Showing posts with label pribadi. Show all posts
Showing posts with label pribadi. Show all posts

Monday, January 13, 2014

Surat Cinta untuk Adikku

Ada perasaan bergejolak mendapati kini adikku hampir berusia 25 tahun. Seorang lelaki seperempat abad yang kini sedang mencoba menaklukkan ganasnya ibukota. Mencari sesuap nasi, sebongkah berlian, selaksa kehidupan dan secercah jati diri. Dulu ia hanya seorang adik kecil yang sangat hiperaktif, ingin tahu segala hal, tak pernah mau kalah dengan kakaknya.

Masih lekat di ingatanku, betapa sebalnya aku terhadap adik kecilku waktu itu. Apapun yang aku punyai direbutnya. Tak pelak kami harus saling dorong dan diakhiri dengan jerit tangis yang membuat ibu marah hingga kemudian mencubit kami.

Betapa merepotkannya adikku itu ketika kami menuntut ilmu di sekolah dasar yang sama. Aku harus mengurusnya dan kadang membelanya saat ia ketakutan menghadapi teman-teman jailnya. Para guru pun selalu memanggilku apabila terjadi sesuatu dengan adikku itu. Dia selalu mengikuti kemana aku pergi. Bila aku merencanakan keluar rumah tanpa sepengetahuannya dia pasti merengek-rengek minta diajak.

Suatu kali, aku, adikku dan salah seorang temanku pulang dari solat di masjid kampung. Sembari berjalan pulang, kita membicarakan tentang motto hidup masing-masing.

Adikku dengan lantang bicara "Kak! Moto hidupku adalah kunci orang yang sukses itu meniru orang yang sukses!".

Sungguh motto yang tidak biasa untuk anak usia sekolah dasar. Dibanding motto hidupku "Hidup penuh misteri", sepertinya motto hidupnya lebih 'WAH'. Lagian, aku hanya mengutip motto hidupnya salah seorang tokoh film seri yang aku gemari. Kenapa adikku bisa memikirkan motto hidup yang lebih hebat.

Antara ingin membuktikan motto hidupnya atau hanya kebetulan, adikku ini selalu saja mendaftar sekolah di sekolah yang sama dengan yang aku masuki. Sekolah unggulan di daerah kami. Meski kita akhirnya kuliah di universitas yang berbeda. Sebenarnya, yah sekalian sedikit menyombongkan diri sebagai seorang kakak, hehehe. Adikku berjuang dengan segenap usahanya untuk bisa masuk sekolah-sekolah unggulan tersebut.

Kejadian yang aku ingat betul waktu adikku menempuh pendidikan sekolah menengah atas adalah ia merasa dikucilkan oleh temannya. Sebenarnya aku tidak mengerti kenapa teman-temannya mengucilkannya. Apa karena dia bergabung di organisasi religius di sekolahnya lantas teman-temannya tidak suka dengan adikku, atau karena hal lain.

Tapi kehidupannya di bangku kuliah berbeda 180 derajat dengan masa-masa SMAnya. Dia punya banyak teman dan terlihat sangat bahagia dengan pencapaiannya itu. Adikku ini kalau aku amat-amati memiliki rasa setia kawan yang besar. Dan aku bangga dengan hal itu.

Kini dunia kerja menjadi tantangan selanjutnya bagi adikku, apalagi di kota besar seperti Jakarta. Dunia kerja tidak persis seperti dunia pendidikan, dimana seseorang punya banyak waktu luang untuk bergaul dengan santainya. Dunia kerja lebih banyak tentang bagaimana kita lebih realistis memikirkan masa depan kita, memikirkan diri sendiri dan apa yang akan kita raih.

Satu-satunya hal yang mampu aku berikan untuk adikku memulai kehidupan barunya itu tak lain adalah kepercayaan. Karena kadang yang minim diberikan kepada anak muda adalah kepercayaan. Tanpa kepercayaan dari orang terdekatnya, anak muda akan mudah rapuh dan jatuh. Suntikan kombinasi antara motivasi dan kepercayaan akan memberikan energi yang luar biasa bagi seseorang untuk bertumbuh.

Setiap orang pun diciptakan dengan segala kelemahan serta kelebihannya, begitu pula adikku.

Aku percaya, suatu saat dirimu akan jadi orang yang luar biasa, bermanfaat bagi sesama, berguna bagi bangsa. Hidup pasti ada kalanya bertemu dengan kerikil kecil, gunung terjal, jalan berliku, aliran sungai deras, bahkan samudra luas cobaan. Tapi kamu pasti bisa melaluinya dan menjadi dewasa karnanya.

Tetaplah genggam motto hidupmu itu adikku, dan jangan lupa bahwa ada aku, bapak, ibu, adik kecilmu dan Allah Yang Maha Besar yang siap menjadi sandaran kala kau butuhkan. Kamu tidak sendiri. Be strong there.


Friday, February 22, 2013

Belajar Tenggelam

"Kau harus belajar tenggelam. Menyerahkan semuanya pada air. Tenang, jangan takut dan jangan melawan. Bernafaslah, kau tahu kau bisa bertahan di dalamnya. Biarkan air membawamu dengan dominasinya. Pasrah seperti kau memasrahkan hidupmu pada Tuhan"

Bersama suara itu, aku mengambil nafas. Masuk ke dalam air sambil melingkarkan tangan di lutut. Membatu. Tenggelam. Dan benar saja, air mulai mengangkatku pelan, perlahan menuju ke permukaan. Sesekali aku masih takut dan panik. Tapi aku mencobanya lagi dan lagi.

"Sekarang coba rentangkan kaki dan tanganmu. Tetap tenang dan ikuti kemauan air. Pasrahkan semuanya. Cobalah mengambang. Apabila kau sudah cukup yakin telah menyatu dengan air, mulai ayunkan tanganmu. Rasakan bahwa bersamanya kau dapat bergerak ke arah yang kau mau"

Ajaib. Aku bergerak, aku mengambang dan tidak tenggelam.

Lebih dari belajar berenang, ternyata hari itu aku kembali mengingat satu pelajaran penting kehidupan: tawakal.










Monday, January 21, 2013

Tentang Rasa

Rasa, kau sebenarnya datang darimana?
Dari pikiran sang otak
Atau dari asa si hati
Tolong beritahu aku

Kenapa rasa?
Tiap kali otak bekerja
Dia bilang mudah sekali membuatmu
datang dan pergi
Tapi beda soal kata si hati
sepertinya dia punya alam sendiri
untuk menyimpanmu

Aku curiga,
Jangan-jangan kau berkong-kalikong dengan waktu
Entah kau ini bermuka berapa
pun susah menerka apa maumu
tapi waktu biasa menang
atasmu

Baiklah, mari kita tanya sang waktu.

Thursday, April 12, 2012

Berbeda atau Mati! (Tak Sekedar Berbeda)

Eh, ekstrim sekali ya pernyataan saya. Pernyataan saya yang sangat keren itu terinspirasi dari judul buku pakar marketing Jack Trout dan Al Ries “Differentiate or Die”. Terus, mengapa harus berbeda?

Begini ceritanya...

Beberapa waktu yang lalu, teman kuliah saya dengan terburu-buru mengumumkan di forum Blackberry Messenger kami bahwa sedang ada obral besar-besaran di sebuah pusat perbelanjaan di Bandung. Obral itu memberondong para pengunjung dengan bertumpuk baju-baju bermerk! GAP, Calvin Klein, Guess dan sebagainya; dari mulai kemeja hingga celana jeans dengan harga turun lima kali lipat dari harga asli. Teman saya menambahkan bahwa para pengunjung ramai mengerumuni tumpukan itu untuk mendapatkan baju bermerk favorit mereka dengan harga murah.

Sebagian orang men’dewa’kan merk atau dalam bahasa marketing sering banget disebut brand. Coba deh jawab pertanyaan saya, mana yang kamu pilih antara dua buah kemeja sama persis dari bahan, ukuran, harga dan kualitasnya, akan tetapi di salah satu kemeja tertera merk Guess?

Ada contoh lain, mana yang kamu pilih, dua orang cowo yang sama-sama ganteng, tinggi, pinter, kaya, rajin menabung, sementara yang satunya dikenal dengan nama Afgan Syahreza??

Saya tuh pengen membahas, kalau merk atau brand itu saat ini ngga hanya berlaku buat barang jualan macam baju, mobil, jam tangan, tas, atau bahkan hand body lotion dan pasta gigi. Sekarang orang pun identik dengan merk!

Bingung ngga? Biar tambah bingung saya mau cerita lagi...

Dalam marketing, daya tarik merk atau brand membawa pengaruh yang besar. Para pengusaha, pebisnis, pedagang dan pemasar banyak yang sadar betul bahwa membangun dan memperkenalkan brand adalah kunci pertumbuhan dan sumber keuntungan. Bahkan, brand memiliki kekuatan untuk menentukan harga yang akan dibayar oleh konsumen dan harga saham yang akan dibeli oleh investor.

Memilih nama brand untuk sebuah produk penting dari sisi promosi, karena nama brand mencerminkan isi dan kegunaan produk tersebut. Brand juga membantu pemasar untuk menentukan posisi produk tersebut di mata pelanggan. Sebab pada saat yang sama, nama brand menciptakan kesan yang ada di balik produk.

Sekarang apa yang ada dalam pikiranmu ketika saya sebutkan nama Afgan Syahreza? Atau Ariel Peter Pan? Atau Justin Bieber? Mungkin kalau saya tanyakan juga pertanyaan itu pada orang yang baru saya kenal di supermarket, ia akan memberi jawaban yang tidak jauh berbeda dengan kamu. Lain halnya kalau saya sebutkan nama Hanna ke mereka, kayaknya mereka bakal bilang “oh itu nama kucing saya”. Serius habis itu saya langsung ngeloyor pergi deh.

Nama kita itu sebenarnya merk atau brand diri kita. Melalu nama lah kita diidentifikasi. Hal utama yang dapat membedakan kita dengan orang lain pun adalah nama kita. Akan tetapi bagaimana bila ternyata di suatu kondisi bukan kita satu-satunya pemilik nama yang kita sandang? Di titik ini lah kita perlu untuk menjadi berbeda.

Sebetulnya meski satu nama dapat dimiliki oleh lebih dari satu orang, secara fisik tentu masing-masing orang tetap saja berbeda. Namun berbeda secara fisik saja tidak cukup. Cara lain untuk menjadi berbeda adalah mengembangkan kepribadian dan identitas yang unik. Mulai dari penampilan fisik, cara berbicara, cara jalan, cara melirik (haishh), cara makan, respon kita terhadap suatu hal, hingga cara berfikir dan menyelesaikan masalah. Pemilihan selera lagu, pemilihan jenis kendaraan, pemilihan sekolah, tempat kerja dan lain sebagainya.

Mengapa kita perlu untuk menjadi unik? Karena hidup terlalu singkat untuk menjadi biasa saja atau sama dengan kebanyakan orang.

Langkah selanjutnya, setelah menjadi unik, menurut saya kita itu perlu dikenal. Karena sayang sekali kita sudah unik tapi diem aja nyempil di bagian mana di dunia ini, sia-sia sudah keunikan kita.

Mengapa kita perlu untuk dikenal? Karena hidup terlalu singkat hanya untuk menjadi orang biasa dan tidak terkenal. Yess! Kalau perlu seterkenal Afgan, Justin Bieber atau Michael Jackson *sambil benerin kerah baju. Eh Rosulullah saja orangnya terkenal lho, dan menurut Buku Pintar yang saya baca jaman SD, beliau adalah orang paling berpengaruh di dunia. Lha terus masa kita tidak meneladani beliau.

Kalau dalam sudut pandang brand ada ungkapan seperti ini, kuat atau tidaknya karakter brand itu ditentukan saat calon pembeli berada di depan etalase dan memilih barang. Dari berbagai pasta gigi yang berderet misalnya, pasta gigi mana yang akhirnya ia beli adalah yang mampu memenangkan hati pembeli tersebut *ciyeehhhh memenangkan hati boww....

Sampai disini paham kan sodara-sodara?

Kalau paham, kita akan lanjutkan pelajaran selanjutnya, di posting selanjutnya tentang brand positioning buat diri kita (apa lagiii iniiii). Gimana trik-trik menjadi unik dan dikenal sebagai seorang individu di muka dunia ini *halah*. Moga aja tulisan saya nanti bisa selebay janji saya ini yaa, jadi mari kita tunggu bersama-sama tulisan saya selanjutnya, hahaha....