Showing posts with label awal. Show all posts
Showing posts with label awal. Show all posts

Tuesday, June 09, 2015

3 Tantangan pada Masa Kehamilan (Diary Bumil Polos bagian #3)

Lebih dari sembilan bulan saya hamil. Tidak terasa proses persalinan sudah di depan mata. Ya, tidak terasa, salah satunya karena tidak terlalu banyak kesulitan yang saya alami selama proses kehamilan. Faktor pendukung lainnya adalah karena karakter saya yang cuek, tidak banyak komplain serta kondisi sekeliling yang cukup kondusif bagi saya. Menurut saya, karakter ibu hamil sangat menentukan proses yang dialami selama kehamilan karena satu masalah belum tentu sama dihadapi oleh ibu dengan karakter berbeda. Berikut tantangan yang saya alami saat hamil :

1. Heartburn

Heartburn adalah timbunan gas asam lambung yang bikin perut kembung, panas hingga terasa sampai kerongkongan. Seringkali heartburn sampai membuat saya mual dan akhirnya muntah. Tantangan yang satu ini setia menghadang mulai di trimester pertama hingga terakhir. Sempat membaik di trimester kedua sih. Saya membaca di beberapa referensi, heartburn ini wajar dihadapi ibu hamil karena hormon progesteron yang diproduksi lebih banyak selama hamil, turut menjadi penyebab naiknya asam lambung dari kondisi normal. Saya berasumsi, heartburn yang saya alami kian diperparah dengan riwayat maag saya. Kendati beberapa waktu sebelum hamil, penyakit tersebut sudah jarang menyerang.

Konsekuensinya, untuk menghindari heartburn yang cukup menyiksa ini, pada saat hamil saya amat sangat mengurangi makanan penyebab asam lambung. Mulai dari makanan yang mengandung kacang-kacangan, makanan pedas, makanan yang digoreng, makanan yang mengandung santan, sampai dengan kopi dan beberapa jenis susu. Tentu saja pembatasan konsumsi makanan yang saya lakukan menghapus cukup banyak menu makanan dan jajanan yang umum ditemui di luar rumah. Solusi memasak sayuran hijau di rumah dan memilih mengkonsumsi lebih banyak buah-buahan akhirnya jadi pilihan.

Saya sempat menebak-nebak, mungkin yang membuat beberapa ibu hamil mabuk di trimester pertama itu adalah kondisi heartburn ini. Saat dimana produksi asam lambung meningkat dan hormon sangat memengaruhi selera makan. Klop sekali jika selera makan hilang, perut tidak terisi dan asam lambung lagi banyak-banyaknya. Yang ada mual dan muntah berkepanjangan.

Saya pun mengalami perubahan selera makan, tapi bagaimanapun saya berprinsip tetap harus makan demi si baby. Jadi saya berusaha untuk tidak memanjakan diri sendiri. Makan sebelum lapar penting sekali untuk menghindari timbulnya lebih banyak asam lambung di perut saya. Asal tidak mabuk saja saya sudah bersyukur, yang penting makanan tertelan.

Pada trimester dua, yang konon termasuk masa kehamilan yang sudah lebih stabil dengan catatan kehamilan normal, heartburn juga ikut berkurang. Lumayan, saya jadi bisa menikmati beberapa menu pedas kesukaan saya. Puas-puasin deh karena pas trimester pertama sudah benar-benar membatasi.

Entah kenapa sang heartburn muncul lagi pada trimester tiga. Jika sebelumnya penyebab utamanya adalah makanan, kali ini munculnya tidak bisa ditebak. Saya sempat berasumsi macam-macam, apa jangan-jangan karena stress atau karena ukuran baby yang semakin besar hingga menekan lambung. Namun ketika saya konsultasikan dengan dokter kandungan, katanya semata karena faktor makanan. Kemudian ia memberikan obat penawar mual untuk sesekali diminum pada saat heartburn. Berdasarkan pernyataan dokter tersebut akhirnya di trimester tiga saya kembali membatasi makanan saya.

2. Miskomunikasi dengan pasangan

Ibu hamil seringkali mengalami masa-masa tidak nyaman. Misalnya berubah selera makan dan selera-selera yang lain, mual muntah, sering capek, atau jika sudah memasuki trimester akhir mulai tidak nyaman dengan posisi tidur, posisi duduk, lelah berjalan dan lain sebagainya. Belum lagi ketidaknyamanan ‘perasaan’ yang diklaim sebagai efek gejolak hormon. Pas menstruasi saja, wanita itu sulit dipahami, begitu kata laki-laki. Apalagi saat hamil, yang hormonnya berlipat ganda.

Di satu sisi, saya dan mungkin kebanyakan wanita hamil ingin sekali ketidaknyamanan ini juga dimengerti oleh pasangan. Sehingga pasangan bisa memberikan dukungan terhadap saya untuk melalui masa-masa kehamilan. Pasangan saya pun tergolong orang yang gemar membaca, mencari informasi tentang hal apapun dan terdidik. Maka seharusnya dia sudah tahu bagaimana caranya menghadapi wanita hamil.

Tapi ternyata, di kalimat terakhir itulah kesalahan saya pemirsa. Saya begitu berharap dan berprasangka baik bahwa suami akan mencari informasi mengenai ibu hamil selaiknya dia membaca berita-berita politik atau mengikuti perkembangan kejadian di luar sana melalui portal berita. Ternyata tidak sodara-sodara. Suami saya tetap harus diberi tahu apa yang harus dan sebaiknya dilakukannya. Ya begitulah, klise...wanita seringkali ingin dimengerti...pengennya tanpa harus ngomong banyak. Sedangkan pria, lempeng, dan tidak akan berasumsi macam-macam soal perasaan wanita kecuali diomongin langsung.

Dalam hal ini lah, mau tidak mau, kita dan pasangan dituntut untuk lebih cair mendialogkan tentang proses kehamilan. Sebagai wanita saya harus pro aktif mengkomunikan hal-hal yang perlu pasangan saya ketahui. Dan sebaiknya para suami juga pro aktif menanyakan, apa yang bisa dia bantu atau apa yang butuh untuk dia perhatikan. Karena menurut saya, miskomunikasi dengan pasangan ini cukup menguras tenaga pada saat saya menghadapi proses kehamilan saya yang pertama ini.

3. Emosi yang bergejolak dari biasanya –dan efeknya pada rutinitas kerja

Nah, mungkin ini masih ada kaitannya dengan peningkatan produksi hormon. Di masa-masa kehamilan, saya merasa lebih total dalam bekerja. Kemudian saya juga menggebu-gebu saat berdiskusi soal pekerjaan. Saya pun tak segan mempertahankan pendapat dan mengkoreksi sesuatu jika saya tidak setuju, sampai-sampai mendekati agak ngotot. Saya akui saya lebih mudah tersinggung juga saat hamil. Saya bertanya-tanya, ada apa yaa dengan saya, padahal saya sebelumnya tidak seberapi-api ini.

Kalau permasalahan yang satu ini, tak lain saya berlatih lebih mengendalikan diri saja. Sekali lagi saya tidak ingin memanjakan diri saya dan menuruti kehendak hormon. Sedikit banyak saya percaya, jika hal-hal di luar kebiasaan saya itu merupakan bawaan bayi, maka saya harus melatih mengendalikannya sejak ia di dalam kandungan.

Wednesday, November 05, 2014

Ada Dedek di Perutku (Diary Bumil Polos Bagian I)

Kita semua tahu bahwa pertanyaan mendasar selanjutnya dalam hidup, setelah kita menikah adalah: udah isi belum? Yakinlah, pertanyaan yang sama pun saya peroleh setiap saat dari berbagai kalangan manusia.

Saya termasuk dalam golongan kaum wanita yang ingin hamil dan melahirkan anak. Dalam ketenangan saya menjawab setiap pertanyaan sebetulnya tersimpan kegundahan yang luar biasa tentang kapan kah kiranya Tuhan mengizinkan saya menggendong amanahNya tersebut. Menyaksikan kawan-kawan dekat banyak yang belum juga dikaruniai buah hati setelah sekian lama mereka menikah, membuat pikiran saya kadang ngelantur juga ke mana-mana. Ada juga kawan yang menikah setelah saya, eh udah hamil aja. Yah walau saya baru menikah 5 bulan, gak boong juga kalau lumayan kepikiran hal ihwal hamil ini.

Kendati saya galau melow marshmellow, namun saya mencoba meyakini satu hal: rejeki untuk dikaruniai anak itu, sama hal-nya dengan jodoh, ya jadi rahasia Tuhan. Mau cepet, mau lama, mau gampang mau susah adalah kehendak Yang Maha Kuasa. Jadi saya percaya, Tuhan akan memberikannya pada waktu yang tepat. Yah itung-itung saya sama suami menikmati masa pacaran dulu karena perkenalan kita yang begitu singkat mungkin masih diperlukan semacam asimilasi dan akulturasi gitu #halahhh.

Tuhan rupanya tidak terlalu lama membiarkan saya termangu tidak jelas. Dua hari yang lalu, setelah terlambat haid hampir 1 bulan, saya memberanikan diri membeli alat tes kehamilan alias testpack. kenapa saya sebut memberanikan diri? karena jujur sudah beberapa kali 'disangka' hamil, beberapa kali pula tes kehamilan dan beberapa kali pula negatif, agak bosen juga. Apalagi kalau udah dengan bersemangat dibawa tes ke klinik dan alhasil masih aja negatif. Walau ga masalah, tapi malu juga saya, kok kayaknya jadi ngebet pengen banget hamil ==> lah emang pengen :P

Tapi tapi....kali ini positif pemirsahhh....*tiba-tiba ada suasana cetar membahana di kamar mandi saat itu. Berhubung saya orangnya ga ekspresif yaa akhirnya datar-datar aja sih rasanya melihat dua garis merah di testpack itu. Bersyukur? pasti, senang? tentu. Hanya saja yang terpikir oleh saya adalah makhluk ini akan menjadi tanggungjawab saya selama sembilan bulan lebih di perut ini. Setelah lahir, akan menjadi tugas saya dan suami untuk mendidiknya. Tidak mudah. Apa yaa...ini benar-benar bukan perkara saya akhirnya hamil, tidak...bahkan lebih dari itu.

Satu hal yang pasti, saat Tuhan kasih calon bayi ini pada saya dan suami, berarti Dia percaya bahwa kami bisa diberi anugerah ini, bahwa kami bisa mengemban tugas berat membentuk generasi selanjutnya yang hebat dalam keluarga kecil kami. Itulah kepercayaan yang menguatkan saya.

Sesaat setelah mengetahui kabar gembira itu, saya menyampaikannya pada keluarga, pada saudara dan sahabat, dan mohon doa restu mereka agar calon bayi ini sehat. Habisnya pas juga suami lagi bertugas di hutan belantara nan tidak ada sinyal, jadinya gak bisa ngabarin dia. Kemudian, mulai mendengarkan aliran nasehat-nasehat dari handai taulan yang membuat saya merasa lebih kuat mengetahui banyak yang sayang sama saya dan gembira dengan kehamilan ini.

Jika ada yang bertanya, gimana kok sampai bisa hamil? Kebanyakan saya menjawab 'tidak tahu'. Yaa karena bagaimanapun itu kehendak Tuhan. Soalnya, 5 bulan yang saya lalui pasca-menikah sungguh adalah 5 bulan yang melelahkan dengan rangkaian kegiatan keluarga dan pekerjaan yang sangat padat. Yang saya lakukan lebih banyak pasrah, menyerahkan segalanya kepada Yang Kuasa, sambil tetap berusaha. Oiya, suami saya waktu itu sering minum susu sapi kemasan satu liter itu yang rasa plain tiap hari. Dicoba saja, siapa tahu bisa membantu, karena ada satu artikel yang menyebutkan bahwa susu menyehatkan sperma, sehingga dia bisa berenang dengan kuat ke tuba falopi (kalo gak salah sebutannya begitu hehehe).

Demikian catatan saya yang pertama, semoga saya tidak segan menuliskan catatan-catatan selanjutnya :)

Wednesday, August 14, 2013

Tidak Sekedar Memberi

Buku-buku untuk TBB (Ida Arsiyanti)
Fai telah menerima surat balasan saya. Itulah kabar yang disampaikan oleh Ardi Wilda melalui tweetnya sekitar Bulan September 2012. Fai, Siswa SD Negeri Margajaya 01, Tulang Bawang Barat, Provinsi Lampung itu sebelumnya mengirimkan kartu pos kepada saya berisi ucapan Selamat Idul Fitri. Saya bahkan sudah tidak ingat kapan terakhir kali menerima kiriman kartu pos berprangko seperti yang saya terima dari Fai.

Korespondensi tersebut bermula dari inisiatif Ardi Wilda (Awe), Pengajar Muda penempatan Kabupaten Tulang Bawang Barat. Sebelum lebaran, ia bersemangat sekali mempromosikan di Twitter bahwa murid-muridnya akan mengirim kartu pos kepada siapa pun yang bersedia menerima. Saya, yang memang hobi berkorespondensi, langsung mendaftar.

Sehabis cuti Lebaran, kartu pos Fai saya terima, lantas saya buatkan balasan dalam bentuk surat dua halaman dan saya hiasi dengan foto-foto Museum Geologi dari Kota Bandung dan foto Gedung Telkom tempat saya bekerja. Tak lupa saya tempel gambar Relawan Bakti Bagi Negeri etape Tulang Bawang Barat di surat itu.

Ya, 28 Juli 2012, lebih dari satu tahun yang lalu, Relawan Bakti Bagi Negeri 'mendorong sekoci' berisi 3.500 buku-buku ke sana. Sekolah Fai adalah salah satu yang mendapatkan 500 eksemplar buku-buku dari para donatur Bakti Bagi Negeri. Saat itu pula lah saya dan Relawan lainnya bertemu para Pengajar Muda. Tak disangka juga, salah satu Pengajar Muda itu adalah adik kelas saya di bangku kuliah. Dia lah Ardi Wilda yang saya ceritakan di atas. Kegiatan Bakti Bagi Negeri etape Tulang Bawang Barat pun menjadi reuni kecil bagi kami.
Para Pengajar Muda TBB (Ida Arsiyanti)

Kunjungan kami ke Tulang Bawang Barat singkat sekali. Kami disambut oleh para pengajar muda di tengah terik siang hari Bulan Ramadhan. Kemudian seremonial penyerahan buku dan acara kebersamaan digelar sore hari hingga menjelang buka puasa. Setelah itu kami kembali pulang pada malam harinya.

Meski singkat, rupanya para relawan mendapatkan inspirasi dan semangat yang luar biasa dari sana. Masih membekas dalam ingatan, wajah-wajah gembira anak-anak berebut menjawab pertanyaan dari kami, demi mendapat sebungkus coklat. Menggelitik sekali, ketika salah satu relawan dipilih oleh murid-murid sebagai relawan terkeren hanya karena kulitnya putih. Mereka memiliki mindset orang berkulit putih itu cantik atau ganteng.

Paling berkesan adalah saat kita berbincang dengan pengajar muda, bagaimana cerita mereka hingga mereka merasa terpanggil bahkan rela keluar dari pekerjaan mapannya hanya untuk mengajar di daerah pelosok. Melihat mereka menjadi guru dengan ‘taktik’ yang seolah tak pernah habis untuk mengatur murid-murid mereka, saya hanya bisa berkomentar  “WOW!”.  Satu lagi yang menarik, asli! Mereka tidak pernah mengeluh. Jangankan mengeluh, memiliki persepsi negatif pun sangat jarang.

Mungkin saya adalah orang yang ke seratus juta yang menyatakan kekaguman saya terhadap kontribusi para pengajar muda. Tapi memang nyata adanya bahwa negri ini butuh kaum-kaum idealis seperti mereka untuk membantu mensejahterakan penduduk pelosok yang belum terjamah pendidikan berkualitas. Jujur, motivasi saya pergi ke Tulang Bawang Barat yang utama adalah melihat dari dekat pengabdian mereka. Karena saya sendiri, walau memiliki keinginan untuk bisa seperti mereka, namun tetap saja terkendala oleh ciutnya niat saya meninggalkan kenyamanan bekerja di sebuah korporasi besar seperti Telkom.

Sore itu, di dekat sumur, sewaktu mengambil wudlu untuk solat Asar, sebuah ajakan terlontar dari Annisa, pengajar muda yang setia berkoordinasi dengan saya dalam menyiapkan acara. “Mba, mba masih 26 tahun dan belum menikah, coba saja bergabung, tidak tertutup kemungkinan untuk diterima kok”.

Tentu saja, saya hanya bisa tertegun, karena jauh dalam hati saya, saya tahu bahwa saya belum seberani mereka. Tapi saya berharap, keberanian saya menempuh perjalanan yang cukup singkat persiapannya ini hanya demi mendapatkan inspirasi dari mereka, suatu saat nanti bisa membuahkan keberanian lain di diri saya yang tak kalah besar dari mereka.

An eternal inspiration worth to be found. Thank you guys :)


(catatan perjalanan mengantar 3.500 buku-buku ke pelosok Tulang Bawang Barat, mulai ditulis setahun yang lalu dan baru diselesaikan saat ini, better late than never)

Friday, February 22, 2013

Belajar Tenggelam

"Kau harus belajar tenggelam. Menyerahkan semuanya pada air. Tenang, jangan takut dan jangan melawan. Bernafaslah, kau tahu kau bisa bertahan di dalamnya. Biarkan air membawamu dengan dominasinya. Pasrah seperti kau memasrahkan hidupmu pada Tuhan"

Bersama suara itu, aku mengambil nafas. Masuk ke dalam air sambil melingkarkan tangan di lutut. Membatu. Tenggelam. Dan benar saja, air mulai mengangkatku pelan, perlahan menuju ke permukaan. Sesekali aku masih takut dan panik. Tapi aku mencobanya lagi dan lagi.

"Sekarang coba rentangkan kaki dan tanganmu. Tetap tenang dan ikuti kemauan air. Pasrahkan semuanya. Cobalah mengambang. Apabila kau sudah cukup yakin telah menyatu dengan air, mulai ayunkan tanganmu. Rasakan bahwa bersamanya kau dapat bergerak ke arah yang kau mau"

Ajaib. Aku bergerak, aku mengambang dan tidak tenggelam.

Lebih dari belajar berenang, ternyata hari itu aku kembali mengingat satu pelajaran penting kehidupan: tawakal.










Monday, January 21, 2013

Tentang Rasa

Rasa, kau sebenarnya datang darimana?
Dari pikiran sang otak
Atau dari asa si hati
Tolong beritahu aku

Kenapa rasa?
Tiap kali otak bekerja
Dia bilang mudah sekali membuatmu
datang dan pergi
Tapi beda soal kata si hati
sepertinya dia punya alam sendiri
untuk menyimpanmu

Aku curiga,
Jangan-jangan kau berkong-kalikong dengan waktu
Entah kau ini bermuka berapa
pun susah menerka apa maumu
tapi waktu biasa menang
atasmu

Baiklah, mari kita tanya sang waktu.

Friday, December 28, 2012

Pertemuan



Bagaimana Anda memaknai sebuah pertemuan? Ketika Anda pertama kali bertemu dengan teman baru, relasi baru, lawan jenis yang membuat Anda meliriknya. Atau ketika Anda bertemu kembali dengan anggota keluarga dan sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Apakah Anda pernah memikirkannya?

Pertemuan Pertama

Saya termasuk orang yang excited menyambut sebuah pertemuan pertama. Pertemuan secara fisik tentu saja.

Belum lama ini saya bertemu dengan rekan kerja saya untuk pertama kali, setelah hampir setengah tahun ini kita hanya berkomunikasi lewat telepon maupun media online. Rekan kerja saya ini bagi saya cukup istimewa. Kita dipertemukan malah bukan karena pekerjaan, melainkan karena sebuah gerakan yang diberi nama Bakti Bagi Negeri. Sebuah gerakan bagi-bagi buku gratis bagi anak sekolah dasar di pelosok Indonesia.

Dia istimewa, saya kagum padanya, bagaimana bisa hanya lewat chatting dan telepon dia bisa mempersuasi orang-orang belum pernah dia temui sebelumnya, hingga apa yang dia inisiasi untuk gerakan itu pun berjalan dengan lancar. Roda gerakan berputar di sela-sela jarak yang membentang antar anggotanya. Maka dari itu saya sangat menantikan saat dimana saya bisa bertemu dengannya.

Pertemuan Kembali

Saya pernah menulis tentang pertemuan saya dengan Sahabat Bermata Coklat. Inilah pertemuan kembali yang tak pernah saya sangka akan dituliskan Tuhan. Pada saat pertemuan kembali antara kita berdua, saya menemukan bukti kebesaran Tuhan mengenai 'waktu'. Time does change everyone, including my best friend.

Kalau boleh dibilang, bertemu kembali dengan seseorang itu seperti membeli buku cerita. Membuka kembali dokumentasi kisah lampau dan menemukan sisi-sisi yang baru terkuak setelah lama kita meninggalkannya. Hal itu terjadi dalam pertemuan saya dengan teman kuliah saya yang sudah berpisah selama lebih dari 5 tahun. Dia tak sungkan menceritakan kembali kisah lamanya, kisah yang dulu tidak saya ketahui kebenarannya.

Pertemuan itu Misteri

Pertemuan saya dengan sepupu jauh saya bernama Apik dan Anik (mereka kembar), pada saat kita menempati kos yang sama di masa kuliah dulu, membawa saya kepada hal kecil yang mengejutkan. Ternyata ayah mereka, Prof. Ali Saukah adalah pengarang buku paket pelajaran Bahasa Inggris yang saya pakai di SMP dulu.

Kemudian, pertemuan saya dengan sepupu saya yang lain bernama Sinati, membawa Sinati bertemu dengan Taufik, suaminya sekarang. Sinati juga satu kos dengan saya, Apik serta Anik. Pada suatu hari, Taufik, yang juga sepupu saya dari pihak ibu, datang untuk bertemu dengan saya. Saya sedang di luar kos. Terpaksa Sinati menemui Taufik sehingga terjadilah perkenalan lebih jauh di antara mereka hingga akhirnya membawa mereka ke jenjang pernikahan.

Saya percaya, pertemuan itu ada misterinya. Saya sering tertawa sendiri saat mengingat-ingat berbagai pertemuan yang saya alami, karena baru mendapati hikmah pertemuan itu di masa sekarang.

Pertemuan adalah Pembelajaran

Peristiwa apa pun yang terjadi di dunia ini membawa pembelajaran, tak ketinggalan pula sebuah pertemuan, baik pertemuan formal maupun ketidaksengajaan dalam keseharian kita. Saya belajar bagaimana mengelola keuangan dan pentingnya berinvestasi setelah bertemu sahabat saya yang satu. Saya belajar bagaimana menjadi sedikit galak, judes dan tegas setelah bertemu sahabat saya yang lain.

Saya belajar untuk tidak memarahi orang -karena jujur dimarahi orang tu ngga enak banget, dari rekan kerja saya di kantor. Saya belajar untuk murah senyum dari orang yang baru saja berpapasan dengan saya di sebuah perjalanan, saya pikir ternyata melihat orang tersenyum itu mampu membahagiakan kita. Di hari-hari kemudian, ketika bertemu dengan seseorang, saya asik bertanya-tanya dalam diri saya, hmmmm apalagi yaa yang akan saya pelajari dari orang ini? :D

Begitulah beberapa cara saya memaknai pertemuan, bagaimana dengan Anda?

Monday, June 11, 2012

Ridho Orang Tua, Ridho Allah

Saya bekerja di Telkom. Sebuah perusahaan milik negara sekaligus perusahaan publik yang besar dan keren. Besar karena perusahaan ini punya lebih dari 20.000 karyawan, kantornya tersebar dari Sabang sampai Merauke. Di kota-kota besar di Indonesia, Gedung Telkom bisa kita temui di lokasi-lokasi strategis, karena perusahaan ini sudah ada konon sejak masa penjajahan Belanda.

Keren karena bisnisnya saat ini sedang ngetrend. Kecuali bisnis telepon kabel-nya yang sudah ketinggalan jaman, perusahaan ini punya bisnis seluler, call center, infrastruktur telekomunikasi, properti, aplikasi, konten dan koneksi internet bagi semua kalangan. Telkom juga listing di New York Stock Exchange, London Stock Exchange dan tercatat di Tokyo Stock Exchange. Itu membuat Telkom menjadi perusahaan yang lebih profesional dibandingkan perusahaan milik negara yang lain. Tiap tahun Telkom menyumbang lebih dari 10 triliun laba dan separuhnya menjadi pendapatan negara di luar pajak.
Kata orang-orang di luar Telkom yang saya temui, hebat sekali saya bisa kerja di Telkom. Para fresh graduate banyak yang mengincar Telkom sebagai perusahaan idaman buat bekerja.

Saya pernah ditanya beberapa mahasiswa dan orang-orang yang saya temui tentang bagaimana usaha saya hingga bisa diterima kerja di Telkom. Saya bilang saja, ya saya ikut melamar dan ikut seleksinya. Lantas mereka tanya lagi, susah tidak seleksinya. Saya jawab susah banget, apalagi tes TOEFLnya. Kemudian mereka heran dan kembali bertanya, loh kalau susah kenapa saya bisa diterima? Menjawab pertanyaan tersebut, saya selalu melontarkan kalimat favorit saya dengan sangat yakinnya  “ini semua karena doa orang tua”.

Keyakinan saya, ridho orang tua adalah ridho Allah, doa orang tua sangat didengar oleh Allah. Saya bisa begitu yakin karena sudah membuktikannya berkali-kali. Bahkan sebelum para motivator menjadikan hal tersebut sebagai materi motivasi mereka. Keyakinan saya, bila saya menginginkan sesuatu, buat bahagia orang tua dulu, dan keinginan saya Insya Allah tercapai.

Tahun 2000, saya ingin bisa diterima dan bersekolah di SMA favorit saya. Waktu itu masih pakai NEM (Nilai Ebtanas Murni) sebagai syarat masuk. Saya sempat pesimis, apakah NEM yang saya dapat bisa memenuhi standar syarat masuk SMA tersebut. Pasalnya ketika EBTANAS berlangsung saya sedang sakit,meski akhirnya saya dapat mengerjakan seluruh soal ujian.

Akhirnya, saat liburan menunggu pengumuman EBTANAS, saya pergunakan untuk membantu orang tua saya di rumah. Pagi-pagi saya bangun, membersihkan kamar saya dan kamar orang tua saya, menyapu rumah dan halaman kemudian mencuci baju dan melipatnya. Pokoknya pulang kerja, orang tua taunya rumah bersih. Begitu setiap hari saya lakukan. Hingga tiba hari pengumuman.

Hasilnya NEM saya peringkat ke 8 satu sekolahan, dan 20 besar tingkat kabupaten! Saya pun bisa dengan tenang mendaftar ke SMA favorit saya tanpa khawatir tersingkir karena NEM saya termasuk tinggi.

Tahun 2003, tiba saatnya saya melanjutkan pendidikan saya ke universitas. Saya sama sekali tidak punya ide mau kuliah di mana, yang ada di benak saya, kalau bisa saya ingin kuliah di universitas negeri supaya biayanya murah dan orangtua saya mampu membayarnya. Tes pertama yang saya ikuti adalah Ujian Masuk UGM (Universitas Gadjah Mada) Yogyakarya. Jalur masuk tersebut baru pertama kali diadakan oleh UGM. Saya dan kawan-kawan pun tidak memiliki bayangan seperti apa tes dan hasilnya nanti. Ya pokoknya ikut aja dulu.

Setelah mengikuti tes, saya melakukan rutinitas saya sebagai full-time housekeeper. Hampir semua pekerjaan di rumah, saya kerjakan, termasuk memasak. Pokoknya selama hampir dua bulan menunggu pengumuman, saya layani orang tua saya. Pulang kantor, rumah sudah kinclong, baju sudah dicuci, makanan sudah siap, orang tua tinggal istirahat. Hingga tiba hari pengumuman...

...dan saya diterima di UGM untuk pilihan kedua, di FISIPOL.

Kali ini saya tidak menyangka saya bisa diterima. Dan satu kelas saya yang diterima hanya empat orang, termasuk saya, padahal hampir sekelas mengikuti tes tersebut. Lebih mengagetkan, teman-teman yang lebih pandai dari saya, tidak diterima. Saya merasa porsi belajar saya biasa saja, bahkan sempat saya kebut semalam. Sungguh karunia yang luar biasa, saat teman-teman saya masih harus berjuang ke universitas lain, saya justru hanya sekali tes dan diterima.

Dua kali memiliki pengalaman yang hampir sama, saya menyimpulkan bahwa hal ini sangat mungkin berkat orang tua saya. Kalau orang tua saya senang, saat mereka berdoa, doanya tambah powerful. Rumus inilah yang saya terapkan juga untuk melamar pekerjaan di Telkom. Dan terbukti, selang 6 bulan setelah saya lulus, saya langsung diterima bekerja di perusahaan sekelas Telkom.

Keyakinan inilah yang saya pegang hingga saat ini. Tentu saja saya juga berikhitiar dan berdoa untuk apa yang saya inginkan. Tapi diatas semua itu, doa dan ridho orang tua sangat berpengaruh. Sama halnya ketika saya mengalami kesulitan untuk meraih keinginan saya, mungkin saja ada hal antara saya dan orang tua saya yang kurang beres. Maka saya berusaha menyelesaikannya terlebih dahulu dan berusaha membuat keduanya mengerti, senang dan tenang terhadap keputusan saya.

Allah berfirman dalam ayatnya “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu janganlah engkau mengatakan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka menyayangi aku sejak kecil” (QS. Al-Israa’:23-24)

Sekali lagi, ridho orang tua adalah ridho Allah :)

Sunday, June 19, 2011

Yes, I Can!

Ini cerita sederhana, sebenarnya. Tentang kepindahanku ke kos yang baru.

Sekitar tiga bulan yang lalu, aku tiba-tiba merasa hidupku begitu-begitu saja. Melewati jalan yang sama tiap berangkat kerja, membuka pintu pagar yang itu-itu saja dan melihat pemandangan yang itu-itu saja.

Lantas aku memutuskan untuk pindah.

Tak ada yang salah dengan kos lamaku. Fasilitas lengkap, kamar mandi dalam, laundry, ibu kos yang baik dan disiplin serta makanan enak yang tersedia setiap saat (meski tidak gratis :P). Anehnya aku merasa mentok. Merasa seperti siput yang berjalan sangat pelan atau seperti beruang yang kegendutan dan malas keluar sarang. Kenyamanan dan kemudahan ternyata menggerogotiku dari dalam. Pelan tapi pasti.

Ya, aku memutuskan untuk pindah.

Sempat berpikir berulang kali untuk melakukannya. Kos yang aku incar fasilitasnya sangat terbatas rupanya. Boro-boro makanan enak, kamar mandi saja berada di luar kamar, tak ada laundry, tak ada perabot, ibu kos agak judes. Meski lebih murah, tapi dari segi harga tak begitu jauh dari kos lama.

Untuk pindah ke sana pun pasti butuh waktu dan tenaga mengingat barang-barangku yang tidak sedikit. Ditambah lagi rasa sungkan untuk pamit dengan ibu kos lama dan tak ada teman kantor atau teman main di sana yang bisa diajak sharing. Keuangan pun lagi cekak untuk membiayai kepindahanku ke sana.

Satu-satunya hal kenapa aku menginginkannya? Karena : Ada jendela di sana, di mana cahaya matahari dan udara segar bisa masuk dengan leluasa. Ada hawa-hawa kebebasan dan gejala perubahan di sana. Itu yang aku butuhkan.

Akhirnya aku pindah.

...dengan mendadak. Dan ternyata tak ada masalah, segalanya cenderung dimudahkan. Banyak teman yang membantu pindahan. Ada saja rejeki buat beli perabot. Suasana baru. Kamar yang lebih bersahabat. Kemandirian yang lebih baik daripada sebelumnya. Lembaran baru. Dan harapan baru.

Look, I can do it if I want! I've moved on, how about you?



Tuesday, April 13, 2010

Dear God

Akhir-akhir ini aku kembali mengalami kesulitan meneguhkan keputusanku, lebih susah dari membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Malahan aku curiga jangan-jangan ini sekedar rasa penasaranku saja.

Aku menginginkan sesuatu, aku membutuhkannya. Aku belum yakin hal itu sudah benar-benar hilang atau belum. Satu yang pasti, hal itu belum aku miliki sepenuhnya.

Ya Allah, aku tahu bila aku meminta hal itu pada-Mu, Engkau tidak akan segan untuk mengabulkannya.

Tapi permasalahannya apa aku siap untuk menerima semua konsekuensinya dan bertanggungjawab atasnya? Apa hal itu memang baik bagiku? Apakah semua akan baik jadinya ketika aku tahu ini hanya karena aku penasaran?

Sebaliknya, bagaimana aku tahu semua itu ketika aku tak memilikinya? Aku bahkan sempat menyatakan siap dengan baik-buruknya, sebab tak ada hal lain terbersit kecuali aku berniat menerima semua apa adanya. Mungkin aku butuh kesempatan lagi Ya Allah.

Maafkan aku untuk selalu bertanya-tanya dan memprotes semuanya. Inilah aku Ya Allah, aku sedang belajar bersyukur, pun masih terseok-seok dalam menjalaninya.

Aku butuh jawaban untuk mengerti diriku sendiri Ya Allah. Sampaikanlah melalui mimpi di malam nanti atau lewat serangkaian pertandamu di esok hari.

Terima Kasih Allah.

Friday, February 27, 2009

Kisah blogku yang dulu

Aku hampir putus asa ketika memutuskan untuk membuat blog yang baru. Pasalnya tiga blog yang aku buat sebelumnya, bermasalah. Bahkan terakhir aku susah payah memutar otak, mengingat-ingat account apa yang aku gunakan, fyuh...gagal. Dua blogku yang lain, hmm dibatasi oleh sistem di kantorku supaya sulit diakses.

Pasti ada awal dari sebuah kisah, dan itulah awalannya. Mengapa aku mencoba membuat satu blog baru lagi? Karena gairahku untuk menulis meluap-luap, aku gerah lama sekali tidak bisa mengungkapkannya.

Sebenarnya bisa saja aku menulis di Facebook -yang sekarang sedang luar biasa digandrungi orang-orang. Tapi, tidak, Facebook bukan tempat menuliskan ide-ideku, setidaknya bukan tempat yang tepat. Facebook terlalu terbuka. Maksudku, aku hanya ingin menulis. Alih-alih punya obsesi agar tulisanku dibaca atau dikomentari oleh teman-teman, aku lebih memilih murni menulis. Bisa saja aku mengatur supaya tulisanku berstatus 'privat', tapi yah aku menemukan alasan utamanya: Blog lebih sesuai sebagai tempatku ber-ba-bi-bu.