menjawab setiap pertanyaan sebetulnya tersimpan kegundahan yang luar biasa tentang kapan kah kiranya Tuhan mengizinkan saya menggendong amanahNya tersebut. Menyaksikan kawan-kawan dekat banyak yang belum juga dikaruniai buah hati setelah sekian lama mereka menikah, membuat pikiran saya kadang ngelantur juga ke mana-mana. Ada juga kawan yang menikah setelah saya, eh udah hamil aja. Yah walau saya baru menikah 5 bulan, gak boong juga kalau lumayan kepikiran hal ihwal hamil ini.
Kendati saya galau melow marshmellow, namun saya mencoba meyakini satu hal: rejeki untuk dikaruniai anak itu, sama hal-nya dengan jodoh, ya jadi rahasia Tuhan. Mau cepet, mau lama, mau gampang mau susah adalah kehendak Yang Maha Kuasa. Jadi saya percaya, Tuhan akan memberikannya pada waktu yang tepat. Yah itung-itung saya sama suami menikmati masa pacaran dulu karena perkenalan kita yang begitu singkat mungkin masih diperlukan semacam asimilasi dan akulturasi gitu #halahhh.
Tuhan rupanya tidak terlalu lama membiarkan saya termangu tidak jelas. Dua hari yang lalu, setelah terlambat haid hampir 1 bulan, saya memberanikan diri membeli alat tes kehamilan alias testpack. kenapa saya sebut memberanikan diri? karena jujur sudah beberapa kali 'disangka' hamil, beberapa kali pula tes kehamilan dan beberapa kali pula negatif, agak bosen juga. Apalagi kalau udah dengan bersemangat dibawa tes ke klinik dan alhasil masih aja negatif. Walau ga masalah, tapi malu juga saya, kok kayaknya jadi ngebet pengen banget hamil ==> lah emang pengen :P
Tapi tapi....kali ini positif pemirsahhh....*tiba-tiba ada suasana cetar membahana di kamar mandi saat itu. Berhubung saya orangnya ga ekspresif yaa akhirnya datar-datar aja sih rasanya melihat dua garis merah di testpack itu. Bersyukur? pasti, senang? tentu. Hanya saja yang terpikir oleh saya adalah makhluk ini akan menjadi tanggungjawab saya selama sembilan bulan lebih di perut ini. Setelah lahir, akan menjadi tugas saya dan suami untuk mendidiknya. Tidak mudah. Apa yaa...ini benar-benar bukan perkara saya akhirnya hamil, tidak...bahkan lebih dari itu.
Satu hal yang pasti, saat Tuhan kasih calon bayi ini pada saya dan suami, berarti Dia percaya bahwa kami bisa diberi anugerah ini, bahwa kami bisa mengemban tugas berat membentuk generasi selanjutnya yang hebat dalam keluarga kecil kami. Itulah kepercayaan yang menguatkan saya.
Sesaat setelah mengetahui kabar gembira itu, saya menyampaikannya pada keluarga, pada saudara dan sahabat, dan mohon doa restu mereka agar calon bayi ini sehat. Habisnya pas juga suami lagi bertugas di hutan belantara nan tidak ada sinyal, jadinya gak bisa ngabarin dia. Kemudian, mulai mendengarkan aliran nasehat-nasehat dari handai taulan yang membuat saya merasa lebih kuat mengetahui banyak yang sayang sama saya dan gembira dengan kehamilan ini.
Jika ada yang bertanya, gimana kok sampai bisa hamil? Kebanyakan saya menjawab 'tidak tahu'. Yaa karena bagaimanapun itu kehendak Tuhan. Soalnya, 5 bulan yang saya lalui pasca-menikah sungguh adalah 5 bulan yang melelahkan dengan rangkaian kegiatan keluarga dan pekerjaan yang sangat padat. Yang saya lakukan lebih banyak pasrah, menyerahkan segalanya kepada Yang Kuasa, sambil tetap berusaha. Oiya, suami saya waktu itu sering minum susu sapi kemasan satu liter itu yang rasa plain tiap hari. Dicoba saja, siapa tahu bisa membantu, karena ada satu artikel yang menyebutkan bahwa susu menyehatkan sperma, sehingga dia bisa berenang dengan kuat ke tuba falopi (kalo gak salah sebutannya begitu hehehe).
Demikian catatan saya yang pertama, semoga saya tidak segan menuliskan catatan-catatan selanjutnya :)
Saya termasuk dalam golongan kaum wanita yang ingin hamil dan melahirkan anak. Dalam ketenangan saya menjawab setiap pertanyaan sebetulnya tersimpan kegundahan yang luar biasa tentang kapan kah kiranya Tuhan mengizinkan saya menggendong amanahNya tersebut. Menyaksikan kawan-kawan dekat banyak yang belum juga dikaruniai buah hati setelah sekian lama mereka menikah, membuat pikiran saya kadang ngelantur juga ke mana-mana. Ada juga kawan yang menikah setelah saya, eh udah hamil aja. Yah walau saya baru menikah 5 bulan, gak boong juga kalau lumayan kepikiran hal ihwal hamil ini.
Kendati saya galau melow marshmellow, namun saya mencoba meyakini satu hal: rejeki untuk dikaruniai anak itu, sama hal-nya dengan jodoh, ya jadi rahasia Tuhan. Mau cepet, mau lama, mau gampang mau susah adalah kehendak Yang Maha Kuasa. Jadi saya percaya, Tuhan akan memberikannya pada waktu yang tepat. Yah itung-itung saya sama suami menikmati masa pacaran dulu karena perkenalan kita yang begitu singkat mungkin masih diperlukan semacam asimilasi dan akulturasi gitu #halahhh.
Tuhan rupanya tidak terlalu lama membiarkan saya termangu tidak jelas. Dua hari yang lalu, setelah terlambat haid hampir 1 bulan, saya memberanikan diri membeli alat tes kehamilan alias testpack. kenapa saya sebut memberanikan diri? karena jujur sudah beberapa kali 'disangka' hamil, beberapa kali pula tes kehamilan dan beberapa kali pula negatif, agak bosen juga. Apalagi kalau udah dengan bersemangat dibawa tes ke klinik dan alhasil masih aja negatif. Walau ga masalah, tapi malu juga saya, kok kayaknya jadi ngebet pengen banget hamil ==> lah emang pengen :P
Tapi tapi....kali ini positif pemirsahhh....*tiba-tiba ada suasana cetar membahana di kamar mandi saat itu. Berhubung saya orangnya ga ekspresif yaa akhirnya datar-datar aja sih rasanya melihat dua garis merah di testpack itu. Bersyukur? pasti, senang? tentu. Hanya saja yang terpikir oleh saya adalah makhluk ini akan menjadi tanggungjawab saya selama sembilan bulan lebih di perut ini. Setelah lahir, akan menjadi tugas saya dan suami untuk mendidiknya. Tidak mudah. Apa yaa...ini benar-benar bukan perkara saya akhirnya hamil, tidak...bahkan lebih dari itu.
Satu hal yang pasti, saat Tuhan kasih calon bayi ini pada saya dan suami, berarti Dia percaya bahwa kami bisa diberi anugerah ini, bahwa kami bisa mengemban tugas berat membentuk generasi selanjutnya yang hebat dalam keluarga kecil kami. Itulah kepercayaan yang menguatkan saya.
Sesaat setelah mengetahui kabar gembira itu, saya menyampaikannya pada keluarga, pada saudara dan sahabat, dan mohon doa restu mereka agar calon bayi ini sehat. Habisnya pas juga suami lagi bertugas di hutan belantara nan tidak ada sinyal, jadinya gak bisa ngabarin dia. Kemudian, mulai mendengarkan aliran nasehat-nasehat dari handai taulan yang membuat saya merasa lebih kuat mengetahui banyak yang sayang sama saya dan gembira dengan kehamilan ini.
Jika ada yang bertanya, gimana kok sampai bisa hamil? Kebanyakan saya menjawab 'tidak tahu'. Yaa karena bagaimanapun itu kehendak Tuhan. Soalnya, 5 bulan yang saya lalui pasca-menikah sungguh adalah 5 bulan yang melelahkan dengan rangkaian kegiatan keluarga dan pekerjaan yang sangat padat. Yang saya lakukan lebih banyak pasrah, menyerahkan segalanya kepada Yang Kuasa, sambil tetap berusaha. Oiya, suami saya waktu itu sering minum susu sapi kemasan satu liter itu yang rasa plain tiap hari. Dicoba saja, siapa tahu bisa membantu, karena ada satu artikel yang menyebutkan bahwa susu menyehatkan sperma, sehingga dia bisa berenang dengan kuat ke tuba falopi (kalo gak salah sebutannya begitu hehehe).
Demikian catatan saya yang pertama, semoga saya tidak segan menuliskan catatan-catatan selanjutnya :)
Thursday, October 23, 2014
Perbincangan yang Berbeda
Berbicara dengan orang baru sesekali, ternyata cukup memberi penyegaran terhadap pikiran saya. Tidak perlu dengan orang yang benar-benar baru dikenal, berbincang dengan teman sekantor, beda lantai dan jarang saya temui pun bisa membuat saya memiliki perasaan semangat yang berbeda.
Saya pernah mendapat insight dari seorang sarjana psikologi bahwa tiap manusia itu punya lingkaran-lingkaran pertemanannya masing-masing (circle of relationship), dari innermost circle (lingkaran terdalam), yang berisi orang-orang terdekat, paling sering bertemu dan berinteraksi; hingga outtermost (terluar) yang terdiri dari orang-orang yang sedikit dikenal dan jarang berinteraksi. Pasangan, sahabat dan keluarga bisa jadi masuk dalam innermost circle untuk kebanyakan orang.
Anggota innermost circle ini menurut saya adalah yang paling mempengaruhi pemikiran seseorang, mempengaruhi bagaimana ia mengambil keputusan, cara bersikap dan membentuk kebiasaan-kebiasaan berkelompok dari orang tersebut. Misalnya saya dan teman-teman kerja yang dekat dengan saya dan hampir tiap hari kami makan siang bersama. Saya menjadi terbiasa hang-out dengan mereka di tempat hangout yang sama. Saya membicarakan berbagai macam kejadian bersama mereka. Ketika saya mengalami kesulitan pun saya menanyakan pendapat mereka. Mereka secara tidak langsung 'terlibat' dalam hampir kebanyakan kualitas kehidupan saya.
Membiasakan untuk mengambil sudut pandang diluar innermost circle maupun inner circle saya, terkadang seperti yang saya sebutkan di atas, saya mencari penyegaran dengan berbincang dan bergaul dengan teman-teman dari lingkaran-lingkaran luar dan orang-orang yang baru saya kenal. Kadang dari mereka-mereka inilah saya bisa tiba-tiba berucap "wow, seru sekali pemikiran orang ini, boleh dicoba juga" atau "wah, dia ternyata punya kemampuan seperti ini".
Memutuskan untuk berbincang dengan outter circle dan orang baru bagi saya pribadi, adalah seperti latihan keluar dari zona nyaman. Jujur, saya sebenarnya adalah orang yang malas berbasa-basi atau bersikap eksis dalam hal membuat pertemanan baru, sehingga ketika bertemu orang-orang baru, lebih banyak seperti dipaksa oleh keadaan untuk menjalin komunikasi atau hubungan.
Mungkin ini sama halnya ketika saya ditanya, suka travelling atau gak? saya akan menjawab "yaa suka tapi tidak gemar, sekali dua kali setahun boleh lah". Mengapa saya sambungkan dengan travelling? karena travelling bagi saya merupakan kegiatan keluar dari zona nyaman, dikarenakan kerepotan untuk mengurus ini itu, pesan tiket pesan penginapan, packing baju, belum lagi menabung untuk biaya perjalannnya.
Tapi boleh lah, memberikan tantangan untuk diri sendiri mengenal dunia luar dengan travelling dan kembali ke pembicaraan kita, yaitu memberikan penyegaran dengan berinteraksi dengan outter circle. Kendati setelah melanglang buana, kita tetap butuh sesuatu yang disebut rumah sesungguhnya. Persis, meski melakukan penyegaran dengan interaksi lain, kita tetap butuh orang-orang yang disebut "keluarga dan sahabat".
Walau, kadang dengan travelling kita jadi berfikir pindah tempat tinggal untuk sesuatu yang lebih baik. Begitu pula dengan innermost circle kita, jangan ragu berpikir untuk hijrah jika memang kita menginginkan sebuah 'pengaruh' yang lebih baik lagi.
Saya pernah mendapat insight dari seorang sarjana psikologi bahwa tiap manusia itu punya lingkaran-lingkaran pertemanannya masing-masing (circle of relationship), dari innermost circle (lingkaran terdalam), yang berisi orang-orang terdekat, paling sering bertemu dan berinteraksi; hingga outtermost (terluar) yang terdiri dari orang-orang yang sedikit dikenal dan jarang berinteraksi. Pasangan, sahabat dan keluarga bisa jadi masuk dalam innermost circle untuk kebanyakan orang.
Anggota innermost circle ini menurut saya adalah yang paling mempengaruhi pemikiran seseorang, mempengaruhi bagaimana ia mengambil keputusan, cara bersikap dan membentuk kebiasaan-kebiasaan berkelompok dari orang tersebut. Misalnya saya dan teman-teman kerja yang dekat dengan saya dan hampir tiap hari kami makan siang bersama. Saya menjadi terbiasa hang-out dengan mereka di tempat hangout yang sama. Saya membicarakan berbagai macam kejadian bersama mereka. Ketika saya mengalami kesulitan pun saya menanyakan pendapat mereka. Mereka secara tidak langsung 'terlibat' dalam hampir kebanyakan kualitas kehidupan saya.
Membiasakan untuk mengambil sudut pandang diluar innermost circle maupun inner circle saya, terkadang seperti yang saya sebutkan di atas, saya mencari penyegaran dengan berbincang dan bergaul dengan teman-teman dari lingkaran-lingkaran luar dan orang-orang yang baru saya kenal. Kadang dari mereka-mereka inilah saya bisa tiba-tiba berucap "wow, seru sekali pemikiran orang ini, boleh dicoba juga" atau "wah, dia ternyata punya kemampuan seperti ini".
Memutuskan untuk berbincang dengan outter circle dan orang baru bagi saya pribadi, adalah seperti latihan keluar dari zona nyaman. Jujur, saya sebenarnya adalah orang yang malas berbasa-basi atau bersikap eksis dalam hal membuat pertemanan baru, sehingga ketika bertemu orang-orang baru, lebih banyak seperti dipaksa oleh keadaan untuk menjalin komunikasi atau hubungan.
Mungkin ini sama halnya ketika saya ditanya, suka travelling atau gak? saya akan menjawab "yaa suka tapi tidak gemar, sekali dua kali setahun boleh lah". Mengapa saya sambungkan dengan travelling? karena travelling bagi saya merupakan kegiatan keluar dari zona nyaman, dikarenakan kerepotan untuk mengurus ini itu, pesan tiket pesan penginapan, packing baju, belum lagi menabung untuk biaya perjalannnya.
Tapi boleh lah, memberikan tantangan untuk diri sendiri mengenal dunia luar dengan travelling dan kembali ke pembicaraan kita, yaitu memberikan penyegaran dengan berinteraksi dengan outter circle. Kendati setelah melanglang buana, kita tetap butuh sesuatu yang disebut rumah sesungguhnya. Persis, meski melakukan penyegaran dengan interaksi lain, kita tetap butuh orang-orang yang disebut "keluarga dan sahabat".
Walau, kadang dengan travelling kita jadi berfikir pindah tempat tinggal untuk sesuatu yang lebih baik. Begitu pula dengan innermost circle kita, jangan ragu berpikir untuk hijrah jika memang kita menginginkan sebuah 'pengaruh' yang lebih baik lagi.
Wednesday, August 20, 2014
How I met my husband (HIMMH)
Bulan Agustus 2014. Tanpa terasa sudah setengah tahun sejak postingan terakhir di blog ini. Tentu banyak hal terjadi, banyak pengalaman terlampaui, pun banyak cerita yang semestinya bisa dibagi. Namun apa daya ketika keinginan menulis yang memuncak tiba-tiba sirna di depan layar komputer tergantikan dengan setumpuk pekerjaan dan satu dua janji yang harus dilunasi.
Alkisah selama 6 Bulan, secara signifikan hidup saya berubah. Perubahan ini bahkan tidak pernah terpikirkan sama sekali di awal tahun, saat saya dengan sedikit enggan memasang kalender 2014. Enggan karena pertanyaan: "mau ngapain saya di tahun 2014 ini?".
Seonggok rencana saya pilah-pilah di kepala saya. Demi membangkitkan kembali gairah saya dan mengusir keengganan, saya memikirkan rencana saya menghabiskan tabungan di 2014, antara mau berlibur ke luar negeri, ke dalam negeri, atau umroh saja. Lumayan, setidaknya pikiran itu bisa sedikit mengobati kegundahan saya akan pertanyaan saya yang sebenarnya di tahun 2014: akankah saya tetap mengarungi tahun ini sendirian saja? (#eaaa #pertanyaan sebelumnya hanya pengecoh)
Ternyata untuk tahun ini, Tuhan menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban yang berbeda. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang jawabannya hanya seputar begini:
2008 - maen-maen aja dulu laah,
2009 - belum waktunya,
2010 - sabar yaa,
2011 - bukan dia,
2012 - tetap berusaha yaa,
2013 - ditambah lagi sabarnya,
Yah, saya bersyukur, setidaknya jawaban Tuhan bukan: ZONK!!! hahahaha...
Hari itu, tanggal 19 Januari. Saya benar-benar tidak menyangka akan dipertemukan dengan orang yang telah disiapkan Tuhan untuk saya. Sama seperti sebelumnya, saya hanya membuka halaman saya selanjutnya dengan judul yang sama: "Tetap Semangat Berusaha", tapi yang ini udah bagian ke 108, dududududu. Usaha yang sama tapi beda target (saya kasih sebutan 'target' biar ada yang senyam-senyum puas membaca tulisan ini).
Target kali ini datangnya dari hutan.
HUTAN?
Iya, memang cukup unik, karena targetnya adalah seorang perambah rimba dan pendaki gunung. Dia adalah trainer saya dan teman-teman waktu kita mengadakan pelatihan Basic Survival sekitar satu setengah bulan sebelumnya. Pertemuan hari itu bertujuan untuk menyampaikan ucapan terima kasih kepada organisasinya yang telah bersedia membantu kami mengadakan pelatihan.
Teeettt salah! Koreksi!
Pertemuan hari itu bertujuan untuk mendapatkan jawaban apakah pelatih yang menjadi target saya, masih bujang atau tidak, dengan berkedok menyampaikan ucapan terima kasih kepada organisasinya yang telah bersedia membantu kami mengadakan pelatihan.
Saya tidak sendiri. Ada Widya, sahabat saya, sekaligus penasehat spiritual. Ada Bang Razas, selaku juru bicara kenegaraan dan perwakilan perkumpulan makcomblang. Ada juga anak Bang Razas, selaku pengalih perhatian dikala diperlukan. Satu lagi, ada ian sebagai pengalih perhatian kedua, disebabkan oleh ketertarikan dia yang sangat terhadap organisasinya sang target, jadi setidaknya bisa mengeluarkan pertanyaan yang agak-agak penting.
Setengah jam pertama habis dengan pembicaraan basa-basi, yang basinya sampai tercium radius 1 km dari TKP. Hampir seluruh setengah jam kedua, habis juga dengan pembicaraan basa-basi.
Lohh, kapan pembicaraan yang tidak basa-basinya? Yaa kira-kira 10 menit sebelum pertemuan selesai. hehehe...
Saya dengan suksesnya kehabisan kata-kata sehingga lebih memilih diam. Takutnya kalau bicara yang keluar malah isi satu buku Kahlil Gibran yang isinya tentang cinta. (astagaa, gombal banget yaa saya) hehehe...Namanya juga sedang bertemu 'target'.
10 menit yang saya bicarakan tadi, seperti ini ilustrasinya:
- 5 menit -
(semua peserta pertemuan terdiam, sudah tidak punya bahan pembicaraan)
----
- setelah itu -
Bang Razas : Kang Topan sudah berkeluarga?
(jeda selama satu menit, sebelum target menjawab)
Kang Topan: belum
Bang Razas : oooooo (lalu menunduk, kembali serius memandangi layar ponsel)
----
4 menit selanjutnya terjadi percakapan dalam hati masing-masing
Saya : buset dah, bang razas tanpa angin tanpa hujan....eh tapi seneng juga ternyata si doi masih belum nikah
Widya : loh kok habis nanya, bang razas diem aja, keadaan jadi kikuk gini
Ian : duh boleh gak yaa sama si bos aku daftar organisasi ini (memang ni anak yang paling beda pikirannya)
---
Sejurus kemudian widya menyelamatkan suasana,
Widya : eh anak abang ini berapa umurnya? (sambil mengelus kepala anaknya bang razas)
Ya, begitulah, reka ulang kejadian hari itu. Ceritanya, teman-teman saya lah yang menjodoh-jodohkan kami, sampai dibela-belain menyusun pertemuan sebagai kedok langkah awal PDKT.
Rupanya tangan saya tidak bertepuk sebelah. Menurut konfirmasi saya sendiri kepada sang target setelah pertemuan itu, sesungguhnya dia sudah tertarik dengan saya waktu menangkap saya pas terjatuh di sebuah parit ketika kita keluar dari hutan. (benar sekali, seperti adegan dalam sinetron atau film-film korea) Adegan tersebut terjadi pada tanggal 8 Desember tahun sebelumnya. Setelah itu, sama sekali kami tidak bertemu lagi. Hanya kuasa Tuhan-lah yang mempertemukan kami kembali, satu setengah bulan kemudian, dengan benih-benih ketertarikan yang masih tersimpan rapi di hati.
Tak perlu waktu lama, 10 hari berikutnya kami menyepakati melanjutkan benih-benih itu, memperjuangkannya hingga level pernikahan, dengan keyakinan meski Tuhan yang menentukan, tetap kita yang mengusahakan. Bismillah.
Rupanya Tuhan telah menuliskan kisah kita, dilancarkan-Nya hingga pelaminan. Keluarga pun menyambut gembira dan merestui, pernikahan direncanakan tanpa hambatan berarti, rejeki juga mengalir kendati kami hanya punya waktu singkat untuk menyiapkan semuanya. 17 Mei kami sah menjadi sepasang suami istri.
Hingga sekarang, saya masih diliputi rasa tidak percaya. Inilah bukti, bahwa Tuhan Maha Kuasa, Maha Pembolak-balik Hati, Maha Memberi, Maha Pengasih dan Penyayang.
Sampai akhirnya saya mengalami sendiri bagaimana cara saya dipertemukan dengan suami saya, saya pun sama galaunya, sama tidak percayanya dengan nasehat-nasehat semacam ini :
- kita yang merencanakan, Tuhan yang menentukan
- agar diberi jodoh yang terbaik, kita juga harus memperbaiki diri kita sesuai dengan jodoh yang kita harapkan (iya sih, lebih sering kita menuntut orang yang baik tapi kita sendiri sebenarnya belum baik)
- semua akan indah pada waktunya, tidak tahu bagaimana (habisnya kata-kata ini begitu absurd)
- jangan berharap selain kepada Tuhan (karena saya seringkali menggantungkan harapan pada orang)
Setelah 3 bulan saya menapaki tangga-tangga awal rumah tangga dengan sang target, sejauh ini memang dialah manusia terbaik yang disiapkan untuk menjadi pendamping saya. Karena hampir tiap hari saya selalu berucap "Ya ampun, kok Tuhan tahu sih kalau saya pengen suami yang seperti ini". Dan mudah-mudahan saya selalu bisa bilang begitu sampai nantiiiii kita bertemu lagi di surga.
Satu hal yang saya syukuri juga, setidaknya kami bertemu di hutan dimana waktu itu kami sama-sama kucel, belepotan lumpur, ngga mandi 3 hari 3 malam, mencoba untuk survive. (eh ada hubungannya gak sih?)
Sekian cerita saya kali ini, terima kasih telah menyimaknya.
Alkisah selama 6 Bulan, secara signifikan hidup saya berubah. Perubahan ini bahkan tidak pernah terpikirkan sama sekali di awal tahun, saat saya dengan sedikit enggan memasang kalender 2014. Enggan karena pertanyaan: "mau ngapain saya di tahun 2014 ini?".
Seonggok rencana saya pilah-pilah di kepala saya. Demi membangkitkan kembali gairah saya dan mengusir keengganan, saya memikirkan rencana saya menghabiskan tabungan di 2014, antara mau berlibur ke luar negeri, ke dalam negeri, atau umroh saja. Lumayan, setidaknya pikiran itu bisa sedikit mengobati kegundahan saya akan pertanyaan saya yang sebenarnya di tahun 2014: akankah saya tetap mengarungi tahun ini sendirian saja? (#eaaa #pertanyaan sebelumnya hanya pengecoh)
Ternyata untuk tahun ini, Tuhan menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban yang berbeda. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang jawabannya hanya seputar begini:
2008 - maen-maen aja dulu laah,
2009 - belum waktunya,
2010 - sabar yaa,
2011 - bukan dia,
2012 - tetap berusaha yaa,
2013 - ditambah lagi sabarnya,
Yah, saya bersyukur, setidaknya jawaban Tuhan bukan: ZONK!!! hahahaha...
Hari itu, tanggal 19 Januari. Saya benar-benar tidak menyangka akan dipertemukan dengan orang yang telah disiapkan Tuhan untuk saya. Sama seperti sebelumnya, saya hanya membuka halaman saya selanjutnya dengan judul yang sama: "Tetap Semangat Berusaha", tapi yang ini udah bagian ke 108, dududududu. Usaha yang sama tapi beda target (saya kasih sebutan 'target' biar ada yang senyam-senyum puas membaca tulisan ini).
Target kali ini datangnya dari hutan.
HUTAN?
Iya, memang cukup unik, karena targetnya adalah seorang perambah rimba dan pendaki gunung. Dia adalah trainer saya dan teman-teman waktu kita mengadakan pelatihan Basic Survival sekitar satu setengah bulan sebelumnya. Pertemuan hari itu bertujuan untuk menyampaikan ucapan terima kasih kepada organisasinya yang telah bersedia membantu kami mengadakan pelatihan.
Teeettt salah! Koreksi!
Pertemuan hari itu bertujuan untuk mendapatkan jawaban apakah pelatih yang menjadi target saya, masih bujang atau tidak, dengan berkedok menyampaikan ucapan terima kasih kepada organisasinya yang telah bersedia membantu kami mengadakan pelatihan.
Saya tidak sendiri. Ada Widya, sahabat saya, sekaligus penasehat spiritual. Ada Bang Razas, selaku juru bicara kenegaraan dan perwakilan perkumpulan makcomblang. Ada juga anak Bang Razas, selaku pengalih perhatian dikala diperlukan. Satu lagi, ada ian sebagai pengalih perhatian kedua, disebabkan oleh ketertarikan dia yang sangat terhadap organisasinya sang target, jadi setidaknya bisa mengeluarkan pertanyaan yang agak-agak penting.
Setengah jam pertama habis dengan pembicaraan basa-basi, yang basinya sampai tercium radius 1 km dari TKP. Hampir seluruh setengah jam kedua, habis juga dengan pembicaraan basa-basi.
Lohh, kapan pembicaraan yang tidak basa-basinya? Yaa kira-kira 10 menit sebelum pertemuan selesai. hehehe...
Saya dengan suksesnya kehabisan kata-kata sehingga lebih memilih diam. Takutnya kalau bicara yang keluar malah isi satu buku Kahlil Gibran yang isinya tentang cinta. (astagaa, gombal banget yaa saya) hehehe...Namanya juga sedang bertemu 'target'.
10 menit yang saya bicarakan tadi, seperti ini ilustrasinya:
- 5 menit -
(semua peserta pertemuan terdiam, sudah tidak punya bahan pembicaraan)
----
- setelah itu -
Bang Razas : Kang Topan sudah berkeluarga?
(jeda selama satu menit, sebelum target menjawab)
Kang Topan: belum
Bang Razas : oooooo (lalu menunduk, kembali serius memandangi layar ponsel)
----
4 menit selanjutnya terjadi percakapan dalam hati masing-masing
Saya : buset dah, bang razas tanpa angin tanpa hujan....eh tapi seneng juga ternyata si doi masih belum nikah
Widya : loh kok habis nanya, bang razas diem aja, keadaan jadi kikuk gini
Ian : duh boleh gak yaa sama si bos aku daftar organisasi ini (memang ni anak yang paling beda pikirannya)
---
Sejurus kemudian widya menyelamatkan suasana,
Widya : eh anak abang ini berapa umurnya? (sambil mengelus kepala anaknya bang razas)
Ya, begitulah, reka ulang kejadian hari itu. Ceritanya, teman-teman saya lah yang menjodoh-jodohkan kami, sampai dibela-belain menyusun pertemuan sebagai kedok langkah awal PDKT.
Rupanya tangan saya tidak bertepuk sebelah. Menurut konfirmasi saya sendiri kepada sang target setelah pertemuan itu, sesungguhnya dia sudah tertarik dengan saya waktu menangkap saya pas terjatuh di sebuah parit ketika kita keluar dari hutan. (benar sekali, seperti adegan dalam sinetron atau film-film korea) Adegan tersebut terjadi pada tanggal 8 Desember tahun sebelumnya. Setelah itu, sama sekali kami tidak bertemu lagi. Hanya kuasa Tuhan-lah yang mempertemukan kami kembali, satu setengah bulan kemudian, dengan benih-benih ketertarikan yang masih tersimpan rapi di hati.
Tak perlu waktu lama, 10 hari berikutnya kami menyepakati melanjutkan benih-benih itu, memperjuangkannya hingga level pernikahan, dengan keyakinan meski Tuhan yang menentukan, tetap kita yang mengusahakan. Bismillah.
Rupanya Tuhan telah menuliskan kisah kita, dilancarkan-Nya hingga pelaminan. Keluarga pun menyambut gembira dan merestui, pernikahan direncanakan tanpa hambatan berarti, rejeki juga mengalir kendati kami hanya punya waktu singkat untuk menyiapkan semuanya. 17 Mei kami sah menjadi sepasang suami istri.
Hingga sekarang, saya masih diliputi rasa tidak percaya. Inilah bukti, bahwa Tuhan Maha Kuasa, Maha Pembolak-balik Hati, Maha Memberi, Maha Pengasih dan Penyayang.
Sampai akhirnya saya mengalami sendiri bagaimana cara saya dipertemukan dengan suami saya, saya pun sama galaunya, sama tidak percayanya dengan nasehat-nasehat semacam ini :
- kita yang merencanakan, Tuhan yang menentukan
- agar diberi jodoh yang terbaik, kita juga harus memperbaiki diri kita sesuai dengan jodoh yang kita harapkan (iya sih, lebih sering kita menuntut orang yang baik tapi kita sendiri sebenarnya belum baik)
- semua akan indah pada waktunya, tidak tahu bagaimana (habisnya kata-kata ini begitu absurd)
- jangan berharap selain kepada Tuhan (karena saya seringkali menggantungkan harapan pada orang)
Setelah 3 bulan saya menapaki tangga-tangga awal rumah tangga dengan sang target, sejauh ini memang dialah manusia terbaik yang disiapkan untuk menjadi pendamping saya. Karena hampir tiap hari saya selalu berucap "Ya ampun, kok Tuhan tahu sih kalau saya pengen suami yang seperti ini". Dan mudah-mudahan saya selalu bisa bilang begitu sampai nantiiiii kita bertemu lagi di surga.
Satu hal yang saya syukuri juga, setidaknya kami bertemu di hutan dimana waktu itu kami sama-sama kucel, belepotan lumpur, ngga mandi 3 hari 3 malam, mencoba untuk survive. (eh ada hubungannya gak sih?)
Sekian cerita saya kali ini, terima kasih telah menyimaknya.
Monday, January 13, 2014
Surat Cinta untuk Adikku
Ada perasaan bergejolak mendapati kini adikku hampir berusia 25 tahun. Seorang lelaki seperempat abad yang kini sedang mencoba menaklukkan ganasnya ibukota. Mencari sesuap nasi, sebongkah berlian, selaksa kehidupan dan secercah jati diri. Dulu ia hanya seorang adik kecil yang sangat hiperaktif, ingin tahu segala hal, tak pernah mau kalah dengan kakaknya.
Masih lekat di ingatanku, betapa sebalnya aku terhadap adik kecilku waktu itu. Apapun yang aku punyai direbutnya. Tak pelak kami harus saling dorong dan diakhiri dengan jerit tangis yang membuat ibu marah hingga kemudian mencubit kami.
Betapa merepotkannya adikku itu ketika kami menuntut ilmu di sekolah dasar yang sama. Aku harus mengurusnya dan kadang membelanya saat ia ketakutan menghadapi teman-teman jailnya. Para guru pun selalu memanggilku apabila terjadi sesuatu dengan adikku itu. Dia selalu mengikuti kemana aku pergi. Bila aku merencanakan keluar rumah tanpa sepengetahuannya dia pasti merengek-rengek minta diajak.
Suatu kali, aku, adikku dan salah seorang temanku pulang dari solat di masjid kampung. Sembari berjalan pulang, kita membicarakan tentang motto hidup masing-masing.
Adikku dengan lantang bicara "Kak! Moto hidupku adalah kunci orang yang sukses itu meniru orang yang sukses!".
Sungguh motto yang tidak biasa untuk anak usia sekolah dasar. Dibanding motto hidupku "Hidup penuh misteri", sepertinya motto hidupnya lebih 'WAH'. Lagian, aku hanya mengutip motto hidupnya salah seorang tokoh film seri yang aku gemari. Kenapa adikku bisa memikirkan motto hidup yang lebih hebat.
Antara ingin membuktikan motto hidupnya atau hanya kebetulan, adikku ini selalu saja mendaftar sekolah di sekolah yang sama dengan yang aku masuki. Sekolah unggulan di daerah kami. Meski kita akhirnya kuliah di universitas yang berbeda. Sebenarnya, yah sekalian sedikit menyombongkan diri sebagai seorang kakak, hehehe. Adikku berjuang dengan segenap usahanya untuk bisa masuk sekolah-sekolah unggulan tersebut.
Kejadian yang aku ingat betul waktu adikku menempuh pendidikan sekolah menengah atas adalah ia merasa dikucilkan oleh temannya. Sebenarnya aku tidak mengerti kenapa teman-temannya mengucilkannya. Apa karena dia bergabung di organisasi religius di sekolahnya lantas teman-temannya tidak suka dengan adikku, atau karena hal lain.
Tapi kehidupannya di bangku kuliah berbeda 180 derajat dengan masa-masa SMAnya. Dia punya banyak teman dan terlihat sangat bahagia dengan pencapaiannya itu. Adikku ini kalau aku amat-amati memiliki rasa setia kawan yang besar. Dan aku bangga dengan hal itu.
Kini dunia kerja menjadi tantangan selanjutnya bagi adikku, apalagi di kota besar seperti Jakarta. Dunia kerja tidak persis seperti dunia pendidikan, dimana seseorang punya banyak waktu luang untuk bergaul dengan santainya. Dunia kerja lebih banyak tentang bagaimana kita lebih realistis memikirkan masa depan kita, memikirkan diri sendiri dan apa yang akan kita raih.
Satu-satunya hal yang mampu aku berikan untuk adikku memulai kehidupan barunya itu tak lain adalah kepercayaan. Karena kadang yang minim diberikan kepada anak muda adalah kepercayaan. Tanpa kepercayaan dari orang terdekatnya, anak muda akan mudah rapuh dan jatuh. Suntikan kombinasi antara motivasi dan kepercayaan akan memberikan energi yang luar biasa bagi seseorang untuk bertumbuh.
Setiap orang pun diciptakan dengan segala kelemahan serta kelebihannya, begitu pula adikku.
Aku percaya, suatu saat dirimu akan jadi orang yang luar biasa, bermanfaat bagi sesama, berguna bagi bangsa. Hidup pasti ada kalanya bertemu dengan kerikil kecil, gunung terjal, jalan berliku, aliran sungai deras, bahkan samudra luas cobaan. Tapi kamu pasti bisa melaluinya dan menjadi dewasa karnanya.
Tetaplah genggam motto hidupmu itu adikku, dan jangan lupa bahwa ada aku, bapak, ibu, adik kecilmu dan Allah Yang Maha Besar yang siap menjadi sandaran kala kau butuhkan. Kamu tidak sendiri. Be strong there.
Masih lekat di ingatanku, betapa sebalnya aku terhadap adik kecilku waktu itu. Apapun yang aku punyai direbutnya. Tak pelak kami harus saling dorong dan diakhiri dengan jerit tangis yang membuat ibu marah hingga kemudian mencubit kami.
Betapa merepotkannya adikku itu ketika kami menuntut ilmu di sekolah dasar yang sama. Aku harus mengurusnya dan kadang membelanya saat ia ketakutan menghadapi teman-teman jailnya. Para guru pun selalu memanggilku apabila terjadi sesuatu dengan adikku itu. Dia selalu mengikuti kemana aku pergi. Bila aku merencanakan keluar rumah tanpa sepengetahuannya dia pasti merengek-rengek minta diajak.
Suatu kali, aku, adikku dan salah seorang temanku pulang dari solat di masjid kampung. Sembari berjalan pulang, kita membicarakan tentang motto hidup masing-masing.
Adikku dengan lantang bicara "Kak! Moto hidupku adalah kunci orang yang sukses itu meniru orang yang sukses!".
Sungguh motto yang tidak biasa untuk anak usia sekolah dasar. Dibanding motto hidupku "Hidup penuh misteri", sepertinya motto hidupnya lebih 'WAH'. Lagian, aku hanya mengutip motto hidupnya salah seorang tokoh film seri yang aku gemari. Kenapa adikku bisa memikirkan motto hidup yang lebih hebat.
Antara ingin membuktikan motto hidupnya atau hanya kebetulan, adikku ini selalu saja mendaftar sekolah di sekolah yang sama dengan yang aku masuki. Sekolah unggulan di daerah kami. Meski kita akhirnya kuliah di universitas yang berbeda. Sebenarnya, yah sekalian sedikit menyombongkan diri sebagai seorang kakak, hehehe. Adikku berjuang dengan segenap usahanya untuk bisa masuk sekolah-sekolah unggulan tersebut.
Kejadian yang aku ingat betul waktu adikku menempuh pendidikan sekolah menengah atas adalah ia merasa dikucilkan oleh temannya. Sebenarnya aku tidak mengerti kenapa teman-temannya mengucilkannya. Apa karena dia bergabung di organisasi religius di sekolahnya lantas teman-temannya tidak suka dengan adikku, atau karena hal lain.
Tapi kehidupannya di bangku kuliah berbeda 180 derajat dengan masa-masa SMAnya. Dia punya banyak teman dan terlihat sangat bahagia dengan pencapaiannya itu. Adikku ini kalau aku amat-amati memiliki rasa setia kawan yang besar. Dan aku bangga dengan hal itu.
Kini dunia kerja menjadi tantangan selanjutnya bagi adikku, apalagi di kota besar seperti Jakarta. Dunia kerja tidak persis seperti dunia pendidikan, dimana seseorang punya banyak waktu luang untuk bergaul dengan santainya. Dunia kerja lebih banyak tentang bagaimana kita lebih realistis memikirkan masa depan kita, memikirkan diri sendiri dan apa yang akan kita raih.
Satu-satunya hal yang mampu aku berikan untuk adikku memulai kehidupan barunya itu tak lain adalah kepercayaan. Karena kadang yang minim diberikan kepada anak muda adalah kepercayaan. Tanpa kepercayaan dari orang terdekatnya, anak muda akan mudah rapuh dan jatuh. Suntikan kombinasi antara motivasi dan kepercayaan akan memberikan energi yang luar biasa bagi seseorang untuk bertumbuh.
Setiap orang pun diciptakan dengan segala kelemahan serta kelebihannya, begitu pula adikku.
Aku percaya, suatu saat dirimu akan jadi orang yang luar biasa, bermanfaat bagi sesama, berguna bagi bangsa. Hidup pasti ada kalanya bertemu dengan kerikil kecil, gunung terjal, jalan berliku, aliran sungai deras, bahkan samudra luas cobaan. Tapi kamu pasti bisa melaluinya dan menjadi dewasa karnanya.
Tetaplah genggam motto hidupmu itu adikku, dan jangan lupa bahwa ada aku, bapak, ibu, adik kecilmu dan Allah Yang Maha Besar yang siap menjadi sandaran kala kau butuhkan. Kamu tidak sendiri. Be strong there.
Wednesday, August 14, 2013
Tidak Sekedar Memberi
| Buku-buku untuk TBB (Ida Arsiyanti) |
Korespondensi tersebut bermula dari inisiatif Ardi Wilda (Awe), Pengajar Muda
penempatan Kabupaten Tulang Bawang Barat. Sebelum lebaran,
ia bersemangat sekali mempromosikan di Twitter bahwa murid-muridnya akan
mengirim kartu pos kepada siapa pun yang bersedia menerima. Saya, yang memang hobi berkorespondensi, langsung mendaftar.
Sehabis cuti Lebaran, kartu pos Fai saya terima, lantas saya
buatkan balasan dalam bentuk surat dua halaman dan saya hiasi dengan foto-foto
Museum Geologi dari Kota Bandung dan foto Gedung Telkom tempat saya bekerja.
Tak lupa saya tempel gambar Relawan Bakti Bagi Negeri etape Tulang Bawang Barat
di surat itu.
Ya, 28 Juli 2012, lebih dari satu tahun yang lalu, Relawan
Bakti Bagi Negeri 'mendorong sekoci' berisi 3.500 buku-buku ke sana. Sekolah Fai
adalah salah satu yang mendapatkan 500 eksemplar buku-buku dari para donatur
Bakti Bagi Negeri. Saat itu pula lah saya dan Relawan lainnya bertemu para
Pengajar Muda. Tak disangka juga, salah satu Pengajar Muda itu adalah adik
kelas saya di bangku kuliah. Dia lah Ardi Wilda yang saya ceritakan di atas.
Kegiatan Bakti Bagi Negeri etape Tulang Bawang Barat pun menjadi reuni kecil bagi
kami.
![]() |
| Para Pengajar Muda TBB (Ida Arsiyanti) |
Kunjungan kami ke Tulang Bawang Barat singkat sekali. Kami
disambut oleh para pengajar muda di tengah terik siang hari Bulan Ramadhan.
Kemudian seremonial penyerahan buku dan acara kebersamaan digelar sore hari
hingga menjelang buka puasa. Setelah itu kami kembali pulang pada malam
harinya.
Meski singkat, rupanya para relawan mendapatkan inspirasi
dan semangat yang luar biasa dari sana. Masih membekas dalam ingatan,
wajah-wajah gembira anak-anak berebut menjawab pertanyaan dari kami, demi
mendapat sebungkus coklat. Menggelitik sekali, ketika salah satu relawan
dipilih oleh murid-murid sebagai relawan terkeren hanya karena kulitnya putih. Mereka
memiliki mindset orang berkulit putih itu cantik atau ganteng.
Paling berkesan adalah saat kita berbincang dengan pengajar
muda, bagaimana cerita mereka hingga mereka merasa terpanggil bahkan rela
keluar dari pekerjaan mapannya hanya untuk mengajar di daerah pelosok. Melihat
mereka menjadi guru dengan ‘taktik’ yang seolah tak pernah habis untuk mengatur
murid-murid mereka, saya hanya bisa berkomentar
“WOW!”. Satu lagi yang menarik,
asli! Mereka tidak pernah mengeluh. Jangankan mengeluh, memiliki persepsi
negatif pun sangat jarang.
Mungkin saya adalah orang yang ke seratus juta yang
menyatakan kekaguman saya terhadap kontribusi para pengajar muda. Tapi memang
nyata adanya bahwa negri ini butuh kaum-kaum idealis seperti mereka untuk
membantu mensejahterakan penduduk pelosok yang belum terjamah pendidikan
berkualitas. Jujur, motivasi saya pergi ke Tulang Bawang Barat yang utama
adalah melihat dari dekat pengabdian mereka. Karena saya sendiri, walau memiliki
keinginan untuk bisa seperti mereka, namun tetap saja terkendala oleh ciutnya
niat saya meninggalkan kenyamanan bekerja di sebuah korporasi besar seperti
Telkom.
Sore itu, di dekat sumur, sewaktu mengambil wudlu untuk
solat Asar, sebuah ajakan terlontar dari Annisa, pengajar muda yang setia
berkoordinasi dengan saya dalam menyiapkan acara. “Mba, mba masih 26 tahun dan
belum menikah, coba saja bergabung, tidak tertutup kemungkinan untuk diterima
kok”.
Tentu saja, saya hanya bisa tertegun, karena jauh dalam hati
saya, saya tahu bahwa saya belum seberani mereka. Tapi saya berharap,
keberanian saya menempuh perjalanan yang cukup singkat persiapannya ini hanya demi mendapatkan inspirasi dari
mereka, suatu saat nanti bisa membuahkan keberanian lain di diri saya yang tak kalah besar dari mereka.
An eternal inspiration worth to be found. Thank you guys :)
(catatan perjalanan mengantar 3.500 buku-buku ke pelosok
Tulang Bawang Barat, mulai ditulis setahun yang lalu dan baru diselesaikan saat
ini, better late than never)
Friday, May 31, 2013
Tata cara Bertamu pun Diatur dalam Al Qur'an
Beberapa waktu yang lalu, saya, bapak, ibu dan adek pergi ke rumah rekan kerja ibu. Rumahnya tidak jauh dari pusat kota. Begitu sampai di rumah tersebut, hanya ibu yang turun dan menuju ke rumah yang dimaksud. Ternyata ibu menemukan rumah rekan kerjanya dalam keadaan sepi dan pintu depan terbuka lebar.
Awalnya ibu mencoba memanggil nama rekannya beberapa kali. Karena tidak ada sahutan lantas ibu memutuskan untuk masuk begitu saja ke dalam rumah tanpa seizin pemilik rumah. Beberapa saat kemudian ibu keluar tanpa hasil, sebab rumah tersebut sepi, entah ditinggal kemana oleh penghuninya. Ibu pun kembali ke mobil.
Melihat hal tersebut, bapak menegur ibu. Tidak baik masuk ke rumah orang tanpa seizin pemiliknya. Kendati rumah tersebut adalah rumah orang yang kita kenal sekalipun. Bapak berkata, hal tersebut juga di atur di Al Quran. Saya meng-iya-kan teguran bapak, kebetulan dua atau tiga hari sebelumnya saya membaca terjemahan ayat Al Quran mengenai hal ihwal bertamu.
Terjemahan tersebut tertulis sebagai berikut :
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.
Dan jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapatkan izin. Dan jika dikatakan kepadamu 'Kembalilah!' Maka (hendaklah) kamu kembali. Itu lebih suci bagimu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak dihuni, yang di dalamnya ada kepentingan kamu; Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan." (QS. An-Nuur, 27-29)
Di bagian lain dari Surat tersebut juga diatur kewajiban mengucapkan salam saat memasuki rumah,
"Apabila kamu memasuki rumah-rumah hendaklah kamu memberi salam (kepada penghuninya, yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, dengan salam yang penuh berkah dan baik di sisi Allah. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat(Nya) bagimu, agar kamu mengerti" (QS. An-Nuur, 61)
Bapak saya lalu melanjutkan tegurannya. "Maksudnya dari larangan masuk rumah orang tanpa izin sebetulnya menghindarkan kita dari fitnah. Kalau para tetangga tahu bahwa kita masuk rumah seseorang tanpa izin, kemudian terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti pencurian, walaupun kita tidak melakukan, kita juga akan kena getahnya".
Subhannallaah, Islam itu indah. Hal-hal kecil pun diatur supaya tidak timbul dampak negatif. Mari kita selami lebih jauh aturan-aturan yang sesungguhnya sudah dituangkan Allah dalam Al-Quran. Dan semoga kita tetap dalam bimbingan-Nya.
Wallaahu'alam bishowab. Allah Almighty Knows Best.
Awalnya ibu mencoba memanggil nama rekannya beberapa kali. Karena tidak ada sahutan lantas ibu memutuskan untuk masuk begitu saja ke dalam rumah tanpa seizin pemilik rumah. Beberapa saat kemudian ibu keluar tanpa hasil, sebab rumah tersebut sepi, entah ditinggal kemana oleh penghuninya. Ibu pun kembali ke mobil.
Melihat hal tersebut, bapak menegur ibu. Tidak baik masuk ke rumah orang tanpa seizin pemiliknya. Kendati rumah tersebut adalah rumah orang yang kita kenal sekalipun. Bapak berkata, hal tersebut juga di atur di Al Quran. Saya meng-iya-kan teguran bapak, kebetulan dua atau tiga hari sebelumnya saya membaca terjemahan ayat Al Quran mengenai hal ihwal bertamu.
Terjemahan tersebut tertulis sebagai berikut :
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.
Dan jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapatkan izin. Dan jika dikatakan kepadamu 'Kembalilah!' Maka (hendaklah) kamu kembali. Itu lebih suci bagimu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak dihuni, yang di dalamnya ada kepentingan kamu; Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan." (QS. An-Nuur, 27-29)
Di bagian lain dari Surat tersebut juga diatur kewajiban mengucapkan salam saat memasuki rumah,
"Apabila kamu memasuki rumah-rumah hendaklah kamu memberi salam (kepada penghuninya, yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, dengan salam yang penuh berkah dan baik di sisi Allah. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat(Nya) bagimu, agar kamu mengerti" (QS. An-Nuur, 61)
Bapak saya lalu melanjutkan tegurannya. "Maksudnya dari larangan masuk rumah orang tanpa izin sebetulnya menghindarkan kita dari fitnah. Kalau para tetangga tahu bahwa kita masuk rumah seseorang tanpa izin, kemudian terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti pencurian, walaupun kita tidak melakukan, kita juga akan kena getahnya".
Subhannallaah, Islam itu indah. Hal-hal kecil pun diatur supaya tidak timbul dampak negatif. Mari kita selami lebih jauh aturan-aturan yang sesungguhnya sudah dituangkan Allah dalam Al-Quran. Dan semoga kita tetap dalam bimbingan-Nya.
Wallaahu'alam bishowab. Allah Almighty Knows Best.
Wednesday, May 08, 2013
Inspirasi dari Sang Pembeda Benar dan Salah
Seorang bapak memasuki ruangan dan berjalan mendekati tempat duduk saya. Saya sendiri masih serius dengan laptop dan pekerjaan saya ketika bapak tersebut membuyarkan keseriusan saya dengan menawarkan dagangannya. Satu set DVD film seri yang berjudul Umar bin Khattab orisinil seharga Rp. 100.000. Tawarannya langsung menyita perhatian saya. Saya memang sudah lama berniat membeli DVD film seri itu di mamang penjual DVD bajakan depan kantor, eh ini ada yang nawarin orisinil. Tanpa berpikir panjang saya penuhi saja tawaran bapak tersebut.
Sampai rumah, dengan bersemangat saya langsung nonton itu DVD. Aura padang pasir menyeruak, karena bahasa yang dipakai tentu saja bahasa Arab. Kata temen saya, kalau nonton film ini bawaannya pengen bilang 'aamiiin...aamiiin...'. Tapi syukur ada subtitle Indonesia-nya (ya iya lah, kalau ngga, ngga bakal saya beli, puyeng juga karena ga punya kamus bahasa Arab).
Kesan pertama lainnya saat nonton film ini pertama kali adalah ngga bisa membedakan para tokohnya. Mungkin karena aktornya orang Timur Tengah, brewokan, pakai sorban dan namanya hampir sama semua, kalau ngga pakai 'Abu' ya pasti 'Abdullah'. Yaa terserah deh, nyemplung nonton aja dulu yang penting.
Beberapa saat film keputer, saya baru sadar bahwa alur film-nya adalah flashback. Flashback dari tokoh utama yaitu Umar bin Khattab beberapa saat sebelum berakhir masa kekhalifahannya. Tapi lama-kelamaan saya terbawa juga oleh ceritanya. Apalagi film ini diawali dengan monolog yang sangat menginspirasi. Dalam monolog itu Umar berkata,
"Ya Allah berikanlah aku harta yang tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit. Harta yang terlalu banyak akan melalaikanku dalam mengingatMu. Sedangkan harta yang terlalu sedikit akan melemahkanku. Namun harta yang sedikit lebih baik asalkan aku tetap dekat denganMu".
Selanjutnya cerita bergulir, diikuti dengan kisah Umar pada masa jahiliyah, sebelum Muhammad 'ditetapkan' sebagai Nabi. Disebut masa jahiliyah atau masa kebodohan, karena waktu itu Kaum Quraisy sebagai penjaga Ka'bah, malah menyembah berhala yang mereka anggap perantara dengan Allah. Selain itu berlaku sistem perbudakan. Kedudukan yang dianggap baik adalah mereka yang memiliki harta, dan keturunan yang paling baik adalah mereka yang termasuk Kaum Quraisy.
Film yang terdiri dari 30 episode dan dibagi dalam 4 keping DVD ini, separuhnya sebenarnya menceritakan juga mengenai kisah kenabian Muhammad SAW. Selebihnya menceritakan kisah Khalifah Abu Bakar as-Sidiq dan Khalifah Umar bin Khattab hingga akhir hidupnya.
Hasil saya browsing; film ini sebenarnya sangat kontroversial. Sebab, film ini berani menampilkan Khalifaur Rasyidin dan para sahabat Nabi Muhammad SAW secara utuh dalam tokoh-tokohnya. Yang mana sebagian ulama dan ahli Agama Islam berpendapat bahwa hal itu tidak boleh dilakukan. Diantara yang menentang film ini adalah Universitas Al Azhar dan sebuah lembaga penting Kerajaan Arab Saudi.
Kendati demikian, tidak sedikit pula yang mendukung dibuatnya film ini, tentu saja mereka berpendapat bahwa film ini merupakan usaha menyebarkan syiar Islam yang bagus di dunia. Lagipula, film ini memang tidak sembarangan dibuat. Dilibatkan pula di dalamnya para ulama dan ilmuwan Islam supaya tidak melenceng dari yang diriwayatkan. Saya sendiri termasuk yang mendukung film ini, karena saya merasa mendapatkan manfaat di dalamnya dalam rangka eksistensi saya sebagai seorang Muslim.
Film ini memberikan gambaran yang utuh kepada saya bagaimana Islam lahir dan berkembang sebagai agama Tauhid yang memiliki benang merah dengan ajaran nabi-nabi sebelumnya yaitu Musa dan Isa. Saya semakin mencintai Islam berkat film ini. Film ini benar-benar menunjukkan penyebaran Islam secara damai, tidak membeda-bedakan tingkatan manusia serta menghormati pemeluk agama lain yang sama-sama menyerukan kedamaian.
Kemudian, seperti menyiram kehausan saya akan pemimpin yang bijaksana dan merakyat, sungguh sosok Rosulullah, Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab adalah sosok pemimpin yang sangat ideal. Saya ingat sekali cerita ketika pidato pertama Abu Bakar saat diangkat menjadi khalifah,
"Taatilah aku bila aku benar dan luruskan aku bila aku salah, ikuti aku bila aku mengikuti jalan Allah dan Rosul-Nya dan tinggalkan aku bila aku menyimpang"
Saya kemudian membayangkan pemimpin di bagian dunia mana sekarang ini yang mau berkata seperti ini. Belum lagi menyimak tauladan kepemimpinan Umar yang dijuluki Al-Faruq (pembeda yang benar dan yang salah). Orang mana yang malah takut waktu diminta jadi pemimpin, takut tidak adil dan mengabaikan urusan rakyatnya, kalau bukan Umar. Saat rakyat Madinah menderita bencana kekeringan pun, dia rela hanya makan sedikit roti dan minyak zaitun setiap harinya, sampai bencana itu berlalu.
Di bawah pimpinan Umar, umat Islam berhasil memperluas daerah meliputi semenanjung Arab, Persia, sebagian jajahan Romawi hingga Mesir. Ia juga mempelopori diterapkannya sistem pemerintahan yang akuntabel. Umar pun gemar sekali turun langsung mengawasi kondisi rakyatnya. Dia juga lah yang memutuskan bahwa Umat Nasrani di Yerusalem dilindungi oleh kekhalifahan Islam dan tetap dibebaskan menjalankan agama mereka walau daerahnya berada di bawah kekuasaan Islam.
Suatu hari, dikisahkan seorang Jendral Romawi yang penasaran dengan sosok Umar sebagai Raja Bangsa Arab mengunjunginya di Madinah dan malah mendapati Umar tidur pulas di pinggir jalan. Sontak Jendral itu berkomentar,
"Pantaslah kamu memimpin pasukan yang berani dan dapat mengalahkan kami, karena berbeda dengan pemimpin lain yang tidak bisa tidur memikirkan harta dan kekuasaannya, sedangkan kamu begitu sederhana dan bisa tertidur pulas di mana saja"
Beberapa tadi sedikit kisah dalam film. Masih banyak rangkaian kisah inspiratif nan menyentuh yang saya peroleh di dalamnya. Film ini pun akhirnya menggugah saya untuk lebih mendalami sejarah peradaban Islam yang pernah berjaya di abad ke 7 dan 14 (dan diramalkan akan kembali berjaya menjelang Hari Kiamat), serta menjadi landasan berkembangnya peradaban Eropa dan Dunia.
Saya sangat menganjurkan film ini untuk ditonton.
Karena saya bahkan sedang menontonnya untuk kedua kali.
Sampai rumah, dengan bersemangat saya langsung nonton itu DVD. Aura padang pasir menyeruak, karena bahasa yang dipakai tentu saja bahasa Arab. Kata temen saya, kalau nonton film ini bawaannya pengen bilang 'aamiiin...aamiiin...'. Tapi syukur ada subtitle Indonesia-nya (ya iya lah, kalau ngga, ngga bakal saya beli, puyeng juga karena ga punya kamus bahasa Arab).
Kesan pertama lainnya saat nonton film ini pertama kali adalah ngga bisa membedakan para tokohnya. Mungkin karena aktornya orang Timur Tengah, brewokan, pakai sorban dan namanya hampir sama semua, kalau ngga pakai 'Abu' ya pasti 'Abdullah'. Yaa terserah deh, nyemplung nonton aja dulu yang penting.
Beberapa saat film keputer, saya baru sadar bahwa alur film-nya adalah flashback. Flashback dari tokoh utama yaitu Umar bin Khattab beberapa saat sebelum berakhir masa kekhalifahannya. Tapi lama-kelamaan saya terbawa juga oleh ceritanya. Apalagi film ini diawali dengan monolog yang sangat menginspirasi. Dalam monolog itu Umar berkata,
"Ya Allah berikanlah aku harta yang tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit. Harta yang terlalu banyak akan melalaikanku dalam mengingatMu. Sedangkan harta yang terlalu sedikit akan melemahkanku. Namun harta yang sedikit lebih baik asalkan aku tetap dekat denganMu".
Selanjutnya cerita bergulir, diikuti dengan kisah Umar pada masa jahiliyah, sebelum Muhammad 'ditetapkan' sebagai Nabi. Disebut masa jahiliyah atau masa kebodohan, karena waktu itu Kaum Quraisy sebagai penjaga Ka'bah, malah menyembah berhala yang mereka anggap perantara dengan Allah. Selain itu berlaku sistem perbudakan. Kedudukan yang dianggap baik adalah mereka yang memiliki harta, dan keturunan yang paling baik adalah mereka yang termasuk Kaum Quraisy.
Film yang terdiri dari 30 episode dan dibagi dalam 4 keping DVD ini, separuhnya sebenarnya menceritakan juga mengenai kisah kenabian Muhammad SAW. Selebihnya menceritakan kisah Khalifah Abu Bakar as-Sidiq dan Khalifah Umar bin Khattab hingga akhir hidupnya.
Hasil saya browsing; film ini sebenarnya sangat kontroversial. Sebab, film ini berani menampilkan Khalifaur Rasyidin dan para sahabat Nabi Muhammad SAW secara utuh dalam tokoh-tokohnya. Yang mana sebagian ulama dan ahli Agama Islam berpendapat bahwa hal itu tidak boleh dilakukan. Diantara yang menentang film ini adalah Universitas Al Azhar dan sebuah lembaga penting Kerajaan Arab Saudi.
Kendati demikian, tidak sedikit pula yang mendukung dibuatnya film ini, tentu saja mereka berpendapat bahwa film ini merupakan usaha menyebarkan syiar Islam yang bagus di dunia. Lagipula, film ini memang tidak sembarangan dibuat. Dilibatkan pula di dalamnya para ulama dan ilmuwan Islam supaya tidak melenceng dari yang diriwayatkan. Saya sendiri termasuk yang mendukung film ini, karena saya merasa mendapatkan manfaat di dalamnya dalam rangka eksistensi saya sebagai seorang Muslim.
Film ini memberikan gambaran yang utuh kepada saya bagaimana Islam lahir dan berkembang sebagai agama Tauhid yang memiliki benang merah dengan ajaran nabi-nabi sebelumnya yaitu Musa dan Isa. Saya semakin mencintai Islam berkat film ini. Film ini benar-benar menunjukkan penyebaran Islam secara damai, tidak membeda-bedakan tingkatan manusia serta menghormati pemeluk agama lain yang sama-sama menyerukan kedamaian.
Kemudian, seperti menyiram kehausan saya akan pemimpin yang bijaksana dan merakyat, sungguh sosok Rosulullah, Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab adalah sosok pemimpin yang sangat ideal. Saya ingat sekali cerita ketika pidato pertama Abu Bakar saat diangkat menjadi khalifah,
"Taatilah aku bila aku benar dan luruskan aku bila aku salah, ikuti aku bila aku mengikuti jalan Allah dan Rosul-Nya dan tinggalkan aku bila aku menyimpang"
Saya kemudian membayangkan pemimpin di bagian dunia mana sekarang ini yang mau berkata seperti ini. Belum lagi menyimak tauladan kepemimpinan Umar yang dijuluki Al-Faruq (pembeda yang benar dan yang salah). Orang mana yang malah takut waktu diminta jadi pemimpin, takut tidak adil dan mengabaikan urusan rakyatnya, kalau bukan Umar. Saat rakyat Madinah menderita bencana kekeringan pun, dia rela hanya makan sedikit roti dan minyak zaitun setiap harinya, sampai bencana itu berlalu.
Di bawah pimpinan Umar, umat Islam berhasil memperluas daerah meliputi semenanjung Arab, Persia, sebagian jajahan Romawi hingga Mesir. Ia juga mempelopori diterapkannya sistem pemerintahan yang akuntabel. Umar pun gemar sekali turun langsung mengawasi kondisi rakyatnya. Dia juga lah yang memutuskan bahwa Umat Nasrani di Yerusalem dilindungi oleh kekhalifahan Islam dan tetap dibebaskan menjalankan agama mereka walau daerahnya berada di bawah kekuasaan Islam.
Suatu hari, dikisahkan seorang Jendral Romawi yang penasaran dengan sosok Umar sebagai Raja Bangsa Arab mengunjunginya di Madinah dan malah mendapati Umar tidur pulas di pinggir jalan. Sontak Jendral itu berkomentar,
"Pantaslah kamu memimpin pasukan yang berani dan dapat mengalahkan kami, karena berbeda dengan pemimpin lain yang tidak bisa tidur memikirkan harta dan kekuasaannya, sedangkan kamu begitu sederhana dan bisa tertidur pulas di mana saja"
Beberapa tadi sedikit kisah dalam film. Masih banyak rangkaian kisah inspiratif nan menyentuh yang saya peroleh di dalamnya. Film ini pun akhirnya menggugah saya untuk lebih mendalami sejarah peradaban Islam yang pernah berjaya di abad ke 7 dan 14 (dan diramalkan akan kembali berjaya menjelang Hari Kiamat), serta menjadi landasan berkembangnya peradaban Eropa dan Dunia.
Saya sangat menganjurkan film ini untuk ditonton.
Karena saya bahkan sedang menontonnya untuk kedua kali.
Friday, March 15, 2013
Gugup Menaklukkan Malaikat
Ini adalah perjalanannya yang kedua, namun dia tetap merasa gugup.
Ada saja yang dia risaukan. Sesekali dalam pikirannya, dia mencoba
memastikan, hal apa yang mungkin saja tertinggal.
Pagi benar rombongan telah berangkat. Keperluan perjalanan telah disiapkan semalam sebelumnya hingga larut. Buku-buku yang akan diantar pun tak puas hanya ditempatkan dalam kardus. Didandani pula tumpukan itu dengan plastik bening, label berwarna dan dibungkus bak kado ulang tahun.
'Dandanan kali ini bahkan lebih sempurna daripada buku-buku yang aku antarkan ke pelosok hutan karet di Tulang Bawang Barat' gumamnya dalam hati hanya untuk menepis rasa gugupnya.
Sebenarnya, yang membuat dia lebih gugup adalah amanah untuk memeriahkan acara di tempat yang akan menjadi tujuan. Berilah dia seruangan penuh bapak-bapak atau ibu-ibu kantor, kalau tidak pun panggil ratusan teman sebayanya, maka akan dibuatnya tertawa seisi ruangan. Hanya, keberuntungan membawanya lagi-lagi bertemu dengan anak-anak kecil. Bagi dia, anak-anak itu adalah makhluk yang belum bisa dikenalnya. Sudah begitu, mereka tinggal di pelosok, susah lagi dia menebak bagaimana tingkah laku mereka.
Satu pertanyaan di kepalanya bergelayut mengalahkan jalan terjal berbukit yang dilalui sejak enam jam perjalanan: 'bagaimana caraku membuat mereka tertawa bahagia?'
Sial saja, tak genap dia melamunkan jawaban pertanyaan tunggalnya, mobil sekonyong-konyong merapat di depan sebuah sekolah. Ratusan anak SD berbaris, bertepuk tangan dan bernyanyi menyambut rombongan. Guru-guru pun tak kalah melebarkan senyumannya, senang bukan kepalang kedatangan tamu dari kota yaitu para pengantar buku.
Lebih karena tak sempat berpikir lagi, dia kubur dalam-dalam rasa gugupnya. Lagipula dia merasa dia tidak sendiri. Ditengoknya ke belakang, dia percaya teman-temannya akan membantu menghadapi malaikat-malaikat kecil ini. Riuh tepukan dan nyanyian penyambutan agaknya cukup berhasil membuat haru suasana dan mencairkan teriknya matahari siang itu.
"Tepuk Telkom!"
Prok prok prok
"Kring kring!"
Prok prok prok
"Kring kring"
Prok prok prok
"Hallooooooo....whuussssshhh.. .."
Bukan main senangnya anak-anak itu menirukan tepuk Telkom. Semangat sekali mereka bersama-sama rombongan pengantar buku yang didaulat menguasai panggung 2x2 meter itu. Panggung yang terbuat dari meja kelas digabung menjadi satu dan diberi atap bambu. Kecil tapi kokoh.
Beberapa anak antusias bergabung di panggung, mereka malu-malu tatkala ditanya
'suka baca buku apa?'
Dan satu anak menjawab cepat,
'LKS......!'
Sontak semuanya tertawa. Rupanya tak ada buku yang berkesan buat anak-anak itu selain Lembar Kerja Siswa atau LKS. Tahukah mereka Doraemon? Tahukah mereka Mickey Mouse? Atau apakah ada dari mereka yang suka dengan Gatotkaca?
Siang itu, sembari melambaikan tangan kepada sosok-sosok kecil yang berlalu satu per satu dari pekarangan sekolah, dia memulai lagi roda-roda pikirannya. Rasa gugupnya belum juga mati, kendati begitu dia kini mengerti satu cara untuk membuat anak-anak tertawa bahagia. Jangan berfikir terlalu banyak, berbahagialah dengan mereka secara sederhana, lakukan apa saja bersama mereka. Sebab, anak-anak itu adalah kanvas polos yang masih sanggup menampung segala kebahagiaan.
Buku-buku itu masih berjajar rapi di panggung, walau warga sekolah sudah beranjak. Buku-buku telah diantarkan. Dia menatapnya lama dan berdoa, semoga buku-buku ini mampu melukiskan kebahagiaan lainnya di kanvas polos para malaikat kecil itu. Kebahagiaan melalui cerita-cerita, gambar-gambar dan ilmu-ilmu di dalamnya.
Hari itu, dia tetap saja gugup, menanti perjalanan selanjutnya bertemu malaikat-malaikat kecil lainnya.
---
Tulisan ini adalah cacatan kecil perjalanan pendistribusian buku, Gerakan Setengah Juta Buku untuk Anak Indonesia melalui Bakti Bagi Negeri, Etape 11 Lebak, Banten. Berbagi buku, berbagi inspirasi, salurkan donasimu, klik baktibaginegeri.org
Pagi benar rombongan telah berangkat. Keperluan perjalanan telah disiapkan semalam sebelumnya hingga larut. Buku-buku yang akan diantar pun tak puas hanya ditempatkan dalam kardus. Didandani pula tumpukan itu dengan plastik bening, label berwarna dan dibungkus bak kado ulang tahun.
'Dandanan kali ini bahkan lebih sempurna daripada buku-buku yang aku antarkan ke pelosok hutan karet di Tulang Bawang Barat' gumamnya dalam hati hanya untuk menepis rasa gugupnya.
Sebenarnya, yang membuat dia lebih gugup adalah amanah untuk memeriahkan acara di tempat yang akan menjadi tujuan. Berilah dia seruangan penuh bapak-bapak atau ibu-ibu kantor, kalau tidak pun panggil ratusan teman sebayanya, maka akan dibuatnya tertawa seisi ruangan. Hanya, keberuntungan membawanya lagi-lagi bertemu dengan anak-anak kecil. Bagi dia, anak-anak itu adalah makhluk yang belum bisa dikenalnya. Sudah begitu, mereka tinggal di pelosok, susah lagi dia menebak bagaimana tingkah laku mereka.
Satu pertanyaan di kepalanya bergelayut mengalahkan jalan terjal berbukit yang dilalui sejak enam jam perjalanan: 'bagaimana caraku membuat mereka tertawa bahagia?'
Sial saja, tak genap dia melamunkan jawaban pertanyaan tunggalnya, mobil sekonyong-konyong merapat di depan sebuah sekolah. Ratusan anak SD berbaris, bertepuk tangan dan bernyanyi menyambut rombongan. Guru-guru pun tak kalah melebarkan senyumannya, senang bukan kepalang kedatangan tamu dari kota yaitu para pengantar buku.
Lebih karena tak sempat berpikir lagi, dia kubur dalam-dalam rasa gugupnya. Lagipula dia merasa dia tidak sendiri. Ditengoknya ke belakang, dia percaya teman-temannya akan membantu menghadapi malaikat-malaikat kecil ini. Riuh tepukan dan nyanyian penyambutan agaknya cukup berhasil membuat haru suasana dan mencairkan teriknya matahari siang itu.
"Tepuk Telkom!"
Prok prok prok
"Kring kring!"
Prok prok prok
"Kring kring"
Prok prok prok
"Hallooooooo....whuussssshhh..
Bukan main senangnya anak-anak itu menirukan tepuk Telkom. Semangat sekali mereka bersama-sama rombongan pengantar buku yang didaulat menguasai panggung 2x2 meter itu. Panggung yang terbuat dari meja kelas digabung menjadi satu dan diberi atap bambu. Kecil tapi kokoh.
Beberapa anak antusias bergabung di panggung, mereka malu-malu tatkala ditanya
'suka baca buku apa?'
Dan satu anak menjawab cepat,
'LKS......!'
Sontak semuanya tertawa. Rupanya tak ada buku yang berkesan buat anak-anak itu selain Lembar Kerja Siswa atau LKS. Tahukah mereka Doraemon? Tahukah mereka Mickey Mouse? Atau apakah ada dari mereka yang suka dengan Gatotkaca?
Siang itu, sembari melambaikan tangan kepada sosok-sosok kecil yang berlalu satu per satu dari pekarangan sekolah, dia memulai lagi roda-roda pikirannya. Rasa gugupnya belum juga mati, kendati begitu dia kini mengerti satu cara untuk membuat anak-anak tertawa bahagia. Jangan berfikir terlalu banyak, berbahagialah dengan mereka secara sederhana, lakukan apa saja bersama mereka. Sebab, anak-anak itu adalah kanvas polos yang masih sanggup menampung segala kebahagiaan.
Buku-buku itu masih berjajar rapi di panggung, walau warga sekolah sudah beranjak. Buku-buku telah diantarkan. Dia menatapnya lama dan berdoa, semoga buku-buku ini mampu melukiskan kebahagiaan lainnya di kanvas polos para malaikat kecil itu. Kebahagiaan melalui cerita-cerita, gambar-gambar dan ilmu-ilmu di dalamnya.
Hari itu, dia tetap saja gugup, menanti perjalanan selanjutnya bertemu malaikat-malaikat kecil lainnya.
---
Tulisan ini adalah cacatan kecil perjalanan pendistribusian buku, Gerakan Setengah Juta Buku untuk Anak Indonesia melalui Bakti Bagi Negeri, Etape 11 Lebak, Banten. Berbagi buku, berbagi inspirasi, salurkan donasimu, klik baktibaginegeri.org
Friday, February 22, 2013
Belajar Tenggelam
"Kau harus belajar tenggelam. Menyerahkan semuanya pada air. Tenang, jangan takut dan jangan melawan. Bernafaslah, kau tahu kau bisa bertahan di dalamnya. Biarkan air membawamu dengan dominasinya. Pasrah seperti kau memasrahkan hidupmu pada Tuhan"
Bersama suara itu, aku mengambil nafas. Masuk ke dalam air sambil melingkarkan tangan di lutut. Membatu. Tenggelam. Dan benar saja, air mulai mengangkatku pelan, perlahan menuju ke permukaan. Sesekali aku masih takut dan panik. Tapi aku mencobanya lagi dan lagi.
"Sekarang coba rentangkan kaki dan tanganmu. Tetap tenang dan ikuti kemauan air. Pasrahkan semuanya. Cobalah mengambang. Apabila kau sudah cukup yakin telah menyatu dengan air, mulai ayunkan tanganmu. Rasakan bahwa bersamanya kau dapat bergerak ke arah yang kau mau"
Ajaib. Aku bergerak, aku mengambang dan tidak tenggelam.
Lebih dari belajar berenang, ternyata hari itu aku kembali mengingat satu pelajaran penting kehidupan: tawakal.
Bersama suara itu, aku mengambil nafas. Masuk ke dalam air sambil melingkarkan tangan di lutut. Membatu. Tenggelam. Dan benar saja, air mulai mengangkatku pelan, perlahan menuju ke permukaan. Sesekali aku masih takut dan panik. Tapi aku mencobanya lagi dan lagi.
"Sekarang coba rentangkan kaki dan tanganmu. Tetap tenang dan ikuti kemauan air. Pasrahkan semuanya. Cobalah mengambang. Apabila kau sudah cukup yakin telah menyatu dengan air, mulai ayunkan tanganmu. Rasakan bahwa bersamanya kau dapat bergerak ke arah yang kau mau"
Ajaib. Aku bergerak, aku mengambang dan tidak tenggelam.
Lebih dari belajar berenang, ternyata hari itu aku kembali mengingat satu pelajaran penting kehidupan: tawakal.
Thursday, February 21, 2013
Cahaya Islam di Bumi Eropa, Sebuah Resensi
Saya merasa ketinggalan berita. Seperti para penyuka gosip artis yang telat nonton infotainment seharian. Kemana saja saya selama ini, karena saya baru tahu bahwa peradaban Islam (Timur Tengah) pernah sangat berpengaruh terhadap perkembangan peradaban Eropa. Mungkin pas pelajaran sejarah di SMA dulu saya lebih banyak mengantuknya daripada memperhatikan apa yang dijelaskan guru. Haduh, payah sekali saya ini. Secuil hal yang saya ingat tentang Eropa hanyalah Revolusi Industri dan Renaisans.
Saya patut berterima kasih pada Mba Hanum, penulis buku "99 Cahaya di Langit Eropa, Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa" yang memberikan saya pengetahuan tentang Islam sebelum Abad Pertengahan (Middle Ages). Terima kasih pada Allah yang telah mengizinkan Mba Hanum dan suaminya, Mas Rangga, untuk bisa tinggal di Wina, Austria, sehingga beliau-beliau ini bisa menularkan pengetahuan tentang kejayaan Islam di Eropa.
Satu penggalan kisah di awal cerita Mba Hanum yang saya hafal adalah pengalamannya berkunjung ke sebuah bekas benteng perang di Wina. Ketika Mba Hanum dan temannya dari Turki bernama Fatma, mampir ke cafe di seputaran benteng tersebut.
Diceritakan kembali bahwa di dalam cafe, terdengar beberapa orang turis bule sedang bercakap-cakap. "Tahukah kamu cara yang bagus untuk mengejek orang Islam?" kata salah satu di antaranya. Setelah berkata seperti itu, dia memakan sebuah kue croissant dengan rakusnya. Kemudian temannya yang lain bertanya "Mengapa demikian?". Karena, kue croissant ini dibuat orang Austria untuk merayakan kemenangannya melawan pasukan Muslim Turki Ottoman. Sebab, lambang negara Turki dan lambang Islam adalah bulan sabit, maka kue ini dibuat berbentuk bulan sabit.
Ya ampuuun, ternyata kue kesukaan saya itu, menyimpan sejarah sedemikian rupa. Akhirnya, sekarang kalau beli kue croissant saya memilih kue yang bentuknya lurus :P
Melangkah ke halaman lainnya, Mba Hanum bercerita mengenai kisahnya saat diberi kesempatan berjalan-jalan ke Paris didampingi oleh seorang Muslimah berkebangsaan Perancis bernama Marion. Marion adalah peneliti peradaban Islam Abad Pertengahan. Marion yang ahli membaca tulisan Arab Kufic, salah satu jenis tulisan Arab jaman dulu, menjelaskan banyak hal yang mencengangkan. Lebih baik saya sebutkan dalam poin-poin saja ya teman-teman...
1. Dalam lukisan Bunda Maria dan Bayi Yesus (The Virgin and The Child) karya Ugolino di Nerio, yang dipajang di Museum Louvre terdapat tulisan Arab Pseudo Kufic di kerudung yang dipakai Bunda Maria. Tulisan tersebut berbunyi "Laa Illaha Ilallaah" (tiada tuhan selain Allah). Tulisan Arab Kufic juga banyak ditemukan di lukisan-lukisan artefak Umat Katolik yang lain. Ada juga tulisan Arab Kufic di jubah seorang raja Katolik taat yaitu Raja Roger II of Sicily dari Austria.
Mengapa bisa demikian? Marion lantas menjelaskan bahwa dulu Timur Tengah dikenal dengan ilmu pengetahuan, seni dan budayanya. Sehingga banyak orang Eropa bepergian ke Timur Tengah dan membeli kain, permadani, lukisan dan lain sebagainya. Dalam barang-barang yang diperdagangkan itu seringkali terdapat tulisan tauhid seperti di atas dan akhirnya ditiru oleh orang-orang Eropa.
2. Bangunan-bangunan dan lokasi bersejarah di Paris yaitu Monumen le Defense, Arc du Triomphe de l'Etoile, jalan Champ Elysees, Tugu Obelisk, Arc du Triomphe de Carrousel dan Museum Louvre berada pada satu garis lurus dan garis tersebut mengarah ke Ka'bah (Makkah), Arab Saudi. Beberapa di antara bangunan tersebut diperintahkan dibangun oleh Napoleon Bonaparte, penakluk Eropa dari Perancis yang sangat terkenal itu. Arc du Triomphe de l'Etoile dan de Carrousel itu adalah bangunan berbentuk gerbang itu lho.
Kata Marion, Napoleon Bonaparte sangat mengagumi dan menghormati peradaban Islam. Ia juga mengeluarkan Napoleonic Code yang pasal-pasalnya mirip syariah Islam. Menurut info dari Marion, salah satu tangan Napoleon yaitu Jenderal Francois Menou telah masuk Islam jadi bukan tidak mungkin bahwa Napoleon sendiri adalah seorang Muslim.
3. Sekarang di Museum Louvre telah dibangun Center of Islamic art di Cour Visconti, halaman terbesar kedua di Louvre setelah Cour Napoleon di mana bangunan piramid Napoleon berada). Center of Islamic Art ditutup dengan atap kubik besar berbentuk permadani terbang, atau mirip juga dengan hijab atau jilbab. Sesuatu banget ya, untuk Islamic Art sampai dibuatkan tempat seperti itu. Berikut saya cuplik fotonya dari sebuah website,
Makin ke belakang saya baca bukunya, ada kisah Mba Hanum pergi ke Cordoba, Spanyol. Kalau sekarang yang dapat julukan The City of Light adalah Paris, Cordoba ini terkenal dengan sebutan The True City Of Light (Kota Cahaya). Dulu, Cordoba adalah pusat inspirasi Eropa, karena disanalah segala agama hidup berdampingan dalam damai di bawah kepemimpinan seorang pemimpin Muslim. Tempat di mana agama dan ilmu pengetahuan juga diterapkan bersama-sama, hingga akhirnya peradaban di Cordoba porak poranda oleh Perang Salib. Disinilah sebuah Masjid Agung diubah menjadi Katedral yang sekarang dinamakan Mezquita.
Syukur saya kepada Allah, dengan pengetahuan ini saya jadi semakin penasaran mempelajari sejarah Islam. Islam yang menularkan ajarannya secara damai, juga melalui ilmu pengetahuan, seni dan budaya. Saya panjatkan doa saya pada-Nya, semoga saya diberi usia dan kesempatan untuk mengunjungi situs-situs sejarah Islam di Eropa.
Semoga Allah mengabulkan. Aamiiin. Allah Almighty Knows Best.
Saya patut berterima kasih pada Mba Hanum, penulis buku "99 Cahaya di Langit Eropa, Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa" yang memberikan saya pengetahuan tentang Islam sebelum Abad Pertengahan (Middle Ages). Terima kasih pada Allah yang telah mengizinkan Mba Hanum dan suaminya, Mas Rangga, untuk bisa tinggal di Wina, Austria, sehingga beliau-beliau ini bisa menularkan pengetahuan tentang kejayaan Islam di Eropa.
Satu penggalan kisah di awal cerita Mba Hanum yang saya hafal adalah pengalamannya berkunjung ke sebuah bekas benteng perang di Wina. Ketika Mba Hanum dan temannya dari Turki bernama Fatma, mampir ke cafe di seputaran benteng tersebut.
Diceritakan kembali bahwa di dalam cafe, terdengar beberapa orang turis bule sedang bercakap-cakap. "Tahukah kamu cara yang bagus untuk mengejek orang Islam?" kata salah satu di antaranya. Setelah berkata seperti itu, dia memakan sebuah kue croissant dengan rakusnya. Kemudian temannya yang lain bertanya "Mengapa demikian?". Karena, kue croissant ini dibuat orang Austria untuk merayakan kemenangannya melawan pasukan Muslim Turki Ottoman. Sebab, lambang negara Turki dan lambang Islam adalah bulan sabit, maka kue ini dibuat berbentuk bulan sabit.
Ya ampuuun, ternyata kue kesukaan saya itu, menyimpan sejarah sedemikian rupa. Akhirnya, sekarang kalau beli kue croissant saya memilih kue yang bentuknya lurus :P
Melangkah ke halaman lainnya, Mba Hanum bercerita mengenai kisahnya saat diberi kesempatan berjalan-jalan ke Paris didampingi oleh seorang Muslimah berkebangsaan Perancis bernama Marion. Marion adalah peneliti peradaban Islam Abad Pertengahan. Marion yang ahli membaca tulisan Arab Kufic, salah satu jenis tulisan Arab jaman dulu, menjelaskan banyak hal yang mencengangkan. Lebih baik saya sebutkan dalam poin-poin saja ya teman-teman...
| Inskripsi Arab ada di pinggir jilbab Bunda Maria (sumber) |
Mengapa bisa demikian? Marion lantas menjelaskan bahwa dulu Timur Tengah dikenal dengan ilmu pengetahuan, seni dan budayanya. Sehingga banyak orang Eropa bepergian ke Timur Tengah dan membeli kain, permadani, lukisan dan lain sebagainya. Dalam barang-barang yang diperdagangkan itu seringkali terdapat tulisan tauhid seperti di atas dan akhirnya ditiru oleh orang-orang Eropa.
2. Bangunan-bangunan dan lokasi bersejarah di Paris yaitu Monumen le Defense, Arc du Triomphe de l'Etoile, jalan Champ Elysees, Tugu Obelisk, Arc du Triomphe de Carrousel dan Museum Louvre berada pada satu garis lurus dan garis tersebut mengarah ke Ka'bah (Makkah), Arab Saudi. Beberapa di antara bangunan tersebut diperintahkan dibangun oleh Napoleon Bonaparte, penakluk Eropa dari Perancis yang sangat terkenal itu. Arc du Triomphe de l'Etoile dan de Carrousel itu adalah bangunan berbentuk gerbang itu lho.
Kata Marion, Napoleon Bonaparte sangat mengagumi dan menghormati peradaban Islam. Ia juga mengeluarkan Napoleonic Code yang pasal-pasalnya mirip syariah Islam. Menurut info dari Marion, salah satu tangan Napoleon yaitu Jenderal Francois Menou telah masuk Islam jadi bukan tidak mungkin bahwa Napoleon sendiri adalah seorang Muslim.
3. Sekarang di Museum Louvre telah dibangun Center of Islamic art di Cour Visconti, halaman terbesar kedua di Louvre setelah Cour Napoleon di mana bangunan piramid Napoleon berada). Center of Islamic Art ditutup dengan atap kubik besar berbentuk permadani terbang, atau mirip juga dengan hijab atau jilbab. Sesuatu banget ya, untuk Islamic Art sampai dibuatkan tempat seperti itu. Berikut saya cuplik fotonya dari sebuah website,
| Tampak Samping Center of Islamic Art di Louvre diambil dari sumber ini |
Syukur saya kepada Allah, dengan pengetahuan ini saya jadi semakin penasaran mempelajari sejarah Islam. Islam yang menularkan ajarannya secara damai, juga melalui ilmu pengetahuan, seni dan budaya. Saya panjatkan doa saya pada-Nya, semoga saya diberi usia dan kesempatan untuk mengunjungi situs-situs sejarah Islam di Eropa.
Semoga Allah mengabulkan. Aamiiin. Allah Almighty Knows Best.
Tuesday, February 05, 2013
Misteri Gog dan Magog, Kaum yang Terpenjara
Alkisah, Iskandar Dzul Karnain, seorang penguasa agung yang namanya disebut salah satunya dalam Al Quran. "Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu."
Konon, Dzulkarnain adalah nama lain dari Alexander The Great, Raja dari Macedonia 3 abad sebelum masehi. Ia berhasil menaklukkan sebagian Benua Eropa dan Asia Selatan. Ia juga menaklukkan Imperium Persia yang kala itu dipimpin oleh Raja Darius III. Ia ahli berperang, dalam Wikipedia ditulis, bahkan strategi perangnya masih dirujuk oleh militer modern saat ini.
Suatu kali, setelah melakukan beberapa penaklukan, Dzul Karnain kembali menempuh perjalanan ke arah yang lain. Hinga ia tiba di sebuah daerah di antara dua gunung. Dikisahkan Dzul Karnain bertemu dengan "suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan", atau tidak fasih dalam berbahasa. Kaum itu meminta bantuan kepada Dzul Karnain untuk menangkap dan memenjarakan suatu kaum lainnya yang bernama Gog dan Magog. Kaum itu berkata "sesungguhnya Gog dan Magog adalah orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi".
Dzul Karnain menyanggupi permintaan tersebut. Maka mulailah ia membangun benteng untuk memenjarakan Gog dan Magog. Benteng dibuat dengan besi dan tembaga yang dilelehkan, hingga Gog dan Magog terpenjara dalam benteng itu dan tidak sekali pun mereka dapat mendaki atau pun melubanginya.
Sebetulnya Al Qur'an menyebut Gog dan Magog sebagai Ya'juj dan Ma'juj. Mereka adalah keturunan Nabi Adam melalui Nabi Nuh. Diceritakan bahwa dua kaum ini akan dibebaskan dari penjara yang dibuat Dzul Karnain, menjelang Hari Kiamat sebagai salah satu tanda bahwa kehidupan ini akan segera berakhir. Mereka akan kembali berbuat kerusakan di bumi, dan tidak ada seorang pun yang dapat menghentikannya.
Seperti yang dikatakan Dzul Karnain setelah selesai membuat benteng, "Benteng ini adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh, Kami biarkan mereka pada hari itu bercampur aduk satu dengan yang lain, hingga ditiup lagi sangkakala..."
Hari demi hari Kaum Gog dan Magog terus berusaha membebaskan diri dari benteng dengan mendaki dan melubangi benteng. Tapi setiap mereka membuat lubang kecil di benteng tersebut, esok harinya lubang akan kembali tertutup. Hal ini mengingatkan saya tentang Film The Dark Knight Rises, saat adegan orang-orang yang dihukum dalam sebuah ruangan bawah tanah, mecoba naik ke permukaan, namun tak ada satu pun yang berhasil keluar kecuali Bane dan Seorang Anak Kecil yang akhirnya menjadi musuh Batman.
Ciri-ciri Kaum Gog dan Magog antara lain berwajah lebar, bermata sipit, di tengah kepalanya terdapat rambut putih dan saat mereka terbebas, mereka akan menuruni lereng gunung seperti banjir bandang.
Banyak referensi online yang membahas mengenai Gog dan Magog alias Ya'juj dan Ma'juj. Namun referensi yang saya baca bersumber dari Wikipedia. Untuk link lainnya adalah artikel dari Islam Online berjudul Ya'juj dan Ma'juj: The Disbelievers. Sementara, referensi yang paling utama adalah Al Qur'an Surat Al Kahfi ayat 83 - 100. Mari kita meng-imani adanya Hari Kiamat sebagai salah satu Rukun Iman dengan mengenal tanda-tandanya.
Wallahu 'alam bishowab. Allah Almighty Knows Best.
Konon, Dzulkarnain adalah nama lain dari Alexander The Great, Raja dari Macedonia 3 abad sebelum masehi. Ia berhasil menaklukkan sebagian Benua Eropa dan Asia Selatan. Ia juga menaklukkan Imperium Persia yang kala itu dipimpin oleh Raja Darius III. Ia ahli berperang, dalam Wikipedia ditulis, bahkan strategi perangnya masih dirujuk oleh militer modern saat ini.
Suatu kali, setelah melakukan beberapa penaklukan, Dzul Karnain kembali menempuh perjalanan ke arah yang lain. Hinga ia tiba di sebuah daerah di antara dua gunung. Dikisahkan Dzul Karnain bertemu dengan "suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan", atau tidak fasih dalam berbahasa. Kaum itu meminta bantuan kepada Dzul Karnain untuk menangkap dan memenjarakan suatu kaum lainnya yang bernama Gog dan Magog. Kaum itu berkata "sesungguhnya Gog dan Magog adalah orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi".
Dzul Karnain menyanggupi permintaan tersebut. Maka mulailah ia membangun benteng untuk memenjarakan Gog dan Magog. Benteng dibuat dengan besi dan tembaga yang dilelehkan, hingga Gog dan Magog terpenjara dalam benteng itu dan tidak sekali pun mereka dapat mendaki atau pun melubanginya.
Sebetulnya Al Qur'an menyebut Gog dan Magog sebagai Ya'juj dan Ma'juj. Mereka adalah keturunan Nabi Adam melalui Nabi Nuh. Diceritakan bahwa dua kaum ini akan dibebaskan dari penjara yang dibuat Dzul Karnain, menjelang Hari Kiamat sebagai salah satu tanda bahwa kehidupan ini akan segera berakhir. Mereka akan kembali berbuat kerusakan di bumi, dan tidak ada seorang pun yang dapat menghentikannya.
Seperti yang dikatakan Dzul Karnain setelah selesai membuat benteng, "Benteng ini adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh, Kami biarkan mereka pada hari itu bercampur aduk satu dengan yang lain, hingga ditiup lagi sangkakala..."
Hari demi hari Kaum Gog dan Magog terus berusaha membebaskan diri dari benteng dengan mendaki dan melubangi benteng. Tapi setiap mereka membuat lubang kecil di benteng tersebut, esok harinya lubang akan kembali tertutup. Hal ini mengingatkan saya tentang Film The Dark Knight Rises, saat adegan orang-orang yang dihukum dalam sebuah ruangan bawah tanah, mecoba naik ke permukaan, namun tak ada satu pun yang berhasil keluar kecuali Bane dan Seorang Anak Kecil yang akhirnya menjadi musuh Batman.
Ciri-ciri Kaum Gog dan Magog antara lain berwajah lebar, bermata sipit, di tengah kepalanya terdapat rambut putih dan saat mereka terbebas, mereka akan menuruni lereng gunung seperti banjir bandang.
Banyak referensi online yang membahas mengenai Gog dan Magog alias Ya'juj dan Ma'juj. Namun referensi yang saya baca bersumber dari Wikipedia. Untuk link lainnya adalah artikel dari Islam Online berjudul Ya'juj dan Ma'juj: The Disbelievers. Sementara, referensi yang paling utama adalah Al Qur'an Surat Al Kahfi ayat 83 - 100. Mari kita meng-imani adanya Hari Kiamat sebagai salah satu Rukun Iman dengan mengenal tanda-tandanya.
Wallahu 'alam bishowab. Allah Almighty Knows Best.
Labels:
alexander,
dzul,
end of the world,
gog,
great,
karnain,
kiamat,
ma'juj,
magog,
renungan,
WriteOn,
ya'juj
Sunday, January 27, 2013
Fly Me to Central Park, Please...
Beberapa hari yang lalu saya nonton film berjudul "What to expect, when you're expecting". Saya ngga pengen nulis soal cerita filmnya. Sebab, perhatian saya justru tersita pada lokasi shootingnya. Lokasi saat adegan para ayah dalam film tersebut selalu membawa anak-anak mereka jalan-jalan sambil ngerumpi. Ya, saya mengenali lokasi itu sebagai Central Park, Manhattan, New York -kendati saya belum pernah sekali pun pergi ke sana.
Saya pengagum taman. Sewaktu saya masih kanak-kanak, saya takjub sekali dengan rumah-rumah orang kaya di suatu kompleks di dekat desa saya. Rumah-rumah tersebut selalu dilengkapi dengan taman. Taman dengan rumput yang hijau empuk, tanaman palem berbagai ukuran, batu-batuan warna-warni, kolam ikan, air mancur, jembatan buatan dan ayunan kecil.
Bila saya mampir ke sebuah kota untuk perjalanan, yang pertama kali saya perhatikan adalah tamannya. Saya tertegun setelah sekian lama saya tidak pergi ke Surabaya, kini kota itu berubah jadi cantik gara-gara taman yang dibangun, hijau dimana-mana. Hingga Surabaya saya nobatkan sebagai kota favorit saya. Bandung, kota tempat saya tinggal sekarang pun, yang katanya kota kembang itu, kalah deh sama Surabaya.
Saya sering melewatkan Sabtu Pagi saya untuk jogging di taman depan kantor. Melihat bunga-bunga yang mekar di sana membuat tangan saya gatal untuk mengambil gambar. Imajinasi saya, kalau saya dikasih uang dan kewenangan mengurus taman tersebut, kayaknya saya bisa bikin penampilan taman jadi lebih indah lagi deh. Kalau nanti saya punya rumah pun, mau sekecil apa, saya pengen bikin taman di rumah saya itu.
Kembali ke soal Central Park. Perkenalan saya dengan taman ini berawal ketika dosen favorit saya, Prof. Dr. Deddy Mulyana memberi tugas kelompok untuk Mata Kuliah Komunikasi Budaya, kita diminta membahas soal lansekap. Saya dan rekan saya akhirnya memutuskan menulis soal taman. Kita berselancar bersama Om Google dan akhirnya menemukan profil Central Park, salah satu taman kota terbesar di dunia.
Central Park tu luas banget, lebih dari 800 hektar luasnya. Kata teman saya yang pernah ke sana, gak cukup sehari deh menjelajah taman itu. Panjangnya saja mencapai beberapa blok komplek rumah dan perkantoran di Manhattan. Taman ini dibangung, karena seiring dengan perkembangan pesat New York dengan gedung bertingkatnya yang mengeluarkan polusi gas rumah kaca, dirasa perlu ada suatu paru-paru kota. Plus, masyarakatnya yang pada gila kerja juga bikin pemerintahnya memikirkan tempat hiburan yang bisa bikin pikiran jenuh dan badan pegel-pegel jadi plong lagi.
Sebelum membangun Central Park, pemerintah New York sampai harus ngegusur dan ngerelokasi pemukiman kumuh Afro-Amerika lho. Tapi ya mereka lumayan sukses melakukannya. Terus desain taman dibuat sama kolaborasi dua arsitek eropa gitu. Berkat kreativitas mereka lah tercipta sebuah taman multifungsi.
Selain sering banget buat syuting film, Central Park juga sering dipake buat menggelar konser musik dan tempat olah raga. Terus di dalamnya juga ada kebun binatangnya. Koleksi pepohonan dan tumbuhan di sana bahkan lebih dari 11.000 spesies. Pengunjung bisa mancing di danau-danau dan reservoar yang ada di sana. Kalau pas winter, danaunya bisa dipake buat ice skating, woww. Hal yang bikin ngiler juga adalah adanya museum buku dan bahkan kastil buat mempelajari astronomi. Kemudian, jembatan-jembatan sama patung-patung unik di Central Park juga bikin saya jatuh cinta sama taman ini.
Eh kalo gak salah ada satu jembatan yang dipake buat syuting adegan film Spiderman 3 kalo gak salah. Pas MJ mutusin si Peter Parker gara-gara dipengaruhi Harry. Jembatannya warna putih dan panjang dan bernama Bow Bridge. Tuh gambarnya saya cuplik dari Websitenya. Duh, gimana gak makin pengen ke sana coba. Kapan yaa Taman Pramuka di Bandung, Taman Buah Mekarsari di Bogor atau Taman Pintar di Yogya dipake buat syuting Spiderman... #ngarep mode on
Sementara, sebelum saya bisa pergi ke Central Park, saya browsing-browsing aja dulu di The Official Website of Central Park, New York City. Semakin browsing, semakin pengen berkunjung ke sana. Yaudah lah, daripada jauh-jauh entar berkunjung ke Kebun Raya Bogor dulu aja, atau cagar alam yang ada di Indonesia. Kayaknya ga kalah menariknya.
Saya pengagum taman. Sewaktu saya masih kanak-kanak, saya takjub sekali dengan rumah-rumah orang kaya di suatu kompleks di dekat desa saya. Rumah-rumah tersebut selalu dilengkapi dengan taman. Taman dengan rumput yang hijau empuk, tanaman palem berbagai ukuran, batu-batuan warna-warni, kolam ikan, air mancur, jembatan buatan dan ayunan kecil.
Bila saya mampir ke sebuah kota untuk perjalanan, yang pertama kali saya perhatikan adalah tamannya. Saya tertegun setelah sekian lama saya tidak pergi ke Surabaya, kini kota itu berubah jadi cantik gara-gara taman yang dibangun, hijau dimana-mana. Hingga Surabaya saya nobatkan sebagai kota favorit saya. Bandung, kota tempat saya tinggal sekarang pun, yang katanya kota kembang itu, kalah deh sama Surabaya.
Saya sering melewatkan Sabtu Pagi saya untuk jogging di taman depan kantor. Melihat bunga-bunga yang mekar di sana membuat tangan saya gatal untuk mengambil gambar. Imajinasi saya, kalau saya dikasih uang dan kewenangan mengurus taman tersebut, kayaknya saya bisa bikin penampilan taman jadi lebih indah lagi deh. Kalau nanti saya punya rumah pun, mau sekecil apa, saya pengen bikin taman di rumah saya itu.
Central Park tu luas banget, lebih dari 800 hektar luasnya. Kata teman saya yang pernah ke sana, gak cukup sehari deh menjelajah taman itu. Panjangnya saja mencapai beberapa blok komplek rumah dan perkantoran di Manhattan. Taman ini dibangung, karena seiring dengan perkembangan pesat New York dengan gedung bertingkatnya yang mengeluarkan polusi gas rumah kaca, dirasa perlu ada suatu paru-paru kota. Plus, masyarakatnya yang pada gila kerja juga bikin pemerintahnya memikirkan tempat hiburan yang bisa bikin pikiran jenuh dan badan pegel-pegel jadi plong lagi.
Sebelum membangun Central Park, pemerintah New York sampai harus ngegusur dan ngerelokasi pemukiman kumuh Afro-Amerika lho. Tapi ya mereka lumayan sukses melakukannya. Terus desain taman dibuat sama kolaborasi dua arsitek eropa gitu. Berkat kreativitas mereka lah tercipta sebuah taman multifungsi.
Selain sering banget buat syuting film, Central Park juga sering dipake buat menggelar konser musik dan tempat olah raga. Terus di dalamnya juga ada kebun binatangnya. Koleksi pepohonan dan tumbuhan di sana bahkan lebih dari 11.000 spesies. Pengunjung bisa mancing di danau-danau dan reservoar yang ada di sana. Kalau pas winter, danaunya bisa dipake buat ice skating, woww. Hal yang bikin ngiler juga adalah adanya museum buku dan bahkan kastil buat mempelajari astronomi. Kemudian, jembatan-jembatan sama patung-patung unik di Central Park juga bikin saya jatuh cinta sama taman ini.
Eh kalo gak salah ada satu jembatan yang dipake buat syuting adegan film Spiderman 3 kalo gak salah. Pas MJ mutusin si Peter Parker gara-gara dipengaruhi Harry. Jembatannya warna putih dan panjang dan bernama Bow Bridge. Tuh gambarnya saya cuplik dari Websitenya. Duh, gimana gak makin pengen ke sana coba. Kapan yaa Taman Pramuka di Bandung, Taman Buah Mekarsari di Bogor atau Taman Pintar di Yogya dipake buat syuting Spiderman... #ngarep mode on
Sementara, sebelum saya bisa pergi ke Central Park, saya browsing-browsing aja dulu di The Official Website of Central Park, New York City. Semakin browsing, semakin pengen berkunjung ke sana. Yaudah lah, daripada jauh-jauh entar berkunjung ke Kebun Raya Bogor dulu aja, atau cagar alam yang ada di Indonesia. Kayaknya ga kalah menariknya.
Bapak Teladan
Kutipan cerita ibu saya, waktu bicara lewat telepon pagi ini:
"Dulu waktu ibuk ikut prajab tiga bulan di Solo, ada yang dapet predikat bapak teladan dari para peserta prajab di sana. Setiap hari bapak itu menggendong anaknya yang masih bayi sambil menunggui istrinya yang sedang prajab. Dia gak kenal lelah, padahal prajab itu berlangsung dari pagi sampai malam. Dia terus seperti itu, menunggu di luar ruangan sambil menggendong bayinya dan sesekali membantu bayinya minum susu dari botol."
"Orang-orang memujinya, karena bahkan setelah istrinya selesai prajab dan sang bayi kembali ke pelukan istrinya, dia langsung melanjutkan perjalanan ke Semarang. Itu karena istrinya masih kos dan di kos tidak boleh ada laki-laki yang menginap. Pagi harinya dia menemui istrinya lagi di lokasi prajab untuk kembali menjaga bayinya. Begitu dia lakukan tiap hari, selama istrinya prajab, sementara dia belum mendapat pekerjaan. Tiap akhir minggu, baru dia dapat berkumpul kembali dengan istri dan bayinya."
"Dia adalah bapakmu, dan bayi itu adalah kamu"
"Dulu waktu ibuk ikut prajab tiga bulan di Solo, ada yang dapet predikat bapak teladan dari para peserta prajab di sana. Setiap hari bapak itu menggendong anaknya yang masih bayi sambil menunggui istrinya yang sedang prajab. Dia gak kenal lelah, padahal prajab itu berlangsung dari pagi sampai malam. Dia terus seperti itu, menunggu di luar ruangan sambil menggendong bayinya dan sesekali membantu bayinya minum susu dari botol."
"Orang-orang memujinya, karena bahkan setelah istrinya selesai prajab dan sang bayi kembali ke pelukan istrinya, dia langsung melanjutkan perjalanan ke Semarang. Itu karena istrinya masih kos dan di kos tidak boleh ada laki-laki yang menginap. Pagi harinya dia menemui istrinya lagi di lokasi prajab untuk kembali menjaga bayinya. Begitu dia lakukan tiap hari, selama istrinya prajab, sementara dia belum mendapat pekerjaan. Tiap akhir minggu, baru dia dapat berkumpul kembali dengan istri dan bayinya."
"Dia adalah bapakmu, dan bayi itu adalah kamu"
Monday, January 21, 2013
Tentang Rasa
Rasa, kau sebenarnya datang darimana?
Dari pikiran sang otak
Atau dari asa si hati
Tolong beritahu aku
Kenapa rasa?
Tiap kali otak bekerja
Dia bilang mudah sekali membuatmu
datang dan pergi
Tapi beda soal kata si hati
sepertinya dia punya alam sendiri
untuk menyimpanmu
Aku curiga,
Jangan-jangan kau berkong-kalikong dengan waktu
Entah kau ini bermuka berapa
pun susah menerka apa maumu
tapi waktu biasa menang
atasmu
Baiklah, mari kita tanya sang waktu.
Dari pikiran sang otak
Atau dari asa si hati
Tolong beritahu aku
Kenapa rasa?
Tiap kali otak bekerja
Dia bilang mudah sekali membuatmu
datang dan pergi
Tapi beda soal kata si hati
sepertinya dia punya alam sendiri
untuk menyimpanmu
Aku curiga,
Jangan-jangan kau berkong-kalikong dengan waktu
Entah kau ini bermuka berapa
pun susah menerka apa maumu
tapi waktu biasa menang
atasmu
Baiklah, mari kita tanya sang waktu.
Friday, December 28, 2012
Pertemuan
![]() | |
| |
Pertemuan Pertama
Saya termasuk orang yang excited menyambut sebuah pertemuan pertama. Pertemuan secara fisik tentu saja.
Belum lama ini saya bertemu dengan rekan kerja saya untuk pertama kali, setelah hampir setengah tahun ini kita hanya berkomunikasi lewat telepon maupun media online. Rekan kerja saya ini bagi saya cukup istimewa. Kita dipertemukan malah bukan karena pekerjaan, melainkan karena sebuah gerakan yang diberi nama Bakti Bagi Negeri. Sebuah gerakan bagi-bagi buku gratis bagi anak sekolah dasar di pelosok Indonesia.
Dia istimewa, saya kagum padanya, bagaimana bisa hanya lewat chatting dan telepon dia bisa mempersuasi orang-orang belum pernah dia temui sebelumnya, hingga apa yang dia inisiasi untuk gerakan itu pun berjalan dengan lancar. Roda gerakan berputar di sela-sela jarak yang membentang antar anggotanya. Maka dari itu saya sangat menantikan saat dimana saya bisa bertemu dengannya.
Pertemuan Kembali
Saya pernah menulis tentang pertemuan saya dengan Sahabat Bermata Coklat. Inilah pertemuan kembali yang tak pernah saya sangka akan dituliskan Tuhan. Pada saat pertemuan kembali antara kita berdua, saya menemukan bukti kebesaran Tuhan mengenai 'waktu'. Time does change everyone, including my best friend.
Kalau boleh dibilang, bertemu kembali dengan seseorang itu seperti membeli buku cerita. Membuka kembali dokumentasi kisah lampau dan menemukan sisi-sisi yang baru terkuak setelah lama kita meninggalkannya. Hal itu terjadi dalam pertemuan saya dengan teman kuliah saya yang sudah berpisah selama lebih dari 5 tahun. Dia tak sungkan menceritakan kembali kisah lamanya, kisah yang dulu tidak saya ketahui kebenarannya.
Pertemuan itu Misteri
Pertemuan saya dengan sepupu jauh saya bernama Apik dan Anik (mereka kembar), pada saat kita menempati kos yang sama di masa kuliah dulu, membawa saya kepada hal kecil yang mengejutkan. Ternyata ayah mereka, Prof. Ali Saukah adalah pengarang buku paket pelajaran Bahasa Inggris yang saya pakai di SMP dulu.
Kemudian, pertemuan saya dengan sepupu saya yang lain bernama Sinati, membawa Sinati bertemu dengan Taufik, suaminya sekarang. Sinati juga satu kos dengan saya, Apik serta Anik. Pada suatu hari, Taufik, yang juga sepupu saya dari pihak ibu, datang untuk bertemu dengan saya. Saya sedang di luar kos. Terpaksa Sinati menemui Taufik sehingga terjadilah perkenalan lebih jauh di antara mereka hingga akhirnya membawa mereka ke jenjang pernikahan.
Saya percaya, pertemuan itu ada misterinya. Saya sering tertawa sendiri saat mengingat-ingat berbagai pertemuan yang saya alami, karena baru mendapati hikmah pertemuan itu di masa sekarang.
Pertemuan adalah Pembelajaran
Peristiwa apa pun yang terjadi di dunia ini membawa pembelajaran, tak ketinggalan pula sebuah pertemuan, baik pertemuan formal maupun ketidaksengajaan dalam keseharian kita. Saya belajar bagaimana mengelola keuangan dan pentingnya berinvestasi setelah bertemu sahabat saya yang satu. Saya belajar bagaimana menjadi sedikit galak, judes dan tegas setelah bertemu sahabat saya yang lain.
Saya belajar untuk tidak memarahi orang -karena jujur dimarahi orang tu ngga enak banget, dari rekan kerja saya di kantor. Saya belajar untuk murah senyum dari orang yang baru saja berpapasan dengan saya di sebuah perjalanan, saya pikir ternyata melihat orang tersenyum itu mampu membahagiakan kita. Di hari-hari kemudian, ketika bertemu dengan seseorang, saya asik bertanya-tanya dalam diri saya, hmmmm apalagi yaa yang akan saya pelajari dari orang ini? :D
Begitulah beberapa cara saya memaknai pertemuan, bagaimana dengan Anda?
Friday, December 21, 2012
Kiamat
Tanggal ini, 21-12-2012 konon adalah hari terakhir bagi Suku Maya. Mereka meyakini bahwa kiamat seharusnya terjadi hari ini. Kok seharusnya? Karena sekarang pukul 05.45 waktu Indonesia bagian kamar, saya masih bisa mengetik postingan ini, jelas bahwa ramalan tersebut masih belum terjadi.
Di postingan saya sebelumnya, saya menyebutkan satu bagian dari kitab suci agama Islam yaitu Surat Al Waqiah. Teman-teman yang membaca postingan tersebut mungkin merasa ganjil ketika amarah saya reda begitu saja begitu membaca terjemahan surat itu. Sebetulnya, apa yang dikatakan Tuhan saya di Surat Al Waqiah?
Jawabannya akan saya coba ulas di postingan ini, pastinya dengan sudut pandang sangat subyektif. Saya juga mohon maaf bila sekiranya postingan ini tidak berkenan bagi pembaca. Tidak ada maksud lain, selain hanya sharing cerita saja.
Waqi'ah adalah nama lain dari Kiamat. Di kitab Al Qur'an, Allah menyebut 'Kiamat' dengan berbagai istilah. Beberapa diantara istilah lainnya adalah Qori'ah dan Qiyamah. Secara garis besar, Al Waqi'ah menceritakan mengenai nasib bangsa manusia setelah Kiamat itu terjadi, lebih kepada ganjaran yang akan diterima setelah dihisab atau dihitung amalannya.
Setelah Kiamat terjadi dan setelah dihisab tadi tentu saja, bangsa manusia dibagi menjadi tiga golongan: pertama, golongan kanan; kedua, golongan kiri dan ketiga, golongan orang-orang beriman. Golongan tersebut dibagi berdasarkan amalan dan ganjaran apa yang akan diterima.
Penjelasan di Al Waqiah dimulai atas orang-orang beriman terlebih dahulu. Siapa saja yang dikategorikan orang beriman? Mereka adalah "segolongan besar orang-orang terdahulu dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian". Saya mengasumsikan bahwa orang-orang terdahulu adalah yang hidup di masa Nabi Muhammad dan pendahulu-pendahulunya, sementara orang kemudian merupakan sebutan bagi kaum yang hidup setelah Nabi termasuk kita-kita ini. Kenapa ya kaum kita hanya sedikit yang masuk golongan ini?
Golongan pertama adalah golongan yang akan ditempatkan di Jannatun Na'im (Surga Kenikmatan) dan paling dekat dengan kedudukan Allah. Dijelaskan pula bagaimana kondisi dan kenikmatan di surga ini adalah yang paling yahud dari surga-surga yang lain. Saya curiga, jangan-jangan Nabi dan Rosul juga tinggalnya di surga ini. Pantesan tampak susah masuk ke golongan ini.
Golongan kedua adalah golongan kanan. Siapa mereka? Mereka adalah "sebagian besar orang-orang terdahulu dan segolongan besar pula dari orang-orang kemudian". Ganjaran buat mereka adalah menghuni surga lain selain Jannatun Na'im. Tentu dengan kenikmatan yang tak kalah oke.
Golongan ketiga, golongan kiri, mereka adalah "orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian yang sebelum kiamat hidup bermewahan, terus menerus mengerjakan dosa besar dan tidak percaya bahwa mereka akan dibangkitkan setelah mati". Ganjarannya adalah neraka, seram sekali penjelasan kondisi neraka di Surat Al Waqiah.
Sebagian akhir dari Al Waqiah berisi semacam "Big Irrefutable Retorical Questions", mengapa bangsa manusia meragukan dan meremehkan Tuhan, padahal telah jelas bukti-bukti keberadaan dan kekuasaan-Nya. Ini nih contoh pertanyaannya:
"Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu tanam. Kamukah yang menumbuhkannya atau Kamikah yang menumbuhkannya?
Kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan dia hancur dan kering, maka jadilah kamu heran dan tercengang (sambil berkata): Sesungguhnya kami benar-benar mendertia kerugian" (QS. Al Waqi'ah: 63-66)
Apa yang saya rasakan dalam postingan sebelumnya adalah satu bentuk goyahnya keyakinan saya terhadap kuasa Tuhan yang dibantah telak dengan banyak Retorical Questions tersebut. Maka dari itu saya langsung diam seribu bahasa dan mohon ampun pada Tuhan atas keragu-raguan saya.
Well, apapun, itu tadi terbatas pengalaman spiritual saya. Tapi kalau ingat keyakinan saya akan hari Kiamat, tentu saya ingin masuk surga dan saya tahu itu tidak gampang, bahkan mungkin jalannya harus banyak ditempuh dengan banyak kesabaran dan keikhlasan atas kondisi yang tidak kita inginkan. Itulah kenapa, seperti saya pernah dengar, surga banyak dihuni oleh orang miskin yang ikhlas menghadapi hidupnya. Lantas kenapa saya menjadi begitu sombong dan tidak mensyukuri kondisi saya saat ini?
Di postingan saya sebelumnya, saya menyebutkan satu bagian dari kitab suci agama Islam yaitu Surat Al Waqiah. Teman-teman yang membaca postingan tersebut mungkin merasa ganjil ketika amarah saya reda begitu saja begitu membaca terjemahan surat itu. Sebetulnya, apa yang dikatakan Tuhan saya di Surat Al Waqiah?
Jawabannya akan saya coba ulas di postingan ini, pastinya dengan sudut pandang sangat subyektif. Saya juga mohon maaf bila sekiranya postingan ini tidak berkenan bagi pembaca. Tidak ada maksud lain, selain hanya sharing cerita saja.
Waqi'ah adalah nama lain dari Kiamat. Di kitab Al Qur'an, Allah menyebut 'Kiamat' dengan berbagai istilah. Beberapa diantara istilah lainnya adalah Qori'ah dan Qiyamah. Secara garis besar, Al Waqi'ah menceritakan mengenai nasib bangsa manusia setelah Kiamat itu terjadi, lebih kepada ganjaran yang akan diterima setelah dihisab atau dihitung amalannya.
Setelah Kiamat terjadi dan setelah dihisab tadi tentu saja, bangsa manusia dibagi menjadi tiga golongan: pertama, golongan kanan; kedua, golongan kiri dan ketiga, golongan orang-orang beriman. Golongan tersebut dibagi berdasarkan amalan dan ganjaran apa yang akan diterima.
Penjelasan di Al Waqiah dimulai atas orang-orang beriman terlebih dahulu. Siapa saja yang dikategorikan orang beriman? Mereka adalah "segolongan besar orang-orang terdahulu dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian". Saya mengasumsikan bahwa orang-orang terdahulu adalah yang hidup di masa Nabi Muhammad dan pendahulu-pendahulunya, sementara orang kemudian merupakan sebutan bagi kaum yang hidup setelah Nabi termasuk kita-kita ini. Kenapa ya kaum kita hanya sedikit yang masuk golongan ini?
Golongan pertama adalah golongan yang akan ditempatkan di Jannatun Na'im (Surga Kenikmatan) dan paling dekat dengan kedudukan Allah. Dijelaskan pula bagaimana kondisi dan kenikmatan di surga ini adalah yang paling yahud dari surga-surga yang lain. Saya curiga, jangan-jangan Nabi dan Rosul juga tinggalnya di surga ini. Pantesan tampak susah masuk ke golongan ini.
Golongan kedua adalah golongan kanan. Siapa mereka? Mereka adalah "sebagian besar orang-orang terdahulu dan segolongan besar pula dari orang-orang kemudian". Ganjaran buat mereka adalah menghuni surga lain selain Jannatun Na'im. Tentu dengan kenikmatan yang tak kalah oke.
Golongan ketiga, golongan kiri, mereka adalah "orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian yang sebelum kiamat hidup bermewahan, terus menerus mengerjakan dosa besar dan tidak percaya bahwa mereka akan dibangkitkan setelah mati". Ganjarannya adalah neraka, seram sekali penjelasan kondisi neraka di Surat Al Waqiah.
Sebagian akhir dari Al Waqiah berisi semacam "Big Irrefutable Retorical Questions", mengapa bangsa manusia meragukan dan meremehkan Tuhan, padahal telah jelas bukti-bukti keberadaan dan kekuasaan-Nya. Ini nih contoh pertanyaannya:
"Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu tanam. Kamukah yang menumbuhkannya atau Kamikah yang menumbuhkannya?
Kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan dia hancur dan kering, maka jadilah kamu heran dan tercengang (sambil berkata): Sesungguhnya kami benar-benar mendertia kerugian" (QS. Al Waqi'ah: 63-66)
Apa yang saya rasakan dalam postingan sebelumnya adalah satu bentuk goyahnya keyakinan saya terhadap kuasa Tuhan yang dibantah telak dengan banyak Retorical Questions tersebut. Maka dari itu saya langsung diam seribu bahasa dan mohon ampun pada Tuhan atas keragu-raguan saya.
Well, apapun, itu tadi terbatas pengalaman spiritual saya. Tapi kalau ingat keyakinan saya akan hari Kiamat, tentu saya ingin masuk surga dan saya tahu itu tidak gampang, bahkan mungkin jalannya harus banyak ditempuh dengan banyak kesabaran dan keikhlasan atas kondisi yang tidak kita inginkan. Itulah kenapa, seperti saya pernah dengar, surga banyak dihuni oleh orang miskin yang ikhlas menghadapi hidupnya. Lantas kenapa saya menjadi begitu sombong dan tidak mensyukuri kondisi saya saat ini?
Thursday, December 20, 2012
Limbung
Saya sampai pada ujung keputusasaan saya.
Saya sudah tidak mampu menyalahkan diri sendiri atas kekecewaan ini. Terlalu banyak saya lemparkan beban pada hati untuk memarahi otak ketika dia mencoba egois dalam menghadapi masalah. Otak pun sebenarnya sudah lelah membela diri saya dihadapan hati dengan segala logika-logikanya.
Otak mencoba menyalahkan orang lain, "Seharusnya mereka bisa sedikit lebih peduli kepada kita seperti kita telah berbaik hati pada mereka! Apa salah kita sampai mereka tega bertindak sangat tidak adil?!"
Hati bilang, "Percuma menyalahkan orang lain karena toh mereka tak berperan dalam menciptakan kekecewaan. Bukannya kekecewaan itu hasil karya mu sendiri wahai otak dan pikiran? Kau begitu sombong menetapkan standar-standar diri sehingga virus kekecewaan itu tumbuh besar dalam diri kita".
Saya lari pada hal lain. Saya mengadu dan marah sama Allah.
Saya dulunya giat berdoa agar Dia memberikan yang terbaik bagi saya, seperti apa yang dikasih tau orang-orang. Hanya saja rupanya entah apa kami berdialog dalam bahasa yang berbeda, sehingga persepsi yang terbaik menurut-Nya kok masih jauh dari yang terbaik versi saya. Padahal, rasanya saya sudah memenuhi syarat dan ketentuan yang Dia berikan deh.
Saya pikir ini harus diluruskan. Karena saya benar-benar sudah tidak bisa menyalahkan hati dan otak atas semua ini.
Akhirnya saya meluruskan semua itu dengan cara penghambaan yang paling kuno. Saya bicara sama Allah "Apalagi Yaa Allah? Apalagi yang harus saya lakukan? Setidaknya berikan sedikit obat untuk orang limbung yang satu ini, yang sangat sadar bahwa hanya Engkaulah Yang Maha Kuasa"
Lantas Dia memberikan saya: Al Quran - Surat Al Waqi'ah, dan diamlah saya. Seperti antalgin, obat itu menawarkan sakit saya, tangis saya dan rengekan saya.
Saya sudah tidak mampu menyalahkan diri sendiri atas kekecewaan ini. Terlalu banyak saya lemparkan beban pada hati untuk memarahi otak ketika dia mencoba egois dalam menghadapi masalah. Otak pun sebenarnya sudah lelah membela diri saya dihadapan hati dengan segala logika-logikanya.
Otak mencoba menyalahkan orang lain, "Seharusnya mereka bisa sedikit lebih peduli kepada kita seperti kita telah berbaik hati pada mereka! Apa salah kita sampai mereka tega bertindak sangat tidak adil?!"
Hati bilang, "Percuma menyalahkan orang lain karena toh mereka tak berperan dalam menciptakan kekecewaan. Bukannya kekecewaan itu hasil karya mu sendiri wahai otak dan pikiran? Kau begitu sombong menetapkan standar-standar diri sehingga virus kekecewaan itu tumbuh besar dalam diri kita".
Saya lari pada hal lain. Saya mengadu dan marah sama Allah.
Saya dulunya giat berdoa agar Dia memberikan yang terbaik bagi saya, seperti apa yang dikasih tau orang-orang. Hanya saja rupanya entah apa kami berdialog dalam bahasa yang berbeda, sehingga persepsi yang terbaik menurut-Nya kok masih jauh dari yang terbaik versi saya. Padahal, rasanya saya sudah memenuhi syarat dan ketentuan yang Dia berikan deh.
Saya pikir ini harus diluruskan. Karena saya benar-benar sudah tidak bisa menyalahkan hati dan otak atas semua ini.
Akhirnya saya meluruskan semua itu dengan cara penghambaan yang paling kuno. Saya bicara sama Allah "Apalagi Yaa Allah? Apalagi yang harus saya lakukan? Setidaknya berikan sedikit obat untuk orang limbung yang satu ini, yang sangat sadar bahwa hanya Engkaulah Yang Maha Kuasa"
Lantas Dia memberikan saya: Al Quran - Surat Al Waqi'ah, dan diamlah saya. Seperti antalgin, obat itu menawarkan sakit saya, tangis saya dan rengekan saya.
Tuesday, December 18, 2012
Dewa yang Kecewa
Dari Belitong saya punya cerita. Bukan soal pantai indahnya plus hiasan batu-batu besar yang entah dari mana datangnya itu. Bukan pula soal SD Laskar Pelangi serta Ibu guru Muslimah yang termasyur sejak difilmkan. Ini soal kisah saya di Vihara Dewi Kwan Im, sebuah vihara dengan dominasi warna merah pada bangunannya dan terletak di sebuah bukit Belitong Timur.
Pada bangunan vihara yang paling besar, di puncak bukit, terdapat tempat berdoa kepada para dewa. Banyak sekali patung dewa-dewa Cina diletakkan di sebuah altar lengkap dengan dupa dan sesaji di sekelilingnya. Setiap pengunjung yang hadir ditawarkan untuk berdoa di hadapan para dewa. Melalui beberapa prosesi, pengunjung dapat berdoa dan mengajukan satu hal untuk ditanyakan pada para dewa. Konon para dewa itu akan segera menjawabnya.
Teman saya pun mencobanya. Dia diminta menyebutkan pertanyaan dalam hati. Kemudian penjaga vihara melemparkan sepasang batu ke altar yang sesaat kemudian batu tersebut jatuh dalam posisi satu menelungkup dan satu menengadah. Sang penjaga viara lalu meminta teman saya mengambil sebuah benda mirip sumpit di antara sekian banyak benda yang sama dan terletak dalam satu wadah. Cara pengambilannya mirip undian.
Setelah terpilih satu sumpit, Sang Penjaga mengamati sumpit tersebut lantas menuju ke sebuah papan di salah satu dinding ruangan. Papan tersebut memiliki banyak kotak-kota di mana di dalamnya terletak banyak kertas-kertas bertuliskan tulisan Cina. Sang Penjaga mengambil salah satu kertas di antaranya dan sepertinya ia mencocokkannya dengan sumpit yang terpilih. Saya tidak tahu berdasarkan apa.
Di balik kertas itu ada tulisan Cina yang lebih kecil dan terangkai dalam paragraf. Sang Penjaga pun menterjemahkan dan membacakannya untuk teman saya. Saya lupa apa tepatnya isi pesan di dalam kertas tersebut.
Tertarik dengan pengalaman teman saya, saya pun menerima tawaran sang penjaga untuk berdoa di altar para dewa. Setelah bersiap, sang Penjaga meminta saya menyebutkan pertanyaan saya dalam hati. Terus terang, sebelum mencoba berdoa, saya sempat ragu terhadap hal ini. Khawatir bahwa yang saya lakukan termasuk tindakan yang dilarang oleh agama saya. Oleh karenanya, ketika diminta mengutarakan pertanyaan, dalam hati saya mengucap seperti ini: "Ya Allah berikan lah petunjukmu melalui hal ini, saya ingin tahu tentang karir saya".
Setelah itu, Sang Penjaga melempar sepasang batu, persis seperti yang ia lakukan dengan teman saya tadi. Tapi anehnya Sang Penjaga berkata bahwa lemparan pertama gagal. Sehingga saya harus mengulang pertanyaan saya. Sampai tiga kali lemparan batu, tetap saja Sang Penjaga bilang bahwa saya gagal. Para dewa tidak mau memberikan petunjuknya, katanya. Karena batunya semuanya sama-sama menelungkup atau sama-sama menengadah. Petunjuk baru akan muncul saat batu itu satu menengadah dan satu menelungkup. Sang penjaga menambahkan bahwa kegagalan saya akibat saya tidak yakin dan percaya pada para dewa sehingga mereka kecewa kepada saya.
Dan saya pun bingung. Saya meninggalkan vihara dan melanjutkan perjalanan, masih dengan rasa penasaran mengapa dewanya tidak mau menjawab pertanyaan saya. Sekian.
Oiya, buat yang mau liat video perjalanan saya ke belitong, bisa klik di bawah ini :)
Pada bangunan vihara yang paling besar, di puncak bukit, terdapat tempat berdoa kepada para dewa. Banyak sekali patung dewa-dewa Cina diletakkan di sebuah altar lengkap dengan dupa dan sesaji di sekelilingnya. Setiap pengunjung yang hadir ditawarkan untuk berdoa di hadapan para dewa. Melalui beberapa prosesi, pengunjung dapat berdoa dan mengajukan satu hal untuk ditanyakan pada para dewa. Konon para dewa itu akan segera menjawabnya.
Teman saya pun mencobanya. Dia diminta menyebutkan pertanyaan dalam hati. Kemudian penjaga vihara melemparkan sepasang batu ke altar yang sesaat kemudian batu tersebut jatuh dalam posisi satu menelungkup dan satu menengadah. Sang penjaga viara lalu meminta teman saya mengambil sebuah benda mirip sumpit di antara sekian banyak benda yang sama dan terletak dalam satu wadah. Cara pengambilannya mirip undian.
Setelah terpilih satu sumpit, Sang Penjaga mengamati sumpit tersebut lantas menuju ke sebuah papan di salah satu dinding ruangan. Papan tersebut memiliki banyak kotak-kota di mana di dalamnya terletak banyak kertas-kertas bertuliskan tulisan Cina. Sang Penjaga mengambil salah satu kertas di antaranya dan sepertinya ia mencocokkannya dengan sumpit yang terpilih. Saya tidak tahu berdasarkan apa.
Di balik kertas itu ada tulisan Cina yang lebih kecil dan terangkai dalam paragraf. Sang Penjaga pun menterjemahkan dan membacakannya untuk teman saya. Saya lupa apa tepatnya isi pesan di dalam kertas tersebut.
Tertarik dengan pengalaman teman saya, saya pun menerima tawaran sang penjaga untuk berdoa di altar para dewa. Setelah bersiap, sang Penjaga meminta saya menyebutkan pertanyaan saya dalam hati. Terus terang, sebelum mencoba berdoa, saya sempat ragu terhadap hal ini. Khawatir bahwa yang saya lakukan termasuk tindakan yang dilarang oleh agama saya. Oleh karenanya, ketika diminta mengutarakan pertanyaan, dalam hati saya mengucap seperti ini: "Ya Allah berikan lah petunjukmu melalui hal ini, saya ingin tahu tentang karir saya".
Setelah itu, Sang Penjaga melempar sepasang batu, persis seperti yang ia lakukan dengan teman saya tadi. Tapi anehnya Sang Penjaga berkata bahwa lemparan pertama gagal. Sehingga saya harus mengulang pertanyaan saya. Sampai tiga kali lemparan batu, tetap saja Sang Penjaga bilang bahwa saya gagal. Para dewa tidak mau memberikan petunjuknya, katanya. Karena batunya semuanya sama-sama menelungkup atau sama-sama menengadah. Petunjuk baru akan muncul saat batu itu satu menengadah dan satu menelungkup. Sang penjaga menambahkan bahwa kegagalan saya akibat saya tidak yakin dan percaya pada para dewa sehingga mereka kecewa kepada saya.
Dan saya pun bingung. Saya meninggalkan vihara dan melanjutkan perjalanan, masih dengan rasa penasaran mengapa dewanya tidak mau menjawab pertanyaan saya. Sekian.
Oiya, buat yang mau liat video perjalanan saya ke belitong, bisa klik di bawah ini :)
Subscribe to:
Posts (Atom)







