Showing posts with label bahagia. Show all posts
Showing posts with label bahagia. Show all posts

Tuesday, June 09, 2015

3 Tantangan pada Masa Kehamilan (Diary Bumil Polos bagian #3)

Lebih dari sembilan bulan saya hamil. Tidak terasa proses persalinan sudah di depan mata. Ya, tidak terasa, salah satunya karena tidak terlalu banyak kesulitan yang saya alami selama proses kehamilan. Faktor pendukung lainnya adalah karena karakter saya yang cuek, tidak banyak komplain serta kondisi sekeliling yang cukup kondusif bagi saya. Menurut saya, karakter ibu hamil sangat menentukan proses yang dialami selama kehamilan karena satu masalah belum tentu sama dihadapi oleh ibu dengan karakter berbeda. Berikut tantangan yang saya alami saat hamil :

1. Heartburn

Heartburn adalah timbunan gas asam lambung yang bikin perut kembung, panas hingga terasa sampai kerongkongan. Seringkali heartburn sampai membuat saya mual dan akhirnya muntah. Tantangan yang satu ini setia menghadang mulai di trimester pertama hingga terakhir. Sempat membaik di trimester kedua sih. Saya membaca di beberapa referensi, heartburn ini wajar dihadapi ibu hamil karena hormon progesteron yang diproduksi lebih banyak selama hamil, turut menjadi penyebab naiknya asam lambung dari kondisi normal. Saya berasumsi, heartburn yang saya alami kian diperparah dengan riwayat maag saya. Kendati beberapa waktu sebelum hamil, penyakit tersebut sudah jarang menyerang.

Konsekuensinya, untuk menghindari heartburn yang cukup menyiksa ini, pada saat hamil saya amat sangat mengurangi makanan penyebab asam lambung. Mulai dari makanan yang mengandung kacang-kacangan, makanan pedas, makanan yang digoreng, makanan yang mengandung santan, sampai dengan kopi dan beberapa jenis susu. Tentu saja pembatasan konsumsi makanan yang saya lakukan menghapus cukup banyak menu makanan dan jajanan yang umum ditemui di luar rumah. Solusi memasak sayuran hijau di rumah dan memilih mengkonsumsi lebih banyak buah-buahan akhirnya jadi pilihan.

Saya sempat menebak-nebak, mungkin yang membuat beberapa ibu hamil mabuk di trimester pertama itu adalah kondisi heartburn ini. Saat dimana produksi asam lambung meningkat dan hormon sangat memengaruhi selera makan. Klop sekali jika selera makan hilang, perut tidak terisi dan asam lambung lagi banyak-banyaknya. Yang ada mual dan muntah berkepanjangan.

Saya pun mengalami perubahan selera makan, tapi bagaimanapun saya berprinsip tetap harus makan demi si baby. Jadi saya berusaha untuk tidak memanjakan diri sendiri. Makan sebelum lapar penting sekali untuk menghindari timbulnya lebih banyak asam lambung di perut saya. Asal tidak mabuk saja saya sudah bersyukur, yang penting makanan tertelan.

Pada trimester dua, yang konon termasuk masa kehamilan yang sudah lebih stabil dengan catatan kehamilan normal, heartburn juga ikut berkurang. Lumayan, saya jadi bisa menikmati beberapa menu pedas kesukaan saya. Puas-puasin deh karena pas trimester pertama sudah benar-benar membatasi.

Entah kenapa sang heartburn muncul lagi pada trimester tiga. Jika sebelumnya penyebab utamanya adalah makanan, kali ini munculnya tidak bisa ditebak. Saya sempat berasumsi macam-macam, apa jangan-jangan karena stress atau karena ukuran baby yang semakin besar hingga menekan lambung. Namun ketika saya konsultasikan dengan dokter kandungan, katanya semata karena faktor makanan. Kemudian ia memberikan obat penawar mual untuk sesekali diminum pada saat heartburn. Berdasarkan pernyataan dokter tersebut akhirnya di trimester tiga saya kembali membatasi makanan saya.

2. Miskomunikasi dengan pasangan

Ibu hamil seringkali mengalami masa-masa tidak nyaman. Misalnya berubah selera makan dan selera-selera yang lain, mual muntah, sering capek, atau jika sudah memasuki trimester akhir mulai tidak nyaman dengan posisi tidur, posisi duduk, lelah berjalan dan lain sebagainya. Belum lagi ketidaknyamanan ‘perasaan’ yang diklaim sebagai efek gejolak hormon. Pas menstruasi saja, wanita itu sulit dipahami, begitu kata laki-laki. Apalagi saat hamil, yang hormonnya berlipat ganda.

Di satu sisi, saya dan mungkin kebanyakan wanita hamil ingin sekali ketidaknyamanan ini juga dimengerti oleh pasangan. Sehingga pasangan bisa memberikan dukungan terhadap saya untuk melalui masa-masa kehamilan. Pasangan saya pun tergolong orang yang gemar membaca, mencari informasi tentang hal apapun dan terdidik. Maka seharusnya dia sudah tahu bagaimana caranya menghadapi wanita hamil.

Tapi ternyata, di kalimat terakhir itulah kesalahan saya pemirsa. Saya begitu berharap dan berprasangka baik bahwa suami akan mencari informasi mengenai ibu hamil selaiknya dia membaca berita-berita politik atau mengikuti perkembangan kejadian di luar sana melalui portal berita. Ternyata tidak sodara-sodara. Suami saya tetap harus diberi tahu apa yang harus dan sebaiknya dilakukannya. Ya begitulah, klise...wanita seringkali ingin dimengerti...pengennya tanpa harus ngomong banyak. Sedangkan pria, lempeng, dan tidak akan berasumsi macam-macam soal perasaan wanita kecuali diomongin langsung.

Dalam hal ini lah, mau tidak mau, kita dan pasangan dituntut untuk lebih cair mendialogkan tentang proses kehamilan. Sebagai wanita saya harus pro aktif mengkomunikan hal-hal yang perlu pasangan saya ketahui. Dan sebaiknya para suami juga pro aktif menanyakan, apa yang bisa dia bantu atau apa yang butuh untuk dia perhatikan. Karena menurut saya, miskomunikasi dengan pasangan ini cukup menguras tenaga pada saat saya menghadapi proses kehamilan saya yang pertama ini.

3. Emosi yang bergejolak dari biasanya –dan efeknya pada rutinitas kerja

Nah, mungkin ini masih ada kaitannya dengan peningkatan produksi hormon. Di masa-masa kehamilan, saya merasa lebih total dalam bekerja. Kemudian saya juga menggebu-gebu saat berdiskusi soal pekerjaan. Saya pun tak segan mempertahankan pendapat dan mengkoreksi sesuatu jika saya tidak setuju, sampai-sampai mendekati agak ngotot. Saya akui saya lebih mudah tersinggung juga saat hamil. Saya bertanya-tanya, ada apa yaa dengan saya, padahal saya sebelumnya tidak seberapi-api ini.

Kalau permasalahan yang satu ini, tak lain saya berlatih lebih mengendalikan diri saja. Sekali lagi saya tidak ingin memanjakan diri saya dan menuruti kehendak hormon. Sedikit banyak saya percaya, jika hal-hal di luar kebiasaan saya itu merupakan bawaan bayi, maka saya harus melatih mengendalikannya sejak ia di dalam kandungan.

Thursday, December 04, 2014

Masalah Selama Kehamilan? (Diary Bumil Polos Bagian #2)

Kehamilan saya memasuki minggu ke 12. Segala hal berlangsung santai seperti di pantai. Walau di pantai tidak sesantai yang saya katakan mungkin. Yah, kenyataannya ada juga secuil-dua cuil kejadian. Kejadian yang jamak adalah perut kembung, semacam terjadi peningkatan asam lambung yang drastis semenjak hamil dan bikin saya lumayan tidak nyaman.

Konon meningkatnya produksi asam lambung pada ibu hamil wajar, disebabkan bertambahnya produksi hormon kehamilan (oh gosh, pregnancy is all about hormonal matters). Solusinya tentu dengan menghindari penyebab perut kembung. Bagi yang sering menderita maag, akan familiar terhadap treatment ini (dan kebetulan saya adalah salah satunya).

Menghindari minum kopi dan konsumsi coklat berlebih (yang mana saya adalah penggemarnya), menghindari minum teh berlebih (walau masih diizinkan, apalagi kalo ditambah jahe itu bikin hangat perut ibu hamil, kenyataannya setiap hari ada saja waktu saya minum teh, hehehe), menghindari kacang-kacangan (jadi eneg juga sih pas hamil, terutama sama sambal kacang temannya pecel, baso tahu, kupat tahu dan batagor, asli saya jadi menghindari makanan-makanan tersebut) dan amat sangat mengurangi konsumsi makanan pedas dan berkuah kental (ampuuunnnn padahal saya penyuka makanan pedas).

Sama seperti treatment pada penderita maag, makan sedikit tapi sering lebih nyaman daripada makan tiga kali tapi banyak, apalagi makan terus dan banyak (yaeyaaalaahh). Lagian jadi bumil tu cepet laper mana bisa makan hanya tiga kali (kemudian terdengar gumaman dari sebelah: perasaan si Hanna gak hamil aja juga makan terus, wkwkwk). Tips bu bidan adalah sediakan cemilan yang agak-agak sehat di rumah maupun kantor, jadi saya sekarang ceritanya adalah penyetok setia berbagai jenis biskuit.

Selain perut kembung, masalah lain adalah sugesti otak terhadap enak tidaknya makanan. Tapi sodara-sodara, sekali lagi itu adalah sugesti. Karena anehnya makanan yang dianggap otak saya ngga enak, tapi pas dimakan, menurut lidah saya kok enak yaa. Kayaknya ini masalah gak penting. ==> masalah mana sih buat ibu hamil yang penting, orang mirip menstruasi kok indikasinya, cuma ini berlangsung lebih lama.

Hidung dan lidah yang lebih sensitif mungkin juga salah satu diantara banyak hal ihwal kehamilan ini. Oiya ada juga persoalan keputihan, lagi-lagi ini juga masalah hormon dan wajar. Yah, sepertinya kehamilan saya saat ini memang termasuk kehamilan cuek bebek. Kalau kata teman-teman, kehamilan kebo. Karena, syukur alhamdulillah, saya tidak merasa mual, tidak muntah dan tidak ngidam. Bayinya pun tidur terus di perut dong, orang bilang kayak ibunya. Ah perasaan saya bukan orang seperti itu.

Kesimpulannya, mohon maaf pada blogger yang berharap dapat tips-tips kehamilan yang banyak dari saya, soalnya yaa gimana mau ngasih tips, wong saya aja cenderung cuek dan kelihatan adem ayem pas hamil ini. So all I wanna say is...have a fun pregnancy moms! :)

Wednesday, August 14, 2013

Tidak Sekedar Memberi

Buku-buku untuk TBB (Ida Arsiyanti)
Fai telah menerima surat balasan saya. Itulah kabar yang disampaikan oleh Ardi Wilda melalui tweetnya sekitar Bulan September 2012. Fai, Siswa SD Negeri Margajaya 01, Tulang Bawang Barat, Provinsi Lampung itu sebelumnya mengirimkan kartu pos kepada saya berisi ucapan Selamat Idul Fitri. Saya bahkan sudah tidak ingat kapan terakhir kali menerima kiriman kartu pos berprangko seperti yang saya terima dari Fai.

Korespondensi tersebut bermula dari inisiatif Ardi Wilda (Awe), Pengajar Muda penempatan Kabupaten Tulang Bawang Barat. Sebelum lebaran, ia bersemangat sekali mempromosikan di Twitter bahwa murid-muridnya akan mengirim kartu pos kepada siapa pun yang bersedia menerima. Saya, yang memang hobi berkorespondensi, langsung mendaftar.

Sehabis cuti Lebaran, kartu pos Fai saya terima, lantas saya buatkan balasan dalam bentuk surat dua halaman dan saya hiasi dengan foto-foto Museum Geologi dari Kota Bandung dan foto Gedung Telkom tempat saya bekerja. Tak lupa saya tempel gambar Relawan Bakti Bagi Negeri etape Tulang Bawang Barat di surat itu.

Ya, 28 Juli 2012, lebih dari satu tahun yang lalu, Relawan Bakti Bagi Negeri 'mendorong sekoci' berisi 3.500 buku-buku ke sana. Sekolah Fai adalah salah satu yang mendapatkan 500 eksemplar buku-buku dari para donatur Bakti Bagi Negeri. Saat itu pula lah saya dan Relawan lainnya bertemu para Pengajar Muda. Tak disangka juga, salah satu Pengajar Muda itu adalah adik kelas saya di bangku kuliah. Dia lah Ardi Wilda yang saya ceritakan di atas. Kegiatan Bakti Bagi Negeri etape Tulang Bawang Barat pun menjadi reuni kecil bagi kami.
Para Pengajar Muda TBB (Ida Arsiyanti)

Kunjungan kami ke Tulang Bawang Barat singkat sekali. Kami disambut oleh para pengajar muda di tengah terik siang hari Bulan Ramadhan. Kemudian seremonial penyerahan buku dan acara kebersamaan digelar sore hari hingga menjelang buka puasa. Setelah itu kami kembali pulang pada malam harinya.

Meski singkat, rupanya para relawan mendapatkan inspirasi dan semangat yang luar biasa dari sana. Masih membekas dalam ingatan, wajah-wajah gembira anak-anak berebut menjawab pertanyaan dari kami, demi mendapat sebungkus coklat. Menggelitik sekali, ketika salah satu relawan dipilih oleh murid-murid sebagai relawan terkeren hanya karena kulitnya putih. Mereka memiliki mindset orang berkulit putih itu cantik atau ganteng.

Paling berkesan adalah saat kita berbincang dengan pengajar muda, bagaimana cerita mereka hingga mereka merasa terpanggil bahkan rela keluar dari pekerjaan mapannya hanya untuk mengajar di daerah pelosok. Melihat mereka menjadi guru dengan ‘taktik’ yang seolah tak pernah habis untuk mengatur murid-murid mereka, saya hanya bisa berkomentar  “WOW!”.  Satu lagi yang menarik, asli! Mereka tidak pernah mengeluh. Jangankan mengeluh, memiliki persepsi negatif pun sangat jarang.

Mungkin saya adalah orang yang ke seratus juta yang menyatakan kekaguman saya terhadap kontribusi para pengajar muda. Tapi memang nyata adanya bahwa negri ini butuh kaum-kaum idealis seperti mereka untuk membantu mensejahterakan penduduk pelosok yang belum terjamah pendidikan berkualitas. Jujur, motivasi saya pergi ke Tulang Bawang Barat yang utama adalah melihat dari dekat pengabdian mereka. Karena saya sendiri, walau memiliki keinginan untuk bisa seperti mereka, namun tetap saja terkendala oleh ciutnya niat saya meninggalkan kenyamanan bekerja di sebuah korporasi besar seperti Telkom.

Sore itu, di dekat sumur, sewaktu mengambil wudlu untuk solat Asar, sebuah ajakan terlontar dari Annisa, pengajar muda yang setia berkoordinasi dengan saya dalam menyiapkan acara. “Mba, mba masih 26 tahun dan belum menikah, coba saja bergabung, tidak tertutup kemungkinan untuk diterima kok”.

Tentu saja, saya hanya bisa tertegun, karena jauh dalam hati saya, saya tahu bahwa saya belum seberani mereka. Tapi saya berharap, keberanian saya menempuh perjalanan yang cukup singkat persiapannya ini hanya demi mendapatkan inspirasi dari mereka, suatu saat nanti bisa membuahkan keberanian lain di diri saya yang tak kalah besar dari mereka.

An eternal inspiration worth to be found. Thank you guys :)


(catatan perjalanan mengantar 3.500 buku-buku ke pelosok Tulang Bawang Barat, mulai ditulis setahun yang lalu dan baru diselesaikan saat ini, better late than never)

Sunday, January 27, 2013

Bapak Teladan

Kutipan cerita ibu saya, waktu bicara lewat telepon pagi ini:

"Dulu waktu ibuk ikut prajab tiga bulan di Solo, ada yang dapet predikat bapak teladan dari para peserta prajab di sana. Setiap hari bapak itu menggendong anaknya yang masih bayi sambil menunggui istrinya yang sedang prajab. Dia gak kenal lelah, padahal prajab itu berlangsung dari pagi sampai malam. Dia terus seperti itu, menunggu di luar ruangan sambil menggendong bayinya dan sesekali membantu bayinya minum susu dari botol."

"Orang-orang memujinya, karena bahkan setelah istrinya selesai prajab dan sang bayi kembali ke pelukan istrinya, dia langsung melanjutkan perjalanan ke Semarang. Itu karena istrinya masih kos dan di kos tidak boleh ada laki-laki yang menginap. Pagi harinya dia menemui istrinya lagi di lokasi prajab untuk kembali menjaga bayinya. Begitu dia lakukan tiap hari, selama istrinya prajab, sementara dia belum mendapat pekerjaan. Tiap akhir minggu, baru dia dapat berkumpul kembali dengan istri dan bayinya."

"Dia adalah bapakmu, dan bayi itu adalah kamu"



Friday, December 28, 2012

Pertemuan



Bagaimana Anda memaknai sebuah pertemuan? Ketika Anda pertama kali bertemu dengan teman baru, relasi baru, lawan jenis yang membuat Anda meliriknya. Atau ketika Anda bertemu kembali dengan anggota keluarga dan sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Apakah Anda pernah memikirkannya?

Pertemuan Pertama

Saya termasuk orang yang excited menyambut sebuah pertemuan pertama. Pertemuan secara fisik tentu saja.

Belum lama ini saya bertemu dengan rekan kerja saya untuk pertama kali, setelah hampir setengah tahun ini kita hanya berkomunikasi lewat telepon maupun media online. Rekan kerja saya ini bagi saya cukup istimewa. Kita dipertemukan malah bukan karena pekerjaan, melainkan karena sebuah gerakan yang diberi nama Bakti Bagi Negeri. Sebuah gerakan bagi-bagi buku gratis bagi anak sekolah dasar di pelosok Indonesia.

Dia istimewa, saya kagum padanya, bagaimana bisa hanya lewat chatting dan telepon dia bisa mempersuasi orang-orang belum pernah dia temui sebelumnya, hingga apa yang dia inisiasi untuk gerakan itu pun berjalan dengan lancar. Roda gerakan berputar di sela-sela jarak yang membentang antar anggotanya. Maka dari itu saya sangat menantikan saat dimana saya bisa bertemu dengannya.

Pertemuan Kembali

Saya pernah menulis tentang pertemuan saya dengan Sahabat Bermata Coklat. Inilah pertemuan kembali yang tak pernah saya sangka akan dituliskan Tuhan. Pada saat pertemuan kembali antara kita berdua, saya menemukan bukti kebesaran Tuhan mengenai 'waktu'. Time does change everyone, including my best friend.

Kalau boleh dibilang, bertemu kembali dengan seseorang itu seperti membeli buku cerita. Membuka kembali dokumentasi kisah lampau dan menemukan sisi-sisi yang baru terkuak setelah lama kita meninggalkannya. Hal itu terjadi dalam pertemuan saya dengan teman kuliah saya yang sudah berpisah selama lebih dari 5 tahun. Dia tak sungkan menceritakan kembali kisah lamanya, kisah yang dulu tidak saya ketahui kebenarannya.

Pertemuan itu Misteri

Pertemuan saya dengan sepupu jauh saya bernama Apik dan Anik (mereka kembar), pada saat kita menempati kos yang sama di masa kuliah dulu, membawa saya kepada hal kecil yang mengejutkan. Ternyata ayah mereka, Prof. Ali Saukah adalah pengarang buku paket pelajaran Bahasa Inggris yang saya pakai di SMP dulu.

Kemudian, pertemuan saya dengan sepupu saya yang lain bernama Sinati, membawa Sinati bertemu dengan Taufik, suaminya sekarang. Sinati juga satu kos dengan saya, Apik serta Anik. Pada suatu hari, Taufik, yang juga sepupu saya dari pihak ibu, datang untuk bertemu dengan saya. Saya sedang di luar kos. Terpaksa Sinati menemui Taufik sehingga terjadilah perkenalan lebih jauh di antara mereka hingga akhirnya membawa mereka ke jenjang pernikahan.

Saya percaya, pertemuan itu ada misterinya. Saya sering tertawa sendiri saat mengingat-ingat berbagai pertemuan yang saya alami, karena baru mendapati hikmah pertemuan itu di masa sekarang.

Pertemuan adalah Pembelajaran

Peristiwa apa pun yang terjadi di dunia ini membawa pembelajaran, tak ketinggalan pula sebuah pertemuan, baik pertemuan formal maupun ketidaksengajaan dalam keseharian kita. Saya belajar bagaimana mengelola keuangan dan pentingnya berinvestasi setelah bertemu sahabat saya yang satu. Saya belajar bagaimana menjadi sedikit galak, judes dan tegas setelah bertemu sahabat saya yang lain.

Saya belajar untuk tidak memarahi orang -karena jujur dimarahi orang tu ngga enak banget, dari rekan kerja saya di kantor. Saya belajar untuk murah senyum dari orang yang baru saja berpapasan dengan saya di sebuah perjalanan, saya pikir ternyata melihat orang tersenyum itu mampu membahagiakan kita. Di hari-hari kemudian, ketika bertemu dengan seseorang, saya asik bertanya-tanya dalam diri saya, hmmmm apalagi yaa yang akan saya pelajari dari orang ini? :D

Begitulah beberapa cara saya memaknai pertemuan, bagaimana dengan Anda?

Tuesday, December 18, 2012

Dewa yang Kecewa

Dari Belitong saya punya cerita. Bukan soal pantai indahnya plus hiasan batu-batu besar yang entah dari mana datangnya itu. Bukan pula soal SD Laskar Pelangi serta Ibu guru Muslimah yang termasyur sejak difilmkan. Ini soal kisah saya di Vihara Dewi Kwan Im, sebuah vihara dengan dominasi warna merah pada bangunannya dan terletak di sebuah bukit Belitong Timur.

Pada bangunan vihara yang paling besar, di puncak bukit, terdapat tempat berdoa kepada para dewa. Banyak sekali patung dewa-dewa Cina diletakkan di sebuah altar lengkap dengan dupa dan sesaji di sekelilingnya. Setiap pengunjung yang hadir ditawarkan untuk berdoa di hadapan para dewa. Melalui beberapa prosesi, pengunjung dapat berdoa dan mengajukan satu hal untuk ditanyakan pada para dewa. Konon para dewa itu akan segera menjawabnya.

Teman saya pun mencobanya. Dia diminta menyebutkan pertanyaan dalam hati. Kemudian penjaga vihara melemparkan sepasang batu ke altar yang sesaat kemudian batu tersebut jatuh dalam posisi satu menelungkup dan satu menengadah. Sang penjaga viara lalu meminta teman saya mengambil sebuah benda mirip sumpit di antara sekian banyak benda yang sama dan terletak dalam satu wadah. Cara pengambilannya mirip undian.

Setelah terpilih satu sumpit, Sang Penjaga mengamati sumpit tersebut lantas menuju ke sebuah papan di salah satu dinding ruangan. Papan tersebut memiliki banyak kotak-kota di mana di dalamnya terletak banyak kertas-kertas bertuliskan tulisan Cina. Sang Penjaga mengambil salah satu kertas di antaranya dan sepertinya ia mencocokkannya dengan sumpit yang terpilih. Saya tidak tahu berdasarkan apa.

Di balik kertas itu ada tulisan Cina yang lebih kecil dan terangkai dalam paragraf. Sang Penjaga pun menterjemahkan dan membacakannya untuk teman saya. Saya lupa apa tepatnya isi pesan di dalam kertas tersebut.

Tertarik dengan pengalaman teman saya, saya pun menerima tawaran sang penjaga untuk berdoa di altar para dewa. Setelah bersiap, sang Penjaga meminta saya menyebutkan pertanyaan saya dalam hati. Terus terang, sebelum mencoba berdoa, saya sempat ragu terhadap hal ini. Khawatir bahwa yang saya lakukan termasuk tindakan yang dilarang oleh agama saya. Oleh karenanya, ketika diminta mengutarakan pertanyaan, dalam hati saya mengucap seperti ini: "Ya Allah berikan lah petunjukmu melalui hal ini, saya ingin tahu tentang karir saya".

Setelah itu, Sang Penjaga melempar sepasang batu, persis seperti yang ia lakukan dengan teman saya tadi. Tapi anehnya Sang Penjaga berkata bahwa lemparan pertama gagal. Sehingga saya harus mengulang pertanyaan saya. Sampai tiga kali lemparan batu, tetap saja Sang Penjaga bilang bahwa saya gagal. Para dewa tidak mau memberikan petunjuknya, katanya. Karena batunya semuanya sama-sama menelungkup atau sama-sama menengadah. Petunjuk baru akan muncul saat batu itu satu menengadah dan satu menelungkup. Sang penjaga menambahkan bahwa kegagalan saya akibat saya tidak yakin dan percaya pada para dewa sehingga mereka kecewa kepada saya.

Dan saya pun bingung. Saya meninggalkan vihara dan melanjutkan perjalanan, masih dengan rasa penasaran mengapa dewanya tidak mau menjawab pertanyaan saya. Sekian.

Oiya, buat yang mau liat video perjalanan saya ke belitong, bisa klik di bawah ini :)







Friday, October 26, 2012

Crazy Little Thing Called....LOVE


Inilah euforia menonton film. Film yang satu ini membawa saya flashback ke masa-masa saya duduk di bangku SMA bersama 3 sahabat saya. Mengingatkan saya pada beberapa kebiasaan kala itu. Mengobrol dengan secarik kertas yang dioper, sengaja izin ke toilet demi mengintip kelas di mana gebetan berada, boncengan di atas sepeda motor ketika pertama kali kami bisa mengendarainya dan tentu saja melewatkan banyak hal bersama. Kami juga mengalami perasaan kehilangan salah satu di antara kami hanya karena ia asyik bersama pacarnya :D

Disamping menceritakan tentang persahabatan, film ini menurut saya membawa satu pesan sederhana yang lumayan penting untuk menjadi pertimbangan dalam menjalin hubungan cinta dan menjalani kehidupan.

Ceritanya, sang tokoh utama, Khun Nam, jatuh cinta pada seniornya bernama Shone. Seperti biasa, namanya juga film. Shone adalah sosok senior yang ganteng, pinter main bola dan digemari banyak cewek cantik. Sementara Nam adalah cewek yang berkulit gelap, berkaca mata, pake kawat gigi, tidak terlalu pintar dan tentu saja tidak banyak murid yang mengenalnya. Bagi Nam, bisa bertemu dan bicara dengan Shone walau hanya sebentar ituuu udah sesuatu banget deh.

Sahabatnya tahu bahwa Nam menyukai Shone. Mulailah mereka membantu Nam untuk mendapatkan perhatian Shone dan Nam pun bersemangat untuk melakukan apa saja yang disarankan sahabatnya. Mereka mulai dengan membeli buku ‘9 metode mendapatkan gebetan’ dan menerapkan metode-metode tersebut. Gokil banget pas mereka mendandani Nam dengan masker dan melumurinya dengan lulur hingga kulitnya kuning. Sampai akhirnya Shone malah mengira Nam lagi sakit hepatitis A *hadeh.

Nam juga berusaha belajar lebih giat untuk menjadi juara di kelasnya. Ia dan sahabatnya mengikuti klub drama untuk menarik perhatian Shone. Nam juga belajar menjadi mayoret yang baik, saat ia kebetulan diminta menggantikan temannya yang cedera. Nam lambat laun mulai ‘sadar penampilan’ sehingga dia sukses menjadi idola di sekolah –pokoknya singkat kata Nam yang tadinya jelek terus jadi cantik aja.

Tiga tahun Nam diam-diam menyukai Shone dan melakukan berbagai cara untuk merebut perhatiannya. Sebetulnya usahanya tidak sia-sia, karena Shone ternyata juga menyukai Nam. Hanya saja waktu dan kondisi belum mendukung mereka untuk bersama. Hingga akhirnya mereka harus berpisah untuk mengejar impian masing-masing.

Alkisah, 9 tahun kemudian Nam berhasil menjadi fashion designer sukses setelah belajar di USA, sementara Shone berhasil menjadi fotografer pro yang selama ini dia impikan. Lalu mereka bertemu kembali, dan saat itulah cerita mereka happy ending.

Di akhir cerita film tersebut Nam berkata bahwa salah satu hal yang membuat ia sukses adalah karena dia pernah mencintai seseorang. Nam berkomentar tentang cowok yang dicintainya: “He is like my inspiration, he made me use the love in good way, he is like the power that supports me to be better and better...”

NAH! Ini lah apa yang saya bilang sebagai hal sederhana tapi perlu dicatat. Di tengah euforia menonton film ini saya berfikir bahwa memang sebaiknya rasa cinta kita terhadap seseorang itu dapat membawa kita menjadi diri kita ke arah yang lebih baik, bukan malah ke arah destruktif. 

Mungkin ada yang bakal komplain “wah, kalau gitu kita hanya bisa lebih baik kalo ada dia dong”. Iya, memang ‘dia’ adalah motivasi kita. Tapi tetap saja, kemauan untuk jadi lebih baik itu datangnya dari diri kita sendiri, cinta itu hanyalah pemantiknya. Toh sebenarnya, tidak banyak respon juga yang diberikan oleh Shone pada Nam. Tapi bagi Nam, bahkan hanya dengan melihat senyum Shone, Nam menemukan semangat yang luar biasa yang mampu mendorong dia ke arah yang lebih baik lagi.

Look, love might be a crazy thing, but the power to be better still come from your own mind, body and soul! So.... *simpulkan sendiri :P

Monday, June 11, 2012

Ridho Orang Tua, Ridho Allah

Saya bekerja di Telkom. Sebuah perusahaan milik negara sekaligus perusahaan publik yang besar dan keren. Besar karena perusahaan ini punya lebih dari 20.000 karyawan, kantornya tersebar dari Sabang sampai Merauke. Di kota-kota besar di Indonesia, Gedung Telkom bisa kita temui di lokasi-lokasi strategis, karena perusahaan ini sudah ada konon sejak masa penjajahan Belanda.

Keren karena bisnisnya saat ini sedang ngetrend. Kecuali bisnis telepon kabel-nya yang sudah ketinggalan jaman, perusahaan ini punya bisnis seluler, call center, infrastruktur telekomunikasi, properti, aplikasi, konten dan koneksi internet bagi semua kalangan. Telkom juga listing di New York Stock Exchange, London Stock Exchange dan tercatat di Tokyo Stock Exchange. Itu membuat Telkom menjadi perusahaan yang lebih profesional dibandingkan perusahaan milik negara yang lain. Tiap tahun Telkom menyumbang lebih dari 10 triliun laba dan separuhnya menjadi pendapatan negara di luar pajak.
Kata orang-orang di luar Telkom yang saya temui, hebat sekali saya bisa kerja di Telkom. Para fresh graduate banyak yang mengincar Telkom sebagai perusahaan idaman buat bekerja.

Saya pernah ditanya beberapa mahasiswa dan orang-orang yang saya temui tentang bagaimana usaha saya hingga bisa diterima kerja di Telkom. Saya bilang saja, ya saya ikut melamar dan ikut seleksinya. Lantas mereka tanya lagi, susah tidak seleksinya. Saya jawab susah banget, apalagi tes TOEFLnya. Kemudian mereka heran dan kembali bertanya, loh kalau susah kenapa saya bisa diterima? Menjawab pertanyaan tersebut, saya selalu melontarkan kalimat favorit saya dengan sangat yakinnya  “ini semua karena doa orang tua”.

Keyakinan saya, ridho orang tua adalah ridho Allah, doa orang tua sangat didengar oleh Allah. Saya bisa begitu yakin karena sudah membuktikannya berkali-kali. Bahkan sebelum para motivator menjadikan hal tersebut sebagai materi motivasi mereka. Keyakinan saya, bila saya menginginkan sesuatu, buat bahagia orang tua dulu, dan keinginan saya Insya Allah tercapai.

Tahun 2000, saya ingin bisa diterima dan bersekolah di SMA favorit saya. Waktu itu masih pakai NEM (Nilai Ebtanas Murni) sebagai syarat masuk. Saya sempat pesimis, apakah NEM yang saya dapat bisa memenuhi standar syarat masuk SMA tersebut. Pasalnya ketika EBTANAS berlangsung saya sedang sakit,meski akhirnya saya dapat mengerjakan seluruh soal ujian.

Akhirnya, saat liburan menunggu pengumuman EBTANAS, saya pergunakan untuk membantu orang tua saya di rumah. Pagi-pagi saya bangun, membersihkan kamar saya dan kamar orang tua saya, menyapu rumah dan halaman kemudian mencuci baju dan melipatnya. Pokoknya pulang kerja, orang tua taunya rumah bersih. Begitu setiap hari saya lakukan. Hingga tiba hari pengumuman.

Hasilnya NEM saya peringkat ke 8 satu sekolahan, dan 20 besar tingkat kabupaten! Saya pun bisa dengan tenang mendaftar ke SMA favorit saya tanpa khawatir tersingkir karena NEM saya termasuk tinggi.

Tahun 2003, tiba saatnya saya melanjutkan pendidikan saya ke universitas. Saya sama sekali tidak punya ide mau kuliah di mana, yang ada di benak saya, kalau bisa saya ingin kuliah di universitas negeri supaya biayanya murah dan orangtua saya mampu membayarnya. Tes pertama yang saya ikuti adalah Ujian Masuk UGM (Universitas Gadjah Mada) Yogyakarya. Jalur masuk tersebut baru pertama kali diadakan oleh UGM. Saya dan kawan-kawan pun tidak memiliki bayangan seperti apa tes dan hasilnya nanti. Ya pokoknya ikut aja dulu.

Setelah mengikuti tes, saya melakukan rutinitas saya sebagai full-time housekeeper. Hampir semua pekerjaan di rumah, saya kerjakan, termasuk memasak. Pokoknya selama hampir dua bulan menunggu pengumuman, saya layani orang tua saya. Pulang kantor, rumah sudah kinclong, baju sudah dicuci, makanan sudah siap, orang tua tinggal istirahat. Hingga tiba hari pengumuman...

...dan saya diterima di UGM untuk pilihan kedua, di FISIPOL.

Kali ini saya tidak menyangka saya bisa diterima. Dan satu kelas saya yang diterima hanya empat orang, termasuk saya, padahal hampir sekelas mengikuti tes tersebut. Lebih mengagetkan, teman-teman yang lebih pandai dari saya, tidak diterima. Saya merasa porsi belajar saya biasa saja, bahkan sempat saya kebut semalam. Sungguh karunia yang luar biasa, saat teman-teman saya masih harus berjuang ke universitas lain, saya justru hanya sekali tes dan diterima.

Dua kali memiliki pengalaman yang hampir sama, saya menyimpulkan bahwa hal ini sangat mungkin berkat orang tua saya. Kalau orang tua saya senang, saat mereka berdoa, doanya tambah powerful. Rumus inilah yang saya terapkan juga untuk melamar pekerjaan di Telkom. Dan terbukti, selang 6 bulan setelah saya lulus, saya langsung diterima bekerja di perusahaan sekelas Telkom.

Keyakinan inilah yang saya pegang hingga saat ini. Tentu saja saya juga berikhitiar dan berdoa untuk apa yang saya inginkan. Tapi diatas semua itu, doa dan ridho orang tua sangat berpengaruh. Sama halnya ketika saya mengalami kesulitan untuk meraih keinginan saya, mungkin saja ada hal antara saya dan orang tua saya yang kurang beres. Maka saya berusaha menyelesaikannya terlebih dahulu dan berusaha membuat keduanya mengerti, senang dan tenang terhadap keputusan saya.

Allah berfirman dalam ayatnya “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu janganlah engkau mengatakan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka menyayangi aku sejak kecil” (QS. Al-Israa’:23-24)

Sekali lagi, ridho orang tua adalah ridho Allah :)

Monday, April 02, 2012

Apakah kamu bahagia saat ini?


"Aku bakal bahagia banget kalau aku bisa beli iPad 3 saat ini"

"Gw baru bahagia kalau dia bisa jadi pacar gw"

"Bahagia adalah bisa pulang malem ini tanpa kejebak macet"


Pasti macam-macam jawaban yang muncul saat pertanyaan tersebut dilontarkan pada kita. Jawaban di atas juga manusiawi banget, ngga ada yang salah. Cumaaannnn....kali ini saya mau berbagi pemikiran yang saya anggap ideal buat mengidentifikasi apa itu bahagia.

Mungkin ada yang berpendapat, bahagia itu ngga bisa dan ngga perlu diidentifikasi atau dicari-cari artinya. Karena bahagia itu kan hanya bisa dirasakan, jadi kenapa musti repot diartiin.

Ya silakan sih, ngga papa kalo ada yang bilang gitu, pokoknya saya tetep mau berbagi -- maksa abiss dah, xixixi.

Jadi yaa temen-temen dan sodara-sodara sekalian, menurut buku primbon yang saya baca, bahagia adalah sebuah kesadaran tentang perasaan mengalami kemajuan. Mengapa harus kemajuan? Ya karena kita hidup. Segala yang hidup mengalami pergeseran atau bahasa kerennya transformasi. Kita ngalamin yang namanya pergantian hari, dari senen, selasa, rabu, trus kamis, trus jumat. Kita bersekolah, naik kelas sampai tau-tau udah lulus SMA. Trus kita melanjutkan ke jenjang yang lain, bekerja, menikah, punya anak... YEP! kita maju...

Begitu pula dalam mengartikan kebahagiaan sebagai kesadaran tentang perasaan mengalami kemajuan. Apapun bentuk kesadaran itu, misalnya mendapatkan sesuatu, memiliki sesuatu, meraih sesuatu.... yang pasti semua orientasinya adalah maju, kita punya tujuan. Karena kalau kita mengalami kemunduran maupun keadaan diam alias stuck, dapat dipastikan kita ngga bahagia, gundah gulana, galau!

Ngga berhasil dapat iPad, ngga bahagia.

Ngga berhasil jadiin si doi pacar, gundah.

Bete gara-gara macet ga kelar-kelar, galau.

Kata buku primbon, untuk dapat merasa bahagia, merasa bahwa ada kemajuan di diri kita, kita harus tahu (1) apa yang kita pengenin (2) gimana posisi kita sekarang (3) trus gimana caranya kita meraih apa yang kita pengenin.

Ah masa sih?

Ya misalnya nih kita dapet iPad, trus bahagia. Itu karena kita tahu bahwa kita pengen iPad, trus semenit yang lalu kita belum punya iPad dan kita tahu cara dapetin iPad, entah itu gara2 minta ke ortu, beli pake kartu kredit atau ngirim undian terus menang.

Orang-orang yang tahu bagaimana caranya berbahagia, secara ngga sadar telah menerapkan rumus tersebut. Saya pernah mencoba menanyakan pertanyaan tersebut 3 tahun yang lalu terhadap 10 orang-orang terdekat saya. Kalau ada yang mau tahu apa jawaban mereka, bisa cek di bawah ini.

Kalau ngga kebaca, bisa baca langsung di FB saya, Hanna Laila Dewi. ^__^

Dari tulisan tersebut mungkin kita bisa menilai bagaimana masing-masing orang mengartikan kebahagiaan sesuai dengan rumus di atas.

Ngomong-ngomong, kapan waktu yang tepat buat bahagia?

Waktu dapet iPad? dapat pacar baru? atau lepas dari kemacetan? hmmm boleh-boleh aja. Tapi saya usul agar kita berbahagia mulai dari sekarang, saat ini juga. Mengapa harus sekarang? Saya juga ngga ngerti apa jawaban pastinya. Habisnya, apakah kalau kita ngga dapat iPad lantas kita harus ngga bahagia; apa kalau ngga dapetin si doi jadi pacar, trus ngga bahagia; seumpama terjebak macet apa kita musti bete selamanya...

Ternyata, setelah saya baca-baca buku primbon dan berteori macam-macam, saya pikir kemajuan yang dimaksud adalah kemajuan yang lebih bersifat filosofis. Yakni kemajuan batin, bagaimana dari hari ke hari kita merasa bersyukur dengan apa yang kita dapat atau tidak kita dapat. Lebih dewasa, lebih bijak dan lebih bersyukur dari sebelumnya dalam mencapai keinginan dan kebutuhan, itulah kemajuan yang dimaksud.

Udah ah sharingnya. Anyway saya berharap temen-temen dan sodara-sodara semua berbahagia saat ini, nanti dan seterusnya; dengan apa pun keinginannya; dan dengan siapa pun meraihnya :)