Showing posts with label WriteOn. Show all posts
Showing posts with label WriteOn. Show all posts

Sunday, December 22, 2019

Inilah Tantangan Berpuasa Ramadan di Bumi Lorosae



Ini kisah saat aku ditugaskan di Dili, Timor-Leste. Bekerja selama 3 (tiga) bulan di salah satu cucu perusahaan Telkom Indonesia yaitu Telin, SA atau yang sering disebut Telkomcel. Sebuah kebetulan yang amat berkesan, karena saat aku ditugaskan juga bertepatan dengan Bulan Suci Ramadan.

Berpuasa sambil bekerja di Kota Dili tentu banyak tantangannya. Pertama dari sisi geografis dan demografis. Di Dili, Muslim adalah minoritas. Mayoritas Warga Dili menganut Agama Nasrani. Lalu, perbedaan waktu di Dili dengan tempat tinggalku di Kota Bandung yang cukup terasa, dimana di Dili, jadwal Imsak adalah pukul 5.30 pagi namun jadwal berbuka adalah sekitar pukul 19.00 malam. Di Dili kala itu, pukul 18.30 saja langit masih terang benderang.

Cuaca disana cenderung panas dan kering. Siang hari suhu udara bisa mencapai 34° Celcius. Pernah suatu siang aku keluar dari kompleks kantor ke supermarket terdekat, kepalaku pusing saking panasnya sinar matahari siang itu. Maka dari itu masa-masa di Bulan Ramadhan banyak aku habiskan di dalam area kantor. Kantor Telkomcel berada di sebuah kompleks pertokoan atau bisa dibilang Mall yaitu Timor Plaza. Konon katanya Timor Plaza adalah Mall pertama di Dili. Nah, jika istirahat siang di tengah Bulan Puasa, aku dan teman-teman Muslim lainnya rata-rata memilih berbelanja di dalam Timor Plaza.

Tantangan kedua adalah kondisi tempat kerjaku. Telkomcel menyediakan makan siang bagi karyawannya. Setiap siang, karyawan yang beragama selain Islam akan mengambil makanan secara prasmanan di pantry kantor kemudian makan di masing-masing kubikelnya. Wangi masakan pastinya menjadi godaan utama buat kami yang berpuasa. Makanya kami banyak memilih hang out di luar kantor selepas Solat Dzuhur.

Belum lagi pagi-pagi saat aku dan teman-teman baru saja tiba di kantor, wangi kopi yang dibuat para OB untuk karyawan, semerbak menyergap indra penciuman kami. Kopinya pun Luwak White Coffee, kebetulan sedang digemari juga di sana. Kebayang kan bagaimana wanginya?

Karena karyawan diberikan makan siang, untuk karyawan Muslim, makan siang diubah menjadi bekal untuk berbuka puasa. Pihak katering menyediakan wadah khusus bagi tiap karyawan Muslim yang harus dibawa kembali keesokan harinya untuk diisi makanan menjelang berbuka. Begitu seterusnya.

Kadang, kalau bosan dengan menunya, ramai-ramai aku dan teman-teman cari makan di luar kantor. Nah, tantangan selanjutnya nih, kami juga harus berhati-hati karena di Timor Leste daging babi dan minuman beralkohol bebas diperjualbelikan. Senior kami merekomendasikan sebuah tempat makan yang bebas kedua hal itu, tempat makannya bernama Warung Solo. Ya! Pemiliknya berasal dari Kota Solo, Jawa Tengah. Konon dulu ia ikut transmigrasi sehingga sekarang terdampar di Dili kemudian membuka usaha warung makan.

Ada cerita unik saat kami makan di Warung Solo. Pada saat selesai makan dan menuju kasir, kami cukup kaget. Karena ternyata harga makanan dengan daging ayam lebih mahal daripada daging sapi. Ayam goreng harganya $6 sedangkan sop iga $3! Hal tersebut katanya karena pasokan daging sapi lebih mudah diperoleh misalnya dari negara tetangga Australia dan Provinsi Nusa Tenggara Timur daripada daging ayam. Dan yaps! jangan heran, Timor Leste ternyata menggunakan mata uang USD untuk transaksinya. Meskipun untuk transaksi di bawah $1 diizinkan menggunakan mata uang lokal.

Tantangan lainnya adalah mengenai Solat Tarawih. Jika di Indonesia, khususnya di kota tempat tinggalku, kita dapat dengan mudah menemukan masjid dan menunaikan Solat Tarawih, tentu kondisinya berbeda dengan di Dili. Di Kota Dili hanya ada 2 masjid jika kita ingin Solat Tarawih di Masjid. Satu di Kampung Jawa dan satu di dekat pantai, dekat juga dengan tempat tinggal Raul Lemos, suami penyanyi kenamaan Indonesia, Krisdayanti.

Aku sempat mencoba taraweh sekali di Masjid di Kampung Jawa, wilayah kecil yang ditempati oleh umat Muslim Dili. Rata-rata warga di Kampung Jawa adalah suku Bajo, Bugis maupun warga dari Provinsi Nusa Tenggara Barat yang beragama Islam. Tarawehnya 11 rakaat, tidak jauh beda dengan di tempat tinggal asalku.
Selanjutnya aku lebih memilih solat di apartemen, karena jarak tempuh ke Kampung Jawa yang cukup jauh. Selain itu alasan keamanan bagi pendatang juga menjadi latar belakang mengapa aku dan teman-teman lebih memilih solat di apartemen. 

Sedikit info, kami di Dili kemana-mana diwajibkan naik mobil. Jadi harus berusaha cari tebengan teman yang punya mobil. Kalau pun naik taksi sebisa mungkin berombongan dan siang hari saja. Karena saat itu santer penculikan warga pendatang oleh driver taksi, OMG! Saat kami tinggal di Dili pun ada 2 kejadian pembunuhan acak, biasanya karena pengaruh minuman keras. Satu di dekat area apartemen kami dan dan satu di dekat area kantor. Jadi suasana malam agak mencekam.

Meskipun jarak yang lumayan jauh, adzan dari masjid-masjid tersebut masih terdengar lho sampai apartemen. Sehingga kalau tiba waktu sahur atau waktu solat kami tetap dapat mengggunakan adzan masjid sebagai rujukan.

9 hari sebelum Lebaran kami sudah izin cuti sehingga tidak menuntaskan Bulan Ramadhan di Dili. Tapi pengalaman Ramadan di Dili tidak pernah terlupakan. Pengalaman bagaimana menjadi minoritas dan bertoleransi dengan penganut agama lainnya serta menghormati kondisi di sekitar kita. 

Aku berterima kasih sekali kepada Telkom atas pengalaman bekerja dalam Program Global Talent di Timor Leste yang mungkin akan menjadi pengalaman sekali dalam seumur hidupku. Jika bukan karena ditugaskan oleh Telkom untuk mendukung program International Expansion-nya, aku tidak akan merasakan pengalaman berharga seperti yang kuceritakan di atas.

Sebagai penutup ceritaku, aku ingat betul petuah pamanku, katanya ada dalil dalam agama Islam yang mengatakan bahwa kalau berpuasa Ramadan di negeri yang umat Muslimnya minoritas dan kita berdoa atau beribadah, pahalanya lebih berlipat. Yah walaupun belum sempat mencari kebenaran dalil tersebut. Tapi aku benar-benar memanfaatkan waktu di sana untuk memanjatkan doa rahasiaku. Apa isi doaku? Namanya juga doa rahasia, nggak seru dong kalau dikasih tahu. Tapi, puji syukur pada Tuhan, doaku tersebut tak lama ternyata dikabulkan.

Thursday, May 09, 2019

Berjuang untuk Hamil Lagi

Judul diatas mungkin agak lebay buat pengalamanku. Karena aku yakin banyak yang lebih 'gila' dan hebat berjuang untuk punya anak dibanding aku. Jangankan aku yang kepingin punya anak kedua, di luar sana para istri pun banyak yang masih berjuang demi anak pertama. Apalah kisahku ini.

Singkat kata aku sempat disebut mengalami infertilitas sekunder. Infertilitas sekunder merujuk pada perempuan yang susah memperoleh anak kedua dan seterusnya. Kalau susah punya anak pertama namanya infertilitas primer.

Aku ngga KB sejak melahirkan anak pertama Tahun 2015 lalu. Sekitar delapan bulan setelah melahirkan aku memperoleh haidku kembali dan tepat setahun usia anak pertamaku aku dan suami mulai mengusahakan anak kedua. Iyess kejar setorannn wkwkwk...

Konsul ke Dokter Obgyn

Setahun kami ikhtiar, tidak membuahkan hasil. Akhirnya kami memutuskan konsultasi ke pakar kesehatan. Keputusan tersebut juga dilatarbelakangi oleh tidak teraturnya menstruasi yang aku alami. Pola menstruasiku yang biasanya rutin jadi sering terlambat, volume serta durasi-nya juga tidak seperti sebelum punya anak pertama. Hari itu kami minta rujukan ke tempat layanan kesehatan yang disediakan oleh kantor dan diberikan rujukan ke dokter obgyn.

Usai diperiksa oleh dokter, aku dinyatakan mengalami PCOS (polycistic ovary syndrome), sindrome PCOS lah yang mengganggu kesuburanku, tepatnya keseimbangan hormon reproduksiku. Dokter menjelaskan bahwa jika aku punya riwayat penyakit diabetes, gula maupun darah tinggi dalam keluarga; kemungkinan besar penyebabnya ada pada makanan yang sering aku makan. Dokter kemudian memberikan resep terapi vitamin yang harus dikonsumsi setiap hari yaitu Ovacare dan Natur-E serta memberikan daftar diet makanan.

Whattt??? Diet makanan??? iyaa... daftar tersebut berisi bahan makanan serta turunannya yang tidak boleh aku konsumsi sama se-ka-li. Kalian pengen tahu apa aja? yak bahan makanan itu antara lain: ayam (bahkan ayam kampung pun tidak boleh), telur ayam (malah justru boleh makan telur puyuh dan telur bebek), bakso (nah lohhh), kopi (ya ampuunnn), coklat (huhuhuhu) dan semangka.

Ngga hanya aku, suamiku juga diminta diet. Suamiku justru boleh makan ayam tapi malah tidak boleh mengkonsumsi perdagingan dan keju susu. Bahan lainnya hampir mirip dengan daftar punyaku. Kalau aku setidaknya masih boleh makan daging masih lega lah.

Apa aku lakukan saran dokter itu? iyaaa aku lakukan, hanya saja untuk turunannya yang tidak sanggup aku hindari, masih agak longgar, misal: roti atau lemper yang ada ayamnya. Kan lucu kalau lagi laper parah trus yang ada cuma lemper kemudian bela-belain ngga makan atau sibuk misahin ayamnya, wkwkwk.

Aku mengonsumsi vitamin yang diberikan dokter selama tiga bulan, namun belum terlihat perkembangan yang berarti selain kulitku tambah halus karena asupan vitamin E #eaaaaaa. Aku memutuskan menghentikan konsultasiku dengan dokter tersebut, meski diet yang ia sarankan tetap aku jalani untuk alasan kesehatan. Alasanku berhenti juga karena dicereweti petugas layanan kesehatan kantor bahwa untuk program hamil, sebenarnya biayanya tidak ditanggung perusahaan, huks huks.

Mencoba Cara Tradisional

Beberapa waktu kemudian, aku berikhtiar dengan cara lain. Gara-gara testimoni seorang sepupu yang rada unik. "Eh coba deh kamu dipijit sama Mbah S, sakit banget sihhh tapi aku kemarin habis dari sana trus hamil". Angkat koper lah aku pulang kampung, pas juga lagi dines ke Yogya sih. Rumahnya Mbah S ini di daerah pegunungan nan pelosok. Nekad ke sana mendaki gunung lewati lembah, udah mirip Ninja Hattori aja si aku nih.

"Biasanya pasien simbah banyak, jadi kita musti cepet", kata om-ku yang mengantar ke rumah Mbah S. Nyampai sana kok ternyata sepi yaa. "Iya nih tumben sepi" ujar si om. Haiyahh si om bisa aja. Sampai di rumahnya, ibuku yang ikut mendampingi langsung berbisik "Ibu dah siapin rokok, kamu tinggal ngamplopin uang aja yaa". Aku manggut-manggut.

Nah, aku mulai dipijat sama Mbah S ini di bilik tempat prakteknya, di atas dipan kayu yang alasnya anyaman belel. Aku dipijat di bagian kaki, paha dan perut sambil ibuku menceritakan hasil konsultasiku ke dokter, termasuk soal sel telur kecil-kecil gara-gara kena PCOS. Iya bener sakit euyyy dipijatnya, trus Mbah bilang "Wah iya nih sel telurnya gepeng-gepeng". Dalam hatiku, wah kok bisa mbah nya tahu yaa*sambil menahan sakit dan bau bantal si Mbah yang astaghfirullah apa ngga pernah dicuci ni sarung bantalnya.

Selesai dipijat, aku didoa-doain sama Mbah S, trus dikasih minyak apaa gituu, buat pegangan katanya. Waduh pegangan apa nih. Hihihi, kok si Mbah ini agak-agak gimanaa gitu yaa. Akhirnya berdasarkan pengalaman mendaki gunung lewati lembah ke rumah si Mbah, diam-diam aku memutuskan tidak mengunjunginya lagi untuk misi kehamilan ini.

Besoknya ibuku memaksaku pergi ke tukang pijat yang lain, ini namanya Pak T. Rumahnya ngga begitu jauh dari rumah orang tua ku di kampung. Di tengah kondisiku yang batuk pilek karena kecapekan aku pun ikut.

Ruang praktek Pak T ini jauh lebih bersih daripada punya Mbah S. Ada kasur dengan sprei yang bersih di atas dipan. Awalnya teman ibuku dulu yang dipijat, dari reaksinya kelihatan sekali pijat kali ini bakal jauh lebih sakit. Bener juga, aku hanya dipijit kaki, bagian samping paha, pundak dan kepala aja wah sakit banget.

Walau begitu, analisis Pak T ini lebih logis. Dia bilang aku ngga papa, kalau soal telat haid itu biasa, yang penting makanannya dijaga. Kemudian dia juga memberi tips untuk makan pucuk daun jambu mete (walau sampai sekarang belum aku lakukan, repot juga harus cari pohon jambunya).

Hormon Prolaktin Terganggu

Aku masih menjalani diet makanan sesuai anjuran dokter meski tidak terlampau ketat. Hingga pada awal Tahun 2018 aku tidak haid selama 2 bulan. Agak mengejutkan, tapi aku meyakini hal itu bukan karena hamil, sebab aku tidak merasakan gejalanya. ujung-ujungnya tetap mengandalkan test pack dulu demi memastikan, hasilnya ternyata negatif.

Agak khawatir, aku berkunjung ke dokter obgyn, kali ini mencoba dokter yang berbeda. Dokter tersebut mengatakan bahwa aku tidak hamil, ia juga bilang kalau tidak ditemukan gejala PCOS di kandunganku, tapi berhubung dari payudaraku keluar air susu maka dokter menyimpulkan bahwa penyebab aku tidak haid selama 2 bulan adalah tingginya kadar hormon prolaktin dalam tubuh.

Astaga, apa lagi itu ya hormon prolaktin tinggi? Kata dokter hormon prolaktin adalah hormon yang membantu produksi air susu dan karenanya ia menghambat produksi sel telur, istilahnya seperti KB alami. Itulah mengapa aku tidak haid dalam waktu yang cukup lama.

Menurunkan kadar prolaktin bisa dilakukan tapi akan tergantung pada sebabnya, sehingga kata dokter kadar prolaktinku harus dicek dulu untuk mengetahui seberapa tingginya. Pergilah aku ke lab, hasilnya kadar prolaktinku sekitar 40an poin, lebih tinggi daripada kadar maksimal yang berada sekitar 30 poin.

Setelah mendapatkan hasilnya, aku belum memutuskan apakah akan kembali konsultasi ke dokter atau tidak, soalnyaa begitu aku sadari dokternya judes, hahahaha (ya ampuunnn). Yah kadang pasien butuh dokter yang lebih memotivasi. Akhirnya aku googling sendiri, mencari tahu melalui forum ibu-ibu. Nyatanya banyak yang pernah mengalami hal yang sama denganku dan bahkan kadar hormon prolaktinnya sampai ratusannnn.

Aku baca-baca apa yang mereka lakukan untuk menurunkan kadar hormon prolaktinnya. Ibu-ibu yang tetap mengunjungi dokter diberikan obat tertentu, namun obat itu memiliki efek samping yaitu mual, hmmmm. Ibu-ibu yang tidak mengunjungi dokter memutuskan untuk hidup lebih sehat, banyak mengonsumsi buah-buahan seperti apel, strawberry, wortel, tomat. Wah opsi terakhir tampak lebih menarik. Bagian yang menyenangkan adalah manapun terapi yang dipilih, sesungguhnya mereka berhasil dan tidak menghalangi mereka untuk hamil.

Mencoba Hidup Lebih Sehat dan Mengkonsumsi Kurma Hijau

Pencarianku terhadap jalan keluar untuk hormon prolaktin memberikan inspirasi untuk hidup lebih sehat. Aku menyadari kedisiplinanku dalam berolahraga bisa dibilang sangat menurun setelah menikah. Saking niatnya atau entah hanya karena dorongan sesaat juga, aku beli sepeda lipat. Ceritanya biar bisa sepedaan sama suami dan anak. Yah setidaknya ada niat dulu ye kannn...

Aku juga meningkatkan 'kegilaanku' pada buah. Pernah suatu kali aku, suami dan anak jalan-jalan ke daerah perkebunan, ada petani tomat sedang panen, langsung kami borong tomat segar 2 kilogram. Tomat itu aku makan sehari satu buah.

Kalau konsumsi buah-buahan masih menjadi hobi sih, tapi lain hal dengan olahraga. Sejak beli sepeda, aku baru dua kali sepedaan, udah keburu Bulan Puasa. Tapi hal tersebut tidak menjadi masalah, aku bisa memanfaatkan Bulan Ramadan sebagai momentum untuk memanjatkan doa dan harapanku kepada Allah. Aku ingat betul di satu hari di Bulan Ramadan aku malah menangis sendirian di kamar, saking inginnya aku diberi anak kedua, aku mengadu kepada Allah sambil sesenggukan.

Suatu hari, masih di Bulan Ramadan, ada tetangga yang membagikan kontak penjual kurma hijau sebab ada tetangga lainnya yang ingin membeli kurma hijau ini untuk program hamil. Diam-diam aku menyimpan kontak tersebut dan mendatangi tokonya untuk memesan kurma hijau. Pesananku ini sampai di minggu pertama Bulan Ramadan, aku pun mendapat tips mengkonsumsi kurma hijau dari penjualnya yaitu diblender 3 atau 5 biji dengan dicampur satu sendok madu. Hasilnya....paittttt sodara-sodaraaaa, sepettt lebih tepatnya. Hadehhh...akhirnya byar pet juga jus kurma hijau ini kami konsumsi di Bulan Ramadan.

Tak terasa Bulan Ramadan berlalu, berganti dengan Bulan Syawal. Saat mudik aku agak iri mendengar bahwa sepupuku akhirnya berhasil hamil. Tapi aku harus mengendalikan rasa iri-ku karena sadar diri bahwa sepupuku itu baru hamil bahkan setelah hampir 4 tahun pernikahannya. Ah sudah lah, rejeki masing-masing orang berbeda. Agaknya aku harus bersabar.

Dua Garis Merah, Jawaban Allah untuk Doa dan Usaha

Usai Idul Fitri, aku menantikan haid ku selanjutnya, namun tak kunjung datang. Awalnya aku mengira hal itu sebagai hal yang biasa, karena aku memang sering terlambat datang bulan. Sampai akhirnya haid ku mundur hingga dua bulan sejak haid terakhir. Aku masih cuek, malah suamiku yang rewel minta agar aku beli alat tes kehamilan. Yah kuturuti saja, meski melakukan tes kehamilan ini sesuatu yang sebenarnya agak-agak menyiksa, takut hanya satu garisnya padahal kan kita udah harap-harap cemass pengen hamil.

Selepas Solat Subuh aku ke kamar mandi untuk melakukan tes urine kehamilan dan samar-samar muncul dua garis merah. Aku tidak percaya. Kupelototin terus alat tes urine itu, memastikan ini beneran garis atau lingkaran (lhoooo). Habisnya samar-samar sekali. Namun begitu, suamiku senang dengan hasil tersebut. Besoknya kita pergi ke bidan dan memang betul positif hamil. Alhamdulillah.

Untuk pasangan mana pun di luar sana yang sedang menunggu diberikan keturunan, jangan menyerah dan tetap optimis. Insya Allah rejeki datang tepat waktu dan tak akan tertukar.










Tuesday, June 09, 2015

3 Tantangan pada Masa Kehamilan (Diary Bumil Polos bagian #3)

Lebih dari sembilan bulan saya hamil. Tidak terasa proses persalinan sudah di depan mata. Ya, tidak terasa, salah satunya karena tidak terlalu banyak kesulitan yang saya alami selama proses kehamilan. Faktor pendukung lainnya adalah karena karakter saya yang cuek, tidak banyak komplain serta kondisi sekeliling yang cukup kondusif bagi saya. Menurut saya, karakter ibu hamil sangat menentukan proses yang dialami selama kehamilan karena satu masalah belum tentu sama dihadapi oleh ibu dengan karakter berbeda. Berikut tantangan yang saya alami saat hamil :

1. Heartburn

Heartburn adalah timbunan gas asam lambung yang bikin perut kembung, panas hingga terasa sampai kerongkongan. Seringkali heartburn sampai membuat saya mual dan akhirnya muntah. Tantangan yang satu ini setia menghadang mulai di trimester pertama hingga terakhir. Sempat membaik di trimester kedua sih. Saya membaca di beberapa referensi, heartburn ini wajar dihadapi ibu hamil karena hormon progesteron yang diproduksi lebih banyak selama hamil, turut menjadi penyebab naiknya asam lambung dari kondisi normal. Saya berasumsi, heartburn yang saya alami kian diperparah dengan riwayat maag saya. Kendati beberapa waktu sebelum hamil, penyakit tersebut sudah jarang menyerang.

Konsekuensinya, untuk menghindari heartburn yang cukup menyiksa ini, pada saat hamil saya amat sangat mengurangi makanan penyebab asam lambung. Mulai dari makanan yang mengandung kacang-kacangan, makanan pedas, makanan yang digoreng, makanan yang mengandung santan, sampai dengan kopi dan beberapa jenis susu. Tentu saja pembatasan konsumsi makanan yang saya lakukan menghapus cukup banyak menu makanan dan jajanan yang umum ditemui di luar rumah. Solusi memasak sayuran hijau di rumah dan memilih mengkonsumsi lebih banyak buah-buahan akhirnya jadi pilihan.

Saya sempat menebak-nebak, mungkin yang membuat beberapa ibu hamil mabuk di trimester pertama itu adalah kondisi heartburn ini. Saat dimana produksi asam lambung meningkat dan hormon sangat memengaruhi selera makan. Klop sekali jika selera makan hilang, perut tidak terisi dan asam lambung lagi banyak-banyaknya. Yang ada mual dan muntah berkepanjangan.

Saya pun mengalami perubahan selera makan, tapi bagaimanapun saya berprinsip tetap harus makan demi si baby. Jadi saya berusaha untuk tidak memanjakan diri sendiri. Makan sebelum lapar penting sekali untuk menghindari timbulnya lebih banyak asam lambung di perut saya. Asal tidak mabuk saja saya sudah bersyukur, yang penting makanan tertelan.

Pada trimester dua, yang konon termasuk masa kehamilan yang sudah lebih stabil dengan catatan kehamilan normal, heartburn juga ikut berkurang. Lumayan, saya jadi bisa menikmati beberapa menu pedas kesukaan saya. Puas-puasin deh karena pas trimester pertama sudah benar-benar membatasi.

Entah kenapa sang heartburn muncul lagi pada trimester tiga. Jika sebelumnya penyebab utamanya adalah makanan, kali ini munculnya tidak bisa ditebak. Saya sempat berasumsi macam-macam, apa jangan-jangan karena stress atau karena ukuran baby yang semakin besar hingga menekan lambung. Namun ketika saya konsultasikan dengan dokter kandungan, katanya semata karena faktor makanan. Kemudian ia memberikan obat penawar mual untuk sesekali diminum pada saat heartburn. Berdasarkan pernyataan dokter tersebut akhirnya di trimester tiga saya kembali membatasi makanan saya.

2. Miskomunikasi dengan pasangan

Ibu hamil seringkali mengalami masa-masa tidak nyaman. Misalnya berubah selera makan dan selera-selera yang lain, mual muntah, sering capek, atau jika sudah memasuki trimester akhir mulai tidak nyaman dengan posisi tidur, posisi duduk, lelah berjalan dan lain sebagainya. Belum lagi ketidaknyamanan ‘perasaan’ yang diklaim sebagai efek gejolak hormon. Pas menstruasi saja, wanita itu sulit dipahami, begitu kata laki-laki. Apalagi saat hamil, yang hormonnya berlipat ganda.

Di satu sisi, saya dan mungkin kebanyakan wanita hamil ingin sekali ketidaknyamanan ini juga dimengerti oleh pasangan. Sehingga pasangan bisa memberikan dukungan terhadap saya untuk melalui masa-masa kehamilan. Pasangan saya pun tergolong orang yang gemar membaca, mencari informasi tentang hal apapun dan terdidik. Maka seharusnya dia sudah tahu bagaimana caranya menghadapi wanita hamil.

Tapi ternyata, di kalimat terakhir itulah kesalahan saya pemirsa. Saya begitu berharap dan berprasangka baik bahwa suami akan mencari informasi mengenai ibu hamil selaiknya dia membaca berita-berita politik atau mengikuti perkembangan kejadian di luar sana melalui portal berita. Ternyata tidak sodara-sodara. Suami saya tetap harus diberi tahu apa yang harus dan sebaiknya dilakukannya. Ya begitulah, klise...wanita seringkali ingin dimengerti...pengennya tanpa harus ngomong banyak. Sedangkan pria, lempeng, dan tidak akan berasumsi macam-macam soal perasaan wanita kecuali diomongin langsung.

Dalam hal ini lah, mau tidak mau, kita dan pasangan dituntut untuk lebih cair mendialogkan tentang proses kehamilan. Sebagai wanita saya harus pro aktif mengkomunikan hal-hal yang perlu pasangan saya ketahui. Dan sebaiknya para suami juga pro aktif menanyakan, apa yang bisa dia bantu atau apa yang butuh untuk dia perhatikan. Karena menurut saya, miskomunikasi dengan pasangan ini cukup menguras tenaga pada saat saya menghadapi proses kehamilan saya yang pertama ini.

3. Emosi yang bergejolak dari biasanya –dan efeknya pada rutinitas kerja

Nah, mungkin ini masih ada kaitannya dengan peningkatan produksi hormon. Di masa-masa kehamilan, saya merasa lebih total dalam bekerja. Kemudian saya juga menggebu-gebu saat berdiskusi soal pekerjaan. Saya pun tak segan mempertahankan pendapat dan mengkoreksi sesuatu jika saya tidak setuju, sampai-sampai mendekati agak ngotot. Saya akui saya lebih mudah tersinggung juga saat hamil. Saya bertanya-tanya, ada apa yaa dengan saya, padahal saya sebelumnya tidak seberapi-api ini.

Kalau permasalahan yang satu ini, tak lain saya berlatih lebih mengendalikan diri saja. Sekali lagi saya tidak ingin memanjakan diri saya dan menuruti kehendak hormon. Sedikit banyak saya percaya, jika hal-hal di luar kebiasaan saya itu merupakan bawaan bayi, maka saya harus melatih mengendalikannya sejak ia di dalam kandungan.

Thursday, December 04, 2014

Masalah Selama Kehamilan? (Diary Bumil Polos Bagian #2)

Kehamilan saya memasuki minggu ke 12. Segala hal berlangsung santai seperti di pantai. Walau di pantai tidak sesantai yang saya katakan mungkin. Yah, kenyataannya ada juga secuil-dua cuil kejadian. Kejadian yang jamak adalah perut kembung, semacam terjadi peningkatan asam lambung yang drastis semenjak hamil dan bikin saya lumayan tidak nyaman.

Konon meningkatnya produksi asam lambung pada ibu hamil wajar, disebabkan bertambahnya produksi hormon kehamilan (oh gosh, pregnancy is all about hormonal matters). Solusinya tentu dengan menghindari penyebab perut kembung. Bagi yang sering menderita maag, akan familiar terhadap treatment ini (dan kebetulan saya adalah salah satunya).

Menghindari minum kopi dan konsumsi coklat berlebih (yang mana saya adalah penggemarnya), menghindari minum teh berlebih (walau masih diizinkan, apalagi kalo ditambah jahe itu bikin hangat perut ibu hamil, kenyataannya setiap hari ada saja waktu saya minum teh, hehehe), menghindari kacang-kacangan (jadi eneg juga sih pas hamil, terutama sama sambal kacang temannya pecel, baso tahu, kupat tahu dan batagor, asli saya jadi menghindari makanan-makanan tersebut) dan amat sangat mengurangi konsumsi makanan pedas dan berkuah kental (ampuuunnnn padahal saya penyuka makanan pedas).

Sama seperti treatment pada penderita maag, makan sedikit tapi sering lebih nyaman daripada makan tiga kali tapi banyak, apalagi makan terus dan banyak (yaeyaaalaahh). Lagian jadi bumil tu cepet laper mana bisa makan hanya tiga kali (kemudian terdengar gumaman dari sebelah: perasaan si Hanna gak hamil aja juga makan terus, wkwkwk). Tips bu bidan adalah sediakan cemilan yang agak-agak sehat di rumah maupun kantor, jadi saya sekarang ceritanya adalah penyetok setia berbagai jenis biskuit.

Selain perut kembung, masalah lain adalah sugesti otak terhadap enak tidaknya makanan. Tapi sodara-sodara, sekali lagi itu adalah sugesti. Karena anehnya makanan yang dianggap otak saya ngga enak, tapi pas dimakan, menurut lidah saya kok enak yaa. Kayaknya ini masalah gak penting. ==> masalah mana sih buat ibu hamil yang penting, orang mirip menstruasi kok indikasinya, cuma ini berlangsung lebih lama.

Hidung dan lidah yang lebih sensitif mungkin juga salah satu diantara banyak hal ihwal kehamilan ini. Oiya ada juga persoalan keputihan, lagi-lagi ini juga masalah hormon dan wajar. Yah, sepertinya kehamilan saya saat ini memang termasuk kehamilan cuek bebek. Kalau kata teman-teman, kehamilan kebo. Karena, syukur alhamdulillah, saya tidak merasa mual, tidak muntah dan tidak ngidam. Bayinya pun tidur terus di perut dong, orang bilang kayak ibunya. Ah perasaan saya bukan orang seperti itu.

Kesimpulannya, mohon maaf pada blogger yang berharap dapat tips-tips kehamilan yang banyak dari saya, soalnya yaa gimana mau ngasih tips, wong saya aja cenderung cuek dan kelihatan adem ayem pas hamil ini. So all I wanna say is...have a fun pregnancy moms! :)

Thursday, October 23, 2014

Perbincangan yang Berbeda

Berbicara dengan orang baru sesekali, ternyata cukup memberi penyegaran terhadap pikiran saya. Tidak perlu dengan orang yang benar-benar baru dikenal, berbincang dengan teman sekantor, beda lantai dan jarang saya temui pun bisa membuat saya memiliki perasaan semangat yang berbeda.

Saya pernah mendapat insight dari seorang sarjana psikologi bahwa tiap manusia itu punya lingkaran-lingkaran pertemanannya masing-masing (circle of relationship), dari innermost circle (lingkaran terdalam), yang berisi orang-orang terdekat, paling sering bertemu dan berinteraksi; hingga outtermost (terluar) yang terdiri dari orang-orang yang sedikit dikenal dan jarang berinteraksi. Pasangan, sahabat dan keluarga bisa jadi masuk dalam innermost circle untuk kebanyakan orang.

Anggota innermost circle ini menurut saya adalah yang paling mempengaruhi pemikiran seseorang, mempengaruhi bagaimana ia mengambil keputusan, cara bersikap dan membentuk kebiasaan-kebiasaan berkelompok dari orang tersebut. Misalnya saya dan teman-teman kerja yang dekat dengan saya dan hampir tiap hari kami makan siang bersama. Saya menjadi terbiasa hang-out dengan mereka di tempat hangout yang sama. Saya membicarakan berbagai macam kejadian bersama mereka. Ketika saya mengalami kesulitan pun saya menanyakan pendapat mereka. Mereka secara tidak langsung 'terlibat' dalam hampir kebanyakan kualitas kehidupan saya.

Membiasakan untuk mengambil sudut pandang diluar innermost circle maupun inner circle saya, terkadang seperti yang saya sebutkan di atas, saya mencari penyegaran dengan berbincang dan bergaul dengan teman-teman dari lingkaran-lingkaran luar dan orang-orang yang baru saya kenal. Kadang dari mereka-mereka inilah saya bisa tiba-tiba berucap "wow, seru sekali pemikiran orang ini, boleh dicoba juga" atau "wah, dia ternyata punya kemampuan seperti ini".

Memutuskan untuk berbincang dengan outter circle dan orang baru bagi saya pribadi, adalah seperti latihan keluar dari zona nyaman. Jujur, saya sebenarnya adalah orang yang malas berbasa-basi atau bersikap eksis dalam hal membuat pertemanan baru, sehingga ketika bertemu orang-orang baru, lebih banyak seperti dipaksa oleh keadaan untuk menjalin komunikasi atau hubungan.

Mungkin ini sama halnya ketika saya ditanya, suka travelling atau gak? saya akan menjawab "yaa suka tapi tidak gemar, sekali dua kali setahun boleh lah". Mengapa saya sambungkan dengan travelling? karena travelling bagi saya merupakan kegiatan keluar dari zona nyaman, dikarenakan kerepotan untuk mengurus ini itu, pesan tiket pesan penginapan, packing baju, belum lagi menabung untuk biaya perjalannnya.

Tapi boleh lah, memberikan tantangan untuk diri sendiri mengenal dunia luar dengan travelling dan kembali ke pembicaraan kita, yaitu memberikan penyegaran dengan berinteraksi dengan outter circle. Kendati setelah melanglang buana, kita tetap butuh sesuatu yang disebut rumah sesungguhnya. Persis, meski melakukan penyegaran dengan interaksi lain, kita tetap butuh orang-orang yang disebut "keluarga dan sahabat".

Walau, kadang dengan travelling kita jadi berfikir pindah tempat tinggal untuk sesuatu yang lebih baik. Begitu pula dengan innermost circle kita, jangan ragu berpikir untuk hijrah jika memang kita menginginkan sebuah 'pengaruh' yang lebih baik lagi.

Friday, May 31, 2013

Tata cara Bertamu pun Diatur dalam Al Qur'an

Beberapa waktu yang lalu, saya, bapak, ibu dan adek pergi ke rumah rekan kerja ibu. Rumahnya tidak jauh dari pusat kota. Begitu sampai di rumah tersebut, hanya ibu yang turun dan menuju ke rumah yang dimaksud. Ternyata ibu menemukan rumah rekan kerjanya dalam keadaan sepi dan pintu depan terbuka lebar.

Awalnya ibu mencoba memanggil nama rekannya beberapa kali. Karena tidak ada sahutan lantas ibu memutuskan untuk masuk begitu saja ke dalam rumah tanpa seizin pemilik rumah. Beberapa saat kemudian ibu keluar tanpa hasil, sebab rumah tersebut sepi, entah ditinggal kemana oleh penghuninya. Ibu pun kembali ke mobil.

Melihat hal tersebut, bapak menegur ibu. Tidak baik masuk ke rumah orang tanpa seizin pemiliknya. Kendati rumah tersebut adalah rumah orang yang kita kenal sekalipun. Bapak berkata, hal tersebut juga di atur di Al Quran. Saya meng-iya-kan teguran bapak, kebetulan dua atau tiga hari sebelumnya saya membaca terjemahan ayat Al Quran mengenai hal ihwal bertamu.

Terjemahan tersebut tertulis sebagai berikut :

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.

Dan jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapatkan izin. Dan jika dikatakan kepadamu 'Kembalilah!' Maka (hendaklah) kamu kembali. Itu lebih suci bagimu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak dihuni, yang di dalamnya ada kepentingan kamu; Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan." (QS. An-Nuur, 27-29)

Di bagian lain dari Surat tersebut juga diatur kewajiban mengucapkan salam saat memasuki rumah,

"Apabila kamu memasuki rumah-rumah hendaklah kamu memberi salam (kepada penghuninya, yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, dengan salam yang penuh berkah dan baik di sisi Allah. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat(Nya) bagimu, agar kamu mengerti" (QS. An-Nuur, 61)

Bapak saya lalu melanjutkan tegurannya. "Maksudnya dari larangan masuk rumah orang tanpa izin sebetulnya menghindarkan kita dari fitnah. Kalau para tetangga tahu bahwa kita masuk rumah seseorang tanpa izin, kemudian terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti pencurian, walaupun kita tidak melakukan, kita juga akan kena getahnya".

Subhannallaah, Islam itu indah. Hal-hal kecil pun diatur supaya tidak timbul dampak negatif. Mari kita selami lebih jauh aturan-aturan yang sesungguhnya sudah dituangkan Allah dalam Al-Quran. Dan semoga kita tetap dalam bimbingan-Nya.

Wallaahu'alam bishowab. Allah Almighty Knows Best.


Friday, February 22, 2013

Belajar Tenggelam

"Kau harus belajar tenggelam. Menyerahkan semuanya pada air. Tenang, jangan takut dan jangan melawan. Bernafaslah, kau tahu kau bisa bertahan di dalamnya. Biarkan air membawamu dengan dominasinya. Pasrah seperti kau memasrahkan hidupmu pada Tuhan"

Bersama suara itu, aku mengambil nafas. Masuk ke dalam air sambil melingkarkan tangan di lutut. Membatu. Tenggelam. Dan benar saja, air mulai mengangkatku pelan, perlahan menuju ke permukaan. Sesekali aku masih takut dan panik. Tapi aku mencobanya lagi dan lagi.

"Sekarang coba rentangkan kaki dan tanganmu. Tetap tenang dan ikuti kemauan air. Pasrahkan semuanya. Cobalah mengambang. Apabila kau sudah cukup yakin telah menyatu dengan air, mulai ayunkan tanganmu. Rasakan bahwa bersamanya kau dapat bergerak ke arah yang kau mau"

Ajaib. Aku bergerak, aku mengambang dan tidak tenggelam.

Lebih dari belajar berenang, ternyata hari itu aku kembali mengingat satu pelajaran penting kehidupan: tawakal.










Thursday, February 21, 2013

Cahaya Islam di Bumi Eropa, Sebuah Resensi

Saya merasa ketinggalan berita. Seperti para penyuka gosip artis yang telat nonton infotainment seharian. Kemana saja saya selama ini, karena saya baru tahu bahwa peradaban Islam (Timur Tengah) pernah sangat berpengaruh terhadap perkembangan peradaban Eropa. Mungkin pas pelajaran sejarah di SMA dulu saya lebih banyak mengantuknya daripada memperhatikan apa yang dijelaskan guru. Haduh, payah sekali saya ini. Secuil hal yang saya ingat tentang Eropa hanyalah Revolusi Industri dan Renaisans.

Saya patut berterima kasih pada Mba Hanum, penulis buku "99 Cahaya di Langit Eropa, Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa" yang memberikan saya pengetahuan tentang Islam sebelum Abad Pertengahan (Middle Ages). Terima kasih pada Allah yang telah mengizinkan Mba Hanum dan suaminya, Mas Rangga, untuk bisa tinggal di Wina, Austria, sehingga beliau-beliau ini bisa menularkan pengetahuan tentang kejayaan Islam di Eropa.

Satu penggalan kisah di awal cerita Mba Hanum yang saya hafal adalah pengalamannya berkunjung ke sebuah bekas benteng perang di Wina. Ketika Mba Hanum dan temannya dari Turki bernama Fatma, mampir ke cafe di seputaran benteng tersebut.

Diceritakan kembali bahwa di dalam cafe, terdengar beberapa orang turis bule sedang bercakap-cakap. "Tahukah kamu cara yang bagus untuk mengejek orang Islam?" kata salah satu di antaranya. Setelah berkata seperti itu, dia memakan sebuah kue croissant dengan rakusnya. Kemudian temannya yang lain bertanya "Mengapa demikian?". Karena, kue croissant ini dibuat orang Austria untuk merayakan kemenangannya melawan pasukan Muslim Turki Ottoman. Sebab, lambang negara Turki dan lambang Islam adalah bulan sabit, maka kue ini dibuat berbentuk bulan sabit.

Ya ampuuun, ternyata kue kesukaan saya itu, menyimpan sejarah sedemikian rupa. Akhirnya, sekarang kalau beli kue croissant saya memilih kue yang bentuknya lurus :P

Melangkah ke halaman lainnya, Mba Hanum bercerita mengenai kisahnya saat diberi kesempatan berjalan-jalan ke Paris didampingi oleh seorang Muslimah berkebangsaan Perancis bernama Marion. Marion adalah peneliti peradaban Islam Abad Pertengahan. Marion yang ahli membaca tulisan Arab Kufic, salah satu jenis tulisan Arab jaman dulu, menjelaskan banyak hal yang mencengangkan. Lebih baik saya sebutkan dalam poin-poin saja ya teman-teman...

Inskripsi Arab ada di pinggir jilbab Bunda Maria (sumber)
1. Dalam lukisan Bunda Maria dan Bayi Yesus (The Virgin and The Child) karya Ugolino di Nerio, yang dipajang di Museum Louvre terdapat tulisan Arab Pseudo Kufic di kerudung yang dipakai Bunda Maria. Tulisan tersebut berbunyi "Laa Illaha Ilallaah" (tiada tuhan selain Allah). Tulisan Arab Kufic juga banyak ditemukan di lukisan-lukisan artefak Umat Katolik yang lain. Ada juga tulisan Arab Kufic di jubah seorang raja Katolik taat yaitu Raja Roger II of Sicily dari Austria.

Mengapa bisa demikian? Marion lantas menjelaskan bahwa dulu Timur Tengah dikenal dengan ilmu pengetahuan, seni dan budayanya. Sehingga banyak orang Eropa bepergian ke Timur Tengah dan membeli kain, permadani, lukisan dan lain sebagainya. Dalam barang-barang yang diperdagangkan itu seringkali terdapat tulisan tauhid seperti di atas dan akhirnya ditiru oleh orang-orang Eropa.

2. Bangunan-bangunan dan lokasi bersejarah di Paris yaitu Monumen le Defense, Arc du Triomphe de l'Etoile, jalan Champ Elysees, Tugu Obelisk, Arc du Triomphe de Carrousel dan Museum Louvre berada pada satu garis lurus dan garis tersebut mengarah ke Ka'bah (Makkah), Arab Saudi. Beberapa di antara bangunan tersebut diperintahkan dibangun oleh Napoleon Bonaparte, penakluk Eropa dari Perancis yang sangat terkenal itu. Arc du Triomphe de l'Etoile dan de Carrousel itu adalah bangunan berbentuk gerbang itu lho.

Kata Marion, Napoleon Bonaparte sangat mengagumi dan menghormati peradaban Islam. Ia juga mengeluarkan Napoleonic Code yang pasal-pasalnya mirip syariah Islam. Menurut info dari Marion, salah satu tangan Napoleon yaitu Jenderal Francois Menou telah masuk Islam jadi bukan tidak mungkin bahwa Napoleon sendiri adalah seorang Muslim.

3. Sekarang di Museum Louvre telah dibangun Center of Islamic art di Cour Visconti, halaman terbesar kedua di Louvre setelah Cour Napoleon di mana bangunan piramid Napoleon berada). Center of Islamic Art ditutup dengan atap kubik besar berbentuk permadani terbang, atau mirip juga dengan hijab atau jilbab. Sesuatu banget ya, untuk Islamic Art sampai dibuatkan tempat seperti itu. Berikut saya cuplik fotonya dari sebuah website,

Tampak Samping Center of Islamic Art di Louvre diambil dari sumber ini
Makin ke belakang saya baca bukunya, ada kisah Mba Hanum pergi ke Cordoba, Spanyol. Kalau sekarang yang dapat julukan The City of Light adalah Paris, Cordoba ini terkenal dengan sebutan The True City Of Light (Kota Cahaya). Dulu, Cordoba adalah pusat inspirasi Eropa, karena disanalah segala agama hidup berdampingan dalam damai di bawah kepemimpinan seorang pemimpin Muslim. Tempat di mana agama dan ilmu pengetahuan juga diterapkan bersama-sama, hingga akhirnya peradaban di Cordoba porak poranda oleh Perang Salib. Disinilah sebuah Masjid Agung diubah menjadi Katedral yang sekarang dinamakan Mezquita.

Syukur saya kepada Allah, dengan pengetahuan ini saya jadi semakin penasaran mempelajari sejarah Islam. Islam yang menularkan ajarannya secara damai, juga melalui ilmu pengetahuan, seni dan budaya. Saya panjatkan doa saya pada-Nya, semoga saya diberi usia dan kesempatan untuk mengunjungi situs-situs sejarah Islam di Eropa.

Semoga Allah mengabulkan. Aamiiin. Allah Almighty Knows Best.



Tuesday, February 05, 2013

Misteri Gog dan Magog, Kaum yang Terpenjara

Alkisah, Iskandar Dzul Karnain, seorang penguasa agung yang namanya disebut salah satunya dalam Al Quran. "Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu."

Konon, Dzulkarnain adalah nama lain dari Alexander The Great, Raja dari Macedonia 3 abad sebelum masehi. Ia berhasil menaklukkan sebagian Benua Eropa dan Asia Selatan. Ia juga menaklukkan Imperium Persia yang kala itu dipimpin oleh Raja Darius III. Ia ahli berperang, dalam Wikipedia ditulis, bahkan strategi perangnya masih dirujuk oleh militer modern saat ini.

Suatu kali, setelah melakukan beberapa penaklukan, Dzul Karnain kembali menempuh perjalanan ke arah yang lain. Hinga ia tiba di sebuah daerah di antara dua gunung. Dikisahkan Dzul Karnain bertemu dengan "suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan", atau tidak fasih dalam berbahasa. Kaum itu meminta bantuan kepada Dzul Karnain untuk menangkap dan memenjarakan suatu kaum lainnya yang bernama Gog dan Magog. Kaum itu berkata "sesungguhnya Gog dan Magog adalah orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi".

Dzul Karnain menyanggupi permintaan tersebut. Maka mulailah ia membangun benteng untuk memenjarakan Gog dan Magog. Benteng dibuat dengan besi dan tembaga yang dilelehkan, hingga Gog dan Magog terpenjara dalam benteng itu dan tidak sekali pun mereka dapat mendaki atau pun melubanginya.

Sebetulnya Al Qur'an menyebut Gog dan Magog sebagai Ya'juj dan Ma'juj. Mereka adalah keturunan Nabi Adam melalui Nabi Nuh. Diceritakan bahwa dua kaum ini akan dibebaskan dari penjara yang dibuat Dzul Karnain, menjelang Hari Kiamat sebagai salah satu tanda bahwa kehidupan ini akan segera berakhir. Mereka akan kembali berbuat kerusakan di bumi, dan tidak ada seorang pun yang dapat menghentikannya.

Seperti yang dikatakan Dzul Karnain setelah selesai membuat benteng, "Benteng ini adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh, Kami biarkan mereka pada hari itu bercampur aduk satu dengan yang lain, hingga ditiup lagi sangkakala..."

Hari demi hari Kaum Gog dan Magog terus berusaha membebaskan diri dari benteng dengan mendaki dan melubangi benteng. Tapi setiap mereka membuat lubang kecil di benteng tersebut, esok harinya lubang akan kembali tertutup. Hal ini mengingatkan saya tentang Film The Dark Knight Rises, saat adegan orang-orang yang dihukum dalam sebuah ruangan bawah tanah, mecoba naik ke permukaan, namun tak ada satu pun yang berhasil keluar kecuali Bane dan Seorang Anak Kecil yang akhirnya menjadi musuh Batman.


Ciri-ciri Kaum Gog dan Magog antara lain berwajah lebar, bermata sipit, di tengah kepalanya terdapat rambut putih dan saat mereka terbebas, mereka akan menuruni lereng gunung seperti banjir bandang.

Banyak referensi online yang membahas mengenai Gog dan Magog alias Ya'juj dan Ma'juj. Namun referensi yang saya baca bersumber dari Wikipedia. Untuk link lainnya adalah artikel dari Islam Online berjudul Ya'juj dan Ma'juj: The Disbelievers. Sementara, referensi yang paling utama adalah Al Qur'an Surat Al Kahfi ayat 83 - 100. Mari kita meng-imani adanya Hari Kiamat sebagai salah satu Rukun Iman dengan mengenal tanda-tandanya.

Wallahu 'alam bishowab. Allah Almighty Knows Best.




Sunday, January 27, 2013

Fly Me to Central Park, Please...

Beberapa hari yang lalu saya nonton film berjudul "What to expect, when you're expecting". Saya ngga pengen nulis soal cerita filmnya. Sebab, perhatian saya justru tersita pada lokasi shootingnya. Lokasi saat adegan para ayah dalam film tersebut selalu membawa anak-anak mereka jalan-jalan sambil ngerumpi. Ya, saya mengenali lokasi itu sebagai Central Park, Manhattan, New York -kendati saya belum pernah sekali pun pergi ke sana.

Saya pengagum taman. Sewaktu saya masih kanak-kanak, saya takjub sekali dengan rumah-rumah orang kaya di suatu kompleks di dekat desa saya. Rumah-rumah tersebut selalu dilengkapi dengan taman. Taman dengan rumput yang hijau empuk, tanaman palem berbagai ukuran, batu-batuan warna-warni, kolam ikan, air mancur, jembatan buatan dan ayunan kecil.

Bila saya mampir ke sebuah kota untuk perjalanan, yang pertama kali saya perhatikan adalah tamannya. Saya tertegun setelah sekian lama saya tidak pergi ke Surabaya, kini kota itu berubah jadi cantik gara-gara taman yang dibangun, hijau dimana-mana. Hingga Surabaya saya nobatkan sebagai kota favorit saya. Bandung, kota tempat saya tinggal sekarang pun, yang katanya kota kembang itu, kalah deh sama Surabaya.

Saya sering melewatkan Sabtu Pagi saya untuk jogging di taman depan kantor. Melihat bunga-bunga yang mekar di sana membuat tangan saya gatal untuk mengambil gambar. Imajinasi saya, kalau saya dikasih uang dan kewenangan mengurus taman tersebut, kayaknya saya bisa bikin penampilan taman jadi lebih indah lagi deh. Kalau nanti saya punya rumah pun, mau sekecil apa, saya pengen bikin taman di rumah saya itu.

Kembali ke soal Central Park. Perkenalan saya dengan taman ini berawal ketika dosen favorit saya, Prof. Dr. Deddy Mulyana memberi tugas kelompok untuk Mata Kuliah Komunikasi Budaya, kita diminta membahas soal lansekap. Saya dan rekan saya akhirnya memutuskan menulis soal taman. Kita berselancar bersama Om Google dan akhirnya menemukan profil Central Park, salah satu taman kota terbesar di dunia.

Central Park tu luas banget, lebih dari 800 hektar luasnya. Kata teman saya yang pernah ke sana, gak cukup sehari deh menjelajah taman itu. Panjangnya saja mencapai beberapa blok komplek rumah dan perkantoran di Manhattan. Taman ini dibangung, karena seiring dengan perkembangan pesat New York dengan gedung bertingkatnya yang mengeluarkan polusi gas rumah kaca, dirasa perlu ada suatu paru-paru kota. Plus, masyarakatnya yang pada gila kerja juga bikin pemerintahnya memikirkan tempat hiburan yang bisa bikin pikiran jenuh dan badan pegel-pegel jadi plong lagi.

Sebelum membangun Central Park, pemerintah New York sampai harus ngegusur dan ngerelokasi pemukiman kumuh Afro-Amerika lho. Tapi ya mereka lumayan sukses melakukannya. Terus desain taman dibuat sama kolaborasi dua arsitek eropa gitu. Berkat kreativitas mereka lah tercipta sebuah taman multifungsi.

Selain sering banget buat syuting film, Central Park juga sering dipake buat menggelar konser musik dan tempat olah raga. Terus di dalamnya juga ada kebun binatangnya. Koleksi pepohonan dan tumbuhan di sana bahkan lebih dari 11.000 spesies. Pengunjung bisa mancing di danau-danau dan reservoar yang ada di sana. Kalau pas winter, danaunya bisa dipake buat ice skating, woww. Hal yang bikin ngiler juga adalah adanya museum buku dan bahkan kastil buat mempelajari astronomi. Kemudian, jembatan-jembatan sama patung-patung unik di Central Park juga bikin saya jatuh cinta sama taman ini.

Eh kalo gak salah ada satu jembatan yang dipake buat syuting adegan film Spiderman 3 kalo gak salah. Pas MJ mutusin si Peter Parker gara-gara dipengaruhi Harry. Jembatannya warna putih dan panjang dan bernama Bow Bridge. Tuh gambarnya saya cuplik dari Websitenya. Duh, gimana gak makin pengen ke sana coba. Kapan yaa Taman Pramuka di Bandung, Taman Buah Mekarsari di Bogor atau Taman Pintar di Yogya dipake buat syuting Spiderman... #ngarep mode on

Sementara, sebelum saya bisa pergi ke Central Park, saya browsing-browsing aja dulu di The Official Website of Central Park, New York City. Semakin browsing, semakin pengen berkunjung ke sana. Yaudah lah, daripada jauh-jauh entar berkunjung ke Kebun Raya Bogor dulu aja, atau cagar alam yang ada di Indonesia. Kayaknya ga kalah menariknya.




 

Bapak Teladan

Kutipan cerita ibu saya, waktu bicara lewat telepon pagi ini:

"Dulu waktu ibuk ikut prajab tiga bulan di Solo, ada yang dapet predikat bapak teladan dari para peserta prajab di sana. Setiap hari bapak itu menggendong anaknya yang masih bayi sambil menunggui istrinya yang sedang prajab. Dia gak kenal lelah, padahal prajab itu berlangsung dari pagi sampai malam. Dia terus seperti itu, menunggu di luar ruangan sambil menggendong bayinya dan sesekali membantu bayinya minum susu dari botol."

"Orang-orang memujinya, karena bahkan setelah istrinya selesai prajab dan sang bayi kembali ke pelukan istrinya, dia langsung melanjutkan perjalanan ke Semarang. Itu karena istrinya masih kos dan di kos tidak boleh ada laki-laki yang menginap. Pagi harinya dia menemui istrinya lagi di lokasi prajab untuk kembali menjaga bayinya. Begitu dia lakukan tiap hari, selama istrinya prajab, sementara dia belum mendapat pekerjaan. Tiap akhir minggu, baru dia dapat berkumpul kembali dengan istri dan bayinya."

"Dia adalah bapakmu, dan bayi itu adalah kamu"