Friday, October 26, 2012

Crazy Little Thing Called....LOVE


Inilah euforia menonton film. Film yang satu ini membawa saya flashback ke masa-masa saya duduk di bangku SMA bersama 3 sahabat saya. Mengingatkan saya pada beberapa kebiasaan kala itu. Mengobrol dengan secarik kertas yang dioper, sengaja izin ke toilet demi mengintip kelas di mana gebetan berada, boncengan di atas sepeda motor ketika pertama kali kami bisa mengendarainya dan tentu saja melewatkan banyak hal bersama. Kami juga mengalami perasaan kehilangan salah satu di antara kami hanya karena ia asyik bersama pacarnya :D

Disamping menceritakan tentang persahabatan, film ini menurut saya membawa satu pesan sederhana yang lumayan penting untuk menjadi pertimbangan dalam menjalin hubungan cinta dan menjalani kehidupan.

Ceritanya, sang tokoh utama, Khun Nam, jatuh cinta pada seniornya bernama Shone. Seperti biasa, namanya juga film. Shone adalah sosok senior yang ganteng, pinter main bola dan digemari banyak cewek cantik. Sementara Nam adalah cewek yang berkulit gelap, berkaca mata, pake kawat gigi, tidak terlalu pintar dan tentu saja tidak banyak murid yang mengenalnya. Bagi Nam, bisa bertemu dan bicara dengan Shone walau hanya sebentar ituuu udah sesuatu banget deh.

Sahabatnya tahu bahwa Nam menyukai Shone. Mulailah mereka membantu Nam untuk mendapatkan perhatian Shone dan Nam pun bersemangat untuk melakukan apa saja yang disarankan sahabatnya. Mereka mulai dengan membeli buku ‘9 metode mendapatkan gebetan’ dan menerapkan metode-metode tersebut. Gokil banget pas mereka mendandani Nam dengan masker dan melumurinya dengan lulur hingga kulitnya kuning. Sampai akhirnya Shone malah mengira Nam lagi sakit hepatitis A *hadeh.

Nam juga berusaha belajar lebih giat untuk menjadi juara di kelasnya. Ia dan sahabatnya mengikuti klub drama untuk menarik perhatian Shone. Nam juga belajar menjadi mayoret yang baik, saat ia kebetulan diminta menggantikan temannya yang cedera. Nam lambat laun mulai ‘sadar penampilan’ sehingga dia sukses menjadi idola di sekolah –pokoknya singkat kata Nam yang tadinya jelek terus jadi cantik aja.

Tiga tahun Nam diam-diam menyukai Shone dan melakukan berbagai cara untuk merebut perhatiannya. Sebetulnya usahanya tidak sia-sia, karena Shone ternyata juga menyukai Nam. Hanya saja waktu dan kondisi belum mendukung mereka untuk bersama. Hingga akhirnya mereka harus berpisah untuk mengejar impian masing-masing.

Alkisah, 9 tahun kemudian Nam berhasil menjadi fashion designer sukses setelah belajar di USA, sementara Shone berhasil menjadi fotografer pro yang selama ini dia impikan. Lalu mereka bertemu kembali, dan saat itulah cerita mereka happy ending.

Di akhir cerita film tersebut Nam berkata bahwa salah satu hal yang membuat ia sukses adalah karena dia pernah mencintai seseorang. Nam berkomentar tentang cowok yang dicintainya: “He is like my inspiration, he made me use the love in good way, he is like the power that supports me to be better and better...”

NAH! Ini lah apa yang saya bilang sebagai hal sederhana tapi perlu dicatat. Di tengah euforia menonton film ini saya berfikir bahwa memang sebaiknya rasa cinta kita terhadap seseorang itu dapat membawa kita menjadi diri kita ke arah yang lebih baik, bukan malah ke arah destruktif. 

Mungkin ada yang bakal komplain “wah, kalau gitu kita hanya bisa lebih baik kalo ada dia dong”. Iya, memang ‘dia’ adalah motivasi kita. Tapi tetap saja, kemauan untuk jadi lebih baik itu datangnya dari diri kita sendiri, cinta itu hanyalah pemantiknya. Toh sebenarnya, tidak banyak respon juga yang diberikan oleh Shone pada Nam. Tapi bagi Nam, bahkan hanya dengan melihat senyum Shone, Nam menemukan semangat yang luar biasa yang mampu mendorong dia ke arah yang lebih baik lagi.

Look, love might be a crazy thing, but the power to be better still come from your own mind, body and soul! So.... *simpulkan sendiri :P

Monday, June 11, 2012

Ridho Orang Tua, Ridho Allah

Saya bekerja di Telkom. Sebuah perusahaan milik negara sekaligus perusahaan publik yang besar dan keren. Besar karena perusahaan ini punya lebih dari 20.000 karyawan, kantornya tersebar dari Sabang sampai Merauke. Di kota-kota besar di Indonesia, Gedung Telkom bisa kita temui di lokasi-lokasi strategis, karena perusahaan ini sudah ada konon sejak masa penjajahan Belanda.

Keren karena bisnisnya saat ini sedang ngetrend. Kecuali bisnis telepon kabel-nya yang sudah ketinggalan jaman, perusahaan ini punya bisnis seluler, call center, infrastruktur telekomunikasi, properti, aplikasi, konten dan koneksi internet bagi semua kalangan. Telkom juga listing di New York Stock Exchange, London Stock Exchange dan tercatat di Tokyo Stock Exchange. Itu membuat Telkom menjadi perusahaan yang lebih profesional dibandingkan perusahaan milik negara yang lain. Tiap tahun Telkom menyumbang lebih dari 10 triliun laba dan separuhnya menjadi pendapatan negara di luar pajak.
Kata orang-orang di luar Telkom yang saya temui, hebat sekali saya bisa kerja di Telkom. Para fresh graduate banyak yang mengincar Telkom sebagai perusahaan idaman buat bekerja.

Saya pernah ditanya beberapa mahasiswa dan orang-orang yang saya temui tentang bagaimana usaha saya hingga bisa diterima kerja di Telkom. Saya bilang saja, ya saya ikut melamar dan ikut seleksinya. Lantas mereka tanya lagi, susah tidak seleksinya. Saya jawab susah banget, apalagi tes TOEFLnya. Kemudian mereka heran dan kembali bertanya, loh kalau susah kenapa saya bisa diterima? Menjawab pertanyaan tersebut, saya selalu melontarkan kalimat favorit saya dengan sangat yakinnya  “ini semua karena doa orang tua”.

Keyakinan saya, ridho orang tua adalah ridho Allah, doa orang tua sangat didengar oleh Allah. Saya bisa begitu yakin karena sudah membuktikannya berkali-kali. Bahkan sebelum para motivator menjadikan hal tersebut sebagai materi motivasi mereka. Keyakinan saya, bila saya menginginkan sesuatu, buat bahagia orang tua dulu, dan keinginan saya Insya Allah tercapai.

Tahun 2000, saya ingin bisa diterima dan bersekolah di SMA favorit saya. Waktu itu masih pakai NEM (Nilai Ebtanas Murni) sebagai syarat masuk. Saya sempat pesimis, apakah NEM yang saya dapat bisa memenuhi standar syarat masuk SMA tersebut. Pasalnya ketika EBTANAS berlangsung saya sedang sakit,meski akhirnya saya dapat mengerjakan seluruh soal ujian.

Akhirnya, saat liburan menunggu pengumuman EBTANAS, saya pergunakan untuk membantu orang tua saya di rumah. Pagi-pagi saya bangun, membersihkan kamar saya dan kamar orang tua saya, menyapu rumah dan halaman kemudian mencuci baju dan melipatnya. Pokoknya pulang kerja, orang tua taunya rumah bersih. Begitu setiap hari saya lakukan. Hingga tiba hari pengumuman.

Hasilnya NEM saya peringkat ke 8 satu sekolahan, dan 20 besar tingkat kabupaten! Saya pun bisa dengan tenang mendaftar ke SMA favorit saya tanpa khawatir tersingkir karena NEM saya termasuk tinggi.

Tahun 2003, tiba saatnya saya melanjutkan pendidikan saya ke universitas. Saya sama sekali tidak punya ide mau kuliah di mana, yang ada di benak saya, kalau bisa saya ingin kuliah di universitas negeri supaya biayanya murah dan orangtua saya mampu membayarnya. Tes pertama yang saya ikuti adalah Ujian Masuk UGM (Universitas Gadjah Mada) Yogyakarya. Jalur masuk tersebut baru pertama kali diadakan oleh UGM. Saya dan kawan-kawan pun tidak memiliki bayangan seperti apa tes dan hasilnya nanti. Ya pokoknya ikut aja dulu.

Setelah mengikuti tes, saya melakukan rutinitas saya sebagai full-time housekeeper. Hampir semua pekerjaan di rumah, saya kerjakan, termasuk memasak. Pokoknya selama hampir dua bulan menunggu pengumuman, saya layani orang tua saya. Pulang kantor, rumah sudah kinclong, baju sudah dicuci, makanan sudah siap, orang tua tinggal istirahat. Hingga tiba hari pengumuman...

...dan saya diterima di UGM untuk pilihan kedua, di FISIPOL.

Kali ini saya tidak menyangka saya bisa diterima. Dan satu kelas saya yang diterima hanya empat orang, termasuk saya, padahal hampir sekelas mengikuti tes tersebut. Lebih mengagetkan, teman-teman yang lebih pandai dari saya, tidak diterima. Saya merasa porsi belajar saya biasa saja, bahkan sempat saya kebut semalam. Sungguh karunia yang luar biasa, saat teman-teman saya masih harus berjuang ke universitas lain, saya justru hanya sekali tes dan diterima.

Dua kali memiliki pengalaman yang hampir sama, saya menyimpulkan bahwa hal ini sangat mungkin berkat orang tua saya. Kalau orang tua saya senang, saat mereka berdoa, doanya tambah powerful. Rumus inilah yang saya terapkan juga untuk melamar pekerjaan di Telkom. Dan terbukti, selang 6 bulan setelah saya lulus, saya langsung diterima bekerja di perusahaan sekelas Telkom.

Keyakinan inilah yang saya pegang hingga saat ini. Tentu saja saya juga berikhitiar dan berdoa untuk apa yang saya inginkan. Tapi diatas semua itu, doa dan ridho orang tua sangat berpengaruh. Sama halnya ketika saya mengalami kesulitan untuk meraih keinginan saya, mungkin saja ada hal antara saya dan orang tua saya yang kurang beres. Maka saya berusaha menyelesaikannya terlebih dahulu dan berusaha membuat keduanya mengerti, senang dan tenang terhadap keputusan saya.

Allah berfirman dalam ayatnya “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu janganlah engkau mengatakan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka menyayangi aku sejak kecil” (QS. Al-Israa’:23-24)

Sekali lagi, ridho orang tua adalah ridho Allah :)

Thursday, April 12, 2012

Berbeda atau Mati! (Tak Sekedar Berbeda)

Eh, ekstrim sekali ya pernyataan saya. Pernyataan saya yang sangat keren itu terinspirasi dari judul buku pakar marketing Jack Trout dan Al Ries “Differentiate or Die”. Terus, mengapa harus berbeda?

Begini ceritanya...

Beberapa waktu yang lalu, teman kuliah saya dengan terburu-buru mengumumkan di forum Blackberry Messenger kami bahwa sedang ada obral besar-besaran di sebuah pusat perbelanjaan di Bandung. Obral itu memberondong para pengunjung dengan bertumpuk baju-baju bermerk! GAP, Calvin Klein, Guess dan sebagainya; dari mulai kemeja hingga celana jeans dengan harga turun lima kali lipat dari harga asli. Teman saya menambahkan bahwa para pengunjung ramai mengerumuni tumpukan itu untuk mendapatkan baju bermerk favorit mereka dengan harga murah.

Sebagian orang men’dewa’kan merk atau dalam bahasa marketing sering banget disebut brand. Coba deh jawab pertanyaan saya, mana yang kamu pilih antara dua buah kemeja sama persis dari bahan, ukuran, harga dan kualitasnya, akan tetapi di salah satu kemeja tertera merk Guess?

Ada contoh lain, mana yang kamu pilih, dua orang cowo yang sama-sama ganteng, tinggi, pinter, kaya, rajin menabung, sementara yang satunya dikenal dengan nama Afgan Syahreza??

Saya tuh pengen membahas, kalau merk atau brand itu saat ini ngga hanya berlaku buat barang jualan macam baju, mobil, jam tangan, tas, atau bahkan hand body lotion dan pasta gigi. Sekarang orang pun identik dengan merk!

Bingung ngga? Biar tambah bingung saya mau cerita lagi...

Dalam marketing, daya tarik merk atau brand membawa pengaruh yang besar. Para pengusaha, pebisnis, pedagang dan pemasar banyak yang sadar betul bahwa membangun dan memperkenalkan brand adalah kunci pertumbuhan dan sumber keuntungan. Bahkan, brand memiliki kekuatan untuk menentukan harga yang akan dibayar oleh konsumen dan harga saham yang akan dibeli oleh investor.

Memilih nama brand untuk sebuah produk penting dari sisi promosi, karena nama brand mencerminkan isi dan kegunaan produk tersebut. Brand juga membantu pemasar untuk menentukan posisi produk tersebut di mata pelanggan. Sebab pada saat yang sama, nama brand menciptakan kesan yang ada di balik produk.

Sekarang apa yang ada dalam pikiranmu ketika saya sebutkan nama Afgan Syahreza? Atau Ariel Peter Pan? Atau Justin Bieber? Mungkin kalau saya tanyakan juga pertanyaan itu pada orang yang baru saya kenal di supermarket, ia akan memberi jawaban yang tidak jauh berbeda dengan kamu. Lain halnya kalau saya sebutkan nama Hanna ke mereka, kayaknya mereka bakal bilang “oh itu nama kucing saya”. Serius habis itu saya langsung ngeloyor pergi deh.

Nama kita itu sebenarnya merk atau brand diri kita. Melalu nama lah kita diidentifikasi. Hal utama yang dapat membedakan kita dengan orang lain pun adalah nama kita. Akan tetapi bagaimana bila ternyata di suatu kondisi bukan kita satu-satunya pemilik nama yang kita sandang? Di titik ini lah kita perlu untuk menjadi berbeda.

Sebetulnya meski satu nama dapat dimiliki oleh lebih dari satu orang, secara fisik tentu masing-masing orang tetap saja berbeda. Namun berbeda secara fisik saja tidak cukup. Cara lain untuk menjadi berbeda adalah mengembangkan kepribadian dan identitas yang unik. Mulai dari penampilan fisik, cara berbicara, cara jalan, cara melirik (haishh), cara makan, respon kita terhadap suatu hal, hingga cara berfikir dan menyelesaikan masalah. Pemilihan selera lagu, pemilihan jenis kendaraan, pemilihan sekolah, tempat kerja dan lain sebagainya.

Mengapa kita perlu untuk menjadi unik? Karena hidup terlalu singkat untuk menjadi biasa saja atau sama dengan kebanyakan orang.

Langkah selanjutnya, setelah menjadi unik, menurut saya kita itu perlu dikenal. Karena sayang sekali kita sudah unik tapi diem aja nyempil di bagian mana di dunia ini, sia-sia sudah keunikan kita.

Mengapa kita perlu untuk dikenal? Karena hidup terlalu singkat hanya untuk menjadi orang biasa dan tidak terkenal. Yess! Kalau perlu seterkenal Afgan, Justin Bieber atau Michael Jackson *sambil benerin kerah baju. Eh Rosulullah saja orangnya terkenal lho, dan menurut Buku Pintar yang saya baca jaman SD, beliau adalah orang paling berpengaruh di dunia. Lha terus masa kita tidak meneladani beliau.

Kalau dalam sudut pandang brand ada ungkapan seperti ini, kuat atau tidaknya karakter brand itu ditentukan saat calon pembeli berada di depan etalase dan memilih barang. Dari berbagai pasta gigi yang berderet misalnya, pasta gigi mana yang akhirnya ia beli adalah yang mampu memenangkan hati pembeli tersebut *ciyeehhhh memenangkan hati boww....

Sampai disini paham kan sodara-sodara?

Kalau paham, kita akan lanjutkan pelajaran selanjutnya, di posting selanjutnya tentang brand positioning buat diri kita (apa lagiii iniiii). Gimana trik-trik menjadi unik dan dikenal sebagai seorang individu di muka dunia ini *halah*. Moga aja tulisan saya nanti bisa selebay janji saya ini yaa, jadi mari kita tunggu bersama-sama tulisan saya selanjutnya, hahaha....

Monday, April 02, 2012

Apakah kamu bahagia saat ini?


"Aku bakal bahagia banget kalau aku bisa beli iPad 3 saat ini"

"Gw baru bahagia kalau dia bisa jadi pacar gw"

"Bahagia adalah bisa pulang malem ini tanpa kejebak macet"


Pasti macam-macam jawaban yang muncul saat pertanyaan tersebut dilontarkan pada kita. Jawaban di atas juga manusiawi banget, ngga ada yang salah. Cumaaannnn....kali ini saya mau berbagi pemikiran yang saya anggap ideal buat mengidentifikasi apa itu bahagia.

Mungkin ada yang berpendapat, bahagia itu ngga bisa dan ngga perlu diidentifikasi atau dicari-cari artinya. Karena bahagia itu kan hanya bisa dirasakan, jadi kenapa musti repot diartiin.

Ya silakan sih, ngga papa kalo ada yang bilang gitu, pokoknya saya tetep mau berbagi -- maksa abiss dah, xixixi.

Jadi yaa temen-temen dan sodara-sodara sekalian, menurut buku primbon yang saya baca, bahagia adalah sebuah kesadaran tentang perasaan mengalami kemajuan. Mengapa harus kemajuan? Ya karena kita hidup. Segala yang hidup mengalami pergeseran atau bahasa kerennya transformasi. Kita ngalamin yang namanya pergantian hari, dari senen, selasa, rabu, trus kamis, trus jumat. Kita bersekolah, naik kelas sampai tau-tau udah lulus SMA. Trus kita melanjutkan ke jenjang yang lain, bekerja, menikah, punya anak... YEP! kita maju...

Begitu pula dalam mengartikan kebahagiaan sebagai kesadaran tentang perasaan mengalami kemajuan. Apapun bentuk kesadaran itu, misalnya mendapatkan sesuatu, memiliki sesuatu, meraih sesuatu.... yang pasti semua orientasinya adalah maju, kita punya tujuan. Karena kalau kita mengalami kemunduran maupun keadaan diam alias stuck, dapat dipastikan kita ngga bahagia, gundah gulana, galau!

Ngga berhasil dapat iPad, ngga bahagia.

Ngga berhasil jadiin si doi pacar, gundah.

Bete gara-gara macet ga kelar-kelar, galau.

Kata buku primbon, untuk dapat merasa bahagia, merasa bahwa ada kemajuan di diri kita, kita harus tahu (1) apa yang kita pengenin (2) gimana posisi kita sekarang (3) trus gimana caranya kita meraih apa yang kita pengenin.

Ah masa sih?

Ya misalnya nih kita dapet iPad, trus bahagia. Itu karena kita tahu bahwa kita pengen iPad, trus semenit yang lalu kita belum punya iPad dan kita tahu cara dapetin iPad, entah itu gara2 minta ke ortu, beli pake kartu kredit atau ngirim undian terus menang.

Orang-orang yang tahu bagaimana caranya berbahagia, secara ngga sadar telah menerapkan rumus tersebut. Saya pernah mencoba menanyakan pertanyaan tersebut 3 tahun yang lalu terhadap 10 orang-orang terdekat saya. Kalau ada yang mau tahu apa jawaban mereka, bisa cek di bawah ini.

Kalau ngga kebaca, bisa baca langsung di FB saya, Hanna Laila Dewi. ^__^

Dari tulisan tersebut mungkin kita bisa menilai bagaimana masing-masing orang mengartikan kebahagiaan sesuai dengan rumus di atas.

Ngomong-ngomong, kapan waktu yang tepat buat bahagia?

Waktu dapet iPad? dapat pacar baru? atau lepas dari kemacetan? hmmm boleh-boleh aja. Tapi saya usul agar kita berbahagia mulai dari sekarang, saat ini juga. Mengapa harus sekarang? Saya juga ngga ngerti apa jawaban pastinya. Habisnya, apakah kalau kita ngga dapat iPad lantas kita harus ngga bahagia; apa kalau ngga dapetin si doi jadi pacar, trus ngga bahagia; seumpama terjebak macet apa kita musti bete selamanya...

Ternyata, setelah saya baca-baca buku primbon dan berteori macam-macam, saya pikir kemajuan yang dimaksud adalah kemajuan yang lebih bersifat filosofis. Yakni kemajuan batin, bagaimana dari hari ke hari kita merasa bersyukur dengan apa yang kita dapat atau tidak kita dapat. Lebih dewasa, lebih bijak dan lebih bersyukur dari sebelumnya dalam mencapai keinginan dan kebutuhan, itulah kemajuan yang dimaksud.

Udah ah sharingnya. Anyway saya berharap temen-temen dan sodara-sodara semua berbahagia saat ini, nanti dan seterusnya; dengan apa pun keinginannya; dan dengan siapa pun meraihnya :)



Wednesday, March 28, 2012

Pertolongan Pertama saat Diri Menderita Galau

Ada yang lagi galau dan bingung harus gimana? Coba deh tips dari saya berikut ini, siapa tau ada yang mempan mengurangi rasa galau yang dihadapi :D

1. Kenali sebab musabab ke-galau-an

Galau ada sebabnya. Kalau gak ada sebabnya? ahh pasti ada :D sekali pun itu hanya sebab remeh semacam pre-mestruation syndrome (PMS) buat para cewe atau lagi kangker (kantong kering) buat para cowo.

Kita perlu mengenali apa penyebab galau kita. Karena pada dasarnya rasa galau itu adalah cabang kesekian dari 'masalah', dan masalah kalau mau kelar dan tersolusikan ya perlu diketahui sebabnya dulu.

2. Usahain selesaikan sang penyebab galau

Kalau penyebab galaumu adalah bukan hal yang abstrak, misalnya ada tugas kuliah dan dikumpul besok. Mending segera selesaiin deh, supaya kamu gak galau lagi. Soalnya percuma kamu galau, tugasmu gak bakal selesai hanya dengan dipelototin aja sambil bergalau-galau ria.

3. Jangan berfikir dan berasumsi terlalu jauh

Kalau penyebab galaumu adalah hal yang abstrak, misalnya pacarmu kok ternyata genit yaa, suka goda-godain cewe/cowo lain, trus kamu mikir baru jadi pacar aja udah gitu gimana kalo jadi istri atau suami. Laahh buat yang masih sekolah atau kuliah, gak ada gunanya mikir kayak gini, masih jauhh boww...kagak usah dipikir. Orang buat yang dah hampir nikah aja, juga belom tentu yang entu jodohnya :D

Udah deh, daripada mikir yang gak-gak, mending kamu tidur aja, nonton film, dengerin musik atau apa lah, usir jauh-jauh asumsi-asumsi itu.

4. Buat yang galau karena cinta, ganti aja playlist lagumu

Jamin deh, lagi galau karena cinta malah denger lagu-lagu mellow, yang ada malah meler air mata, makin sedih, males makan, merasa makin terpuruk. Ganti deh playlistnya, dengerin lagu-lagu upbeat dan yang berlirik 'tegar' ciyeehh....macem "Lelaki buaya darat, buset aku tertipu lagi...punya Mba Maia" atau yang dangdut a ala ayu ting ting "sik asik" atau apa laahh...

Udah gitu hindari lagu-lagu yang ada hubungannya ama yang lagi bikin galau, jangan malah diputer2 mulu trus keinget deh ama dianya. Kalau misalnya di mall lagi muter lagu si doi, cepet2 juga deh kabur dari situ, dari pada keinget.

Tapi ya kalau sengaja pengen bermellow2 ria dan menghayati kegalauan yaa silakan *trus buat apa kamu baca artikel ini dong odong2 -____-"

5. Pegang Semboyan "Biar Galau yang Penting Produktif"

Tau ngga kalo Glenn Fredly lagi galau alias sedih, dia jadi bagus dan banyak nyiptain lagu. Nah kita kalau lagi galau??? Di kamar, mengunci diri. Atau naik ke atep trus ngelamun tiap hari. Widihhh jangan dehh.

Guys, waktu terus berjalan, kita sedih dan galau juga waktu ngga mau nungguin. So usahain meski kamu galau, tapi tetep menghasilkan sesuatu selain keluhan dan air mata.

Nyang lagi skripsi, tesis, banyak tugas, tetep kerjaiiinn. Kalo gak mending liburan aja sama temen-temen, sambil jeprat-jepret, kali-kali pas diupload poto di FB banyak yang muji. Atau bantuin ortu ngapain kek.

6. Ketemu, ngobrol dan ketawa-ketiwi bareng temen, sodara, tetangga, de el el

Cobain deh ketemu banyak orang, ngobrol tentang hal-hal baru. Jangan malah ngobrolin kegalauanmu. Selain nambah wawasan, kita bisa ngelewatin masa-masa galau dengan lebih mudah.

7. Meski seluruh dunia tahu, galau-mu ngga akan sembuh

Maksud aye, banyak di antara kita yang suka banget dikit-dikit ngeluh di status FB atau nge-Twit tentang kegalau-annya. Hellowww....harus ya seluruh dunia tahu kita lagi gundah-gulana....what for?? Nyelesein masalah juga engga...yang ada malah temen-temen kita tahu bahwa kita lemah, cengeng, sok jadi seleb, kurang perhatian...idihh ngga banget deh...

Kalo aye mah mending gak usah nulis status aja pas lagi galau. Lagian itu di sosial media isinya banyak orang, dari temen, sodara, pakde, bude, dll. Belom lagi kalo ada yang mikir "emang FB ini punya kamu doang, nyampah juga musti liat2 dong, xixixi

8. Lihatlah orang di sekitarmu...

Kadang masalah sepele aja bikin kita galau.

Coba kita liat orang-orang di sekitar kita, tukang nyapu jalan misalnya, si bapak itu berjuang dengan keringatnya sehari-hari hanya buat mengumpulkan rupiah demi rupiah. Atau penyandang cacat yang melukis pake kakinya. Nah kalau sampe gara-gara PR dapet jelek, ditegor ortu, diputusin pacar, gak ada makanan di rumah aja bikin kita galau, plis deh, masih banyak orang lain yang punya masalah lebih penting. Jadilah orang yang tegar ;)

9. Lebih mendekatkan diri sama Yang Maha Kuasa

Ini mungkin tips yang gak bisa dipikir pake logika. Tapi coba deh, misalnya yang muslim, banyak-banyakin istighfar. Berfikirlah bahwa Tuhan selalu punya rencana baik. Biasanya kegalauan kita lebih berkurang. Ditambah berfikir dan bertindak lebih tenang.

That's all guys, cuman 9 sih, ga usah banyak-banyak, dicoba aja dulu. Mari kita move on, karena waktu terus berputar....

Sunday, June 19, 2011

Yes, I Can!

Ini cerita sederhana, sebenarnya. Tentang kepindahanku ke kos yang baru.

Sekitar tiga bulan yang lalu, aku tiba-tiba merasa hidupku begitu-begitu saja. Melewati jalan yang sama tiap berangkat kerja, membuka pintu pagar yang itu-itu saja dan melihat pemandangan yang itu-itu saja.

Lantas aku memutuskan untuk pindah.

Tak ada yang salah dengan kos lamaku. Fasilitas lengkap, kamar mandi dalam, laundry, ibu kos yang baik dan disiplin serta makanan enak yang tersedia setiap saat (meski tidak gratis :P). Anehnya aku merasa mentok. Merasa seperti siput yang berjalan sangat pelan atau seperti beruang yang kegendutan dan malas keluar sarang. Kenyamanan dan kemudahan ternyata menggerogotiku dari dalam. Pelan tapi pasti.

Ya, aku memutuskan untuk pindah.

Sempat berpikir berulang kali untuk melakukannya. Kos yang aku incar fasilitasnya sangat terbatas rupanya. Boro-boro makanan enak, kamar mandi saja berada di luar kamar, tak ada laundry, tak ada perabot, ibu kos agak judes. Meski lebih murah, tapi dari segi harga tak begitu jauh dari kos lama.

Untuk pindah ke sana pun pasti butuh waktu dan tenaga mengingat barang-barangku yang tidak sedikit. Ditambah lagi rasa sungkan untuk pamit dengan ibu kos lama dan tak ada teman kantor atau teman main di sana yang bisa diajak sharing. Keuangan pun lagi cekak untuk membiayai kepindahanku ke sana.

Satu-satunya hal kenapa aku menginginkannya? Karena : Ada jendela di sana, di mana cahaya matahari dan udara segar bisa masuk dengan leluasa. Ada hawa-hawa kebebasan dan gejala perubahan di sana. Itu yang aku butuhkan.

Akhirnya aku pindah.

...dengan mendadak. Dan ternyata tak ada masalah, segalanya cenderung dimudahkan. Banyak teman yang membantu pindahan. Ada saja rejeki buat beli perabot. Suasana baru. Kamar yang lebih bersahabat. Kemandirian yang lebih baik daripada sebelumnya. Lembaran baru. Dan harapan baru.

Look, I can do it if I want! I've moved on, how about you?



Wednesday, March 02, 2011

Menikmati Sunset di Pantai Dreamland, Bali






Akhir tahun lalu aku bepergian ke Bali untuk sebuah pekerjaan. Sesampainya di Bali, sebelum pekerjaan dimulai aku berniat jalan-jalan ke tempat-tempat menarik di Bali. Berhubung saat keluar dari hotel hari menjelang sore, maka kuputuskan untuk menyaksikan sunset di sebuah pantai.

Sebenarnya, aku bisa saja pergi ke Pantai Kuta yang dekat dengan hotel, hanya saja Pantai Kuta terlalu ramai dan aku tidak begitu suka keramaian. Aku melakukan pencarian di Google untuk beberapa rekomendasi, hasilnya banyak orang yang merekomendasikan untuk pergi ke Dreamland. Orang-orang itu mengatakan di sana terdapat pantai pasir putih dan dengan pemandangan yang indah saat sunset.

Lantas aku berkonsultasi dengan tour guide. Kalau ditempuh dengan mobil dari daerah Pantai Kuta akan memakan waktu 45 menit. Aku berangkat pukul 15.30. Aku memiliki cukup waktu untuk menempuh perjalanan hingga Pantai Dreamland.

Pada waktu perjalanan menuju ke lokasi ternyata mobil yang aku tumpangi melewati obyek wisata Garuda Wisnu Kencana (GWK). Aku menyesal tidak mampir ke GWK.

Tourguide mengatakan bahwa lebih baik masuk ke Dreamland melalui Kompleks Perumahan milik Tommy Soeharto, karena tiket masuknya tidak semahal di pintu masuk lain.

Sesampainya di Dreamland, lahan parkirnya bisa dibilang masih kurang layak untu sebuah obyek wisata pantai pasir putih. Seharusnya bisa lebih diperbagus.

Dari tempat parkir kita harus jalan kaki dulu ke pantainya, melewati jalan bebatuan dan pasir pantai yang cukup sulit untuk dilalui.

Mendekati pantai, mulai terdapat kios-kios makanan, penyewaan alat surving, toilet, kamar mandi dan gazeboo (lihat di foto).

Sampai di pantainya, WOW memang pasir putih dengan tekstur yang lebih kasar. Tapi menurutku masih lebih indah pantai Pulau Cemara, Karimunjawa. Pantai Dreamland sekarang juga sudah relatif ramai. Banyak orang berlibur ke sana. Overall, menyaksikan sunset dengan diiringi lagu-lagu yang dimainkan dari cafe-cafe tetap merupakan saat yang indah, terutama apabila hari tidak mendung. Ayo, ajak teman atau pasanganmu ke Pantai Dreamland di Bali, Negara Indonesia.

Thursday, February 17, 2011

Menyembunyikan status diri di Facebook, tapi tetap bisa melihat status orang lain?

Hai hai,

kamu sebel karena statusmu dari yang penting sampai yang gak penting dibicarakan segelintir orang gak penting dan akhirnya menyebabkan terjadinya hal yang gak penting pula?

oke, mungkin pernyataanku ini sangat berlebay

yang agak-agak logis adalah kamu pengen menghindar dari hingar bingar dunia perfesbukan tanpa menutup akun fesbuk kamu? -> supaya kamu tetap bisa ngelihat status kecengan kamu sih sebenernya

oke, tampaknya pernyataanku gak ada yang gak lebay

ahh lepas dari semuanya, aku pengen membagi tips yang mungkin beberapa teman sudah secara diam-diam melakukannya. Mudah-mudahan tulisan ini tidak mengguncang dunia perfesbukan, karena tiba-tiba beberapa temanmu statusnya ga bisa dilihat setelah mereka membaca tulisan ini -> ampunn gw ge-er banget sih.

Jadi bersiaplah (kita pake bahasa Indonesia aja yah):
1. Buka Akun -> Pengaturan Privasi, lihat menu 'Berbagi Informasi', klik pilihan 'khusus'
2. kemudian di sebelah kanannya ada banyak pilihan, mulai 'Status, foto dan kiriman Anda...hingga...paling bawah...informasi kontak'
3. Nahh di bawahnya tulisan 'Informasi Kontak' ada 'Sunting Pengaturan', klik aja
4. Di baris nomor satu ada 'Kiriman dari saya' klik tanda panah kecil di box sebelahnya, klik 'Ubah suaikan' --> sett dah bahasanya, hehehe
5. Memuat.... alias Loading... --> agak lama, sabar yah ;)
6. Nah keluarlah kombinasi pilihan

> mau statusnya dilihat oleh teman dari teman (buat yg pengen jadi seleb), hanya teman, orang-orang tertentu (kalo kamu klik ini bisa milih 'hanya pada siapa kamu mau nunjukin statusmu), atau hanya saya alias cuman bisa dinikmati sendiri statusnya

> atau kalo kamu mau statusnya gabisa dilihat oleh beberapa orang tinggal klik 'Sembunyikan dari: pilih nama temen'

7. Jangan lupa disimpan perubahannya.

Oiya, saat kamu mengatur statusmu disembunyikan gitu, ostomastis kamu ga akan terlihat onlen untuk Facebooknya, trus gak ada statusmu satupun yang akan tampil di beranda orang tersebut. Pengaturan juga bisa kamu terapkan di foto, tulisan, dan apapun di fesbuk.

Sebetulnya tips ini belum sempurna banget sih, pasti masih banyak pertanyaan. Tadinya juga mau dikasih gambar-gambar petunjuknya, tapi kelamaan ntar, hahaha. Jadi kalo ada yang mau nambahin atau ngulik lagi lebih jauh, silakan saja. Bebas.

Silakan mencoba :))))

Monday, February 14, 2011

Kain Lurik Warisan Budaya Bangsa Indonesia





















Hai teman-teman, aku pengen memperkenalkan kain tradisional asli buatan kampung halamanku nih, sebutannya kain lurik. Kalo ada orang asli Yogyakarta biasanya udah familiar sama kain ini, soalnya suka dipakai sama abdi dalem Kraton. Itu loh yg motifnya lurik-lurik gelap trus lengan panjang, kerahnya panjang juga nutup leher, sering deh dijual di pasar tradisional Yogya.

Nah, kalau kain lurik yang mau aku tawarin ini lebih halus, motifnya dan warnanya juga lebih bervariasi. Kain Lurik ini diproduksi di Kecamatan Pedan, Kabupaten Klaten dan sekitarnya yang memang terkenal dengan sentra produksi kain Lurik. Cara membuatnya menggunakan alat tenun, gak jauh beda dari kain songket atau kain Kalimantan gitu deh.

Kain Lurik yang aku tawarin bisa dibuat jadi baju atasan cewe ataupun cowo, dijahit jadi kain untuk dipake buat kondangan, buat hadiah kantor atau acara keluarga, buat aplikasi furniture (misalnya bantal sofa), tas kain, dan sebagainya. Ada juga Lurik yang dikombinasi dengan motif Batik, dan disebut dengan singkatan Lutik (lurik-batik). Stock yang ada di gambar itu berbeda-beda, jadi kalo teman-teman pesen Insya Allah jarang yang nyamain :)

Temen-temen bisa lihat-lihat dulu fotonya. Kalau ukuran dan harganya sih macem-macem:
a. Lurik Batik (ukuran 150 x 105 cm) Rp. 190.000
b. Lurik Klasik (ukuran 250 x 105 cm) Rp. 225.000
c. Lurik Lurik Halus Modern (250 x 85 cm) Rp. 250.000

Kalau masih kurang infonya jangan sungkan untuk komen posting ini, atau kalau mau langsung pesen bisa hubungi aku dulu di 081214678978 - Hanna (SMS Only) atau email aku di silahtowilah@yahoo.com. Harga belum termasuk ongkos kirim. Buat 5 pembeli pertama dapat diskon 10% loh.

Mari kita gunakan produk warisan budaya bangsa... ;)

Thursday, July 29, 2010

Renungan di Ujung Malam


Di ujung malamku aku sempat memikirkan beberapa hal.

1. Lebih penting mana? Kepastian atau kesabaran?
Hidup penuh ketidakpastian, kadang hidup dituntut untuk tangkas membaca situasi dan cerdas menarik suatu keputusan. Buat apa menunggui ketidakpastian padahal yang pasti-pasti masih banyak di luar sana. Saat kita sadar kita tak punya banyak waktu, kita menginginkan kepastian. Seperti kita mendapatkan satu kepastian di atas kepastian lain: kematian dan pajak.

Kesabaran? wow, inilah hal yang abstrak. Kini aku temukan bahwa kesabaran berbanding lurus dengan kesungguhan dan komitmen. Sabar itu ibarat menjanjikan rumah buat kekasihmu (argh tak terpikirkan contoh lain soalnya). Apa yang bisa kau banggakan saat kau baru bisa menata puluhan batu bata? rumah pun belum terlihat bentuknya...

Akan berbeda dengan ketika kau menata batu bata itu satu persatu, lamaa, sabarr, sungguh-sungguh, detail, menambahkan atap, pintu, jendela dan perabot. Apalagi saat kekasihmu tahu bahwa kau membangunnya dengan penuh perjuangan.

Saat kekasihmu menolak rumah tersebut karena berpaling pada orang lain yang entah punya apa...tapi setidaknya kamu sudah memiliki sebuah rumah daann rekam jejak positif dalam perjuanganmu.

2. Penting mana? menjaga citramu (dengan menjaga mulutmu) atau mengendalikan mulut orang lain yang berbicara mengenaimu?

Suatu kali aku berpendapat, menjadi diri sendiri lebih penting. Tapi kenyataannya, mulut orang lain menyediakan perangkap yang berkonfrontasi dengan pendapatku itu. Hah! Kenapa orang-orang selalu melakukan penilaian? Lebih parah lagi mereka lebih senang membicarakan nilai buruk daripada nilai baik.

Ya! orang-orang selalu mencari keburukan untuk dibicarakan, meski orang tersebut hampir sempurna baiknya (lihatlah kisah Rosulullah). Bukan pekerjaan mudah tentu mengendalikan mulut orang lain.

Tapi dari sini aku menarik kesimpulan sangat sederhana: tetap jadi diri sendiri yang meski fleksibel bergaul tapi kendalikan sikap sedemikian rupa sehingga membuat gigi orang satu per satu tanggal sampai mulut mereka kesulitan bicara soal diri kita.

Yah, sekali lagi ini hanyalah renungan di ujung malam...

Wednesday, July 07, 2010

Suatu Hari di Kebun Binatang


Apa yang dilakukan seorang cewek berumur 25 tahun di kebun binatang?
Mengajak ponakan jalan-jalan?...bukan
Atau mengajak anaknya jalan-jalan bersama sang suami?...boro-boro, suami aja belom punya
Melakukan observasi?...walah diriku bukan mahasiswi program spesialis kedokteran hewan
Melakukan kegiatan amal Happy Zoo?...hehehe...hampir benar

Jadi, memang ada kegiatan amal bernama Happy Zoo, tapi kegiatan tersebut diadakan sama temanku bersama komunitas 'Jatinangor 16 May'-nya.

Aku ikut, sebagai salah satu donaturnya, tidak banyak, tapi aku boleh bergabung piknik bersama 100 orang anak dhuafa di Kebun Binatang Kota Bandung. Wow, tidak kulewatkan kesempatan ini. Sudah lama aku ingin sekali pergi ke kebun binatang, tapi di usiaku, aku sempat kesusahan mencari alasan aku kesana. Hingga akhirnya datang ajakan dari temanku itu.

Pagi-pagi, bersama seorang temanku yang lain, kita berangkat dengan bersemangat. Setelah ikut kegiatan bersama anak-anak, termasuk bergoyang-goyang lincah mengikuti tarian-yang-namanya-aku-lupa; kita berkeliling kebun binatang.

Dengan bangga kita berfoto dengan buaya, makhluk yang betah sekali berpose dengan mulut menganga dalam waktu yang lama. Sampai terpikir mungkin buaya masa kini sudah mengerti trend pose alay.

Sambil tersenyum-senyum, kita mengamati kura-kura berbagai ukuran. Sembari terheran-heran dan bergidik, kita berebutan antre dengan anak-anak demi melihat ular-ular berwarna warni. Ular berwarna ijo lucu juga kupikir, hiii...

Di kompleks burung, banyak burung-burung unik dan langka. Mereka juga pintar, dikasih makan kacang nurut -hehehe ya iyalaah. Burung merak jantan, indah sekali, subhanallaah, bulunya warna biru, ekornya panjang. Sayang gak ada yang mau melebarkan ekornya. Mungkin Burung merak betinanya jarang ke salon jadi kurang menarik perhatian burung merak jantan sehingga mereka males nunjukin keindahan ekornya. Terus yang paling menarik adalah burung hantu, lucuuunyaaa minta ampun, gemesin, sampai terbersit niat menculik salah satu dan memeliharanya, hihihi.



Ada kudanil nyebelin, yang pas mau ditonton malah berendem gak muncul-muncul dari kolam air. Terus ada kumpulan siamang, kera yang ternyata punya kantong suara di lehernya. Mereka teriak bersahut-sahutan hingga menarik perhatian banyak pengunjung kebon binantang.

Harimau dan singa adalah binatang yang aku sukai juga, karena mereka juga lucu dan gemesin *gak ada kata-kata lain, hiks. Ada juga beruang madu dan beruang coklat, slruppp...

Oh satu lagi binatang nyebelin, si kalong, kelelawar yang pas ditonton malah tidur, tidur kebalik lagi sambil gelantungan.

Jalan-jalan ditutup dengan makan ayam goreng tepung dan es krim di sudut kebun binatang, fyuhh.

Kesimpulannya: menyenangkan sekali. Dengan melihat binatang-binatang itu aku jadi ingat betapa Allah Maha Kuasa dan Maha Indah. Selain menghilangkan penat, setidaknya ada saat dimana aku bisa melihat makhluk hidup dan bernyawa selain manusia, bukan barang buatan seperti laptop (saat aku di kantor) atau baju dan sepatu (saat pergi ke mall) atau buku atau makanan.

Aku merasa hidup jadi lebih hidup.

Wednesday, April 21, 2010

Nasehat Pernikahan

Pernikahan menyikap tabir rahasia...

Istri yang kamu nikahi tidaklah semulia Khadijah,
setaqwa Aisyah, apalagi setabah Fatimah.
Sedangkan kamu suami yang menikahinya,
tidaklah semulia Muhammad, setaqwa Ibrahim
Setabah Ayyub, segagah Musa, apalagi setampan yusuf,
kalian hanyalah manusia akhir jaman yang punya cita-cita menjadi shalih
dan membangun keturunan yang shalih

Sesungguhnya pernikahan
menginsyafkan kamu betapa perlunya iman dan taqwa
serta mengajari kamu untuk meniti kesabaran
dalam menggapai ridho Illahi

(disalin dari Kata-Kata Mba Lilis Suryani dengan sedikit perubahan)

Selamat menempuh hidup baru Mba Lilis dan Mas Adhi

Tuesday, April 13, 2010

Dear God

Akhir-akhir ini aku kembali mengalami kesulitan meneguhkan keputusanku, lebih susah dari membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Malahan aku curiga jangan-jangan ini sekedar rasa penasaranku saja.

Aku menginginkan sesuatu, aku membutuhkannya. Aku belum yakin hal itu sudah benar-benar hilang atau belum. Satu yang pasti, hal itu belum aku miliki sepenuhnya.

Ya Allah, aku tahu bila aku meminta hal itu pada-Mu, Engkau tidak akan segan untuk mengabulkannya.

Tapi permasalahannya apa aku siap untuk menerima semua konsekuensinya dan bertanggungjawab atasnya? Apa hal itu memang baik bagiku? Apakah semua akan baik jadinya ketika aku tahu ini hanya karena aku penasaran?

Sebaliknya, bagaimana aku tahu semua itu ketika aku tak memilikinya? Aku bahkan sempat menyatakan siap dengan baik-buruknya, sebab tak ada hal lain terbersit kecuali aku berniat menerima semua apa adanya. Mungkin aku butuh kesempatan lagi Ya Allah.

Maafkan aku untuk selalu bertanya-tanya dan memprotes semuanya. Inilah aku Ya Allah, aku sedang belajar bersyukur, pun masih terseok-seok dalam menjalaninya.

Aku butuh jawaban untuk mengerti diriku sendiri Ya Allah. Sampaikanlah melalui mimpi di malam nanti atau lewat serangkaian pertandamu di esok hari.

Terima Kasih Allah.

Wednesday, March 10, 2010

Akankah aku mengingkari janji?

Ahahahaha, ini hanya sebuah cerita ringan kok. Mengenai si Biru, ponselku yang telah aku gunakan selama kurang lebih 10 bulan. Aku membelinya tentu saja karena fitur-fiturnya yang komplit, mengingat ponselku sebelumnya masih sangat terbatas kemampuannya. Aku pun telah melakukan survey mengenai ponsel tersebut, sangat terpana akan berbagai kelebihannya, sayangnya aku tidak mengindahkan kekurangannya yang lumayan krusial yaitu mudah 'hang'.

Belakangan ponselku memang sering hang, tapi aku cuek. Soalnya tinggal direstart atau cabut-pasang batere, beres deh. Foto-fotoku juga mulai susah diakses, tapi aku tetap cuek. Bahkan dua minggu sebelum kutulis ini, layar ponselku sudah berkedip-kedip gak jelas, hah aku masih cuek. Akhirnya, pada suatu malam minggu ponselku mati total.

Sedih, pasti! Pasrah, iya juga sih... pasalnya aku sedang ada tugas di luar kota waktu itu. Apa yang bisa kulakukan. Janji dengan teman berantakan karenanya. Perjalanan balik ke Bandung pun garing karena tak ada ponselku. Tapi gak papa, aku berhasil bersabar. Sabar itu nikmat juga rupanya.

Senin malam, aku mengantarkan ponselku ke tempat servis. Aku ternyata harus menunggu 2 minggu untuk bisa menggunakannya kembali, dengan catatan jika ponselku bisa berfungsi normal. Konsekuensi lain yang harus kuhadapi adalah ludesnya data-dataku di dalamnya.

Di tengah semua kondisi itu, aku berpikir ambisius untuk membeli ponsel baru. Tak punya uang? tidak masalah. Aku bisa meminjam ke temanku. Tapi tunggu dulu!

Aku menarik nafas, kurasa ini bukan satu hal yang baik. Bukankan ini terlalu terburu-buru? Okee...lagi-lagi aku berhasil bersabar, menunda keputusan.

Hari berikutnya aku mencoba mencari info mengenai ponsel yang aku inginkan untuk mengganti si Biru. Tapi kali ini aku memprioritaskan pada kelemahannya. Ow ow, ternyata dia juga sering hang daaan masih banyak lagi kekurangan lainnya.

Aku akhirnya konsultasi pada temanku mengenai ponsel tipe si Biru dan menceritakan semua pengalamanku dengannya. Aku baru saja menyadari di mana letak kesalahanku : aku menginstall aplikasi ilegal di dalamnya, tidak memback-up data-data termasuk phone booknya dan tidak mengupgrade sistemnya. Dia bilang, "kalau sudah diservis dan direinstall, tidak masalah kok digunakan lagi, asal kamu tidak mengulangi hal-hal tadi".

Aku merasa menjadi orang yang paling bodoh dan ceroboh di dunia. Tapi aku bersyukur kini aku telah belajar untuk bersabar dan tidak tergesa-gesa. Teknologi apapun di dunia ini pasti punya kelemahan, kalau kita memandang pada kelebihan-kelebihannya tak ada habisnya kita butuh uang untuk membeli yang baru. Ini setali tiga uang dengan filosofi "manusia tak ada yang sempurna". Jadi selama si Biru masih bisa dipakai, aku berniat setia padanya.

Di akhir perenunganku aku ingat janjiku pada diri sendiri kala membeli si Biru: Aku tidak akan membeli ponsel lagi selama tiga tahun kedepan!

Mari kita lihat pembuktiannya...

3 Guru

Temans, aku menyimpulkan beberapa hal kecil tapi memiliki arti dan mudah-mudahan bisa aku atau kalian jadikan pegangan dalam hidup. Menurutku ada tiga sumber pembelajaran sederhana dalam hidup ini. Bisa juga kita sebut ’Guru Sejati’ tapi orang seringkali melupakan mereka karena sifat egosentrisnya

Masa Lalu

Sebagian orang bilang, kesalahan atau kegagalan merupakan guru terbaik untuk meraih sukses. Tapi aku bilang mereka adalah bagian dari soko guru bernama Masa Lalu. Salah seorang teman pernah berkata, keledai saja tidak jatuh dalam lubang dua kali –meski belum pernah membuktikan sih, trus kenapa kita kadang susah belajar dari masa lalu?

Jawabannya adalah kenyamanan kita berada dalam kedok bernama ’kebiasaan dan karakter’ (cieehhh kata-katanyaa ngga nguatin). Iyah soalnya aku sendiri merasa ketika aku memiliki kebiasaan sangat terbuka, terlalu jujur dan polos ketika berhadapan dengan orang, meskipun aku merasa ini yang terbaik, tapi ternyata tidak. Seharusnya aku bisa lebih menjaga dan mengendalikannya demi kebaikanku. Sebisa mungkin aku perbaiki kebiasaan-kebiasaan kita yang kurang menguntungkan.

Aku pernah berdiskusi mengenai kebiasaan-kebiasaan yang akhirnya membentuk karakter. Salah seorang sepupuku bilang ”Aku kan sering dimanja orangtuaku waktu kecil, jadi ya bukan salahku kalau aku kekanak-kanakan dan kalau pengen sesuatu musti keturutan”, atau kisah sahabatku yang bilang ”Aku ini cuek dan egois, mungkin bawaan dari kecil yang kurang perhatian dari Ayah dan Ibu akibat mereka serius sekali bekerja”.

Bila aku bandingkan diriku dengan mereka, alhamdulillah aku diasuh dengan penuh perhatian dan prinsip bahwa bila menginginkan sesuatu harus dengan usaha dan melihat kemampuan diri. Jadi aku juga tidak menyalahkan mereka.

Tapi bayangkan saja, ketika dalam situasi resmi misalnya meeting dengan klien, sepupuku bersikap kekanakan? Atau saat kencan pertama sahabatku cuek pada cewek yang dia ajak kencan?

Maka dari itu kita lebih berani menyesuaikan diri. Harus berani mengatakan, aku sadar bahwa aku kekanakan atau aku cuek jadi aku akan mengendalikan kebiasaanku itu tergantung situasi dan kondisinya. Perubahan adalah keniscayaan. Tidak harus berubah 180 derajat, tapi dari masa lalu, kebiasaan-kebiasaan atau karakter; kita bisa lebih mengenal diri dan fleksibel berada di dalam kondisi apa pun

Orang Lain

Seringkali kita hanya bisa membicarakan dan mengeluhkan kekurangan orang, tanpa menjadikan pembicaraan itu bermanfaat buat kita. Maksudku, akan lebih bermanfaat apabila sebelum membicarakan atau setidaknya pada saaat membicarakan hal itu kita kembalikan dulu ke diri sendiri. Apakah kekurangan tersebut ada juga pada kita, bagaimana caranya supaya kita tidak seperti dia dan mungkin apa yang bisa kita lakukan untuk memberikan masukan untuk si orang yang dibicarakan tanpa menyinggungnya.

Ada pepatah mengatakan, orang cerdas belajar dari kesalahan diri sendiri tapi orang bijak belajar dari kesalahan orang lain. Belajar dari orang lain pun bukan hanya soal kekurangan, tapi juga menjadikan kesuksesan orang lain sebagai motivasi untuk mempelajari cara-cara dia sukses.

Kita bisa belajar bersyukur melalui orang lain. Ketika teman sedikit mengeluh suaminya yang bekerja di Kalimantan dan hanya pulang sekali sebulan, dia harusnya membandingkan dengan teman yang lain yang suaminya kerja di Papua dan hanya pulang 3 bulan sekali. Itupun hanya karena tugas kantor dan harus menempuh beberapa kali rute perjalanan. Atau dia harus lebih bersyukur karena masih banyak yang sampai saat ini belum memiliki suami

Kitab

Apapun agama kita, pasti ada sesuatu yang dijadikan pedoman, biasa disebut kitab. Mengapa kitab bisa jadi guru? Karena kitab (saya merujuk pada kitab saya dan beberapa hal yang saya ketahui tentang kitab agama lain) berisi kisah masa lalu, amanah masa kini dan ramalan masa depan. Kalau saya salah mohon dikoreksi.

Saya mengalami suatu keajaiban kecil. Ketika saya ada masalah, lalu saya mencoba membaca kitab agama saya dan sekaligus terjemahannya. Aneh, banyak solusi saya temukan di situ. Beberapa memang tersirat, tapi tak sedikit juga yang tersurat dengan jelas. Karena itulah saya semakin yakin, bahwa kitab suci bukan hanya simbol agama semata, bukan hanya sesuatu yang wajib dipedomani, tapi intisari kehidupan termaktub di situ.

Jadi kitab suci adalah salah satu guru yang luar biasa, meskipun dia pasif, alias kita harus baca dulu baru kita tahu ajarannya.

Temans sekali lagi semua itu hanyalah pendapatku. Beberapa kisah memang ku ambil dari kisah-kisah terdekatku, jadi maaf kalo ada yang ngerasa kisahnya dipake. Hehehe.

Tuesday, February 09, 2010

Sabar sampai sebatas langit

uhm, hari ini, ketika aku bosan browsing soal gatal pada telinga, aku mengetik keywords 'hakekat sabar' di mesinnya Om Gugel. Aku penasaran, sampai sebatas mana sih kita harus sabar? dalam hal apa saja kita seharusnya bersabar? apakah gak sabaran itu suatu kebiasaan buruk?

Sebelumnya sih aku coba cari-cari bahasan mengenai Sabar di web langgananku http://www.cafemuslimah.com tapi lama juga ketemunya --aihh gak sabaran juga ini, dah gitu gak ada tools pencariannya (kecuali yang nge-link ke Om Gugel juga).

Humm, link pertama yang muncul adalah http://www.ulamasunnah.wordpress.com. Mari kita lihat.

*baca...baca..baca...owh begituu yayaya (angguk-angguk)

Jadi begini sodara-sodara sebangsa dan setanah air

ternyata menurut blog tersebut sabar artinya 'menahan diri', dari ulama (disarikan dari Syarh Riyadhis Shalihin karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin) sabar itu ada tiga:
1. Sabar dalam ketaatan kepada Allah, misalnya bila belum mampu bayar zakat atau haji, harus sabar, karena rezeki orang sudah diatur
2. Sabar dalam menjauhi yang diharamkan Allah, misalnya berbuat zina, minum khamr, riba, dll
3. Sabar dalam menghadapi musibah

Nah kalau dari situ sih, hanya pertanyaan nomor dua yang terjawab.
Mari kita coba cari yang lain... wah ini dari http://semangatislam.blogspot.com malah mengartikan sabar adalah ketika ada dua pilihan dan kita tetap memilih berada pada pilihan yang benar walaupun berat dan susah, itulah dia sabar. Merujuk pada kisah Umat Nabi Musa di QS. Al Baqoroh ayat 61.

Kok gak ada penjelasan yang lebih down to earth yah, humm...
Baiklah, mari kita baca satu situs lagi, kan kalo belum tiga kali, belum afdol...
*baca...baca...baca...

wah yang terakhir ini lebih ngena. Liat di http://iwandj.wordpress.com, penulis mengutip Al Baqarah ayat 155, begini artinya "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,..."
kemudian penulis menerjemahkan bahwa berdasarkan ayat tsb sabar adalah tahan menderita dari yang tidak disenangi, dengan ridha dan lapang dada serta menyerahkan diri hanya kepada Allah semata-mata.

Nah yang berikutnya nih yang mantaps :
Barangsiapa yang mengeluh dari buruknya kelakuan orang lain kepada kita, berarti ia tidak sabar, karena budi pekerti yang baik(akhlakul karimah) ialah sanggup menderita dari yang tidak disenangi. Maka boleh dikatakan bahwa semua akhlak Islam yang terpuji tersimpan dalam golongan sabar ini. Tatkala para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW tentang iman, beliau bersabda :
“Iman adalah sabar dan berlapang dada/bermurah hati.” (HR. Thabrani)
“Sabar setengah dari iman, kedudukannya bagaikan kepala daripada jasad.” (HR. Ahmad)

Subhannallah...Okay!! Sip!! Gak perlu eksplisit lah.. sekarang aku mengerti apa yang harus aku lakukan.

Alhamdulillah...jadi semangat lagi! Terima kasih semuanya...

Monday, December 28, 2009

Ketika Kita Berkumpul

Suatu hari, kami, 4 orang bersahabat mendapati salah satu dari kami akan menikah. Dua orang di antara kami terlambat mengetahui informasi tersebut sehingga hanya salah satu yang memiliki kesempatan menjadi saksi dalam pernikahan.


Akhirnya kami membuat janji bertemu dua minggu setelah hari H, mengunjungi sahabat yang menikah. Pertemuan yang mengharukan. Diawali dengan membangunkan sang penganten baru kala mereka sedang tidur siang bersama, hihihi.


Pembicaraan dimulai dengan senda gurau, canda-canda mengenai penganten baru. Maklum kami bertiga merasa aneh, sahabat yang dulu hanya segerombolan anak kecil tiba-tiba salah satu di antaranya sudah melangkah ke jenjang hidup yang lebih tinggi. Ada sebuah gejolak ketidakpercayaan, nostalgia dan perasaan malu-malu.


Berikutnya dibumbui dengan curahan hati, bahwa salah satu di antara kami, ingin cepat-cepat menyusul. Tapi orang tuanya belum menyetujui niatnya. Kakak perempuannya yang paling tua belum jua menemukan tambatan hatinya membuat sahabat yang ini tersandung. Bolak-balik dia bilang, “Aku pengen cepet kawin!!!”. Hahaha, kami tergelak dibuatnya.


Yang lain menimpali dengan kabar bahwa setelah tiga setengah tahun pacaran, dia putus dengan pacarnya. Kini di saat tuntutan untuk berumah tangga semakin menggema di sekelilingnya, dia harus berjuang mendapatkan yang baru.


Satu orang lagi, kelihatan adem ayem padahal masih jomblo, dia bercerita sedang dekat dengan seseorang lelaki yang baru dikenalnya melalui situs jejaring sosial. Ketika sedang asik berbincang, teleponnya berdering, “Dari cowok ituu”, katanya sambil tersenyum centil, memutuskan keluar ruangan supaya lebih khidmad melanjutkan obrolan kangennya.


Entahlah, banyak ungkapan yang ingin kami utarakan dari mulut ini, tapi yang terdengar hanya tawa kebahagiaan. Bersyukur kami masih bisa melalui segala keajaiban ini bersama. Salah satu dari kita berseloroh, “Mari kita saling mendoakan supaya setahun lagi, kita tidak hanya kumpul ber-empat, melainkan ber-delapan. Dua tahun berikutnya bias jadi ber-duabelas, hehehehe”. Aamiiin.

Tuesday, October 06, 2009

Dia yang Tak Pernah Mengeluh


Sudah dua tahun ini, setiap lebaran di kampung halaman, aku bersama saudara sepupuku mengunjungi makam 'emban' kita waktu kecil dulu, mendoakan untuk arwahnya. Dia meninggal mungkin empat atau lima tahun yang lalu.

Lama sebelum dia meninggal -mungkin seumur hidupnya, dia abdikan untuk melayani keluarga kami, keluarga nenekku lebih tepatnya. Nenek dengan 12 anak dan bejibun cucu -kini nenek sudah memiliki cicit malah.

Sekitar sepuluh tahun sebelum dia meninggal, punggungnya bungkuk. Tak ada yang tahu kenapa.

Tapi itu tidak penting.

Hal yang paling aku ingat adalah senyumannya.
Entahlah, aku membayangkan bagaimana dulu dia mengasuh hampir sebagian besaranak dan cucu-cucu nenek yang masih kecil serta memiliki bermacam watak dan karakter. Aku ingat bagaimana ketika dia mengasuh adikku, aku yang waktu itu baru berumur 5 tahun, lagi marah sama dia yang malah melindungi adikku. Aku sampai mengacungkan kursi, berniat memukulnya. Tapi dia hanya tersenyum.

Di masa tuanya, alih alih tinggal di rumahnya sendiri, dia menghabiskan hidupnya di rumah nenekku, tak mau lagi mengasuh anak-anak. Kami: aku dan saudara sepupuku selalu kangen sama dia. Jika kami bertemu dengannya yang keluar dari mulutnya hanya doa untuk kami, semoga menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan agama. Suatu kali aku menemukannya berdoa usai sholat di atas sajadah merah kusutnya, menangis memanjatkan doa.

Dia selalu tersenyum, tak pernah mengeluh terhadap apapun. Meski punggungnya bungkuk, aku ingat dia tetap disiplin membawa ceret penuh air tiap pagi untuk dididihkan dan menyeduh teh.

Mbah Ito, kini 'cucu-cucu' yang kau asuh telah menjadi orang seperti yang kau harapkan. Doa kami selalu menyertaimu.