Saturday, June 06, 2026

Mari Kita Rayakan Bersama

 "Bun, IPK Ayah kalau dihitung sama nilai sidang ini tuh 3,82. Tapi karena kelebihan 2 semester jadi ngga bisa cum laude"

"Ngga papa Ayah. Bisa terkumpul tekad untuk lulus S3 aja sudah hebat banget"

---

Demikian secuil percakapan kami di atas kereta malam menuju Bandung. Setelah sehari semalam berada di Yogyakarta. Setelah sidang doktoral suamiku di Fakultas Filsafat UGM yang berlangsung siang tadi.

Sidang tertutup yang dijadwalkan pukul 13.30 waktu setempat tersebut sedianya dihadiri oleh 9 orang penguji. Sayangnya salah satu penguji berhalangan hadir. Suamiku sudah bersiap di ruang sidang sejak pukul 12.30, sedangkan aku menunggu di luar.

Satu per satu penguji datang dan memasuki ruang sidang, termasuk di antaranya ibu Dekan selaku promotor. Di sela-selanya, ku buka kembali foto daftar penguji di ponselku. Beberapa di antara penguji sudah menyandang gelar profesor, yang lain tentunya minimal bergelar doktor. Sekilas ku cari dua nama di antaranya di mesin pencari, Prof Mukhtasar dari UGM dan Prof Robby dari UIN Sunan Kalijaga.

Tak bisa ku bayangkan, kalau aku yang sidang dengan sederet nama penguji itu mungkin sudah "kena mental". Namun aku yakin suamiku bisa menghadapi dan menjalaninya dengan baik. Terbukti 2 jam kemudian sidang sudah selesai. Nilai A- diperoleh dari perjuangan suamiku di ruang sidang. Aku serta ibu dan adikku yang turut hadir dengan bangga memberi selamat kepadanya.

---

Suamiku melanjutkan kuliah bukan dengan beasiswa dari pemerintah ataupun suatu lembaga. Kami berdua urunan, mengumpulkan pundi-pundi sendiri untuk biayanya. Ia akhirnya bersedia melanjutkan kuliah doktoral. Selain karena tuntutan profesinya juga karena aku yakinkan bahwa waktu itu, masa pandemi, pas sekali untuk melanjutkan kuliah karena bisa dilangsungkan secara daring.

Bukan tanpa cobaan juga dalam perjalanannya. Kadang kondisi keuangan juga naik turun, ada kalanya menjelang pembayaran biaya kuliah terseok-seok mencari dana. 

Saat diwajibkan menerbitkan jurnal pun, menjadi tantangan tersendiri bahwa ternyata penerima jurnal filsafat di dalam negeri tidak sebanyak jurusan lainnya.

---

Kilas balik ke masa lalu, suamiku berasal dari keluarga sangat sederhana. Almarhum bapak mertua merupakan pensiunan tentara yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan. Almarhum telah gantung seragam sejak tahun 1985, kala itu suamiku yang merupakan anak ke 9 dari 10 bersaudara baru berusia 3 tahun. Gaji pensiunan tentara berpangkat tak tinggi, digunakan menghidupi keluarga besar di Kabupaten Bandung. Sehingga bersekolah tinggi bukan menjadi cita-cita. Asalkan lulus SMA atau SMK sudah bisa buat modal untuk cari kerja, termasuk untuk suamiku. Cita-citanya kuliah S1 saja tak berani ia mimpikan sebab tak ada uang.

Takdirnya ketika lulus SMA malah membawanya aktif di organisasi pendaki gunung dan perambah rimba, Wanadri. Aktivitasnya di Wanadri membuatnya mengenal orang-orang dengan berbagai latar belakang, salah satunya tentu para mahasiswa universitas ternama di Bandung, ITB, Unpad, Unpar, yang beruntung bisa menempuh bangku kuliah.

Dari obrolan-obrolan ringan dengan sesama rekan Wanadri, rupanya niatan berkuliah tak bisa ia bendung. Bermodal nekad, malam demi malam ia habiskan di sekretariat Wanadri dengan belajar demi mendaftar mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Dengan seizin Allah, ia diterima di Jurusan Filsafat Islam, UIN Sunan Gunung Jati, Bandung pada Tahun 2003, 3 tahun setelah lulus SMA.

"Ayah mengenal filsafat dari membaca bukunya Nietzche punya anak ITB", ujarnya menceritakan perkenalannya dengan filsafat. 

Diterima di universitas negeri pun karena minim biaya, suamiku tidak mampu menyewa kos. Tiap berangkat kuliah ia tempuh dengan mengayuh sepeda dari Ciparay, Kabupaten Bandung ke Kampus UIN Cibiru, Kota Bandung dengan jarak sekitar 17 km. Biaya kuliah pun diperjuangkan dengan urunan dari berbagai pihak. Jika dapat sedikit uang dari hasil kegiatan Wanadri, yang sebenarnya banyak perannya hanya sebagai relawan saja, maka disisihkan untuk kuliah. Ibu mertua yang melihat tekad anaknya juga mengusahakan yang terbaik untuk mendukung. Hingga suami lulus S1 dalam waktu 4 tahun.

Lulus kuliah, rupanya suami mendapat kepercayaan dari Dosennya untuk membantu sebagai dosen luar biasa di kampus UIN dan juga di salah satu kampus swasta. Mungkin juga karena suami terbiasa menjadi fasilitator saat training di Wanadri sehingga public speaking-nya cukup baik. Ya mungkin mengajar juga merupakan passion-nya.

Ketika pertama kami bertemu, suamiku sudah menyandang gelar Magister Filsafat dari UGM. Kelihatannya ia akhirnya berkuliah S2 untuk mendukung pekerjaannya sebagai Dosen. Ia mendaftar ke UGM pada tahun 2009 awalnya lagi-lagi nekad menggunakan biaya pribadi. Sampai pada akhirnya karena kehabisan uang, ia hanya bisa bertahan sampai semester 3. 

Cuti kuliah menjadi keputusannya, sambil mencoba mengupayakan beasiswa dosen agar ia bisa melanjutkan kuliah S2nya. Ia kembali ke rumah dan mengisi waktunya dengan membuka warung jajanan dengan uang yang tersisa. 

Alhamdulillah akhirnya beasiswa dosen berhasil diperoleh dengan dukungan dari kampus swasta tempat ia mengajar, karena syarat beasiswa tersebut salah satunya adalah Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN). Suami bersemangat kembali ke kampus UGM di Yogya. Meski sayangnya ia harus mengulang perkuliahan dan tertinggal dari teman seangkatannya. Namun demikian suami berhasil lulus dengan predikat cum laude pada 2012.

"Ayah bahkan membantu mengerjakan thesis 2 orang teman ayah", akunya.

---

Hari itu, mungkin selaiknya sidang tertutup, suasana di luar ruang sidang pun sepi. Aktivitas mahasiswa S1 bertempat di gedung lainnya di kompleks yang sama. Tadinya suamiku pun berniat mengikuti sidang sendiri, ia sudah terlebih dahulu membeli tiket keberangkatan dan kepulangannya. Aku lantas meniatkan diri mendampinginya, di tengah-tengah kehamilan trimester dua-ku.

Aku ingin turut merayakan perjalanan seseorang yang tidak menyerah pada suatu kondisi serta menghargai ilmu pengetahuan dan pendidikan sebagai suatu hal yang bermakna.

Aku jadi ingat, dulu sebelum dipertemukan dengan suamiku, banyak juga laki-laki yang mundur dari perkenalan ke arah pernikahan karena aku memiliki pendidikan tinggi. Bahkan ada juga yang bilang, bukan pendidikan tinggi yang dicari dari wanita. Sekarang aku mengerti bahwa Allah menyiapkan seseorang yang paling pas, yang saling mendukung dalam hal ilmu dan pendidikan.

"Ayah ingin suatu saat bisa dapat kesempatan post-doctoral di luar negeri dan membawa keluarga". Aamiiin. Siap ayah, bunda dukung, insya Allah untuk ayah yang medok Bahasa Sunda-nya dan masih belum fasih betul bicara Bahasa Inggris-nya, bahasa bukan halangan untuk meraih ilmu lebih tinggi lagi.

Selamat ya ayah, bunda bangga sama ayah, barakallah :) 

No comments: