Friday, March 15, 2013

Gugup Menaklukkan Malaikat

Ini adalah perjalanannya yang kedua, namun dia tetap merasa gugup. Ada saja yang dia risaukan. Sesekali dalam pikirannya, dia mencoba memastikan, hal apa yang mungkin saja tertinggal.


Pagi benar rombongan telah berangkat. Keperluan perjalanan telah disiapkan semalam sebelumnya hingga larut. Buku-buku yang akan diantar pun tak puas hanya ditempatkan dalam kardus. Didandani pula tumpukan itu dengan plastik bening, label berwarna dan dibungkus bak kado ulang tahun.


'Dandanan kali ini bahkan lebih sempurna daripada buku-buku yang aku antarkan ke pelosok hutan karet di Tulang Bawang Barat' gumamnya dalam hati hanya untuk menepis rasa gugupnya.
 
Sebenarnya, yang membuat dia lebih gugup adalah amanah untuk memeriahkan acara di tempat yang akan menjadi tujuan. Berilah dia seruangan penuh bapak-bapak atau ibu-ibu kantor, kalau tidak pun panggil ratusan teman sebayanya, maka akan dibuatnya tertawa seisi ruangan. Hanya, keberuntungan membawanya lagi-lagi bertemu dengan anak-anak kecil. Bagi dia, anak-anak itu adalah makhluk yang belum bisa dikenalnya. Sudah begitu, mereka tinggal di pelosok, susah lagi dia menebak bagaimana tingkah laku mereka.


Satu pertanyaan di kepalanya bergelayut mengalahkan jalan terjal berbukit yang dilalui sejak enam jam perjalanan: 'bagaimana caraku membuat mereka tertawa bahagia?'
 
Sial saja, tak genap dia melamunkan jawaban pertanyaan tunggalnya, mobil sekonyong-konyong merapat di depan sebuah sekolah. Ratusan anak SD berbaris, bertepuk tangan dan bernyanyi menyambut rombongan. Guru-guru pun tak kalah melebarkan senyumannya, senang bukan kepalang kedatangan tamu dari kota yaitu para pengantar buku.


Lebih karena tak sempat berpikir lagi, dia kubur dalam-dalam rasa gugupnya. Lagipula dia merasa dia tidak sendiri. Ditengoknya ke belakang, dia percaya teman-temannya akan membantu menghadapi malaikat-malaikat kecil ini. Riuh tepukan dan nyanyian penyambutan agaknya cukup berhasil membuat haru suasana dan mencairkan teriknya matahari siang itu.


"Tepuk Telkom!"
 
Prok prok prok
 
"Kring kring!"
 
Prok prok prok
 
"Kring kring"
 
Prok prok prok
 
"Hallooooooo....whuussssshhh...."
 
Bukan main senangnya anak-anak itu menirukan tepuk Telkom. Semangat sekali mereka bersama-sama rombongan pengantar buku yang didaulat menguasai panggung 2x2 meter itu. Panggung yang terbuat dari meja kelas digabung menjadi satu dan diberi atap bambu. Kecil tapi kokoh.


Beberapa anak antusias bergabung di panggung, mereka malu-malu tatkala ditanya
 
'suka baca buku apa?'
 
Dan satu anak menjawab cepat,
 
'LKS......!'
 
Sontak semuanya tertawa. Rupanya tak ada buku yang berkesan buat anak-anak itu selain Lembar Kerja Siswa atau LKS. Tahukah mereka Doraemon? Tahukah mereka Mickey Mouse? Atau apakah ada dari mereka yang suka dengan Gatotkaca?


Bakti Bagi Negeri #Etape 11 Lebak, Banten
Siang itu, sembari melambaikan tangan kepada sosok-sosok kecil yang berlalu satu per satu dari pekarangan sekolah, dia memulai lagi roda-roda pikirannya. Rasa gugupnya belum juga mati, kendati begitu dia kini mengerti satu cara untuk membuat anak-anak tertawa bahagia. Jangan berfikir terlalu banyak, berbahagialah dengan mereka secara sederhana, lakukan apa saja bersama mereka. Sebab, anak-anak itu adalah kanvas polos yang masih sanggup menampung segala kebahagiaan.

Buku-buku itu masih berjajar rapi di panggung, walau warga sekolah sudah beranjak. Buku-buku telah diantarkan. Dia menatapnya lama dan berdoa, semoga buku-buku ini mampu melukiskan kebahagiaan lainnya di kanvas polos para malaikat kecil itu. Kebahagiaan melalui cerita-cerita, gambar-gambar dan ilmu-ilmu di dalamnya.

Hari itu, dia tetap saja gugup, menanti perjalanan selanjutnya bertemu malaikat-malaikat kecil lainnya.

---

Tulisan ini adalah cacatan kecil perjalanan pendistribusian buku, Gerakan Setengah Juta Buku untuk Anak Indonesia melalui Bakti Bagi Negeri, Etape 11 Lebak, Banten. Berbagi buku, berbagi inspirasi, salurkan donasimu, klik baktibaginegeri.org 



Friday, February 22, 2013

Belajar Tenggelam

"Kau harus belajar tenggelam. Menyerahkan semuanya pada air. Tenang, jangan takut dan jangan melawan. Bernafaslah, kau tahu kau bisa bertahan di dalamnya. Biarkan air membawamu dengan dominasinya. Pasrah seperti kau memasrahkan hidupmu pada Tuhan"

Bersama suara itu, aku mengambil nafas. Masuk ke dalam air sambil melingkarkan tangan di lutut. Membatu. Tenggelam. Dan benar saja, air mulai mengangkatku pelan, perlahan menuju ke permukaan. Sesekali aku masih takut dan panik. Tapi aku mencobanya lagi dan lagi.

"Sekarang coba rentangkan kaki dan tanganmu. Tetap tenang dan ikuti kemauan air. Pasrahkan semuanya. Cobalah mengambang. Apabila kau sudah cukup yakin telah menyatu dengan air, mulai ayunkan tanganmu. Rasakan bahwa bersamanya kau dapat bergerak ke arah yang kau mau"

Ajaib. Aku bergerak, aku mengambang dan tidak tenggelam.

Lebih dari belajar berenang, ternyata hari itu aku kembali mengingat satu pelajaran penting kehidupan: tawakal.










Thursday, February 21, 2013

Cahaya Islam di Bumi Eropa, Sebuah Resensi

Saya merasa ketinggalan berita. Seperti para penyuka gosip artis yang telat nonton infotainment seharian. Kemana saja saya selama ini, karena saya baru tahu bahwa peradaban Islam (Timur Tengah) pernah sangat berpengaruh terhadap perkembangan peradaban Eropa. Mungkin pas pelajaran sejarah di SMA dulu saya lebih banyak mengantuknya daripada memperhatikan apa yang dijelaskan guru. Haduh, payah sekali saya ini. Secuil hal yang saya ingat tentang Eropa hanyalah Revolusi Industri dan Renaisans.

Saya patut berterima kasih pada Mba Hanum, penulis buku "99 Cahaya di Langit Eropa, Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa" yang memberikan saya pengetahuan tentang Islam sebelum Abad Pertengahan (Middle Ages). Terima kasih pada Allah yang telah mengizinkan Mba Hanum dan suaminya, Mas Rangga, untuk bisa tinggal di Wina, Austria, sehingga beliau-beliau ini bisa menularkan pengetahuan tentang kejayaan Islam di Eropa.

Satu penggalan kisah di awal cerita Mba Hanum yang saya hafal adalah pengalamannya berkunjung ke sebuah bekas benteng perang di Wina. Ketika Mba Hanum dan temannya dari Turki bernama Fatma, mampir ke cafe di seputaran benteng tersebut.

Diceritakan kembali bahwa di dalam cafe, terdengar beberapa orang turis bule sedang bercakap-cakap. "Tahukah kamu cara yang bagus untuk mengejek orang Islam?" kata salah satu di antaranya. Setelah berkata seperti itu, dia memakan sebuah kue croissant dengan rakusnya. Kemudian temannya yang lain bertanya "Mengapa demikian?". Karena, kue croissant ini dibuat orang Austria untuk merayakan kemenangannya melawan pasukan Muslim Turki Ottoman. Sebab, lambang negara Turki dan lambang Islam adalah bulan sabit, maka kue ini dibuat berbentuk bulan sabit.

Ya ampuuun, ternyata kue kesukaan saya itu, menyimpan sejarah sedemikian rupa. Akhirnya, sekarang kalau beli kue croissant saya memilih kue yang bentuknya lurus :P

Melangkah ke halaman lainnya, Mba Hanum bercerita mengenai kisahnya saat diberi kesempatan berjalan-jalan ke Paris didampingi oleh seorang Muslimah berkebangsaan Perancis bernama Marion. Marion adalah peneliti peradaban Islam Abad Pertengahan. Marion yang ahli membaca tulisan Arab Kufic, salah satu jenis tulisan Arab jaman dulu, menjelaskan banyak hal yang mencengangkan. Lebih baik saya sebutkan dalam poin-poin saja ya teman-teman...

Inskripsi Arab ada di pinggir jilbab Bunda Maria (sumber)
1. Dalam lukisan Bunda Maria dan Bayi Yesus (The Virgin and The Child) karya Ugolino di Nerio, yang dipajang di Museum Louvre terdapat tulisan Arab Pseudo Kufic di kerudung yang dipakai Bunda Maria. Tulisan tersebut berbunyi "Laa Illaha Ilallaah" (tiada tuhan selain Allah). Tulisan Arab Kufic juga banyak ditemukan di lukisan-lukisan artefak Umat Katolik yang lain. Ada juga tulisan Arab Kufic di jubah seorang raja Katolik taat yaitu Raja Roger II of Sicily dari Austria.

Mengapa bisa demikian? Marion lantas menjelaskan bahwa dulu Timur Tengah dikenal dengan ilmu pengetahuan, seni dan budayanya. Sehingga banyak orang Eropa bepergian ke Timur Tengah dan membeli kain, permadani, lukisan dan lain sebagainya. Dalam barang-barang yang diperdagangkan itu seringkali terdapat tulisan tauhid seperti di atas dan akhirnya ditiru oleh orang-orang Eropa.

2. Bangunan-bangunan dan lokasi bersejarah di Paris yaitu Monumen le Defense, Arc du Triomphe de l'Etoile, jalan Champ Elysees, Tugu Obelisk, Arc du Triomphe de Carrousel dan Museum Louvre berada pada satu garis lurus dan garis tersebut mengarah ke Ka'bah (Makkah), Arab Saudi. Beberapa di antara bangunan tersebut diperintahkan dibangun oleh Napoleon Bonaparte, penakluk Eropa dari Perancis yang sangat terkenal itu. Arc du Triomphe de l'Etoile dan de Carrousel itu adalah bangunan berbentuk gerbang itu lho.

Kata Marion, Napoleon Bonaparte sangat mengagumi dan menghormati peradaban Islam. Ia juga mengeluarkan Napoleonic Code yang pasal-pasalnya mirip syariah Islam. Menurut info dari Marion, salah satu tangan Napoleon yaitu Jenderal Francois Menou telah masuk Islam jadi bukan tidak mungkin bahwa Napoleon sendiri adalah seorang Muslim.

3. Sekarang di Museum Louvre telah dibangun Center of Islamic art di Cour Visconti, halaman terbesar kedua di Louvre setelah Cour Napoleon di mana bangunan piramid Napoleon berada). Center of Islamic Art ditutup dengan atap kubik besar berbentuk permadani terbang, atau mirip juga dengan hijab atau jilbab. Sesuatu banget ya, untuk Islamic Art sampai dibuatkan tempat seperti itu. Berikut saya cuplik fotonya dari sebuah website,

Tampak Samping Center of Islamic Art di Louvre diambil dari sumber ini
Makin ke belakang saya baca bukunya, ada kisah Mba Hanum pergi ke Cordoba, Spanyol. Kalau sekarang yang dapat julukan The City of Light adalah Paris, Cordoba ini terkenal dengan sebutan The True City Of Light (Kota Cahaya). Dulu, Cordoba adalah pusat inspirasi Eropa, karena disanalah segala agama hidup berdampingan dalam damai di bawah kepemimpinan seorang pemimpin Muslim. Tempat di mana agama dan ilmu pengetahuan juga diterapkan bersama-sama, hingga akhirnya peradaban di Cordoba porak poranda oleh Perang Salib. Disinilah sebuah Masjid Agung diubah menjadi Katedral yang sekarang dinamakan Mezquita.

Syukur saya kepada Allah, dengan pengetahuan ini saya jadi semakin penasaran mempelajari sejarah Islam. Islam yang menularkan ajarannya secara damai, juga melalui ilmu pengetahuan, seni dan budaya. Saya panjatkan doa saya pada-Nya, semoga saya diberi usia dan kesempatan untuk mengunjungi situs-situs sejarah Islam di Eropa.

Semoga Allah mengabulkan. Aamiiin. Allah Almighty Knows Best.



Tuesday, February 05, 2013

Misteri Gog dan Magog, Kaum yang Terpenjara

Alkisah, Iskandar Dzul Karnain, seorang penguasa agung yang namanya disebut salah satunya dalam Al Quran. "Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu."

Konon, Dzulkarnain adalah nama lain dari Alexander The Great, Raja dari Macedonia 3 abad sebelum masehi. Ia berhasil menaklukkan sebagian Benua Eropa dan Asia Selatan. Ia juga menaklukkan Imperium Persia yang kala itu dipimpin oleh Raja Darius III. Ia ahli berperang, dalam Wikipedia ditulis, bahkan strategi perangnya masih dirujuk oleh militer modern saat ini.

Suatu kali, setelah melakukan beberapa penaklukan, Dzul Karnain kembali menempuh perjalanan ke arah yang lain. Hinga ia tiba di sebuah daerah di antara dua gunung. Dikisahkan Dzul Karnain bertemu dengan "suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan", atau tidak fasih dalam berbahasa. Kaum itu meminta bantuan kepada Dzul Karnain untuk menangkap dan memenjarakan suatu kaum lainnya yang bernama Gog dan Magog. Kaum itu berkata "sesungguhnya Gog dan Magog adalah orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi".

Dzul Karnain menyanggupi permintaan tersebut. Maka mulailah ia membangun benteng untuk memenjarakan Gog dan Magog. Benteng dibuat dengan besi dan tembaga yang dilelehkan, hingga Gog dan Magog terpenjara dalam benteng itu dan tidak sekali pun mereka dapat mendaki atau pun melubanginya.

Sebetulnya Al Qur'an menyebut Gog dan Magog sebagai Ya'juj dan Ma'juj. Mereka adalah keturunan Nabi Adam melalui Nabi Nuh. Diceritakan bahwa dua kaum ini akan dibebaskan dari penjara yang dibuat Dzul Karnain, menjelang Hari Kiamat sebagai salah satu tanda bahwa kehidupan ini akan segera berakhir. Mereka akan kembali berbuat kerusakan di bumi, dan tidak ada seorang pun yang dapat menghentikannya.

Seperti yang dikatakan Dzul Karnain setelah selesai membuat benteng, "Benteng ini adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh, Kami biarkan mereka pada hari itu bercampur aduk satu dengan yang lain, hingga ditiup lagi sangkakala..."

Hari demi hari Kaum Gog dan Magog terus berusaha membebaskan diri dari benteng dengan mendaki dan melubangi benteng. Tapi setiap mereka membuat lubang kecil di benteng tersebut, esok harinya lubang akan kembali tertutup. Hal ini mengingatkan saya tentang Film The Dark Knight Rises, saat adegan orang-orang yang dihukum dalam sebuah ruangan bawah tanah, mecoba naik ke permukaan, namun tak ada satu pun yang berhasil keluar kecuali Bane dan Seorang Anak Kecil yang akhirnya menjadi musuh Batman.


Ciri-ciri Kaum Gog dan Magog antara lain berwajah lebar, bermata sipit, di tengah kepalanya terdapat rambut putih dan saat mereka terbebas, mereka akan menuruni lereng gunung seperti banjir bandang.

Banyak referensi online yang membahas mengenai Gog dan Magog alias Ya'juj dan Ma'juj. Namun referensi yang saya baca bersumber dari Wikipedia. Untuk link lainnya adalah artikel dari Islam Online berjudul Ya'juj dan Ma'juj: The Disbelievers. Sementara, referensi yang paling utama adalah Al Qur'an Surat Al Kahfi ayat 83 - 100. Mari kita meng-imani adanya Hari Kiamat sebagai salah satu Rukun Iman dengan mengenal tanda-tandanya.

Wallahu 'alam bishowab. Allah Almighty Knows Best.




Sunday, January 27, 2013

Fly Me to Central Park, Please...

Beberapa hari yang lalu saya nonton film berjudul "What to expect, when you're expecting". Saya ngga pengen nulis soal cerita filmnya. Sebab, perhatian saya justru tersita pada lokasi shootingnya. Lokasi saat adegan para ayah dalam film tersebut selalu membawa anak-anak mereka jalan-jalan sambil ngerumpi. Ya, saya mengenali lokasi itu sebagai Central Park, Manhattan, New York -kendati saya belum pernah sekali pun pergi ke sana.

Saya pengagum taman. Sewaktu saya masih kanak-kanak, saya takjub sekali dengan rumah-rumah orang kaya di suatu kompleks di dekat desa saya. Rumah-rumah tersebut selalu dilengkapi dengan taman. Taman dengan rumput yang hijau empuk, tanaman palem berbagai ukuran, batu-batuan warna-warni, kolam ikan, air mancur, jembatan buatan dan ayunan kecil.

Bila saya mampir ke sebuah kota untuk perjalanan, yang pertama kali saya perhatikan adalah tamannya. Saya tertegun setelah sekian lama saya tidak pergi ke Surabaya, kini kota itu berubah jadi cantik gara-gara taman yang dibangun, hijau dimana-mana. Hingga Surabaya saya nobatkan sebagai kota favorit saya. Bandung, kota tempat saya tinggal sekarang pun, yang katanya kota kembang itu, kalah deh sama Surabaya.

Saya sering melewatkan Sabtu Pagi saya untuk jogging di taman depan kantor. Melihat bunga-bunga yang mekar di sana membuat tangan saya gatal untuk mengambil gambar. Imajinasi saya, kalau saya dikasih uang dan kewenangan mengurus taman tersebut, kayaknya saya bisa bikin penampilan taman jadi lebih indah lagi deh. Kalau nanti saya punya rumah pun, mau sekecil apa, saya pengen bikin taman di rumah saya itu.

Kembali ke soal Central Park. Perkenalan saya dengan taman ini berawal ketika dosen favorit saya, Prof. Dr. Deddy Mulyana memberi tugas kelompok untuk Mata Kuliah Komunikasi Budaya, kita diminta membahas soal lansekap. Saya dan rekan saya akhirnya memutuskan menulis soal taman. Kita berselancar bersama Om Google dan akhirnya menemukan profil Central Park, salah satu taman kota terbesar di dunia.

Central Park tu luas banget, lebih dari 800 hektar luasnya. Kata teman saya yang pernah ke sana, gak cukup sehari deh menjelajah taman itu. Panjangnya saja mencapai beberapa blok komplek rumah dan perkantoran di Manhattan. Taman ini dibangung, karena seiring dengan perkembangan pesat New York dengan gedung bertingkatnya yang mengeluarkan polusi gas rumah kaca, dirasa perlu ada suatu paru-paru kota. Plus, masyarakatnya yang pada gila kerja juga bikin pemerintahnya memikirkan tempat hiburan yang bisa bikin pikiran jenuh dan badan pegel-pegel jadi plong lagi.

Sebelum membangun Central Park, pemerintah New York sampai harus ngegusur dan ngerelokasi pemukiman kumuh Afro-Amerika lho. Tapi ya mereka lumayan sukses melakukannya. Terus desain taman dibuat sama kolaborasi dua arsitek eropa gitu. Berkat kreativitas mereka lah tercipta sebuah taman multifungsi.

Selain sering banget buat syuting film, Central Park juga sering dipake buat menggelar konser musik dan tempat olah raga. Terus di dalamnya juga ada kebun binatangnya. Koleksi pepohonan dan tumbuhan di sana bahkan lebih dari 11.000 spesies. Pengunjung bisa mancing di danau-danau dan reservoar yang ada di sana. Kalau pas winter, danaunya bisa dipake buat ice skating, woww. Hal yang bikin ngiler juga adalah adanya museum buku dan bahkan kastil buat mempelajari astronomi. Kemudian, jembatan-jembatan sama patung-patung unik di Central Park juga bikin saya jatuh cinta sama taman ini.

Eh kalo gak salah ada satu jembatan yang dipake buat syuting adegan film Spiderman 3 kalo gak salah. Pas MJ mutusin si Peter Parker gara-gara dipengaruhi Harry. Jembatannya warna putih dan panjang dan bernama Bow Bridge. Tuh gambarnya saya cuplik dari Websitenya. Duh, gimana gak makin pengen ke sana coba. Kapan yaa Taman Pramuka di Bandung, Taman Buah Mekarsari di Bogor atau Taman Pintar di Yogya dipake buat syuting Spiderman... #ngarep mode on

Sementara, sebelum saya bisa pergi ke Central Park, saya browsing-browsing aja dulu di The Official Website of Central Park, New York City. Semakin browsing, semakin pengen berkunjung ke sana. Yaudah lah, daripada jauh-jauh entar berkunjung ke Kebun Raya Bogor dulu aja, atau cagar alam yang ada di Indonesia. Kayaknya ga kalah menariknya.




 

Bapak Teladan

Kutipan cerita ibu saya, waktu bicara lewat telepon pagi ini:

"Dulu waktu ibuk ikut prajab tiga bulan di Solo, ada yang dapet predikat bapak teladan dari para peserta prajab di sana. Setiap hari bapak itu menggendong anaknya yang masih bayi sambil menunggui istrinya yang sedang prajab. Dia gak kenal lelah, padahal prajab itu berlangsung dari pagi sampai malam. Dia terus seperti itu, menunggu di luar ruangan sambil menggendong bayinya dan sesekali membantu bayinya minum susu dari botol."

"Orang-orang memujinya, karena bahkan setelah istrinya selesai prajab dan sang bayi kembali ke pelukan istrinya, dia langsung melanjutkan perjalanan ke Semarang. Itu karena istrinya masih kos dan di kos tidak boleh ada laki-laki yang menginap. Pagi harinya dia menemui istrinya lagi di lokasi prajab untuk kembali menjaga bayinya. Begitu dia lakukan tiap hari, selama istrinya prajab, sementara dia belum mendapat pekerjaan. Tiap akhir minggu, baru dia dapat berkumpul kembali dengan istri dan bayinya."

"Dia adalah bapakmu, dan bayi itu adalah kamu"



Monday, January 21, 2013

Tentang Rasa

Rasa, kau sebenarnya datang darimana?
Dari pikiran sang otak
Atau dari asa si hati
Tolong beritahu aku

Kenapa rasa?
Tiap kali otak bekerja
Dia bilang mudah sekali membuatmu
datang dan pergi
Tapi beda soal kata si hati
sepertinya dia punya alam sendiri
untuk menyimpanmu

Aku curiga,
Jangan-jangan kau berkong-kalikong dengan waktu
Entah kau ini bermuka berapa
pun susah menerka apa maumu
tapi waktu biasa menang
atasmu

Baiklah, mari kita tanya sang waktu.

Friday, December 28, 2012

Pertemuan



Bagaimana Anda memaknai sebuah pertemuan? Ketika Anda pertama kali bertemu dengan teman baru, relasi baru, lawan jenis yang membuat Anda meliriknya. Atau ketika Anda bertemu kembali dengan anggota keluarga dan sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Apakah Anda pernah memikirkannya?

Pertemuan Pertama

Saya termasuk orang yang excited menyambut sebuah pertemuan pertama. Pertemuan secara fisik tentu saja.

Belum lama ini saya bertemu dengan rekan kerja saya untuk pertama kali, setelah hampir setengah tahun ini kita hanya berkomunikasi lewat telepon maupun media online. Rekan kerja saya ini bagi saya cukup istimewa. Kita dipertemukan malah bukan karena pekerjaan, melainkan karena sebuah gerakan yang diberi nama Bakti Bagi Negeri. Sebuah gerakan bagi-bagi buku gratis bagi anak sekolah dasar di pelosok Indonesia.

Dia istimewa, saya kagum padanya, bagaimana bisa hanya lewat chatting dan telepon dia bisa mempersuasi orang-orang belum pernah dia temui sebelumnya, hingga apa yang dia inisiasi untuk gerakan itu pun berjalan dengan lancar. Roda gerakan berputar di sela-sela jarak yang membentang antar anggotanya. Maka dari itu saya sangat menantikan saat dimana saya bisa bertemu dengannya.

Pertemuan Kembali

Saya pernah menulis tentang pertemuan saya dengan Sahabat Bermata Coklat. Inilah pertemuan kembali yang tak pernah saya sangka akan dituliskan Tuhan. Pada saat pertemuan kembali antara kita berdua, saya menemukan bukti kebesaran Tuhan mengenai 'waktu'. Time does change everyone, including my best friend.

Kalau boleh dibilang, bertemu kembali dengan seseorang itu seperti membeli buku cerita. Membuka kembali dokumentasi kisah lampau dan menemukan sisi-sisi yang baru terkuak setelah lama kita meninggalkannya. Hal itu terjadi dalam pertemuan saya dengan teman kuliah saya yang sudah berpisah selama lebih dari 5 tahun. Dia tak sungkan menceritakan kembali kisah lamanya, kisah yang dulu tidak saya ketahui kebenarannya.

Pertemuan itu Misteri

Pertemuan saya dengan sepupu jauh saya bernama Apik dan Anik (mereka kembar), pada saat kita menempati kos yang sama di masa kuliah dulu, membawa saya kepada hal kecil yang mengejutkan. Ternyata ayah mereka, Prof. Ali Saukah adalah pengarang buku paket pelajaran Bahasa Inggris yang saya pakai di SMP dulu.

Kemudian, pertemuan saya dengan sepupu saya yang lain bernama Sinati, membawa Sinati bertemu dengan Taufik, suaminya sekarang. Sinati juga satu kos dengan saya, Apik serta Anik. Pada suatu hari, Taufik, yang juga sepupu saya dari pihak ibu, datang untuk bertemu dengan saya. Saya sedang di luar kos. Terpaksa Sinati menemui Taufik sehingga terjadilah perkenalan lebih jauh di antara mereka hingga akhirnya membawa mereka ke jenjang pernikahan.

Saya percaya, pertemuan itu ada misterinya. Saya sering tertawa sendiri saat mengingat-ingat berbagai pertemuan yang saya alami, karena baru mendapati hikmah pertemuan itu di masa sekarang.

Pertemuan adalah Pembelajaran

Peristiwa apa pun yang terjadi di dunia ini membawa pembelajaran, tak ketinggalan pula sebuah pertemuan, baik pertemuan formal maupun ketidaksengajaan dalam keseharian kita. Saya belajar bagaimana mengelola keuangan dan pentingnya berinvestasi setelah bertemu sahabat saya yang satu. Saya belajar bagaimana menjadi sedikit galak, judes dan tegas setelah bertemu sahabat saya yang lain.

Saya belajar untuk tidak memarahi orang -karena jujur dimarahi orang tu ngga enak banget, dari rekan kerja saya di kantor. Saya belajar untuk murah senyum dari orang yang baru saja berpapasan dengan saya di sebuah perjalanan, saya pikir ternyata melihat orang tersenyum itu mampu membahagiakan kita. Di hari-hari kemudian, ketika bertemu dengan seseorang, saya asik bertanya-tanya dalam diri saya, hmmmm apalagi yaa yang akan saya pelajari dari orang ini? :D

Begitulah beberapa cara saya memaknai pertemuan, bagaimana dengan Anda?

Friday, December 21, 2012

Kiamat

Tanggal ini, 21-12-2012 konon adalah hari terakhir bagi Suku Maya. Mereka meyakini bahwa kiamat seharusnya terjadi hari ini. Kok seharusnya? Karena sekarang pukul 05.45 waktu Indonesia bagian kamar, saya masih bisa mengetik postingan ini, jelas bahwa ramalan tersebut masih belum terjadi.

Di postingan saya sebelumnya, saya menyebutkan satu bagian dari kitab suci agama Islam yaitu Surat Al Waqiah. Teman-teman yang membaca postingan tersebut mungkin merasa ganjil ketika amarah saya reda begitu saja begitu membaca terjemahan surat itu. Sebetulnya, apa yang dikatakan Tuhan saya di Surat Al Waqiah?

Jawabannya akan saya coba ulas di postingan ini, pastinya dengan sudut pandang sangat subyektif. Saya juga mohon maaf bila sekiranya postingan ini tidak berkenan bagi pembaca. Tidak ada maksud lain, selain hanya sharing cerita saja.

Waqi'ah adalah nama lain dari Kiamat. Di kitab Al Qur'an, Allah menyebut 'Kiamat' dengan berbagai istilah. Beberapa diantara istilah lainnya adalah Qori'ah dan Qiyamah. Secara garis besar, Al Waqi'ah menceritakan mengenai nasib bangsa manusia setelah Kiamat itu terjadi, lebih kepada ganjaran yang akan diterima setelah dihisab atau dihitung amalannya.

Setelah Kiamat terjadi dan setelah dihisab tadi tentu saja, bangsa manusia dibagi menjadi tiga golongan: pertama, golongan kanan; kedua, golongan kiri dan ketiga, golongan orang-orang beriman. Golongan tersebut dibagi berdasarkan amalan dan ganjaran apa yang akan diterima.

Penjelasan di Al Waqiah dimulai atas orang-orang beriman terlebih dahulu. Siapa saja yang dikategorikan orang beriman? Mereka adalah "segolongan besar orang-orang terdahulu dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian". Saya mengasumsikan bahwa orang-orang terdahulu adalah yang hidup di masa Nabi Muhammad dan pendahulu-pendahulunya, sementara orang kemudian merupakan sebutan bagi kaum yang hidup setelah Nabi termasuk kita-kita ini. Kenapa ya kaum kita hanya sedikit yang masuk golongan ini?

Golongan pertama adalah golongan yang akan ditempatkan di Jannatun Na'im (Surga Kenikmatan) dan paling dekat dengan kedudukan Allah. Dijelaskan pula bagaimana kondisi dan kenikmatan di surga ini adalah yang paling yahud dari surga-surga yang lain. Saya curiga, jangan-jangan Nabi dan Rosul juga tinggalnya di surga ini. Pantesan tampak susah masuk ke golongan ini.

Golongan kedua adalah golongan kanan. Siapa mereka? Mereka adalah "sebagian besar orang-orang terdahulu dan segolongan besar pula dari orang-orang kemudian". Ganjaran buat mereka adalah menghuni surga lain selain Jannatun Na'im. Tentu dengan kenikmatan yang tak kalah oke.

Golongan ketiga, golongan kiri, mereka adalah "orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian yang sebelum kiamat hidup bermewahan, terus menerus mengerjakan dosa besar dan tidak percaya bahwa mereka akan dibangkitkan setelah mati". Ganjarannya adalah neraka, seram sekali penjelasan kondisi neraka di Surat Al Waqiah.

Sebagian akhir dari Al Waqiah berisi semacam "Big Irrefutable Retorical Questions", mengapa bangsa manusia meragukan dan meremehkan Tuhan, padahal telah jelas bukti-bukti keberadaan dan kekuasaan-Nya. Ini nih contoh pertanyaannya:

"Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu tanam. Kamukah yang menumbuhkannya atau Kamikah yang menumbuhkannya?
Kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan dia hancur dan kering, maka jadilah kamu heran dan tercengang (sambil berkata): Sesungguhnya kami benar-benar mendertia kerugian" (QS. Al Waqi'ah: 63-66)

Apa yang saya rasakan dalam postingan sebelumnya adalah satu bentuk goyahnya keyakinan saya terhadap kuasa Tuhan yang dibantah telak dengan banyak Retorical Questions tersebut. Maka dari itu saya langsung diam seribu bahasa dan mohon ampun pada Tuhan atas keragu-raguan saya.

Well, apapun, itu tadi terbatas pengalaman spiritual saya. Tapi kalau ingat keyakinan saya akan hari Kiamat, tentu saya ingin masuk surga dan saya tahu itu tidak gampang, bahkan mungkin jalannya harus banyak ditempuh dengan banyak kesabaran dan keikhlasan atas kondisi yang tidak kita inginkan. Itulah kenapa, seperti saya pernah dengar, surga banyak dihuni oleh orang miskin yang ikhlas menghadapi hidupnya. Lantas kenapa saya menjadi begitu sombong dan tidak mensyukuri kondisi saya saat ini?

Thursday, December 20, 2012

Limbung

space
Saya sampai pada ujung keputusasaan saya.

Saya sudah tidak mampu menyalahkan diri sendiri atas kekecewaan ini. Terlalu banyak saya lemparkan beban pada hati untuk memarahi otak ketika dia mencoba egois dalam menghadapi masalah. Otak pun sebenarnya sudah lelah membela diri saya dihadapan hati dengan segala logika-logikanya.

Otak mencoba menyalahkan orang lain, "Seharusnya mereka bisa sedikit lebih peduli kepada kita seperti kita telah berbaik hati pada mereka! Apa salah kita sampai mereka tega bertindak sangat tidak adil?!"

Hati bilang, "Percuma menyalahkan orang lain karena toh mereka tak berperan dalam menciptakan kekecewaan. Bukannya kekecewaan itu hasil karya mu sendiri wahai otak dan pikiran? Kau begitu sombong menetapkan standar-standar diri sehingga virus kekecewaan itu tumbuh besar dalam diri kita".

Saya lari pada hal lain. Saya mengadu dan marah sama Allah.
Saya dulunya giat berdoa agar Dia memberikan yang terbaik bagi saya, seperti apa yang dikasih tau orang-orang. Hanya saja rupanya entah apa kami berdialog dalam bahasa yang berbeda, sehingga persepsi yang terbaik menurut-Nya kok masih jauh dari yang terbaik versi saya. Padahal, rasanya saya sudah memenuhi syarat dan ketentuan yang Dia berikan deh.

Saya pikir ini harus diluruskan. Karena saya benar-benar sudah tidak bisa menyalahkan hati dan otak  atas semua ini.

Akhirnya saya meluruskan semua itu dengan cara penghambaan yang paling kuno. Saya bicara sama Allah "Apalagi Yaa Allah? Apalagi yang harus saya lakukan? Setidaknya berikan sedikit obat untuk orang limbung yang satu ini, yang sangat sadar bahwa hanya Engkaulah Yang Maha Kuasa"

Lantas Dia memberikan saya: Al Quran - Surat Al Waqi'ah, dan diamlah saya. Seperti antalgin, obat itu menawarkan sakit saya, tangis saya dan rengekan saya.

Tuesday, December 18, 2012

Dewa yang Kecewa

Dari Belitong saya punya cerita. Bukan soal pantai indahnya plus hiasan batu-batu besar yang entah dari mana datangnya itu. Bukan pula soal SD Laskar Pelangi serta Ibu guru Muslimah yang termasyur sejak difilmkan. Ini soal kisah saya di Vihara Dewi Kwan Im, sebuah vihara dengan dominasi warna merah pada bangunannya dan terletak di sebuah bukit Belitong Timur.

Pada bangunan vihara yang paling besar, di puncak bukit, terdapat tempat berdoa kepada para dewa. Banyak sekali patung dewa-dewa Cina diletakkan di sebuah altar lengkap dengan dupa dan sesaji di sekelilingnya. Setiap pengunjung yang hadir ditawarkan untuk berdoa di hadapan para dewa. Melalui beberapa prosesi, pengunjung dapat berdoa dan mengajukan satu hal untuk ditanyakan pada para dewa. Konon para dewa itu akan segera menjawabnya.

Teman saya pun mencobanya. Dia diminta menyebutkan pertanyaan dalam hati. Kemudian penjaga vihara melemparkan sepasang batu ke altar yang sesaat kemudian batu tersebut jatuh dalam posisi satu menelungkup dan satu menengadah. Sang penjaga viara lalu meminta teman saya mengambil sebuah benda mirip sumpit di antara sekian banyak benda yang sama dan terletak dalam satu wadah. Cara pengambilannya mirip undian.

Setelah terpilih satu sumpit, Sang Penjaga mengamati sumpit tersebut lantas menuju ke sebuah papan di salah satu dinding ruangan. Papan tersebut memiliki banyak kotak-kota di mana di dalamnya terletak banyak kertas-kertas bertuliskan tulisan Cina. Sang Penjaga mengambil salah satu kertas di antaranya dan sepertinya ia mencocokkannya dengan sumpit yang terpilih. Saya tidak tahu berdasarkan apa.

Di balik kertas itu ada tulisan Cina yang lebih kecil dan terangkai dalam paragraf. Sang Penjaga pun menterjemahkan dan membacakannya untuk teman saya. Saya lupa apa tepatnya isi pesan di dalam kertas tersebut.

Tertarik dengan pengalaman teman saya, saya pun menerima tawaran sang penjaga untuk berdoa di altar para dewa. Setelah bersiap, sang Penjaga meminta saya menyebutkan pertanyaan saya dalam hati. Terus terang, sebelum mencoba berdoa, saya sempat ragu terhadap hal ini. Khawatir bahwa yang saya lakukan termasuk tindakan yang dilarang oleh agama saya. Oleh karenanya, ketika diminta mengutarakan pertanyaan, dalam hati saya mengucap seperti ini: "Ya Allah berikan lah petunjukmu melalui hal ini, saya ingin tahu tentang karir saya".

Setelah itu, Sang Penjaga melempar sepasang batu, persis seperti yang ia lakukan dengan teman saya tadi. Tapi anehnya Sang Penjaga berkata bahwa lemparan pertama gagal. Sehingga saya harus mengulang pertanyaan saya. Sampai tiga kali lemparan batu, tetap saja Sang Penjaga bilang bahwa saya gagal. Para dewa tidak mau memberikan petunjuknya, katanya. Karena batunya semuanya sama-sama menelungkup atau sama-sama menengadah. Petunjuk baru akan muncul saat batu itu satu menengadah dan satu menelungkup. Sang penjaga menambahkan bahwa kegagalan saya akibat saya tidak yakin dan percaya pada para dewa sehingga mereka kecewa kepada saya.

Dan saya pun bingung. Saya meninggalkan vihara dan melanjutkan perjalanan, masih dengan rasa penasaran mengapa dewanya tidak mau menjawab pertanyaan saya. Sekian.

Oiya, buat yang mau liat video perjalanan saya ke belitong, bisa klik di bawah ini :)







Friday, October 26, 2012

Crazy Little Thing Called....LOVE


Inilah euforia menonton film. Film yang satu ini membawa saya flashback ke masa-masa saya duduk di bangku SMA bersama 3 sahabat saya. Mengingatkan saya pada beberapa kebiasaan kala itu. Mengobrol dengan secarik kertas yang dioper, sengaja izin ke toilet demi mengintip kelas di mana gebetan berada, boncengan di atas sepeda motor ketika pertama kali kami bisa mengendarainya dan tentu saja melewatkan banyak hal bersama. Kami juga mengalami perasaan kehilangan salah satu di antara kami hanya karena ia asyik bersama pacarnya :D

Disamping menceritakan tentang persahabatan, film ini menurut saya membawa satu pesan sederhana yang lumayan penting untuk menjadi pertimbangan dalam menjalin hubungan cinta dan menjalani kehidupan.

Ceritanya, sang tokoh utama, Khun Nam, jatuh cinta pada seniornya bernama Shone. Seperti biasa, namanya juga film. Shone adalah sosok senior yang ganteng, pinter main bola dan digemari banyak cewek cantik. Sementara Nam adalah cewek yang berkulit gelap, berkaca mata, pake kawat gigi, tidak terlalu pintar dan tentu saja tidak banyak murid yang mengenalnya. Bagi Nam, bisa bertemu dan bicara dengan Shone walau hanya sebentar ituuu udah sesuatu banget deh.

Sahabatnya tahu bahwa Nam menyukai Shone. Mulailah mereka membantu Nam untuk mendapatkan perhatian Shone dan Nam pun bersemangat untuk melakukan apa saja yang disarankan sahabatnya. Mereka mulai dengan membeli buku ‘9 metode mendapatkan gebetan’ dan menerapkan metode-metode tersebut. Gokil banget pas mereka mendandani Nam dengan masker dan melumurinya dengan lulur hingga kulitnya kuning. Sampai akhirnya Shone malah mengira Nam lagi sakit hepatitis A *hadeh.

Nam juga berusaha belajar lebih giat untuk menjadi juara di kelasnya. Ia dan sahabatnya mengikuti klub drama untuk menarik perhatian Shone. Nam juga belajar menjadi mayoret yang baik, saat ia kebetulan diminta menggantikan temannya yang cedera. Nam lambat laun mulai ‘sadar penampilan’ sehingga dia sukses menjadi idola di sekolah –pokoknya singkat kata Nam yang tadinya jelek terus jadi cantik aja.

Tiga tahun Nam diam-diam menyukai Shone dan melakukan berbagai cara untuk merebut perhatiannya. Sebetulnya usahanya tidak sia-sia, karena Shone ternyata juga menyukai Nam. Hanya saja waktu dan kondisi belum mendukung mereka untuk bersama. Hingga akhirnya mereka harus berpisah untuk mengejar impian masing-masing.

Alkisah, 9 tahun kemudian Nam berhasil menjadi fashion designer sukses setelah belajar di USA, sementara Shone berhasil menjadi fotografer pro yang selama ini dia impikan. Lalu mereka bertemu kembali, dan saat itulah cerita mereka happy ending.

Di akhir cerita film tersebut Nam berkata bahwa salah satu hal yang membuat ia sukses adalah karena dia pernah mencintai seseorang. Nam berkomentar tentang cowok yang dicintainya: “He is like my inspiration, he made me use the love in good way, he is like the power that supports me to be better and better...”

NAH! Ini lah apa yang saya bilang sebagai hal sederhana tapi perlu dicatat. Di tengah euforia menonton film ini saya berfikir bahwa memang sebaiknya rasa cinta kita terhadap seseorang itu dapat membawa kita menjadi diri kita ke arah yang lebih baik, bukan malah ke arah destruktif. 

Mungkin ada yang bakal komplain “wah, kalau gitu kita hanya bisa lebih baik kalo ada dia dong”. Iya, memang ‘dia’ adalah motivasi kita. Tapi tetap saja, kemauan untuk jadi lebih baik itu datangnya dari diri kita sendiri, cinta itu hanyalah pemantiknya. Toh sebenarnya, tidak banyak respon juga yang diberikan oleh Shone pada Nam. Tapi bagi Nam, bahkan hanya dengan melihat senyum Shone, Nam menemukan semangat yang luar biasa yang mampu mendorong dia ke arah yang lebih baik lagi.

Look, love might be a crazy thing, but the power to be better still come from your own mind, body and soul! So.... *simpulkan sendiri :P

Monday, June 11, 2012

Ridho Orang Tua, Ridho Allah

Saya bekerja di Telkom. Sebuah perusahaan milik negara sekaligus perusahaan publik yang besar dan keren. Besar karena perusahaan ini punya lebih dari 20.000 karyawan, kantornya tersebar dari Sabang sampai Merauke. Di kota-kota besar di Indonesia, Gedung Telkom bisa kita temui di lokasi-lokasi strategis, karena perusahaan ini sudah ada konon sejak masa penjajahan Belanda.

Keren karena bisnisnya saat ini sedang ngetrend. Kecuali bisnis telepon kabel-nya yang sudah ketinggalan jaman, perusahaan ini punya bisnis seluler, call center, infrastruktur telekomunikasi, properti, aplikasi, konten dan koneksi internet bagi semua kalangan. Telkom juga listing di New York Stock Exchange, London Stock Exchange dan tercatat di Tokyo Stock Exchange. Itu membuat Telkom menjadi perusahaan yang lebih profesional dibandingkan perusahaan milik negara yang lain. Tiap tahun Telkom menyumbang lebih dari 10 triliun laba dan separuhnya menjadi pendapatan negara di luar pajak.
Kata orang-orang di luar Telkom yang saya temui, hebat sekali saya bisa kerja di Telkom. Para fresh graduate banyak yang mengincar Telkom sebagai perusahaan idaman buat bekerja.

Saya pernah ditanya beberapa mahasiswa dan orang-orang yang saya temui tentang bagaimana usaha saya hingga bisa diterima kerja di Telkom. Saya bilang saja, ya saya ikut melamar dan ikut seleksinya. Lantas mereka tanya lagi, susah tidak seleksinya. Saya jawab susah banget, apalagi tes TOEFLnya. Kemudian mereka heran dan kembali bertanya, loh kalau susah kenapa saya bisa diterima? Menjawab pertanyaan tersebut, saya selalu melontarkan kalimat favorit saya dengan sangat yakinnya  “ini semua karena doa orang tua”.

Keyakinan saya, ridho orang tua adalah ridho Allah, doa orang tua sangat didengar oleh Allah. Saya bisa begitu yakin karena sudah membuktikannya berkali-kali. Bahkan sebelum para motivator menjadikan hal tersebut sebagai materi motivasi mereka. Keyakinan saya, bila saya menginginkan sesuatu, buat bahagia orang tua dulu, dan keinginan saya Insya Allah tercapai.

Tahun 2000, saya ingin bisa diterima dan bersekolah di SMA favorit saya. Waktu itu masih pakai NEM (Nilai Ebtanas Murni) sebagai syarat masuk. Saya sempat pesimis, apakah NEM yang saya dapat bisa memenuhi standar syarat masuk SMA tersebut. Pasalnya ketika EBTANAS berlangsung saya sedang sakit,meski akhirnya saya dapat mengerjakan seluruh soal ujian.

Akhirnya, saat liburan menunggu pengumuman EBTANAS, saya pergunakan untuk membantu orang tua saya di rumah. Pagi-pagi saya bangun, membersihkan kamar saya dan kamar orang tua saya, menyapu rumah dan halaman kemudian mencuci baju dan melipatnya. Pokoknya pulang kerja, orang tua taunya rumah bersih. Begitu setiap hari saya lakukan. Hingga tiba hari pengumuman.

Hasilnya NEM saya peringkat ke 8 satu sekolahan, dan 20 besar tingkat kabupaten! Saya pun bisa dengan tenang mendaftar ke SMA favorit saya tanpa khawatir tersingkir karena NEM saya termasuk tinggi.

Tahun 2003, tiba saatnya saya melanjutkan pendidikan saya ke universitas. Saya sama sekali tidak punya ide mau kuliah di mana, yang ada di benak saya, kalau bisa saya ingin kuliah di universitas negeri supaya biayanya murah dan orangtua saya mampu membayarnya. Tes pertama yang saya ikuti adalah Ujian Masuk UGM (Universitas Gadjah Mada) Yogyakarya. Jalur masuk tersebut baru pertama kali diadakan oleh UGM. Saya dan kawan-kawan pun tidak memiliki bayangan seperti apa tes dan hasilnya nanti. Ya pokoknya ikut aja dulu.

Setelah mengikuti tes, saya melakukan rutinitas saya sebagai full-time housekeeper. Hampir semua pekerjaan di rumah, saya kerjakan, termasuk memasak. Pokoknya selama hampir dua bulan menunggu pengumuman, saya layani orang tua saya. Pulang kantor, rumah sudah kinclong, baju sudah dicuci, makanan sudah siap, orang tua tinggal istirahat. Hingga tiba hari pengumuman...

...dan saya diterima di UGM untuk pilihan kedua, di FISIPOL.

Kali ini saya tidak menyangka saya bisa diterima. Dan satu kelas saya yang diterima hanya empat orang, termasuk saya, padahal hampir sekelas mengikuti tes tersebut. Lebih mengagetkan, teman-teman yang lebih pandai dari saya, tidak diterima. Saya merasa porsi belajar saya biasa saja, bahkan sempat saya kebut semalam. Sungguh karunia yang luar biasa, saat teman-teman saya masih harus berjuang ke universitas lain, saya justru hanya sekali tes dan diterima.

Dua kali memiliki pengalaman yang hampir sama, saya menyimpulkan bahwa hal ini sangat mungkin berkat orang tua saya. Kalau orang tua saya senang, saat mereka berdoa, doanya tambah powerful. Rumus inilah yang saya terapkan juga untuk melamar pekerjaan di Telkom. Dan terbukti, selang 6 bulan setelah saya lulus, saya langsung diterima bekerja di perusahaan sekelas Telkom.

Keyakinan inilah yang saya pegang hingga saat ini. Tentu saja saya juga berikhitiar dan berdoa untuk apa yang saya inginkan. Tapi diatas semua itu, doa dan ridho orang tua sangat berpengaruh. Sama halnya ketika saya mengalami kesulitan untuk meraih keinginan saya, mungkin saja ada hal antara saya dan orang tua saya yang kurang beres. Maka saya berusaha menyelesaikannya terlebih dahulu dan berusaha membuat keduanya mengerti, senang dan tenang terhadap keputusan saya.

Allah berfirman dalam ayatnya “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu janganlah engkau mengatakan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka menyayangi aku sejak kecil” (QS. Al-Israa’:23-24)

Sekali lagi, ridho orang tua adalah ridho Allah :)

Thursday, April 12, 2012

Berbeda atau Mati! (Tak Sekedar Berbeda)

Eh, ekstrim sekali ya pernyataan saya. Pernyataan saya yang sangat keren itu terinspirasi dari judul buku pakar marketing Jack Trout dan Al Ries “Differentiate or Die”. Terus, mengapa harus berbeda?

Begini ceritanya...

Beberapa waktu yang lalu, teman kuliah saya dengan terburu-buru mengumumkan di forum Blackberry Messenger kami bahwa sedang ada obral besar-besaran di sebuah pusat perbelanjaan di Bandung. Obral itu memberondong para pengunjung dengan bertumpuk baju-baju bermerk! GAP, Calvin Klein, Guess dan sebagainya; dari mulai kemeja hingga celana jeans dengan harga turun lima kali lipat dari harga asli. Teman saya menambahkan bahwa para pengunjung ramai mengerumuni tumpukan itu untuk mendapatkan baju bermerk favorit mereka dengan harga murah.

Sebagian orang men’dewa’kan merk atau dalam bahasa marketing sering banget disebut brand. Coba deh jawab pertanyaan saya, mana yang kamu pilih antara dua buah kemeja sama persis dari bahan, ukuran, harga dan kualitasnya, akan tetapi di salah satu kemeja tertera merk Guess?

Ada contoh lain, mana yang kamu pilih, dua orang cowo yang sama-sama ganteng, tinggi, pinter, kaya, rajin menabung, sementara yang satunya dikenal dengan nama Afgan Syahreza??

Saya tuh pengen membahas, kalau merk atau brand itu saat ini ngga hanya berlaku buat barang jualan macam baju, mobil, jam tangan, tas, atau bahkan hand body lotion dan pasta gigi. Sekarang orang pun identik dengan merk!

Bingung ngga? Biar tambah bingung saya mau cerita lagi...

Dalam marketing, daya tarik merk atau brand membawa pengaruh yang besar. Para pengusaha, pebisnis, pedagang dan pemasar banyak yang sadar betul bahwa membangun dan memperkenalkan brand adalah kunci pertumbuhan dan sumber keuntungan. Bahkan, brand memiliki kekuatan untuk menentukan harga yang akan dibayar oleh konsumen dan harga saham yang akan dibeli oleh investor.

Memilih nama brand untuk sebuah produk penting dari sisi promosi, karena nama brand mencerminkan isi dan kegunaan produk tersebut. Brand juga membantu pemasar untuk menentukan posisi produk tersebut di mata pelanggan. Sebab pada saat yang sama, nama brand menciptakan kesan yang ada di balik produk.

Sekarang apa yang ada dalam pikiranmu ketika saya sebutkan nama Afgan Syahreza? Atau Ariel Peter Pan? Atau Justin Bieber? Mungkin kalau saya tanyakan juga pertanyaan itu pada orang yang baru saya kenal di supermarket, ia akan memberi jawaban yang tidak jauh berbeda dengan kamu. Lain halnya kalau saya sebutkan nama Hanna ke mereka, kayaknya mereka bakal bilang “oh itu nama kucing saya”. Serius habis itu saya langsung ngeloyor pergi deh.

Nama kita itu sebenarnya merk atau brand diri kita. Melalu nama lah kita diidentifikasi. Hal utama yang dapat membedakan kita dengan orang lain pun adalah nama kita. Akan tetapi bagaimana bila ternyata di suatu kondisi bukan kita satu-satunya pemilik nama yang kita sandang? Di titik ini lah kita perlu untuk menjadi berbeda.

Sebetulnya meski satu nama dapat dimiliki oleh lebih dari satu orang, secara fisik tentu masing-masing orang tetap saja berbeda. Namun berbeda secara fisik saja tidak cukup. Cara lain untuk menjadi berbeda adalah mengembangkan kepribadian dan identitas yang unik. Mulai dari penampilan fisik, cara berbicara, cara jalan, cara melirik (haishh), cara makan, respon kita terhadap suatu hal, hingga cara berfikir dan menyelesaikan masalah. Pemilihan selera lagu, pemilihan jenis kendaraan, pemilihan sekolah, tempat kerja dan lain sebagainya.

Mengapa kita perlu untuk menjadi unik? Karena hidup terlalu singkat untuk menjadi biasa saja atau sama dengan kebanyakan orang.

Langkah selanjutnya, setelah menjadi unik, menurut saya kita itu perlu dikenal. Karena sayang sekali kita sudah unik tapi diem aja nyempil di bagian mana di dunia ini, sia-sia sudah keunikan kita.

Mengapa kita perlu untuk dikenal? Karena hidup terlalu singkat hanya untuk menjadi orang biasa dan tidak terkenal. Yess! Kalau perlu seterkenal Afgan, Justin Bieber atau Michael Jackson *sambil benerin kerah baju. Eh Rosulullah saja orangnya terkenal lho, dan menurut Buku Pintar yang saya baca jaman SD, beliau adalah orang paling berpengaruh di dunia. Lha terus masa kita tidak meneladani beliau.

Kalau dalam sudut pandang brand ada ungkapan seperti ini, kuat atau tidaknya karakter brand itu ditentukan saat calon pembeli berada di depan etalase dan memilih barang. Dari berbagai pasta gigi yang berderet misalnya, pasta gigi mana yang akhirnya ia beli adalah yang mampu memenangkan hati pembeli tersebut *ciyeehhhh memenangkan hati boww....

Sampai disini paham kan sodara-sodara?

Kalau paham, kita akan lanjutkan pelajaran selanjutnya, di posting selanjutnya tentang brand positioning buat diri kita (apa lagiii iniiii). Gimana trik-trik menjadi unik dan dikenal sebagai seorang individu di muka dunia ini *halah*. Moga aja tulisan saya nanti bisa selebay janji saya ini yaa, jadi mari kita tunggu bersama-sama tulisan saya selanjutnya, hahaha....

Monday, April 02, 2012

Apakah kamu bahagia saat ini?


"Aku bakal bahagia banget kalau aku bisa beli iPad 3 saat ini"

"Gw baru bahagia kalau dia bisa jadi pacar gw"

"Bahagia adalah bisa pulang malem ini tanpa kejebak macet"


Pasti macam-macam jawaban yang muncul saat pertanyaan tersebut dilontarkan pada kita. Jawaban di atas juga manusiawi banget, ngga ada yang salah. Cumaaannnn....kali ini saya mau berbagi pemikiran yang saya anggap ideal buat mengidentifikasi apa itu bahagia.

Mungkin ada yang berpendapat, bahagia itu ngga bisa dan ngga perlu diidentifikasi atau dicari-cari artinya. Karena bahagia itu kan hanya bisa dirasakan, jadi kenapa musti repot diartiin.

Ya silakan sih, ngga papa kalo ada yang bilang gitu, pokoknya saya tetep mau berbagi -- maksa abiss dah, xixixi.

Jadi yaa temen-temen dan sodara-sodara sekalian, menurut buku primbon yang saya baca, bahagia adalah sebuah kesadaran tentang perasaan mengalami kemajuan. Mengapa harus kemajuan? Ya karena kita hidup. Segala yang hidup mengalami pergeseran atau bahasa kerennya transformasi. Kita ngalamin yang namanya pergantian hari, dari senen, selasa, rabu, trus kamis, trus jumat. Kita bersekolah, naik kelas sampai tau-tau udah lulus SMA. Trus kita melanjutkan ke jenjang yang lain, bekerja, menikah, punya anak... YEP! kita maju...

Begitu pula dalam mengartikan kebahagiaan sebagai kesadaran tentang perasaan mengalami kemajuan. Apapun bentuk kesadaran itu, misalnya mendapatkan sesuatu, memiliki sesuatu, meraih sesuatu.... yang pasti semua orientasinya adalah maju, kita punya tujuan. Karena kalau kita mengalami kemunduran maupun keadaan diam alias stuck, dapat dipastikan kita ngga bahagia, gundah gulana, galau!

Ngga berhasil dapat iPad, ngga bahagia.

Ngga berhasil jadiin si doi pacar, gundah.

Bete gara-gara macet ga kelar-kelar, galau.

Kata buku primbon, untuk dapat merasa bahagia, merasa bahwa ada kemajuan di diri kita, kita harus tahu (1) apa yang kita pengenin (2) gimana posisi kita sekarang (3) trus gimana caranya kita meraih apa yang kita pengenin.

Ah masa sih?

Ya misalnya nih kita dapet iPad, trus bahagia. Itu karena kita tahu bahwa kita pengen iPad, trus semenit yang lalu kita belum punya iPad dan kita tahu cara dapetin iPad, entah itu gara2 minta ke ortu, beli pake kartu kredit atau ngirim undian terus menang.

Orang-orang yang tahu bagaimana caranya berbahagia, secara ngga sadar telah menerapkan rumus tersebut. Saya pernah mencoba menanyakan pertanyaan tersebut 3 tahun yang lalu terhadap 10 orang-orang terdekat saya. Kalau ada yang mau tahu apa jawaban mereka, bisa cek di bawah ini.

Kalau ngga kebaca, bisa baca langsung di FB saya, Hanna Laila Dewi. ^__^

Dari tulisan tersebut mungkin kita bisa menilai bagaimana masing-masing orang mengartikan kebahagiaan sesuai dengan rumus di atas.

Ngomong-ngomong, kapan waktu yang tepat buat bahagia?

Waktu dapet iPad? dapat pacar baru? atau lepas dari kemacetan? hmmm boleh-boleh aja. Tapi saya usul agar kita berbahagia mulai dari sekarang, saat ini juga. Mengapa harus sekarang? Saya juga ngga ngerti apa jawaban pastinya. Habisnya, apakah kalau kita ngga dapat iPad lantas kita harus ngga bahagia; apa kalau ngga dapetin si doi jadi pacar, trus ngga bahagia; seumpama terjebak macet apa kita musti bete selamanya...

Ternyata, setelah saya baca-baca buku primbon dan berteori macam-macam, saya pikir kemajuan yang dimaksud adalah kemajuan yang lebih bersifat filosofis. Yakni kemajuan batin, bagaimana dari hari ke hari kita merasa bersyukur dengan apa yang kita dapat atau tidak kita dapat. Lebih dewasa, lebih bijak dan lebih bersyukur dari sebelumnya dalam mencapai keinginan dan kebutuhan, itulah kemajuan yang dimaksud.

Udah ah sharingnya. Anyway saya berharap temen-temen dan sodara-sodara semua berbahagia saat ini, nanti dan seterusnya; dengan apa pun keinginannya; dan dengan siapa pun meraihnya :)



Wednesday, March 28, 2012

Pertolongan Pertama saat Diri Menderita Galau

Ada yang lagi galau dan bingung harus gimana? Coba deh tips dari saya berikut ini, siapa tau ada yang mempan mengurangi rasa galau yang dihadapi :D

1. Kenali sebab musabab ke-galau-an

Galau ada sebabnya. Kalau gak ada sebabnya? ahh pasti ada :D sekali pun itu hanya sebab remeh semacam pre-mestruation syndrome (PMS) buat para cewe atau lagi kangker (kantong kering) buat para cowo.

Kita perlu mengenali apa penyebab galau kita. Karena pada dasarnya rasa galau itu adalah cabang kesekian dari 'masalah', dan masalah kalau mau kelar dan tersolusikan ya perlu diketahui sebabnya dulu.

2. Usahain selesaikan sang penyebab galau

Kalau penyebab galaumu adalah bukan hal yang abstrak, misalnya ada tugas kuliah dan dikumpul besok. Mending segera selesaiin deh, supaya kamu gak galau lagi. Soalnya percuma kamu galau, tugasmu gak bakal selesai hanya dengan dipelototin aja sambil bergalau-galau ria.

3. Jangan berfikir dan berasumsi terlalu jauh

Kalau penyebab galaumu adalah hal yang abstrak, misalnya pacarmu kok ternyata genit yaa, suka goda-godain cewe/cowo lain, trus kamu mikir baru jadi pacar aja udah gitu gimana kalo jadi istri atau suami. Laahh buat yang masih sekolah atau kuliah, gak ada gunanya mikir kayak gini, masih jauhh boww...kagak usah dipikir. Orang buat yang dah hampir nikah aja, juga belom tentu yang entu jodohnya :D

Udah deh, daripada mikir yang gak-gak, mending kamu tidur aja, nonton film, dengerin musik atau apa lah, usir jauh-jauh asumsi-asumsi itu.

4. Buat yang galau karena cinta, ganti aja playlist lagumu

Jamin deh, lagi galau karena cinta malah denger lagu-lagu mellow, yang ada malah meler air mata, makin sedih, males makan, merasa makin terpuruk. Ganti deh playlistnya, dengerin lagu-lagu upbeat dan yang berlirik 'tegar' ciyeehh....macem "Lelaki buaya darat, buset aku tertipu lagi...punya Mba Maia" atau yang dangdut a ala ayu ting ting "sik asik" atau apa laahh...

Udah gitu hindari lagu-lagu yang ada hubungannya ama yang lagi bikin galau, jangan malah diputer2 mulu trus keinget deh ama dianya. Kalau misalnya di mall lagi muter lagu si doi, cepet2 juga deh kabur dari situ, dari pada keinget.

Tapi ya kalau sengaja pengen bermellow2 ria dan menghayati kegalauan yaa silakan *trus buat apa kamu baca artikel ini dong odong2 -____-"

5. Pegang Semboyan "Biar Galau yang Penting Produktif"

Tau ngga kalo Glenn Fredly lagi galau alias sedih, dia jadi bagus dan banyak nyiptain lagu. Nah kita kalau lagi galau??? Di kamar, mengunci diri. Atau naik ke atep trus ngelamun tiap hari. Widihhh jangan dehh.

Guys, waktu terus berjalan, kita sedih dan galau juga waktu ngga mau nungguin. So usahain meski kamu galau, tapi tetep menghasilkan sesuatu selain keluhan dan air mata.

Nyang lagi skripsi, tesis, banyak tugas, tetep kerjaiiinn. Kalo gak mending liburan aja sama temen-temen, sambil jeprat-jepret, kali-kali pas diupload poto di FB banyak yang muji. Atau bantuin ortu ngapain kek.

6. Ketemu, ngobrol dan ketawa-ketiwi bareng temen, sodara, tetangga, de el el

Cobain deh ketemu banyak orang, ngobrol tentang hal-hal baru. Jangan malah ngobrolin kegalauanmu. Selain nambah wawasan, kita bisa ngelewatin masa-masa galau dengan lebih mudah.

7. Meski seluruh dunia tahu, galau-mu ngga akan sembuh

Maksud aye, banyak di antara kita yang suka banget dikit-dikit ngeluh di status FB atau nge-Twit tentang kegalau-annya. Hellowww....harus ya seluruh dunia tahu kita lagi gundah-gulana....what for?? Nyelesein masalah juga engga...yang ada malah temen-temen kita tahu bahwa kita lemah, cengeng, sok jadi seleb, kurang perhatian...idihh ngga banget deh...

Kalo aye mah mending gak usah nulis status aja pas lagi galau. Lagian itu di sosial media isinya banyak orang, dari temen, sodara, pakde, bude, dll. Belom lagi kalo ada yang mikir "emang FB ini punya kamu doang, nyampah juga musti liat2 dong, xixixi

8. Lihatlah orang di sekitarmu...

Kadang masalah sepele aja bikin kita galau.

Coba kita liat orang-orang di sekitar kita, tukang nyapu jalan misalnya, si bapak itu berjuang dengan keringatnya sehari-hari hanya buat mengumpulkan rupiah demi rupiah. Atau penyandang cacat yang melukis pake kakinya. Nah kalau sampe gara-gara PR dapet jelek, ditegor ortu, diputusin pacar, gak ada makanan di rumah aja bikin kita galau, plis deh, masih banyak orang lain yang punya masalah lebih penting. Jadilah orang yang tegar ;)

9. Lebih mendekatkan diri sama Yang Maha Kuasa

Ini mungkin tips yang gak bisa dipikir pake logika. Tapi coba deh, misalnya yang muslim, banyak-banyakin istighfar. Berfikirlah bahwa Tuhan selalu punya rencana baik. Biasanya kegalauan kita lebih berkurang. Ditambah berfikir dan bertindak lebih tenang.

That's all guys, cuman 9 sih, ga usah banyak-banyak, dicoba aja dulu. Mari kita move on, karena waktu terus berputar....

Sunday, June 19, 2011

Yes, I Can!

Ini cerita sederhana, sebenarnya. Tentang kepindahanku ke kos yang baru.

Sekitar tiga bulan yang lalu, aku tiba-tiba merasa hidupku begitu-begitu saja. Melewati jalan yang sama tiap berangkat kerja, membuka pintu pagar yang itu-itu saja dan melihat pemandangan yang itu-itu saja.

Lantas aku memutuskan untuk pindah.

Tak ada yang salah dengan kos lamaku. Fasilitas lengkap, kamar mandi dalam, laundry, ibu kos yang baik dan disiplin serta makanan enak yang tersedia setiap saat (meski tidak gratis :P). Anehnya aku merasa mentok. Merasa seperti siput yang berjalan sangat pelan atau seperti beruang yang kegendutan dan malas keluar sarang. Kenyamanan dan kemudahan ternyata menggerogotiku dari dalam. Pelan tapi pasti.

Ya, aku memutuskan untuk pindah.

Sempat berpikir berulang kali untuk melakukannya. Kos yang aku incar fasilitasnya sangat terbatas rupanya. Boro-boro makanan enak, kamar mandi saja berada di luar kamar, tak ada laundry, tak ada perabot, ibu kos agak judes. Meski lebih murah, tapi dari segi harga tak begitu jauh dari kos lama.

Untuk pindah ke sana pun pasti butuh waktu dan tenaga mengingat barang-barangku yang tidak sedikit. Ditambah lagi rasa sungkan untuk pamit dengan ibu kos lama dan tak ada teman kantor atau teman main di sana yang bisa diajak sharing. Keuangan pun lagi cekak untuk membiayai kepindahanku ke sana.

Satu-satunya hal kenapa aku menginginkannya? Karena : Ada jendela di sana, di mana cahaya matahari dan udara segar bisa masuk dengan leluasa. Ada hawa-hawa kebebasan dan gejala perubahan di sana. Itu yang aku butuhkan.

Akhirnya aku pindah.

...dengan mendadak. Dan ternyata tak ada masalah, segalanya cenderung dimudahkan. Banyak teman yang membantu pindahan. Ada saja rejeki buat beli perabot. Suasana baru. Kamar yang lebih bersahabat. Kemandirian yang lebih baik daripada sebelumnya. Lembaran baru. Dan harapan baru.

Look, I can do it if I want! I've moved on, how about you?



Wednesday, March 02, 2011

Menikmati Sunset di Pantai Dreamland, Bali






Akhir tahun lalu aku bepergian ke Bali untuk sebuah pekerjaan. Sesampainya di Bali, sebelum pekerjaan dimulai aku berniat jalan-jalan ke tempat-tempat menarik di Bali. Berhubung saat keluar dari hotel hari menjelang sore, maka kuputuskan untuk menyaksikan sunset di sebuah pantai.

Sebenarnya, aku bisa saja pergi ke Pantai Kuta yang dekat dengan hotel, hanya saja Pantai Kuta terlalu ramai dan aku tidak begitu suka keramaian. Aku melakukan pencarian di Google untuk beberapa rekomendasi, hasilnya banyak orang yang merekomendasikan untuk pergi ke Dreamland. Orang-orang itu mengatakan di sana terdapat pantai pasir putih dan dengan pemandangan yang indah saat sunset.

Lantas aku berkonsultasi dengan tour guide. Kalau ditempuh dengan mobil dari daerah Pantai Kuta akan memakan waktu 45 menit. Aku berangkat pukul 15.30. Aku memiliki cukup waktu untuk menempuh perjalanan hingga Pantai Dreamland.

Pada waktu perjalanan menuju ke lokasi ternyata mobil yang aku tumpangi melewati obyek wisata Garuda Wisnu Kencana (GWK). Aku menyesal tidak mampir ke GWK.

Tourguide mengatakan bahwa lebih baik masuk ke Dreamland melalui Kompleks Perumahan milik Tommy Soeharto, karena tiket masuknya tidak semahal di pintu masuk lain.

Sesampainya di Dreamland, lahan parkirnya bisa dibilang masih kurang layak untu sebuah obyek wisata pantai pasir putih. Seharusnya bisa lebih diperbagus.

Dari tempat parkir kita harus jalan kaki dulu ke pantainya, melewati jalan bebatuan dan pasir pantai yang cukup sulit untuk dilalui.

Mendekati pantai, mulai terdapat kios-kios makanan, penyewaan alat surving, toilet, kamar mandi dan gazeboo (lihat di foto).

Sampai di pantainya, WOW memang pasir putih dengan tekstur yang lebih kasar. Tapi menurutku masih lebih indah pantai Pulau Cemara, Karimunjawa. Pantai Dreamland sekarang juga sudah relatif ramai. Banyak orang berlibur ke sana. Overall, menyaksikan sunset dengan diiringi lagu-lagu yang dimainkan dari cafe-cafe tetap merupakan saat yang indah, terutama apabila hari tidak mendung. Ayo, ajak teman atau pasanganmu ke Pantai Dreamland di Bali, Negara Indonesia.

Thursday, February 17, 2011

Menyembunyikan status diri di Facebook, tapi tetap bisa melihat status orang lain?

Hai hai,

kamu sebel karena statusmu dari yang penting sampai yang gak penting dibicarakan segelintir orang gak penting dan akhirnya menyebabkan terjadinya hal yang gak penting pula?

oke, mungkin pernyataanku ini sangat berlebay

yang agak-agak logis adalah kamu pengen menghindar dari hingar bingar dunia perfesbukan tanpa menutup akun fesbuk kamu? -> supaya kamu tetap bisa ngelihat status kecengan kamu sih sebenernya

oke, tampaknya pernyataanku gak ada yang gak lebay

ahh lepas dari semuanya, aku pengen membagi tips yang mungkin beberapa teman sudah secara diam-diam melakukannya. Mudah-mudahan tulisan ini tidak mengguncang dunia perfesbukan, karena tiba-tiba beberapa temanmu statusnya ga bisa dilihat setelah mereka membaca tulisan ini -> ampunn gw ge-er banget sih.

Jadi bersiaplah (kita pake bahasa Indonesia aja yah):
1. Buka Akun -> Pengaturan Privasi, lihat menu 'Berbagi Informasi', klik pilihan 'khusus'
2. kemudian di sebelah kanannya ada banyak pilihan, mulai 'Status, foto dan kiriman Anda...hingga...paling bawah...informasi kontak'
3. Nahh di bawahnya tulisan 'Informasi Kontak' ada 'Sunting Pengaturan', klik aja
4. Di baris nomor satu ada 'Kiriman dari saya' klik tanda panah kecil di box sebelahnya, klik 'Ubah suaikan' --> sett dah bahasanya, hehehe
5. Memuat.... alias Loading... --> agak lama, sabar yah ;)
6. Nah keluarlah kombinasi pilihan

> mau statusnya dilihat oleh teman dari teman (buat yg pengen jadi seleb), hanya teman, orang-orang tertentu (kalo kamu klik ini bisa milih 'hanya pada siapa kamu mau nunjukin statusmu), atau hanya saya alias cuman bisa dinikmati sendiri statusnya

> atau kalo kamu mau statusnya gabisa dilihat oleh beberapa orang tinggal klik 'Sembunyikan dari: pilih nama temen'

7. Jangan lupa disimpan perubahannya.

Oiya, saat kamu mengatur statusmu disembunyikan gitu, ostomastis kamu ga akan terlihat onlen untuk Facebooknya, trus gak ada statusmu satupun yang akan tampil di beranda orang tersebut. Pengaturan juga bisa kamu terapkan di foto, tulisan, dan apapun di fesbuk.

Sebetulnya tips ini belum sempurna banget sih, pasti masih banyak pertanyaan. Tadinya juga mau dikasih gambar-gambar petunjuknya, tapi kelamaan ntar, hahaha. Jadi kalo ada yang mau nambahin atau ngulik lagi lebih jauh, silakan saja. Bebas.

Silakan mencoba :))))